
"Aduh, mereka kemana ini? kok belum muncul juga."
Guru yang mendampingi Ara merasa khawatir, karena Ara dan temannya, yang tadi pergi pamit untuk ke kamar kecil, belum juga kembali. Mereka berdua, belum datang, padahal, waktu tes akan segera di mulai.
"Mereka bisa terlambat. Didiskualifikasi nanti, kan Sayang banget. Sudah jauh-jauh datang, hujan juga. Masak iya harus pulang tanpa ada perjuangan?" pak guru, berkata seorang diri, menuggu dengan cemas kedatangan kedua muridnya yang belum juga terlihat bayangannya.
Apalagi, saat dari pengeras suara, ada pengumuman bahwa, semua peserta diminta untuk menempati urutan duduk, sesuai dengan urut yang ada di kalung peserta tes.
Tadi, Ara dan temannya juga memakai kalung dengan no urut yang digunakan untuk tempat duduk mereka. Dan itu hasil acak sistem, sehingga mereka berdua, tidak menempati posisi tempat duduk yang berdekatan.
Semua peserta, tidak saling kenal satu dengan yang lain. Mereka semua, berasal dari sekolah yang berbeda. Ini dilakukan untuk menghindari adanya saling kerjasama antar peserta tes. Jadi, nilai mereka didapat dengan cara berpikir sendiri dan murni dari usaha mereka sendiri juga. Tidak ada campur tangan dari orang lain.
Waktu yang sudah ditentukan tinggal dua menit, sedangkan Ara dan juga temannya, belum juga terlihat. Ini membuat guru mereka merasa sangat khawatir jika sampai mereka terlambat dan batal untuk mengikuti tes beasiswa mereka.
"Ayolah, kemana kalian berdua?" ucap pak guru dengan cemas.
Apalagi saat para peserta sudah menempati posisi tempat duduk masing-masing. Pak guru berjalan menuju ke luar aula, untuk mencari keberadaan kedua muridnya tadi.
Pak guru tampak bertanya pada beberapa orang yang menjadi panitia pelaksana seleksi beasiswa tersebut. Dia juga berusaha untuk mencari ke sekeliling, dan di saat waktu yang hampir habis, Ara dan temannya terlihat berlari-lari dari arah belakang.
"Cepat-cepat. Waktunya sudah mepet ini. Hampir dimulai!" teriak pak guru dengan keras, meskipun dalam hatinya, ada perasaan yang lebih baik daripada tadi, saat mereka belum bisa ditemukan.
Ara dan temannya, langsung ke dalam aula, dan menempati posisi tempat duduk mereka, sesuai dengan no urut yang ada di kalung mereka.
Pak guru tersenyum lega dari arah pintu. Dia sudah hampir putus asa, saat tidak menemukan kedua muridnya itu.
Tapi untuk menghemat waktu, pak guru tidak bertanya pada Ara dan temannya, kenapa mereka bisa terlambat dan hampir saja batal untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut.
Pak guru akan bertanya pada mereka nanti, saat waktunya pulang.
Dan sekarang, tes sudah dimulai. Semua orang yang tidak berkepentingan, di minta untuk menunggu di luar ruangan.
Begitu juga dengan para guru yang mendampingi peserta. Jadi tidak boleh ada orang lain yang ada di dalam ruangan tersebut, kecuali para peserta dan petugas, dari kepanitiaan penerimaan beasiswa berprestasi yang mereka selenggarakan itu.
__ADS_1
Ara dan semua peserta, sudah siap untuk mengerjakan semua soal yang akan diujikan pada mereka.
Ruangan menjadi sunyi senyap dan tidak ada suara apapun. Mereka sama-sama berkonsentrasi. Begitu juga dengan para petugas panitia, yang mengawasi jalannya tes tersebut.
Semua diam dan hanya melakukan tugasnya masing-masing.
Di luar ruangan, semua orang yang mendampingi para peserta, sama juga terdiam. Mereka masing-masing sedang berdoa, agar murid-murid mereka bisa mengerjakan soal tes. Mereka ingin, supaya anak didik mereka, bisa lolos dan berhasil mendapatkan beasiswa tersebut. Karena semua itu, bisa meningkatkan popularitas Nana sekolah asal, sehingga menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi para pendidiknya.
*****
Setelah hampir dua jam lamanya, Ara dan para peserta tes yang lain, keluar dari dalam ruangan aula.
Ada wajah-wajah yang terlihat seperti anak-anak yang baru saja selesai bermain. Ada yang terlihat sedih, tegang, pucat, lega, tapi ada juga yang datar dan tidak ada ekspresi.
Mereka menuruti bagaimana perasaan hati mereka saat mengerjakan soal tes tadi.
Ara tampak tersenyum-senyum bersama dengan temannya. Dia keluar paling belakang, disusul kemudian beberapa petugas panitia yang keluar dengan membawa beberapa alat-alat mereka.
Sedangkan semua lembar kerja para peserta, langsung di koreksi di tempat itu juga. Sebab, pengumuman hasil tes tersebut, juga akan diumumkan hari ini juga, setelah semuanya selesai dikoreksi. Jadi para peserta tidak diperbolehkan untuk pulang.
Begitulah akhirnya, mereka semua menunggu hasil koreksi dan nilai, dengan wajah-wajah yang tegang.
Tapi karena kebanyakan peserta juga anak-anak, pastinya mereka tidak terlalu memikirkan tentang banyak hal. Keceriaan mereka, tetap terlihat. Apalagi, bisa mendapatkan teman baru dari sekolah lainnya juga
Pengalaman baru untuk anak-anak yang mulai tumbuh remaja.
Setelah hampir setengah jam menunggu, panitia mengumumkan bahwa para peserta dan pendamping, dipersilahkan untuk masuk ke dalam ruangan aula.
Perasaan deg-degan mulai dirasakan lagi oleh semua peserta. Mereka masuk dengan perasaan yang was-was dan tegang.
Ara dan temannya juga sama. Rasa deg-degan yang mereka rasakan saat Mbaru datang, kembali mereka rasakan lagi. Apalagi, saat ini adalah waktunya penentu keberhasilan mereka berdua dengan hasil tes tadi.
"Ara. Aku deg-degan banget nih," kata temannya Ara.
__ADS_1
"Iya sama. Aku juga deg-degan ini," ucap Ara, mengatakan perasaannya saat ini.
"Peserta yang lain juga sama seperti kita gak sih? kok aku lihat mereka kayaknya tenang banget," tanya temannya Ara lagi, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, dimana para peserta juga sudah duduk menunggu.
"Paling juga sama seperti kita. Hanya saja, mereka tidak berbicara tentang perasaannya pada kita, hehehe..." Ara terkekeh sendiri, mendengar jawabannya.
"Hihihi... iya paling."
Akhirnya, temannya juga terkikik geli, saat sadar jika para peserta tidak kenal dengan mereka dan tidak mengatakan apa-apa pada mereka tentang perasaannya. Jadi tentunya mereka juga tidak tahu, apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Tak lama, panitia memberikan pengumuman.
"Para peserta, boleh melihat link web yang kemarin dipakai untuk pendaftaran. Disitu, ada nama-nama peserta yang lulus seleksi tes beasiswa hari ini!"
Semua pendamping, membuka handphone masing-masing, untuk melihat link web yang kemarin ada. Mereka semua ingin segera mengetahui, apakah anak didik mereka lolos atau tidak seleksi beasiswa tadi.
Gurunya Ara juga sama. Dan tak lama kemudian, dia tersenyum lebar karena melihat nama Ara di salah satu peserta yang lolos seleksi. Begitu juga mana temannya Ara. Jadi, kedua anak didiknya, lolos semua. Pak guru jadi merasa bangga dengan keberhasilan kedua muridnya itu.
"Se_selamat ya untuk kalian berdua. Kalian lolos!" kata pak guru dengan suara yang bergetar.
"Bemar Pak?" tanya Ara dan temannya bersamaan.
Pak guru mengangguk mengiyakan. Mereka berdua, Ara dan temannya, saling berpelukan dalam kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
"Selamat ya Ara!"
"Iya. Selamat juga buat Kamu. Semoga kita satu kelas lagi ya."
Mereka berdua, sama-sama berdoa, agar bisa dijadikan satu kelas lagi untuk nantinya.
"Sekarang, kalian berdua ambil kertas penerimaan beasiswa di meja panitia. Kita pulang dan akan Bapak traktir kalian makan sebelum pulang ke rumah," kata pak guru, memberikan suntikan semangat pada anak didiknya itu, Ara dan temannya.
Dengan senang hati, Ara dan temannya, berjalan menuju ke meja panitia, dan menyerahkan kalung peserta tes, untuk ditukar dengan pin penerimaan beasiswa mereka.
__ADS_1
Setelah itu, mereka kembali ke pada guru mereka, untuk merayakan keberhasilan keduanya.