
Hari yang ditunggu-tunggu oleh keluarga ayah Edi dan ibu Sofie, akhirnya datang juga. Mereka semua, sudah menunggu kedatangan Yasmin, bersama dengan suami dan anaknya, yang akan pulang ke Indonesia, dari negara Taiwan sana.
Ara, ikut menjemput mereka bersama dengan eyangnya, ayah Edi dan ibu Sofie.l, dengan disupiri menantu mereka, yaitu Juna, suaminya Sekar. Sedang yang lainnya, hanya menuggu kedatangan mereka semua di rumah.
Di rumah ayah Edi dan ibu Sofie, jadi ramai, dengan kedatangan keluarga anak-anak mereka, bersama dengan cucu-cucunya juga.
Anggi dan Miko, awalnya juga mau ikut ke bandara, untuk menjemput kedatangan tante dan sepupu mereka, yang belum pernah mereka temui dalam beberapa hari tahun terakhir ini.
Yasmin pernah pulang beberapa kali ke Indonesia, saat Abimanyu masih dalam keadaan lumpuh, meskipun sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Tapi waktu itu dia pulang sendiri, dan Nanda masih berada di Indonesia.
Setelah itu, dia juga pernah pulang ke Indonesia lagi, bersama dengan suaminya, saat kakaknya, Sekar baru saja melahirkan.
Begitu juga saat Anjani baru saja melahirkan anak keduanya, yaitu Anggi. Yasmin juga pulang ke Indonesia, meskipun sendiri, dan tidak bersama dengan suaminya ataupun Nanda.
Kepulangan Yasmin ke Indonesia, setelah menikah, memang lebih sering dibanding sebelum dia menikah. Tapi kepulangannya itu, tidak pernah bersama dengan anaknya, Nanda. Itu karena Nanda harus sekolah, dan tidak bisa mengambil libur atau cuti, dengan mudah. Berbeda jauh dengan Indonesia, untuk sistem pendidikan dan cara belajar mereka. Begitu juga dengan aturan-aturan libur, untuk anak-anak pelajar, di bawah tingkat sekolah tinggi, atau universitas.
Itulah sebabnya, dia ingin sekolah di Indonesia saja, di Jakarta, bersama dengan saudara-saudaranya yang lain, dan tinggal bersama dengan eyangnya, ayah Edi dan ibu Sofie.
Awalnya, papa tirinya memintanya untuk tinggal di kampung halamannya, tapi di sana juga tidak ada yang menjaga Nanda, meskipun mereka berdua, Yasmin dan suaminya, akan pindah ke daerah, dimana kampung halaman suaminya berada. Tapi tentu saja, itu bukan untuk waktu dekat ini. Masih ada beberapa hal yang harus mereka pikirkan dan lakukan, untuk melaksanakan rencana mereka itu.
"Kaka Nanda itu pacarnya kak Ara ya Ma?"
Tiba-tiba, Miko yang sedari tadi bermain bersama dengan Anggi, bertanya pada mamanya, Sekar.
"Eh, dari mana tahu kata pacar?" tanya Sekar kaget, dengan pertanyaan yang diajukan oleh anaknya, yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak itu.
Abimanyu dan Anjani, yang berada di tempat itu juga, hanya mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari Miko pada mamanya, Sekar.
Anggi juga hanya bisa diam, mendengar pertanyaan dan jawaban yang diberikan oleh tantenya, Sekar, yang merupakan mama dari Miko sendiri.
__ADS_1
"Kan kalau ada cewek dan cowok, yang udah gede dan sama-sama kangen, katanya pacaran," kata Miko, yang memberikan penjelasan kepada mamanya, dengan maksud pertanyaan yang dia ajukan tadi.
"Memang Miko dengar apa dari kak Ara?" tanya Sekar lagi, pada anaknya, Miko.
Sekar berpikir jika, anaknya itu, pasti mendengar sesuatu dari Ara atau yang lainnya, saat mereka sedang berbincang-bincang, tentang kedatangan Yasmin dan Nanda hari ini.
"Itu kemarin-kemarin, saat bunda Jani mengingatkan Kak Ara, supaya tidak punya rencana apa-apa bersama dengan temannya, hari ini, karena kak Nanda akan datang. Dan kak Ara bilang jika, dia juga tidak ada rencana ke manapun, sebab sudah kangen dengan kak Nanda. Begitu Ma, kata kak Ara, sama bunda Jani. Iya kan Bunda Jani?"
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Miko, pada mamanya, Sekar.
Tapi setelah itu, Anjani jadi membuat sebuah alasan, untuk menjelaskan tentang kata 'kangen' yang dimaksud oleh anaknya, Ara, waktu itu.
Alasan lain yang membuat Ara mengatakan ' kangen' adalah perasaan yang dia miliki, sama seperti seorang saudara. Karena dulu, Nanda dan Ara sering bersama-sama, dan memang diasuh oleh Anjani pada saat itu. Bahkan, saat Abimanyu sedang lumpuh, dan Nanda masih berada di Indonesia, Anjani juga yang mengasuhnya.
Abimanyu dan Sekar, tampak mengangguk mengiyakan perkataan dan Penjelasan yang diberikan oleh Anjani, pada Miko. Jika perkataan Ara dengan kata 'kangen' waktu itu adalah, perasaan yang ada untuk sesama saudara, bukan seperti yang ditanyakan oleh Miko tadi.
"Miko kalau tidak bermain dengan Anggi, sehari saja, kangen tidak? pengen datang ke rumah dan main dengan Anggi tidak?" tanya Anjani, memberikan contoh yang mudah untuk Miko, yah masih kecil dan belum bisa dengan mudah memahami semua yang sudah dia jelaskan.
"Ihhh... Miko!"
Anggi tidak terima. Dia meneriaki Miko, karena jawaban yang dia berikan pada bundanya itu. Hal ini tentu membuat mereka berdua jadi saling ngeyel dan ribut, sehingga rumah ayah Edi dan ibu Sofie yang biasanya sepi, jadi ramai dengan ulah Anggi dan juga Miko.
Anjani dan Abimanyu, hanya bisa mengeleng beberapa kali, melihat tingkah laku anak-anak mereka itu.
Begitu juga dengan Sekar. Dia juga tertawa-tawa senang, sambil mengelus-elus perutnya yang membesar. Dia juga ikut mengeleng beberapa kali, karena anaknya itu, Miko, usil dengan sepupunya, Anggi.
*****
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, Ara duduk dengan cemas, bersama dengan eyangnya, ayah Edi dan ibu Sofie, karena menunggu kedatangan sepupunya, Nanda, yang akan segera datang bersama dengan mamanya dan juga papa tirinya. Aksan.
__ADS_1
Papa tirinya Nanda, punya rencana ke depan nanti, untuk pensiun dari bekerja di negara Taiwan sana.
Aksan dan Yasmin, sedang berencana untuk membuat suatu usaha, di kampung halamannya Aksan.
Tapi karena saat ini Yasmin sedang hamil tua, dan ingin melahirkan di Jakarta, akhirnya mereka bertiga pulang ke Indonesia terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk benar-benar pensiun dari sana.
Apalagi, Nanda juga sudah besar, dan ingin sekolah di Indonesia saja. Akhirnya, waktu yang tepat ini juga, Yasmin pulang bersama dengan keluarganya, untuk persiapkan dirinya melahirkan dan rencana pindah sekolahnya Nanda.
"Eyang. Masih lama gak?" tanya Ara, yang terlihat jelas jika sedang tidak sabar menunggu.
"Beberapa menit lagi, pasti pesawat akan datang Ara. Sabar ya," jawab eyang putrinya, ibu Sofie.
"Tapi ini udah setengah jam kita menuggu Eyang," kata Ara, dengan merajuk seperti anak kecil.
"Kan tadi kita berangkat lebih awal, dan itu jalan tadi lumayan lancar kok. Jadi ya kita sampai juga lebih awal kan?"
Ara mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dari eyang putrinya itu. Meskipun sebenarnya Ara tetap saja merasa was-was dalam hati.
Ara juga tahu bahwa, kedatangan kakak sepupunya itu, Nanda, masih akan lama, untuk beberapa menit ke depan. Tapi tetap saja, itu tidak mengurangi perasaan yang ada di dalam hatinya sendiri.
Ada rasa kangen dan juga rindu untuk sepupunya, tapi Ara juga takut, seandainya Nanda sudah berubah, dan tidak lagi sama seperti dulu lagi.
Itu karena Ara takut, jika pergaulan Nanda di Taiwan sana, juga ikut-ikutan dengan cara yang bebas, dan tentunya tidak akan sama seperti saat berada di Indonesia dulu.
Tapi ketakutan dan rasa was-was yang bercampur dengan rasa kangen, membuat Ara terlihat seperti orang yang sedang sakit. Dan itu membuat kedua eyangnya menjadi khawatir dengan keadaan Ara.
"Ara, Kamu sakit Sayang?" tanya ibu Sofie, dengan memeriksa keningnya Ara, memeriksa suhu tubuh cucunya.
"Gak. Ara gak sakit Eyang," elak Ara cepat.
__ADS_1
Dia merasa baik-baik saja, dan tidak merasa sakit pada tubuhnya. Dua hanya merasa bahagia, yang bercampur dengan perasaan was-was, yang sebenarnya tidak perlu dia rasakan.
Tapi sepertinya, kedua eyangnya itu tidak percaya begitu saja. Mereka berdua, meminta pada menantunya, Juna, untuk menemani Ara membeli minuman dan makanan, karena mereka berpikir jika Ara belum sarapan pagi, sehingga tubuhnya tidak kuat, karena merasa lapar.