Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Atlanta


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Awan masih berada di flat. Dia sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, karena ada sidang, untuk tugasnya pagi ini.


Tapi gerakannya yang sedang menutup resleting tas ransel, berhenti, karena ada panggilan telpon yang masuk.


Saat melihat ke layar handphone miliknya, ternyata itu adalah omanya. Mama Amel.


..."Halo Oma. Selamat pagi."...


..."Oh iya, di sana sedang pagi hari. Dan Kamu terdengar sangat bersemangat. Ada apa Wan?"...


..."Tidak apa-apa Oma. Awan sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kampung saja kok."...


..."Oh, Oma pikir Kamu sedang jatuh cinta. Hahaha..."...


..."Ah, Oma."...


..."Tidak usah merajuk seperti seorang gadis. Apa Kamu belum juga menemukan seorang gadis, yang bisa membuat hatimu bergetar?"...


..."Apa sih Oma? Gak ada kayak gitu. Awan belajar dan belajar Oma. Gak sempat memikirkan banyak hal. Apalagi sekedar apa itu yang dikatakan Oma, bergetar? kayak apa sih?"...


..."Hahaha... setahun di Amerika, bisa membuat Kamu pintar ngeles ya Wan. Awas saja, jika itu Kamu gunakan juga untuk merayu para gadis-gadis bule!"...


..."Oma tau aja sih?"...


..."Hah, apa itu benar?"...


..."Iyalah benar Oma. Benar-benar tidak terjadi! hihihi..."...


..."Heh! dasar ya. Mau ngerjain Oma ya Kamu Wan?"...


..."Gak Oma, ampun. Awan cuma bercanda kok. Suek Oma!"...


..."Apa itu suek?"...


..."Sure Oma. Jika di Indonesia suwer . Hehehe..."...


..."Ya ampun Awan. Kamu itu ya, kok bisa-bisanya becandain Oma kayak gitu. Aduh! Awas saja, kalau sampai Kamu juga becanda kayak gitu sama orang lain di sana. Terutama sama cewek-cewek. Bisa-bisa, mereka klepek-klepek nanti. Hehehe..."...


..."Begitu ya Oma? Wah, bisa di coba itu nanti ya Oma."...


..."Hush, ini anak!"...


..."Oma, Awan sambil jalan ya?"...


..."Oh ya sudah. Oma tutup saja kalau begitu. Kamu hati-hati ya!"...


..."Oma tidak ke sini lagi? Awan kangen."...


..."Baru juga dua bulan kemarin Oma datang ke sana Wan."...


Awan sudah selesai dan berjalan menuju ke luar, masih dengan bertelepon ria bersama dengan omanya, mama Amel.


Clik!


Pintu flat Awan buka, dan...


"Oma!"

__ADS_1


Awan sangat terkejut, dengan apa yang dia lihat di depan pintu saat ini.


Ternyata, omanya ada di depan pintu flat, dan masih dalam keadaan menelpon dirinya.


Mama Amel, menurunkan handphone dari telinganya, dan tersenyum menyambut pelukannya Awan.


"Oma..."


Awan segera memeluk omanya itu, dengan surprise yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.


Apalagi, omanya tadi juga menelponnya, seakan-akan omanya memang berada di Indonesia, dan bukan berada di depan kamar flat-nya ini.


"Ayo masuk Oma!"


Awan masih belum percaya, jika dia tidak sedang bermimpi kali ini.


Dengan sengaja, dia menepuk-nepuk kedua pipinya sendiri, dengan dua telapak tangan, dan juga mencubitnya.


Puk-puk.


"Huh, ternyata tidak mimpi," gumam Awan, sadar jika semua ini adalah nyata, karena pipinya terasa sakit saat di tepuk dan cubit.


"Kamu kenapa?" tanya mama Amel, saat mendengar gumamam-nya Awan.


"Gak apa-apa Oma. Awan tidak kenapa-kenapa kok," sahut Awan cepat.


"Apa Oma datang pada waktu yang tidak tepat? oh ya, Kamu kan mau ke kampus, pergi saja Wan. Oma bisa mengurus semua sendiri. Nanti, Kamu langsung pulang ya, saat semua sidang tugas selesai."


Awan mengangguk mengiyakan perkataan omanya.


Begitulah akhirnya. Awan berangkat ke kampus, dan mama Amel, beristirahat di flat-nya Awan.


Di sebuah apartemen sederhana, tak jauh dari bangunan flat Awan.


"Bunda. Hari ini kita jadi ke asrama kakak gak?" tanya Anggi, yang terlihat baru saja selesai mandi.


"Iya jadi Dek. Kan hari ini juga Kakak ada libur satu pekan." Anjani, menjawab pertanyaan dari Anggi, sambil menyiapkan sarapan pagi.


Abimanyu, keluar dari dalam kamar, dan sudah berpakaian rapi.


"Ayah ke kantor?" tanya Anggi, saat melihat penampilan ayahnya yang sudah rapi, sama seperti jika pergi ke kantor.


"Iya. Tapi Ayah akan antar kalian dulu, untuk menjemput kakak."


"Hore!"


Anggi berteriak senang, sambil melompat-lompat kegirangan.


Sejak datang ke Amerika, Ara memang langsung masuk ke asrama, di mana sekolah yang dia inginkan memang mengharuskan semua siswa-siswinya ada di asrama sekolah.


Dan Ara justru merasa senang, karena dia akan lebih cepat belajar dan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, di Amerika ini.


Georgia merupakan sebuah negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian ini terletak di bagian tenggara. Pada tahun 2000, negara bagian ini memiliki jumlah penduduk sebesar 8.186.453 jiwa dan memiliki luas wilayah 153.909 km². Ibu kotanya adalah Atlanta.


Di sinilah sekarang, keluarga Anjani dan Abimanyu berada. Dengan memegang perusahaan milik PT SAMUDERA GROUP, yang ada di Amerika, Ara dan Anggi juga harus bersekolah di sini.


Dan Ara, memilih sebuah sekolah, dengan asrama yang cukup baik di kota Atlanta ini.


Selama satu tahun ada di sekolah asrama tersebut, Ara baru dua kali pulang ke apartemen.

__ADS_1


Sekarang, karena ada liburan selama satu pekan, dia juga akan di jemput untuk pulang lagi.


Dan ini adalah yang ketiga kalinya, Ara pulang dengan di jemput oleh kedua orang tuanya, bersama dengan Anggi.


Selama berada di Amerika, Ara juga tidak pernah bertemu ataupun berpapasan dengan Awan.


Begitu juga dengan Anjani dan Anggi.


Hanya Abimanyu, yang kadangkala memantau kondisi Awan dari jauh. Dan tentu saja, itu tanpa sepengetahuan dari Awan sendiri.


Ini karena memang Awan juga tidak tahu, jika keluarganya Ara, sudah pindah ke kota yang sama seperti dirinya.


Begitu juga dengan Ara yang sama tidak tahunya jika, Awan melanjutkan kuliahnya di Amerika ini.


Meskipun sebenarnya, tempat tinggal mereka juga tidak terlalu jauh dari tempat Awan berada.


Tapi begitulah memang yang menjadi rencana mama Amel dan papa Ryan.


Mereka berdua, mama Amel dan papa Ryan, hanya ingin kedua remaja yang sebenarnya saling cinta tanpa mereka sadari sepenuhnya, mengkarantina hati mereka sendiri.


Dan selama mereka tidak bertemu itu, bisa dilihat, apakah perasaan mereka berdua memang ada, atau hanya sekedar perasaan cinta monyet diusia muda yang cepat bisa berganti.


"Kakak!"


Anggi memangil kakaknya, dengan sebutan untuk biasa dia gunakan, dengan bahasa Indonesia.


Ini akan memudahkan Ara, cepat mengenalinya, dari pada dia ikut berdialog dengan mengunakan bahasa bule.


"Adek!"


Ara menolak cepat, saat mendengar suara adiknya, Anggi.


Dengan senang hati, Anggi berlari menuju ke arah kakaknya, dan melompat untuk minta di gendong dalam pelukan kakaknya, Ara.


"Wah, Adek tambah besar dan tinggi ya," kata Ara, mengomentari adiknya yang sudah semakin besar.


"Iya dong Kak. Ternyata, cuaca Amerika membuat pertumbuhan badan Anggi cepat ya, gak kayak di rumah, yang ada di Jakarta. Hahaha..."


Ara terbelalak, mendengar perkataan adiknya, yang terdengar seperti seorang peneliti saja.


"Busa aja Kamu Dek," ujar Ara, sambil mencubit pipinya Anggi.


"Ihhh, Kakak! Jangan di cubit. Entar jadi chubby, dan teman Anggi gak pada kagum lagi dengan penampilan Anggi."


Ara semakin gemas, dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu.


"Centil banget sih," ucap Ara, yang berusaha untuk mencubit pipinya Anggi lagi.


Tapi karena sudah siap dengan gerakannya Ara, Anggi akhirnya bisa menghindar, dan tidak terkena cubitan kakaknya.


"Kakak! Nanti pipi Anggi kayak pipi Miko..."


Mengucap nama Miko, membuat Anggi tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Dia teringat dengan sepupunya itu, dan akhirnya ini membuat Anggi merasa sedih lagi.


Apalagi Anggi jadi teringat, di saat dia dan keluarganya berpamitan di Bandara, pada waktu mau berangkat ke Amerika.


Miko meraung-raung, minta ikut bersama dengan Anggi ke Amerika.


Tapi karena ini bukan hanya sekedar pergi ke Bogor, tentu saja, Miko tidak bisa ikut, dan menyusul Anggi, agar tetap bisa bermain dengan sepupunya itu.

__ADS_1


__ADS_2