
"Perkenalkan, ini anak Saya, Elang dan yang ini cucu Saya, anaknya Elang. Awan."
Mama Amel, memperkenalkan Elang dan Awan, pada kedua orang yang sudah duduk menunggu. Mereka adalah kenalan mama Amel, salah seorang pengusaha juga di Jakarta. Meskipun usaha mereka tidak sebesar usaha mama Amel.
Sedangan yang satunya adalah anak gadis mereka. Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di negeri Jiran, Malaysia. Dan antara mama Amel dengan kedua orang tuanya, ingin menjodohkan dengan Elang, yang sudah berstatus duda itu. Meskipun sebenarnya, Elang sendiri tidak begitu berminat dengan acara perjodohan, yang sering dilakukan oleh mamanya.
Elang pun akhirnya menjabat tangan mereka bertiga, layaknya seseorang yang sedang berkenalan.
Begitu juga dengan anaknya, Awan. Dia juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh ayahnya. Berkenalan dengan ketiga orang yang ada di depannya saat ini.
Tak lama, pelayan dipanggil oleh mama Amel, untuk memesan makanan untuk mereka semua.
Dan acara makan malam bersama dimulai, sambil berbincang-bincang hal-hal yang biasa, dengan saling bertanya-tanya.
Mama Amel bertanya tentang anak gadis tersebut, dan pihak yang lain bertanya juga tentang Elang. Meskipun sebenarnya mereka sudah tahu, seperti apa Elang selama ini, karena dia memang ikut bekerja di perusahaan milik mamanya.
Tapi sang gadis, tidak ikut bertanya-tanya. Dia hanya diam mengamati antara Elang, Awan dan mama Amel. Dia pikir, jika benar, mama Amel ini pengusaha besar, lebih besar dari kedua orang tuanya, kenapa penampilan Elang dan Awan tidak sama seperti seseorang yang berkelas atas. Mereka hanya memakai pakaian biasa, dan tidak ada rapi-rapinya sama sekali, Dimata gadis itu.
Gadis itu jadi tidak percaya dengan cerita kedua orang tuanya, tentang keluarga mama Amel.
Dia berpikir, jika orang-orang kelas atas, selalu berpakaian formal jika sedang melakukan pertemuan dan juga jamuan makan. Apalagi, ini juga bertujuan untuk saling berkenalan, yang akan memulainya untuk suatu hubungan yang lebih ke depan nanti.
Gadis itu jadi merasa tidak tertarik dengan Elang. Ini karena dia berpikir jika Elang tidak punya selera mode yang tinggi. Tidak selevel dengan dirinya dan juga pergaulan nanti.
"Bisa-bisa Aku malu, jika harus bersama dengannya dan jika Aku ajak dia diantara teman-temanku nanti, dia akan membuat diriku malu."
Begitulah kata hati gadis tadi. Dia tidak ingin meneruskan perkenalan ini lebih lanjut. Dia akan bicara dengan kedua orang tuanya, setelah sampai di rumah nanti.
Berbeda dengan penilaian gadis tadi, kedua orang tuanya justru memuji Elang. Mereka mengatakan jika Elang itu seorang anak pengusaha yang low profile meskipun sebenarnya Elang juga sudah memiliki beberapa usaha sendiri.
__ADS_1
Tapi, meskipun mendengar pendapat kedua orang tuanya, gadis itu sudah memutuskan untuk tidak mau, menerima Elang sebagai calon suaminya kelak. Apalagi sudah ada anak Elang yang remaja dan sebesar Awan.
Menurut si gadis, calon anak tirinya itu lebih layak jadi adiknya sendiri, dibanding sebagai seorang anak, meskipun anak tiri.
Dia sudah memutuskan dan itu tidak bisa di ganggu gugat. Meskipun dia harus berdebat mengenai semua ini, dengan kedua orang tuanya nanti, saat berada di rumah, sepulang mereka dari jamuan makan malam bersama ini. Yang penting, dia sudah mau di ajak mereka untuk bertemu dengan keluarga mama Amel.
Awan, sudah melihat gelagat yang tidak baik dari sang gadis. Dia melihat sedari tadi, gadis itu hanya fokus pada makanan dan handphonenya saja. Meskipun sesekali melirik ke arah ayahnya, atau ke arah dirinya sendiri. Tapi itu cara pandang yang meremehkan, menurut Awan.
Awan jadi tidak merasa senang, dengan gadis tersebut. Yang kata mama Amel, omanya, akan menjadi calon istri ayahnya. Calon mama tirinya sendiri.
Dilihat dari semua yang ditunjukkan oleh gadis tersebut, Awan yakin, jika gadis itu hanya bisa berdadan dan foya-foya saja. Tidak ada yang istimewa dan sama sekali tidak ada yang terlihat baik, sebagai seorang calon mama.
Awan ingin bicara dengan omanya, jika dia tidak ingin gadis itu yang akan menjadi mama tirinya, meskipun ayahnya tidak ada penolakan. Ini karena Awan yakin, jika ayahnya hanya mengikuti kemauan omanya saja. Ayahnya sudah tidak ada keinginan untuk mencari seorang istri sendiri. Ayahnya takut, jika salah menilai, sama seperti bundanya sendiri, Adhisti Andriyani. Yang saat ini sudah tiada.
Elang, yang memang sudah tidak bersemangat sedari rumah, hanya bisa diam dan tersenyum saja. Dia jarang ikut berbicara dengan mereka. Dia merasa tidak nyaman untuk sebuah pertemuan yang dimaksudkan untuk mencari calon istri, untuk dirinya sendiri.
*****
"Besok Mas? apa sudah bilang sama ayah dan ibu?" tanya Anjani, memastikan jika suaminya sudah memberikan kabar ini pada kedua orang tuanya.
"Belum," jawab Abimanyu pendek.
"Lho Mas. Ayah dan ibu bisa kaget kalau belum dikasih tahu dan kita mendadak pindahan. Bisa-bisa mereka berdua ada pengalaman dan juga merasa ada sesuatu yang terjadi pada kita nanti,"sahut Anjani, yang tidak ingin ada kesalahpahaman antara keluarga kecilnya dengan mertuanya itu.
"Iya, nanti Aku bicara dengan mereka saat sarapan."
Akhirnya, animasi memutuskan untuk bicara dengan kedua orang tuanya, setelah mereka keluar dari dalam kamar.
Anjani mengangguk. Dia juga tidak ingin membuat kedua mertuanya merasa terabaikan, karena tidak diberitahu tentang kepindahan mereka sedari awal.
__ADS_1
"Ara sudah tahu juga belum Mas?" tanya Anjani lagi.
"Justru Ara yang semalam Aku beritahu terlebih dahulu," jawab Abimanyu, karena semalam, dia yang menemani anaknya itu untuk tidur lebih dulu.
Nanda sudah berangkat ke Taiwan bersama dengan mamanya, Yasmin tiga hari yang lalu. Jadi, Ara sering merasa sedih, karena sendiri dan tidak ada temannya.
Ara akan berkunjung ke rumah tantenya Sekar, untuk buda bermain-main dengan adik sepupunya yang masih kecil. Itupun harus bersama dengan bundanya, atau dia akan diantar ke sana dan ditinggalkan terlebih dahulu oleh bundanya. Ini karena rumah mereka memang tidak terlalu jauh.
Tapi Anjani tetap tidak memperbolehkan Ara untuk pergi sendiri ke rumah tantenya, Sekar.
Dan pada saat sarapan pagi ini, Abimanyu benar-benar berbicara tentang kepindahannya besok, dengan kedua orang tuanya. Ayah Edi dan ibu Sofie.
"Yah. Bu. Abimanyu mau bilang, jika besok kami akan pindah ke rumah kami sendiri," kata Abimanyu, memulai pembicaraan.
"Pindah besok?" tanya ibu Sofie cepat.
Abimanyu mengangguk mengiyakan.
"Kan rencana bulan depan Abi?" tanya ibu Sofie lagi, yang pernah diberitahu anaknya itu, jika mereka berencana untuk pindah bulan depan.
"Abi mau besok saja Bu. Lebih baik lebih baik. Dari pada rumahnya juga nganggur, kan sudah dibersihkan juga. Sudah rapi kok, jadi tidak apa-apa jika kami pindah besok," jawab Abimanyu menjelaskan pada ibunya.
Kemarin, dia memang berencana untuk pindah bulan depan. Ini karena ada beberapa ruangan yang harus dirapikan dan diperbaiki. Dia pikir akan lama selesai, ternyata hanya butuh waktu satu minggu saja, sehingga sekarang rumah itu sudah siap di huni.
Rumah yang dibeli Abimanyu, tidak terlalu jauh dari rumah ayahnya ini, dan juga dekat dengan adiknya, Sekar. Jadi mereka semua masih bisa sering-sering berkunjung, karena tidak memerlukan waktu yang lama untuk bisa datang ke rumah mereka.
"Kalau begitu, nanti ibu ikut bantu untuk berberes."
Akhirnya, ibu Sofie tidak lagi bertanya-tanya. Begitu juga dengan ayah Edi. Dia memang tidak begitu banyak bicara, karena dia berpikir jika anak-anak mereka itu, sudah besar dan memiliki pemikiran serta memiliki keputusannya sendiri untuk kehidupan mereka.
__ADS_1
Itulah sebabnya, dia hanya menyetujui, dan memberikan saran dan nasehat saja, jika diperlukan.