
..."Pa. Kenapa sih, gak bisa jujur?"...
..."Gak bisa jujur bagaimana Nda?"...
..."Pokoknya, Nanda sudah tidak mau ketemu dengan papa lagi!"...
Klik!"
Nanda menutup panggilan teleponnya, secara sepihak. Dia tidak mau berbicara dengan Wawan. Papanya, yang sudah ketahuan jika semua yang dia bicarakan kemarin-kemarin itu semuanya tidak benar.
Rasa kesal dan kecewa yang dirasakan oleh Nanda, sama seperti saat dia masih kecil dulu.
Pada waktu dia sakit dan mamanya, Yasmin, tidak bisa berbuat apa-apa, karena papanya itu, juga pergi tanpa kabar.
"Oh iya, dari pernikahan papa setelah pisah dengan mama, dia kan ada anak dan istri, kemana mereka? bagaimana kabar adikku itu? Papa benar-benar parah. Asal bikin anak aja tanpa bertanggung jawab!"
Awan mengerutu sendiri, menyesali semua perbuatan dan tingkah papanya selama ini.
Bahkan, untuk saat ini pun, papanya itu masih saja tetap sama. Tapi untungnya, istrinya yang ini sudah berumur dan tidak mungkin bisa mempunyai anak lagi.
Istrinya yang sekarang juga seperti lebih keras sifatnya, jadi tidak mungkin Wawan bisa memperdaya, sama seperti istrinya yang dulu-dulu. Termasuk mamanya Nanda, Yasmin.
Klunting!
Klunting!
Klunting!
Handphone Nanda berdering, menandakan bahwa ada panggilan yang masuk.
Nanda hanya menoleh sekilas, untuk melihat ke layar handphone tersebut. Tapi tidak bermaksud untuk menyambungkan panggilan telpon, karena dia tahu jika itu adalah papanya, Wawan.
Klunting!
Klunting!
klunting!
Handphone kembali berdering. Dan Nanda manjadi geram dengan apa yang dilakukan oleh papanya.
Tanpa melihat ke arah layar, sehingga tidak membaca siapa yang menghubungi dirinya saat ini, Nanda asal memencet tombol hijau, kemudian menyapa penelpon dengan marah-marah.
..."Apa lagi yang mau di jelaskan!"...
..."Halo Nda, ada apa?"...
Nanda terbelalak melihat ke arah layar handphone. Dia jadi merasa sangat menyesal, karena ternyata, kali ini, yang menghubungi dirinya adalah mamanya, Yasmin.
Mamanya itu ada di kampung. Hidup bersama dengan suami dan juga adiknya yang masih bayi.
..."Eh, Mama. Maaf Ma, maaf."...
..."Ada apa Nanda, kok marah-marah?"...
..."Gak kok Ma. Gak apa-apa. Ini tadi cuma ada kesalahpahaman dengan temen. Orangnya telpon-telpon terus lagi. Kan kesel."...
..."Oh, apa dia cewek?"...
..."Mama. Apaan sih!"...
..."Hehehe... siapa tahu, anak Mama yang udah gede ini ada cewek. Ada yang naksir kan? gak mungkin gak lah!"...
__ADS_1
..."Eh iya, ada apa Ma?"...
Nanda yang sedang salah tingkah, karena salah menyambut telpon dari mamanya tadi, hanya bisa berusaha untuk mengalihkan perhatian dan pembicaraan mamanya, agar kembali ke tujuan utama.
Nanda tidak mau, jika mamanya itu tahu, jika selama ini, dia masih berhubungan dengan papanya, Wawan.
Nanda tidak ingin melihat mamanya kecewa, dengan apa yang dia lakukan. Dengan bertemu dan meminta uang pada papanya, Wawan, secara diam-diam, tanpa sepengetahuan dari siapapun.
Selama ini, hanya Ara saja yang tahu.
..."Kamu ada liburan kan dua minggu lagi? datang ya ke kampung. Mama kangen Nda. Tapi, Mama tidak bisa ke Jakarta. Mama sedang sibuk."...
..."Emhhh..."...
..."Ayolah Nda... apa Kamu tidak kangen dengan Mama?"...
..."Nanti Nanda lihat jadwalnya dulu ya Ma. Kan Nanda ada kegiatan lain di OSIS, jika sekolah libur."...
..."Iya, tidak apa-apa. Mama tunggu ya kabarnya!"...
..."Iya Ma."...
..."Hati-hati. Jangan keluyuran dan buat eyang merasa khawatir."...
..."Iya Ma."...
..."Salam buat eyang Kakung dan Eyang Putri ya."...
..."Iya."...
..."Ya sudah. Kamu belajar gih. Mama tutup telponnya ya."...
klik!
Dengan wajah menengadah dan mata terpejam, Nanda tidak bisa memutuskan untuk bisa memenuhi permintaan mamanya tadi.
Sekarang, Nanda terlihat bingung. Tangannya mengusap wajahnya beberapa kali, untuk bisa menghilangkan rasa tidak nyamannya, yang datang tiba-tiba.
Di satu sisi, Nanda ingin datang ke kampung, untuk menemui mama dan papanya, Aksan. Dia juga ingin menjenguk adiknya, yang pastinya saat ini sudah bisa merangkak dan memangil dirinya dengan menyebut Kakak.
Tapi Nanda juga ingin ikut ke Bogor, berlibur bersama keluarga ayah dan bundanya, Abimanyu dan Anjani.
Mereka, keluarga Anjani dan Abimanyu, sudah merencanakan untuk liburan ke rumah mereka yang ada di Bogor nanti.
Rumah, yang dulu juga pernah di tinggali Nanda sewaktu masih kecil, dan hidup bersama dengan keluarga Abimanyu.
Dia sudah lama sekali, tidak datang ke sana, sama seperti dulu.
Apalagi, saat ini, sudah ada Anggi juga. Pasti akan lebih seru lagi.
Di tambah dengan adanya Miko, yang berencana untuk ikut juga. Pasti akan lebih menyenangkan, karena keseruan adik-adik sepupunya itu.
'Bagaimana sebaiknya ya?' tanya Nanda dalam hati.
*****
Di dalam kamar Awan.
Lagu masih terdengar dari aplikasi yang ada di handphone Awan, saat pintu di ketuk dari luar.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Wan. Awan!"
Terdengar suara mama Amel, memangil nama cucunya.
Tok tok tok!
Clek!
Awan membuka pintu dari dalam kamar. Dan lagu-lagu yang dia dengarkan, masih mengalun merdu.
"Hemmm..."
Mama Amel bergumam tidak jelas, seorang diri.
"Ada apa Oma?" tanya Awan, karena omanya itu, masih berdiri di depan pintu dan tida langsung masuk ke dalam kamar, sama seperti biasanya
"Bagus ya lagunya," ujar mama Amel, dan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Awan.
"Oma ada perlu apa?" tanya Awan lagi, untuk maksud omanya datang ke kamarnya.
"Eh, iya."
Mama Amel tersadar bahwa, dia ingin berbicara dengan cucunya itu.
Tapi karena mendengar lagu-lagu yang terkesan melo, mama Amel jadi terhipnotis, oleh lagu-lagu yang dia dengar dari dalam kamar Awan.
"Kamu gak belajar?" tanya mama Amel, mengawali pembicaraan yang ingin dia sampaikan kepada cucunya, Awan.
"Belajar Oma. Itu!"
Awan menoleh ke arah meja belajarnya, yang memang ada beberapa buku yang sedang terbuka.
Mama Amel mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa melihat terlebih dahulu, buku-buku apa yang sedang terbuka, di meja belajarnya Awan saat ini.
Akhirnya, mama Amel masuk dan duduk di kursi, yang ada di dalam kamar, tak jauh dari jendela kamar.
Sebenarnya, kursi itu biasanya ada di luar kamar, yaitu di balkon kamar. Tapi, entah kenapa, malam ini mama Amel mendapati kursi tersebut ada di dalam kamar.
"Ini kursi tumben ada di dalam?" tanya mama Amel, mengeluarkan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul.
"Em... itu tadi, Awan pakai buat benerin tirai jendela yang copot."
Dengan mendongak menatap ke arah tirai jendela, yang ada di belakangnya saat ini, mama Amel tersenyum tipis.
Sekarang dia juga tahu, jika cucunya itu bisa lebih mandiri, dan tidak mengandalkan orang lain, dengan urusan-urusan yang kecil, dan bisa dia usahakan untuk dikerjakan sendiri.
"Kamu sudah siap ujian untuk dua minggu besok kan?"
"Sudah Oma," jawab Awan dengan pasti.
Mama Amel tersenyum, kemudian berdiri. Dia berjalan menuju ke tempat Awan, yang sedang duduk di kursi belajarnya.
"Kamu harus bisa dan berhasil Wan. Kamu harus semangat. Karena hanya pada Kamu saja, Oma berharap."
Awan menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh omanya itu.
Awan tahu, omanya itu hanya menginginkan yang terbaik untuk dirinya dan juga masa depannya sendiri.
Ini adalah untuk kebaikan dirinya di masa yang akan datang.
"Ya sudah. Kamu langsung tidur ya, jika sudah selesai belajar. Jangan malam-malam tidurnya. Nanti ngantuk di kelas."
__ADS_1
Awan mengangguk lagi, dengan tersenyum, tanpa berkata apa-apa.
Setelah itu, mama Amel pamit dan keluar dari dalam kamar Awan.