Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bubur Ayam Versi Anggi


__ADS_3

Di Atlanta, Amerika.


Ara dan Anggi, sedang bergumul di tempat tidur sambil menunggu mata mereka mengantuk.


Anggi, yang mendominasi pembicaraan mereka berdua, dengan bercerita tentang sekolah dan juga teman-teman barunya.


Tentunya, teman-temannya Anggi juga kebanyakan orang-orang bule, dengan perawakan mereka yang besar dan tinggi. Tidak sesuai dengan umur, jika dibandingkan dengan orang-orang Indonesia pada umumnya.


Tapi menurut Anggi, ada juga yang unik, dari mereka yang berkulit hitam. Mereka tak kalah pintar, dari orang-orang berkulit putih.


"Jadi temen-temen Anggi itu gak cuma bule kak, tapi juga ada yang berkulit hitam."


Anggi tidak tahu, apa itu arti bule. Dia hanya mengartikan bahwa, orang-orang berkulit putih, adalah bule.


Hal yang sama seperti artian sebagian besar orang-orang Indonesia, yang mengartikan bahwa, orang berkulit putih dengan bule.


Ini karena bule umumnya digunakan di Indonesia, untuk keturunan asli Eropa atau orang kulit putih. Istilah ini dahulu juga digunakan untuk menggambarkan orang-berwarna kulit terang, pada zaman kolonial atau penjajahan di Indonesia.


"Kecerdasan seseorang, tidak tergantung warna kulit Dek. Jadi, sebenarnya kita tidak boleh membedakan antara kulit putih dan berwarna," ujar Ara, menjelaskan pada adiknya, Anggi.


"Iya Kak, tentu saja. Anggi juga banyak kok berteman dengan mereka. Dan mereka justru lebih suka dengan kulit Anggi, yang katanya unik. Hahaha... unik dari mana ya Kak?" Anggi bertanya pada kakaknya, tentang kelebihan kulitnya.


Kulit asli orang Indonesia.


Rata-rata masyarakat Indonesia memiliki kulit berwarna sawo matang atau kuning langsat. Kulit ini dianggap cantik dan eksotis oleh orang-orang luar negeri.


Hal ini dikarenakan letak Indonesia yang sangat strategis dan memiliki iklim tropis. Pada dasarnya kulit sawo matang atau kuning langsat ini hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia.


Jadi tidak mengherankan, apabila ada banyak wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia hanya untuk membuat kulit mereka agar terlihat lebih eksotis.


Bahkan sebagian besar dari mereka menganggap wanita Indonesia lebih cantik karena kulit sawo matang yang dimilikinya.


Maka dari itu, orang-orang bule rela berjemur di pantai berjam-jam, hanya untuk bisa mendapatkan warna kulit impian. Warna kulit yang sama seperti orang-orang Indonesia.


"Oh... gitu ya Kak. Pantes aja, ada tuh satu cowok yang suka tanya sama Anggi, makanannya apa, pakai sabun apa, tidurnya bagaimana? Kan risih Kak, di tanya kayak gitu," tutur Anggi, memberitahu Ara, tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh temannya.


"Hahaha... segitunya Dek? terus Kamu jawab apa?" tanya Ara, menanggapi perkataan dari Anggi.


"Bilang aja brotiwali. Hahaha..."


Anggi tertawa terbahak-bahak, saat teringat dengan jawaban yang dia berikan, pada saat temannya itu bertanya.


"Hah, seriusan Dek? terus dia tanya gak apa itu brotiwali?" Ara tidak menyangka jika, adiknya itu jail gak pandang tempat.

__ADS_1


"Pefff... Iya dia tanya juga sih," sahut Anggi, dengan senyuman yang dia tahan.


"Eh, jawabannya pasti gak sesuai dengan kenyataan?" tebak Ara, melihat gelagat Anggi yang mencurigakan, saat menahan tawa.


"Telek ayam. Hahaha..."


Ara memukul pundak adiknya, sangking gemasnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Anggi tadi.


"Yang bener Dek? serius Kamu jawab telek ayam?" tanya Ara, yang tidak percaya jika Anggi akan memberikan jawaban seperti itu.


"Iya Kak. Abis dia tanya terus. Kan Anggi capek jawabnya," keluh Anggi, dengan bibir cemberut.


"Mereka kan memang ingin tahunya banyak Dek. Terus-terus gimana? dia tanya lagi gak telek ayam itu apa?" Ara justru semakin tertarik, dengan cerita Anggi yang usil dengan teman-teman bule-nya.


"what's that telek ayam?" Anggi menirukan pertanyaan dari temannya.


"Terus-terus, Kamu jawab apa?" Ara semakin gemas dan ingin mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya, tentang telek ayam versi pertanyaan bule itu.


Ternyata, Anggi memberikan jawaban itu dengan devinisi bubur ayam. Yaitu berupa bubur nasi atau beras yang dimasak dengan air yang banyak sehingga memiliki tekstur yang lembut dan berair, sehingga menjadi lembek.


Bubur biasanya disajikan dalam suhu panas atau hangat. Bubur ayam disajikan dengan irisan daging ayam dengan beberapa bumbu, seperti kecap asin dan kecap manis, merica, garam, dan kadang-kadang diberi kaldu ayam.


Bubur ayam biasanya dilengkapi dengan taburan daun bawang cincang, bawang goreng, seledri, tongcai atau sayur asin, kacang tanah goreng, cakwe, dan kerupuk.


Bubur ayam cocok bagi mereka yang kurang menyukai masakan Indonesia yang pedas, karena bubur umumnya tidak pedas.


Dan Anggi, menjabarkan tentang bubur ayam secara detail, untuk teman bule-nya itu.


"Wah, gimana seandainya teman bule Kamu itu datang ke Indonesia, terus nyari makanan telek ayam, sama seperti yang Kamu jawab? Kakak gak bisa bayangin, jika penjual akan kebingungan, dengan permintaan teman Kamu itu Dek. Hahaha..."


Ara ikut tertawa, membayangkan teman adiknya itu, mencari-cari makanan jenis telek ayam tersebut.


"Ada-ada aja Kamu Dek," ucap Ara, sambil terus mengelengkan kepalanya.


"Hihihi..."


Anggi justru terkikik geli, membayangkan telek ayam yang dia tahu, bagaimana kebenarannya.


Tok tok tok!


"Kak, Adek. Ayo buru tidur. Sudah malam ini."


Suara ketukan pintu kamar, dan suara bundanya, Anjani, terdengar dari luar kamar.

__ADS_1


"Iya Bun," sahut Anggi, setelah menghentikan tawanya yang tadi.


"Ya udah yuk tidur," ajak Anggi, pada kakaknya, Ara.


"Ini selimut Anggi Kak," ujar Anggi, saat melihat Ara mengunakan selimutnya.


"Punya Kakak mana?" tanya Ara, yang tidak melihat selimutnya sendiri.


"Di bawa ayam. Wkwkwk..."


"Ihhh.. Adek!"


*****


Di flat sederhana, tempat Awan tinggal.


Mama Amel, bermalam di tempatnya Awan. Dia tidak kembali ke mension, karena masih ingin bersama dengan cucunya itu.


"Wan. Kamu sudah bicara dengan Ara, soal..."


"Udah Oma. Tapi gak ngomong sih," sahut Awan, sebelum omanya bertanya lebih lanjut.


"Eh, terus gimana?" tanya mama Amel bingung.


Akhirnya, Awan menceritakan tentang kejadian, di mana Anggi membawa gulali saat itu.


Dari gulali itulah, akhirnya mereka berdua bisa bersatu, karena saling tahu, bagaimana perasaan masing-masing.


"Hehehe... ada-ada saja Kamu ini Wan, Awan. Jadi kisah yang unik."


Mama Amel mengeleng beberapa kali, membayangkan bagaimana keadaan waktu itu, di saat Ara mengartikan sendiri, isyarat yang di buat oleh Awan, dari bentuk gulali yang diberikan oleh Anggi kemarin.


"Besok jadi, ajak Ara jalan-jalan?" tanya mama Amel, memastikan bahwa, Awan ada waktu untuk bertemu dengan Ara.


"Kayaknya gak bisa Oma. Jadwal kampus padat banget. Bagaimana baiknya Oma?" Awan justru balik bertanya.


"Pintar-pintarnya Kamu itu, buat meluangkan waktu bersama Ara. Apalagi, Ara kan juga cuma sebentar saja liburannya. Setelah itu, dia akan kembali ke asrama, dan kapan waktunya bisa ketemu lagi?"


Awan jadi merasa bersalah juga, jika dia tidak meluangkan waktunya untuk Ara. Tapi, kegiatan kampus juga tidak bisa dia abaikan begitu saja.


"Nanti coba mensiasati waktu, dengan Ara ikut ke kampus. Hehehe... kayaknya seru Oma," ujar Awan, saat mendapatkan ide.


"Eh, bagus juga itu. Tapi, di kampus aman kan?"

__ADS_1


Mama Amel sepertu merasa khawatir, jika terjadi sesuatu pada Ara, saat Awan harus ada jam kuliah atau sidang tugas.


"Aman kok Oma," jawab Awan, yang merasa yakin, jika di kampusnya, semua orang baik-baik dan tidak reseh, sama seperti yang seringkali ada di berita-berita sosial media.


__ADS_2