Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Berbeda Rencana


__ADS_3

Di rumah Dika, pada saat malam hari.


"Ma. Mama kenapa gak cerita, jika ayahnya Diyah yang kemarin keserempet?" tanya Dika, pada mamanya.


Ada raut wajah yang tampak kecewa, terlihat pada wajah Dika saat ini. Dia menyesal, karena sudah berpikir dan berkata macam-macam, dengan orang yang diserempet mobil papanya kemarin itu.


Dan ternyata, orang itu adalah ayahnya Diyah, cewek kelas tujuh, yang dia taksir.


"Maksud Kamu gimana Dik?" mamanya Dika, balik bertanya pada anaknya, Dika.


Dika bertanya pada mamanya, dan juga menyalahkan, atas ketidaktahuannya, soal ayahnya Diyah dan Diyah juga.


"Mana Mama tahu, jika anaknya pak Abi adalah cewek yang Kamu taksir. Siapa itu namanya... emhhh Diyah ya? Kamu juga, masak naksir cewek kok gak tahu rumahnya, kebangetan itu Dika! Bagaimana kalau cewek itu ternyata sudah jadian sama Awan? Kayaknya, dia asyik-asyik aja jalan sama Awan."


Mamanya Dika, justru ganti menyalahkan anaknya, dengan ketidaktahuannya sendiri. Dika juga mendapatkan ceramah dari mamanya.


"Atau jangan-jangan, mereka berdua memang sudah dekat sedari dulu, karena ayahnya cewek itu, adalah pegawai di PT SAMUDERA GROUP. Atau ayahnya itu sudah tahu, jika Awan adalah cucunya big bos di tempat dia bekerja, dan berusaha untuk mendekatkan anaknya, dengan pewaris PT SAMUDERA GROUP, di mana dia bekerja."


Mamanya Dika, kembali mengutarakan pikirannya, dan itu malah membuat Dika mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Mereka berdua memang udah kenal Ma. Tapi... Dika tidak tahu, soalnya Awan diem aja tuh, saat Dika bilang suka dan mau mendekati Diyah. Awan biasa aja."


Sekarang, ganti mamanya Dika yang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh anaknya itu.


"Ya udah, Kamu buru jadian sama si Diyah itu. Bantuin Mama juga, biar ayahnya Diyah, setuju dengan permintaan kita."


Dika melihat ke arah mamanya, dengan wajah yang bingung. Dia tidak tahu, apa yang maksud dari perkataan mamanya tadi. "Maksud Mama bantu apa?" tanya Dika, ingin mendapatkan kejelasan tentang apa yang dikatakan oleh mamanya tadi.


Akhirnya, mamanya Dika menjelaskan pada anaknya, tentang tawaran yang dia berikan pada ayahnya Diyah. Ini menyangkut kepentingan perusahaan miliknya, dan kerja sama yang dia lakukan bersama PT SAMUDERA GROUP, milik omanya Awan.


Dika mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar penjelasan yang diberikan oleh mamanya sendiri.


"Gak ah Ma. Ini ribet, dan jika Diyah sampai tahu, bisa kacau dan pastinya dia akan marah banget."


Dengan terang-terangan, Dika menolak permintaan mamanya.


"Dika! Ini untuk masa depan Kamu juga." Mamanya Dika, mulai tampak kesal, karena tidak bisa menyakinkan anaknya itu, untuk mengikuti apa yang dia rencanakan.

__ADS_1


"Tapi Ma..."


"Sudah. Ikuti saja apa yang Mama katakan. Jika Kamu tidak mau, tidak usah berpikir bahwa, Mama akan menyetujui hubunganmu dengan si Diyah itu."


Dika terdiam, mendengar perkataan mamanya, yang tidak mungkin bisa di bantah lagi.


Mamanya Dika berpikir bahwa, keluarga Diyah tidak ada apa-apanya, dibandingkan dengan keluarganya, yang sudah memiliki perusahaan sendiri, dan sedang berkembang.


Apalagi, mamanya Dika juga berpikir jika, istrinya pak Abi, mamanya Diyah, hanya ibu rumah tangga, yang tidak memiliki pendapatan sendiri. Dan itu pasti membuat keluarganya membutuhkan uang lebih, jika ingin hidup lebih enak dari pada yang sekarang ini.


*****


Di rumah mama Amel, saat makan malam.


"Wan. Kamu jadi kan kuliah ke Amerika?" tanya opanya Awan. Papa Ryan.


Awan diam sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari opanya tadi. "Harus ya opa? Dulu, ayah kuliah di Indonesia kan, gak di luar negeri?"


"Itu karena ayah Kamu udah gak bisa lepas dari bunda Kamu Awan. Makanya, dia bela-belain buka usahanya sendiri juga, yang pada akhirnya jatuh juga," sahut omanya, mama Amel, yang akhirnya merasa kesal lagi, jika ingat dengan beberapa kejadian di masa lalu anaknya, Elang.


"Ma," panggil papa Ryan, yang meminta pada istrinya, supaya tidak lagi mengungkit-ungkit masa lalu anaknya.


"Tapi..."


Awan tidak melanjutkan kalimatnya, karena melihat papanya yang sedang mengeleng, meskipun hanya terlihat samar.


Akhirnya, Awan tidak jadi mengatakan apa-apa. Dia melanjutkan kegiatannya yang tadi berhenti, yaitu makan.


"Wan, Kamu itu pewaris tunggal, jadi..."


"Ma. Tolong, jangan bicarakan tentang apa-apa, saat kita makan."


Mama Amel terdiam, mendengar anaknya, Elang, yang memotong kalimatnya, sebelum selesai.


Akhirnya, mama Amel hanya bisa menghela nafas panjang, karena merasa bersalah juga, telah mengacaukan acara makan malam mereka ini.


"Maaf."

__ADS_1


Hanya kata maaf yang bisa dikatakan oleh mama Amel, karena memang seharusnya dia tidak membahas apapun, pada saat makan.


"Opa juga minta maaf Awan. Jadi, terserah Kamu saja. Yang penting Kamu nyaman saja di tempat Kamu kuliah nanti."


Papa Ryan juga meminta maaf, dan tidak lagi memaksakan kehendaknya sendiri kepada Awan. Dia tidak mau jika, cucunya itu merasa terbebani, dengan apa yang direncanakan Oma dan opanya.


Opanya Awan, papa Ryan, berpikir bahwa, cucunya itu tidak bisa dia paksa. Dia hanya perlu memantau saja, apa-apa yang akan dilakukan oleh cucunya nanti.


Sekarang, mereka semua kembali melanjutkan makan malam mereka, dan tidak lagi membahas sesuatu, yang bisa dibicarakan nanti di waktu yang lain.


Beberapa saat kemudian, mama Amel tampak berjalan menuju ke arah ruang tengah, di mana suami dan anaknya, Elang, berada.


"Lang, mana Awan?" tanya mama Amel, menanyakan keberadaan cucunya.


"Ada di kamar Ma," jawab Elang memberitahu.


"Jadi... bagaimana Lang? Maksud Mama, baiknya Awan kuliah di mana?" Mama Amel, kembali bertanya pada anaknya, untuk membahas tentang masa depan cucunya. Anaknya Elang sendiri.


"Elang tidak mau memaksa Awan Ma. Terserah dia mau kuliah di mana nantinya," ujar Elang, mengatakan apa yang dia lakukan untuk kebaikan anaknya, Awan.


"Tapi Lang, Mama ingin dia bisa lebih baik dan tenang saat belajar."


"Maksud Mama?"


Akhirnya, mama Amel menjelaskan pada anaknya, Elang, tentang bagaimana perasaan Awan, pada Ara.


"Mama tahu dari mana? Apa Awan pernah bilang sama Mama?" tanya Elang, yang merasa heran, karena mamanya tahu, apa yang dirasakan oleh anaknya. Tentang perasaan hatinya.


"Mama itu merhatiin tiap gerak-gerik Awan Lang. Ya, namanya juga anak muda. Sayangnya, dia tidak seberani Kamu, saat usianya sama seperti Kamu, pada masa abu-abu sekarang. Mungkin juga karena Ara itu masih terlalu kecil. Kan masih kelas tujuh dia. Beda sama Kamu dan Adhisti, yang satu tingkatan."


Awan menghembuskan nafas panjang, saat mendengar apa yang dijelaskan oleh mamanya, soal anaknya, Awan.


"Tapi Ma. Bukannya dia tahu jika, Ara itu anaknya Anjani?" tanya papa Ryan, yang sering tidak ada di rumah. Karena pekerjaannya.


Tentu saja, papa Ryan juga tidak mungkin sepeka istrinya, mama Amel, yang bisa memperhatikan bagaimana dan apa kebiasaan cucunya, yang hanya satu itu.


Di lain pihak, Elang jadi serba salah. Dia sebenarnya juga memendam rasa, pada seseorang yang sedari dulu dia sesali.

__ADS_1


Tapi karena keadaan, dia juga tidak mungkin bisa mendapatkan orang itu. Dia cukup tahu diri, dengan apa yang sudah dia lakukan pada masa lalu.


__ADS_2