Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Mau Lakers


__ADS_3

Ara akhirnya mengalah. Dia memesan dua Lakers saja, untuk Anggi dan Miko.


"Kakak tidak pesan juga?" tanya Miko, yang tidak tahu jika, uang yang dimiliki kakaknya, Ara, tidak cukup untuk membayar tiga Lakers.


"Gak. Kakak beli nanti saja," jawab Ara, membuat alasan.


Akhirnya, Lakers pesanan mereka sudah jadi. Ara membaginya menjadi dua, satu untuk adiknya Anggi, dan satunya lagi untuk Miko.


"Duduk di taman itu dulu yuk. Kalian bisa menikmati makanan itu dengan tenang, sambil duduk." Anggi, mengajak kedua adiknya itu, untuk pergi ke taman, yang ada tidak jauh dari tempat mereka memesan Lakers tersebut.


Sekarang, mereka bertiga duduk di bangku panjang, yang terbuat dari beton, yang ada di taman itu.


Anggi dan Miko, mulai menikmati makanan yang mereka pegang. Sedangkan Ara, memperhatikan kedua adiknya itu, dengan tersenyum.


Ara merasa senang, karena Anggi dan Miko, tidak berantem sama seperti biasanya, jika sedang bermain berdua.


"Kak, haaakkk..."


"Kakak!"


Mendengar namanya dipanggil oleh adik-adiknya, Ara tersadar dari lamunannya, tangan kedua adiknya itu, masing-masing membawa potongan Lakers ke depannya Ara, untuk segera dia makan.


"Kalian ngapain? Ayo di makan, terus kita pulang," kata Ara, yang belum mengerti maksud dari kedua adiknya itu.


"Ini buat Kakak," kata Ara, dengan potongan Lakers di tangan, yang dia sodorkan ke depan kakaknya.


"Ini juga buat Kakak," kata Miko, yang ikut-ikutan memberikan potongan Lakers miliknya, untuk Ara.


Ternyata, Anggi dan Miko, ingin berbagi sedikit Lakers milik mereka dengan Ara. Mereka berdua, juga mau berterima kasih, karena sudah dibelikan Lakers, dan justru kakaknya itu tidak beli untuk dirinya sendiri.


"Ayo Kak, dimakan. Enak lho!" kata Miko, meminta pada Ara, supaya menerima Lakers yang dia berikan.


Anggi juga ikut melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Miko.


Sekarang, ketiganya menikmati Lakers bersama-sama, dan saling bercanda ria di taman.


"Kak Ara. Makasih ya, Miko di jajanin Lakers tadi," ucap Miko, saat mereka sudah berjalan lagi, menuju ke arah rumahnya Miko.


"Iya sama-sama gembul!" sahut Ara, sambil mencubit pipi Miko dengan gemas.


"Ihsss... sakit Kak!" teriak Miko karena pipinya terasa sakit.

__ADS_1


"Hehehe...."


Ara justru tertawa, karena melihat Miko yang merasa kesakitan pada pipinya. Apalagi, Miko juga memasang wajah cemberut karena ulahnya.


"Anggi juga mau bilang makasih kok," kata Anggi, yang ikut-ikutan mengucapkan terima kasih pada Ara.


"Iya, sama-sama. Yang penting Kalian berdua akur dan tidak saling berantem ya! apalagi sekarang kalian juga sudah ada di sekolah yang sama. Miko, jika Anggi diusilin temannya, Miko yang bela Anggi ya? kan Miko saudaranya Anggi. Jadi gak boleh ikut-ikutan usil," kata Ara, memberikan pesan dan nasehat pada adik sepupunya yang berkelakuan over protektif tersebut.


"Ah, tadi pagi justru Miko yang usil Kak Ara," kata Anggi mengadu.


"Lho, masak begitu sih?" sahut Ara cepat, dengan menoleh ke arah Miko, yang berjalan di sebelah kirinya.


Ara memajukan bibirnya, sebagai tanda bahwa, dia merasa senang, karena sudah mengadukan kelakuan Miko tadi pagi, saat berada di sekolah, pada kakaknya itu.


Miko tersenyum dengan nyengir kuda, karena tidak tahu, apa yang harus dia katakan, untuk membela diri. Karena memang benar, tadi pagi, dia sudah membuat Anggi malu, dengan cara memanggil-manggil namanya dengan cara yang keras, sehingga banyak orang yang memperhatikan mereka berdua, dan jadi tahu nama Anggi.


Padahal Anggi baru saja menjadi siswa baru di sekolah taman kanak-kanak itu.


"Emhhh... ya sudah. Tapi besok-besok jangan lagi ya Miko," kata Ara, dengan tersenyum tipis, supaya Miko tidak lagi merasa canggung.


"Iya Kak. Miko akan bantu Anggi, jika ada yang nakal padanya," sahut Miko dengan wajah kembali berbinar senang.


"Tante... Tante Sekar!"


Anggi berteriak-teriak, memanggil mamanya Miko.


"Jangan teriak-teriak Dek! Kita ketuk dulu, jika tidak mendengar, baru kita berteriak. Itupun tidak boleh dilakukan berulang-ulang. Tidak sopan," kata Ara, menasehati adiknya, Anggi.


"Hehehe..m iya Kak."


Miko yang belum mengatakan apa-apa, menunggu mamanya datang, dan membuka pintu untuk mereka bertiga.


Dan memang benar, tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam rumah, kemudian muncul mamanya, Sekar. Mamanya itu, terlihat baru saja selesai mandi, karena terlihat lebih segar, dibanding orang yang baru saja bangun dari tidurnya.


"Ehhh, ayo masuk!"


Sekar membuka pintu lebih lebar lagi, supaya anak dan kedua keponakannya itu bisa masuk ke dalam rumah.


"Tante, kami langsung pulang saja, sudah sore," kata Ara, yang menolak tawaran Sekar. Apalagi, hari memang sudah sore. Dan Ara tidak mau, jika harus mampir sebentar, untuk bisa bermain-main lagi dengan Miko.


"Oh gitu ya. Ya sudah, terima kasih ya Sayang Ara, Anggi, udah mau antar Miko pulang."

__ADS_1


Sekar mengucapkan terima kasih lada kedua keponakannya itu, karena sudah mengantarkan anaknya, Miko, pulang ke rumah.


"Oya ya, ini ada buah buat kalian. Di bawa pulang saja. Buat bunda dan ayah juga. Sebentar ya, Tante ambilkan sebentar." Sekar langsung masuk lagi ke dalam rumah, dan tak lama lagi sudah keluar dengan membawa keranjang belanja yang berisi buah-buahan.


"Tante, banyak sekali!" seru Anggi, yang melihat iso keranjang tersebut.


Di dalam keranjang, yang diserahkan Sekar pada mereka, banyak buah-buahan segar yang berbeda-beda jenis.


Ada jeruk, manggis, mangga, apel, apulkat, dan strawberry.


"Iya. Ini oleh-oleh, yang dibawa teman-temannya Tante saat mereka pada jenguk Tante kemarin. Mungkin mereka bawa buah yang agak masam, karena berpikir bahwa, orang yang sedang hamil dan ngidam suka rasa masam. Tapi di dalam kulkas masih banyak kok."


Ara menerima buah tersebut, setelah Sekar selesai memberikan penjelasan tentang banyaknya buah-buahan yang dia miliki.


"Salam buat Bunda ya, dan tolong bilang makasih juga, karena sudah menjaga Miko selama ini."


Ara dan Anggi sama-sama mengangguk mengiyakan pesan dari Tante mereka, Sekar.


"Ya sudah. kami pamit pulang ya Tan!"


Sekar mengangguk mengiyakan. Dia merasa senang, karena kedua keponakannya itu jadi anak-anak yang baik dan mau perduli dengan Miko, anaknya.


Setelah Ara dan Anggi pulang ke rumah, Miko segera bertanya pada mamanya, Sekar.


"Bunda sudah tidak sakit lagi?" tanya Miko, yang merasa khawatir dengan kondisi mamanya.


"Iya. Mama sudah sehat kok. Besok mama bisa antar Miko ke sekolah. Bisa jemput juga," jawab Sekar, yang membuat Miko tersenyum dengan lebar.


Miko merasa sangat senang, karena mamanya itu, sudah kembali sehat, meskipun perutnya tampak sudah besar, dari pada dulu. Itu karena, di perut mamanya, ada adik kecil, yang bisa dia ajak bermain jika sudah lahir nanti.


"Miko mau adik cowok ya Ma. Biar tidak cengeng kayak Anggi," kata Miko, meminta pada mamanya.


"Eh, tapi kan Anggi cantik Sayang. Miko gak mau punya adik cantik kayak Anggi?" tanya Sekar memancing, apa alasan lainnya, sehingga anaknya yang belum besar itu mengatakan kecemasannya, jika nanti adiknya lahir cewek.


"Iya sih. Tapi, Miko kan jadi tidak ada teman main bola," jawab Miko, memberikan alasan kenapa meminta adik cowok.


Miko mengatakan bahwa, dia jadi lebih sering main boneka dan permainan cewek, karena bersama dengan Anggi. Jika bermain bola, Anggi akan cepat bosan.


Sekar tampak tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh anaknya itu. Hal yang biasa Miko ceritakan, jika baru saja datang dan kembali dari rumahnya Anggi. Kesal, tapi tetap saja, jika sehari tanpa ada Anggi, dia akan merengek minta diantar ke rumah kakaknya, Abimanyu, supaya bisa bermain dengan Anggi.


Hal yang biasa dilakukan oleh Miko, jika berada di rumah dan sudah bosan, karena selalu bermain sendiri.

__ADS_1


__ADS_2