Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Permintaan Awan


__ADS_3

Elang jadi banyak berpikir tentang kehidupannya sendiri, yang tidak pernah merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Sejak kejadian yang dia alami, di saat menjelang pernikahannya dengan Adhisti dulu, ada saja yang membuat dirinya ada dalam kebimbangan dan tidak bisa berpikir jernih.


Kecelakaan yang merenggut nyawa seorang ayah, Dati gadis yang terbaring koma. Yang pada akhirnya menjadi istrinya, meskipun hanya sebagai istri siri, karena itulah bentuk tanggung jawab yang harus dia lakukan, atas permintaan seorang ayah yang hampir meninggal.


Kendati demikian, Elang tetap melanjutkan rencana pernikahannya dengan Adhisti, yang merupakan calon istrinya sedari awal. Kekasihnya yang memang dia cintai, dan dia harapkan untuk bisa menjadi pendamping hidupnya, untuk selamanya.


Tapi dari kejadian itu juga, semua jadi terbongkar. Meskipun pada akhirnya, Elang tetap mempertahankan istrinya yang sah, dan memang dia inginkan sedari awal.


Elang harus merelakan istri sirinya, meskipun sebenarnya dia mulai ada rasa. Tapi dia berpikir bahwa itu hanya sebuah rasa yang semu, karena seringnya mereka bersama-sama, dan bukan rasa cinta yang sama seperti yang dia rasakan pada istrinya, Adhisti Andriyani.


Hal yang lumrah untuk perasaan manusia, yang seringkali berubah-ubah sesuai keadaan yang mereka miliki. Apalagi seiring dengan seringnya mereka bersama-sama.


Elang menghela nafas panjang, mengingat perjalanan hidupnya sendiri.


"Apa Aku mengalami semua ini karena tidak menjalankan pesan terakhir dari almarhum? dulu dia berpesan, agar Aku menjaga dan merawatnya untuk selamanya. Tapi Aku tidak menjalankan pesan itu. Aku justru mengabaikannya sebagai seorang istri. Aku tidak menganggap dirinya sebagai seorang istri. Lalu harus dengan cara apa, Aku menebus semua kesalahanku ini?"


Elang jadi merasa bersalah pada istrinya yang dulu, yang sekarang ini sudah berbahagia bersama suami dan anak-anaknya.


"Yah," panggil Awan, yang menduga jika ayahnya sedang melamun sendiri di teras samping.


Tapi ternyata dugaan Awan benar. Ayahnya tidak mendengar panggilannya. Ayahnya, masih saja diam dan tidak menyahuti panggilan darinya.


"Yah," panggil Awan lagi.


Kali ini, Awan memangil ayahnya sambil memegangi lengan Elang, supaya sadar dari lamunannya.


"Eh. Emhhh ada apa Awan? Apa Kamu tidak belajar?" tanya Elang, mengalihkan perhatiannya sendiri, dari semua kenangan dan lamunannya di masa lalu.


"Sudah selesai ngerjain tugas kok Yah. Ayah ngapain ngelamun sendiri? Kenapa gak istirahat, kan baru sampai tadi." Awan menjawab pertanyaan dari ayahnya, tapi dia juga bertanya, kenapa ayahnya melamun dan bukannya beristirahat saja di kamar.


"Ayah tidak bisa tidur. Sini duduk!"


Awan menjawab pertanyaan dari anaknya, kemudian meminta pada Awan supaya ikut duduk bersama dengannya di teras samping ini.

__ADS_1


Setelah Awan duduk, Elang tersenyum dengan mengalihkan pandangannya keatas. Dia juga tampak menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. Seakan-akan sedang mengeluarkan semua beban pikiran yang dia rasakan saat ini.


Awan diam menunggu ayahnya, untuk mengatakan sesuatu yang mungkin mengganjal di hati dan pikirannya.


Tapi setelah beberapa menit berlalu, Elang tetap diam dan tidak mengatakan apa-apa pada anaknya. Dan Awan jadi merasa, jika ayahnya itu sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Yah. Ayah ada yang mau dikatakan sama Awan?" tanya Awan pada akhirnya, untuk memancing ayahnya bicara.


"Tidak ada. Ayah harap Kamu bisa tumbuh jadi pemuda yang punya pikiran dewasa dan tidak gegabah dalam bertindak."


Setelah mengatakan semua itu, Elang kembali menghela nafas panjang dan memejamkan mata untuk beberapa saat.


"Besok ayah mau nyekar ke Bogor. Apa Kamu mau ikut?"


Awan mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari ayahnya. Setahu Awan, selama ini tidak mengetahui tentang makam seseorang kerabat, yang ada di Bogor. Jadi, dia merasa bingung dengan perkataan serta pertanyaan dari ayahnya tadi.


"Maksud Ayah itu makam siapa?" Akhirnya Awan bertanya juga, dengan kebingungannya.


"Makan mertua Ayah," jawab Elang memberitahu.


"Bukan ayah dan ibu dari bunda Adhisti. Tapi ayah dan ibu dari bunda Anjani. Dulu, dia juga pernah ikut merawatmu," jawab Elang menjelaskan.


Sekarang, Awan semakin merasa penasaran dan juga bingung, dengan semua yang baru saja dia dengar dari penjelasan ayahnya. Jadi, dia meminta pada ayahnya itu, untuk bercerita dan memberikan penjelasan dari awal, agar dia paham dan tidak merasa bingung lagi.


Akhirnya, Elang menceritakan semua kisahnya. Cerita tentang perjalanan hidupnya yang dulu.


Dan Awan, mendengar kisah ayahnya dengan seksama. Dia ingin tahu, bagaimana awal ceritanya, sehingga tadi ayahnya mengatakan bahwa ada bunda lainnya juga, yang sudah merawatnya, selain bunda kandungannya sendiri.


Awan juga penasaran dengan makam mertua ayahnya, yang ada di Bogor.


Setelah semua dijelaskan dan diceritakan oleh Elang, Awan akhirnya paham dan mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya ini.


Kegalauannya yang sekarang, mungkin karena dia baru menyadari kesalahannya, pada istrinya yang lain, yang dulu dia sia-siakan. Atau bisa jadi, ini hanya sebuah penyesalan yang sudah tdiak ada artinya sama sekali.


"Apa Aku pernah bertemu dengan bunda Anjani?"

__ADS_1


Tiba-tiba Awan bertanya tentang Anjani. Orang yang disebut-sebut sebagai istri lain dari ayahnya.


"Iya. Kamu pernah ke rumahnya, tepatnya rumah orang tua suaminya Anjani. Waktu itu Kamu baru pulang dari Batam dan tidak mau sekolah. Dan kata oma, Kamu dia ajak ke sana, untuk mendapat teman, karena anak Anjani masih kecil dari pada Kamu. Tapi Kamu juga pernah ikut datang bersama dengan Ayah dan oma juga. Yang suaminya ada di kursi roda waktu itu, karena lumpuh akibat kecelakaan yang dia alami. Jadi kira-kira dua kali Kamu bertemu dengannya."


Awan mengerutkan keningnya untuk berpikir sejenak. Dia mencoba untuk mengingat-ingat kembali, kenangan tentang masa kecilnya, terutama saat dia baru datang ke Jakarta lagi, setelah menetap di Batam.


Samar-samar, Awan mengingat kejadian itu. Tapi dia tidak ingat bagaimana wajah dari Anjani.


"Bunda Jani punya dua anak kecil kan Yah?"


Awan sepertinya mengingat sedikit tentang siapa Anjani, yang dulu pernah dia datangi karena ada anak-anak, di rumahnya. Kata omanya, dia akan ada temannya dan tidak sendirian lagi.


"Bukan dua. Hanya satu cewek. Yang satunya lagi, dan cowok itu adalah anak adik suaminya Anjani, yang ikut bersama dengannya. Jadi dia yang merawat keponakannya itu."


Elang kembali menjelaskan pada Awan, tentang Anjani dan anak-anaknya.


Tapi sepertinya Awan tidak mengingat apa-apa. Dia hanya ingat dengan samar dan tidak jelas. Jadi dia tetap merasa penasaran dengan semua yang diceritakan oleh ayahnya, soal Anjani.


Awan berpikir bahwa, Anjani adalah seorang wanita yang baik dan lembut. Karena pada kenyataannya, keponakannya saja mau ikut dengannya dan dirawat dengan baik juga oleh Anjani.


Akhirnya Awan membandingkan bundanya sendiri, Adhisti Andriyani, dengan Anjani, yang tidak dia kenal secara langsung. Hanya lewat cerita dari ayahnya saja.


"Aku jadi ingin bertemu dengan bunda Anjani. Apa bisa Yah?" tanya Awan meminta ijin.


"Jangan Awan. Ayah tidak mau jika suaminya berpikir bahwa, Ayah berusaha untuk mendekatkan dirimu dengan istrinya, untuk kepentingan Ayah. Nanti dia salah paham, dan keluarga mereka jadi tidak tenang."


Elang tidak mengijinkan anaknya itu, untuk pergi mencari dan bertemu dengan Anjani. Dia juga tidak mau memberi alamat rumah Anjani, saat Elang bertanya, supaya dia bisa mencarinya sendiri.


"Aku mau mencari Yah. Aku hanya ingin mengenalnya sebagai bunda. Bukankah dia juga pernah ikut merawat Awan?"


"Jangan. Tidak boleh."


Elang menolak permintaan anaknya.


Padahal yang ingin dilakukan oleh Awan, hanya ingin kenal saja. Tapi sepertinya Elang merasa khawatir, jika kedatangan Awan akan menggangu ketenangan keluarga Anjani.

__ADS_1


Mungkin perasaan Awan yang ingin punya seorang 'bunda' yang sebenarnya. Tidak hanya sekedar status, sehingga dia juga bisa merasakan kasih sayang dan perhatian dari seorang bunda, yang tidak dia rasakan sedari kecil, karena kesibukan bundanya, Adhisti, yang selalu ada di luar rumah.


__ADS_2