Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tentang Nanda


__ADS_3

Setiap dua bulan sekali, Yasmin mengirim uang untuk biaya anaknya, Nanda, dan juga untuk mencicil utang-utang yang dia miliki. Dia mempercayakan pengelolaan keuangannya itu pada ibunya, ibu Sofie.


Karena Nanda ada bersama dengan Anjani, setiap Yasmin mengirim uang, ibu Sofie akan memberikan uang Nanda pada Anjani juga.


Tapi, Anjani menolak dan meminta pada ibu mertuanya itu, untuk menabung uang Nanda.


"Nanda masih kecil Bu, jadi belum banyak membutuhkan biaya, lebih baik uang itu di tabung untuk keperluan pendidikan Nanda besok, kalau sudah membutuhkan."


Begitulah alasan Anjani menolaknya. Bukannya dia tidak mau menerima uang tersebut, tapi Anjani berpikir bahwa, Nanda masih belum butuh biaya yang besar untuk kehidupannya yang sekarang.


Makan dan lainnya, masih bisa dibantu oleh keluarga Anjani dan Abimanyu. Kadang-kadang, di saat Sekar gajian dan ada uang bonus, sering membeli pakaian dan makanan serta uang jajan untuk Nanda. Ayah Edi juga melakukan hal yang sama.


Ibu Sofie menangis dan menyesali semua perbuatannya selama ini pada Anjani. Ternyata, Anjani yang dia perlakukan dengan buruk, masih mau merawat cucunya, Nanda, bahkan membiayai juga. Hal yang mustahil untuk perempuan lain.


"Anjani, terima kasih untuk semua yang sudah Kamu lakukan untuk Yasmin dan Nanda. Maafkan Ibu, yang selalu berpikir buruk terhadapmu selama ini."


Ibu Sofie pun akhirnya meminta maaf dan menyesali perbuatannya. Dia akhirnya sering berkunjung ke rumah Anjani, menjenguk cucu-cucunya, yaitu Nanda dan Ara.


Nanda betah berada di rumah Anjani. Dia bahkan, tidak mau diajak pulang ke rumah kakek dan neneknya. "Acu di lumah Mama Ani, dek Ala ajak main Nda. Ma Ani ayang Nda," kata Nanda, yang masih belum jelas berbicara dan masih cadel.


Akhirnya, ibu Sofie tidak lagi memaksa untuk mengajak Nanda, hanya untuk sekedar pulang ke rumah. Tapi, dia dan suaminya, ayah Edi, yang lebih sering datang ke rumah Anjani, untuk menengok mereka semua.


Bila ada kesempatan untuk berlibur, ibu Sofie juga mengajak cucu-cucunya untuk jalan-jalan, atau sekedar membuat sebuah acara makan-makan bersama mengundang keluarga anaknya, Abimanyu dan Anjani, untuk datang ke rumah.


Hal yang sangat disyukuri oleh suaminya, ayah Edi. Karena istrinya itu sekarang ini sudah berubah dan tidak lagi berpikiran jahat kepada menantunya, Anjani.


Saat ini, Sekar juga sudah memiliki kekasih. Dia sangat selektif dalam memilih calon pendamping hidupnya. Dia tidak mau, kejadian Yasmin, menimpanya pada suatu hari nanti.


Sekar memperkenalkan kekasihnya pada ayah dan ibunya, saat mereka berada di rumah kakaknya, Abimanyu. Jadi, dia pastinya juga memperkenalkan kekasihnya itu pada kakaknya juga, Abimanyu dan Anjani juga.


Sekar ingin, mereka bisa dekat dan mengenal kekasihnya itu, dan bisa memberikan penilaian serta pandangan tentang Juna, kekasihnya.


"Ayah, Ibu, mas Abi. Ini mas Juna."

__ADS_1


Sekar memperkenalkan Juna, kekasihnya, pada kedua orang tuanya dan kakaknya, Abimanyu. Anjani ada di dalam kamar, jadi belum sempat diperkenalkan.


Untungnya, Juna orangnya ramah dan juga mudah bergaul. Jadi, dia bisa dengan cepat akrab dengan keluarga Sekar. Dia juga nyambung saat membicarakan tentang banyak hal. Mungkin karena Juna bekerja di bagian humas suatu instansi pemerintah juga, jadi dia bisa cepat menyesuaikan diri dengan keadaan dan situasi yang ada.


*****


Dua tahun lebih dua bulan, kontrak kerja Yasmin di luar negeri selesai. Dia sebenarnya ingin melanjutkan kontrak kerja lagi, tapi ibunya ingin dia pulang terlebih dahulu. Kalau bisa, Yasmin di minta untuk bekerja di Indonesia saja.


"Pulang Yasmin. Kasihan anak Kamu. Lebih baik, Kamu kerja di Indonesia saja. Hutang-hutang Kami juga sudah tidak terlalu banyak, seperti dulu. Nanti, lama-lama juga akan lunas kalau Kamu bisa mengelola keuangan."


Begitu nasehat yang diberikan oleh ibu Sofie pada anaknya, Yasmin, saat menelpon dan meminta ijin untuk tidak pulang, karena Yasmin ingin melanjutkan kontrak kerjanya.


Ayah Edi juga menyetujui perkataan istrinya itu. Dia mengatakan pada Yasmin, supaya pulang dan bekerja di Indonesia. Selain lebih dekat dengan rumah, Yasmin akan tetap bisa bertemu dengan anaknya, Nanda.


"Baiklah Bu, Yah. Yasmin pulang minggu depan."


Ibu Sofie pun menangis mendengar jawaban dari Yasmin. Dia tidak menyangka, jika anaknya yang manja itu sekarang bisa berubah dan menjadi lebih dewasa.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


Pintu rumah di ketuk-ketuk dari luar, kemudian tak lama, bel rumah berbunyi. Ada tamu yang datang.


Ibu Sofie dan ayah Edi keluar dari kamar. Mereka berdua ingin tahu, siapa yang datang ke rumah mereka saat ini.


Ternyata bibi pembantu rumah, sudah membukakan pintu untuk tamu tersebut. Dan tamu itu masih ada di luar rumah, belum di persilahkan untuk masuk oleh bibi pembantu.


"Siapa Bi?" tanya ibu Sofie ingin tahu.


Dan saat tahu siapa yang datang, ibu Sofie dengan ayah Edi sangat terkejut, melihat siapa yang datang ke rumah untuk bertamu.


Tamu itu adalah Wawan. Mantan menantunya yang mereka pikir masih ada di dalam penjara.

__ADS_1


"Wawan!"


"Kamu."


Ayah Edi dan ibu Sofie, berbarengan menyapa dengan rasa terkejutnya. Apalagi selama ini, Wawan tidak pernah memberi kabar apapun. Dan ayah Edi hanya mendengar kabar tentang Wawan yang sudah tertangkap dan dipenjara untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.


"Maaf Yah, Ibu. Wawan datang hanya ingin mengajak Nanda ikut bersama denganku. Aku ingin merawatnya. Sekarang Aku hidup di daerah Sumatra, bersama dengan keluarga istriku."


Dengan entengnya, Wawan bercerita tentang keluarga barunya. Mahasiswi yang ikut kabur bersama dengannya ke Bandung itu, ternyata orang Sumatra. Dia juga di tembus oleh keluarga istrinya itu, setelah di tahan di tahan selama setengah tahun.


Ayah Edi menghela nafas panjang. Dia berpikir jika, mantan menantunya itu mulutnya manis, jadi bisa dipastikan keluarga istrinya yang sekarang juga menjadi korban berikutnya.


Ayah Edi juga tidak mengijinkan Wawan membawa Nanda. Dia berkata jika Nanda sudah hidup layak dan terjamin, jadi Wawan tidak perlu repot-repot untuk memikirkan kehidupan Nanda.


"Tapi Yah, Nanda adalah anakku!"


Wawan bersikukuh untuk meminta anaknya, Nanda.


"Bukan. Dia bukan anakmu."


Ayah Edi dengan tegas, menolak klaim Wawan untuk Nanda.


"Apa maksud Ayah?" tanya Wawan bingung dengan perkataan mantan ayah mertuanya itu.


"Menurut keputusan hakim pengadilan, hak asuh Nanda ada pada ibunya, Yasmin. Jika Kamu tidak percaya, Kamu bisa bertanya pada pengadilan agama."


Ayah Edi dan Abimanyu, sudah memikirkan sejauh itu pada saat proses perceraian Yasmin. Mereka berdua, meminta hak asuh Nanda jatuh pada Yasmin, dengan alasan bahwa, ayah Nanda, Wawan, sedang ada di dalam lembaga pemasyarakatan. Jadi tidak mungkin bisa membiayai kebutuhan Nanda. Wawan juga tidak mungkin bisa mengasuh dan mendidik anaknya itu, jika Wawan berada di dalam penjara.


"Baiklah kalau begitu. Tapi, Wawan ingin bertemu dengan Nanda, untuk sekali ini saja Yah."


Wawan memohon kepada ayah Edi, supaya bisa bertemu dengan anaknya, Nanda.


Ayah Edi berpikir, jika ini untuk terakhir kalinya. Dia pun menyetujui permintaan Wawan. Lagipula, Wawan tetaplah ayahnya Nanda, jadi mereka berdua tetap punya pertalian darah. Dia akan memberikan kesempatan kepada Wawan untuk bertemu Nanda. Biar Nanda juga tahu, siapa dan bagaimana wajah ayahnya, Wawan.

__ADS_1


__ADS_2