Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Banyak Yang Direncanakan


__ADS_3

Di dalam kamar, ayah Edi sendang melamun. Selama ini, dia berpikir jika dia adalah suami dan ayah yang sudah berhasil mendidik serta membimbing keluarganya, terutama anak-anak dan istrinya, menjadi orang-orang yang lebih baik. Dia juga selalu mementingkan mereka terlebih dahulu, agar bisa menjadi keluarga yang bahagia dan saling menyayangi. Dia juga berpikir, jika pergaulan istrinya di kantor, sebagai pegawai negeri , pastinya dengan orang-orang yang mempunyai moral dan etika yang baik juga.


Dia lupa, jika pergaulan seseorang tidak ditentukan di mana orang tersebut berada, apalagi dengan adanya kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi melalui seluler yang bisa mengakses informasi dari berbagai macam jenis kalangan dan usia. Dari kecanggihan teknologi itu, kadang-kadang dibarengi dengan menurunnya moral seseorang karena pergaulan yang dianggap wajar meskipun sebenarnya tahu, jika itu tidaklah benar.


Di kamar, ayah Edi masih melamun. Dia belum juga tertidur, padahal tubuhnya terasa capek sekali. Sekarang ini dia sendirian di atas tempat tidur. Istrinya, ibu Sofie, sedang berada di kamar tamu, dimana temannya Risma berada. Dia sedang mengobrol dengan temannya itu, sebelum Risma benar-benar merasa nyaman untuk bisa dia tinggalkan.


Ayah Edi berpikir, jika istrinya itu terlalu kejam pada menantunya, Anjani. Padahal, menurut ayah Edi sendiri, Anjani adalah seorang wanita yang lembut dan tidak banyak menuntut. Dia takut, jika rencana istrinya, yang dia tebak tadi benar, suatu hari justru akan membuat istrinya itu merasakan penyesalan yang teramat dalam.


Ini karena ayah Edi berpikir, jika membenci sesuatu, jangan terlalu lama, tapi jika sedang menyukai sesuatu, juga jangan terlalu awal, karena kita tidak tahu apa yang sebenarnya ada di balik sesuatu itu. "Ah... hidup ini kadang penuh dengan misteri, yang kita sendiri tidak pernah memahaminya, meskipun kita sendiri yang mengalami dan ada di dalam misteri itu sendiri. Aku jadi tidak tahu lagi, harus berbuat apa. Aku pasrah saja, pada jalan dan garis takdir dari Yang Maha Kuasa." Ayah Edi, akhirnya pasrah saja dengan nasib yang akan membawa keluarganya itu ke depan nanti. Karena dia sendiri, tidak tahu bagaimana dan apa yang sebenarnya akan terjadi.


Ternyata di dalam kamarnya, Abimanyu juga belum tertidur. Dia baru saja masuk ke dalam kamarnya sendiri, dan sekarang masih berada di kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Tadi, begitu selesai mengantar Risma sampai di depan kamar tamu, dia tidak bisa langsung pergi dari tempa itu. Dia di tahan oleh ibunya. Ibu Sofie memintanya, agar bisa membantu Risma berbaring dengan baik di tempat tidur, senyaman_nya Risma berbaring.


Ibu Sofie beralasan, jika dia tidak mungkin bisa membawa Risma sampai di tempat tidur jika Abimanyu hanya mengantar sampai depan pintu kamar saja.


"Abi, mana mungkin ibu kuat membawa Risma sampai di tempat tidur. Apalagi memposisikan dirinya dengan keadaan berbaring, pada posisi yang nyaman juga. Apa Kamu tidak kasihan? lihatlah, kakinya sedang sakit dan tentunya dia butuh tidur dengan nyaman untuk kakinya yang terluka itu." Begitulah tadi ibunya meminta dan beralasan, yang membuat Abimanyu tidak bisa membantahnya lagi.


Sekarang, dia sudah keluar dari kamar mandi dan bermaksud untuk pergi tidur. Tapi sebelum itu, dia mencoba untuk mengecek handphone miliknya terlebih dahulu. Memeriksa, apakah ada pesan atau panggilan yang tidak sengaja dia abaikan tadi, saat dalam perjalanan.


Dan ternyata memang benar. Ada beberapa pesan yang masuk, baik dari istrinya maupun dari beberapa orang. Ada juga telpon dari Anjani, yang baru saja di beberapa menit yang lalu.

__ADS_1


"Aduh, maaf sayang. Aku tidak mendengar motif pesan dan panggilan darimu," kata Abi pelan, sambil memencet tombol handphone miliknya, untuk memanggil balik istrinya, Anjani.


Tapi, panggilan untuk Anjani tidak terjawab. Sepertinya, Anjani sudah tidur atau sedang tidak memegang handphonenya. Akhirnya, Abimanyu hanya memberikan pesan saja untuk bisa di baca oleh istrinya itu, kapan saja.


*****


"Abi, bisa minta tolong?" tanya ibu Sofie, saat sarapan pagi belum dimulai.


Mereka, masih harus menunggu ayah Edi dan juga Sekar, yang belum juga keluar dari kamarnya.


"Apa Bu?" tanya Abimanyu pendek.


Sekar, yang baru saja datang mendengar perkataan ibunya, jadi mengerutkan kening. Dia sendiri bingung dengan apa yang baru saja dia dengar tadi. "Maksudnya ambil baju Risma itu apa ya? dan ini apakah Risma yang semalam?" tanya Sekar, ingin tahu. Dia memang tidak tahu, tentang kejadian yang menimpa Risma, tamu ibunya semalam. Dia juga tidak tahu, jika saat ini Risma berada di dalam kamar tamu.


"Oh ya, Kamu belum tahu ya Mbak Sekar? Risma itu semalam kecelakaan waktu pulang dari rumah ini. Dia tidak bisa jalan dengan normal karena kakinya terluka. Ibu dan ayah serta mas Abi, membawanya ke sini." Adiknya Sekar, Yasmin, menjawab kebingungan Sekar pagi ini.


"Risma nginap di rumah ini?" tanya Sekar tidak percaya.


"Iya."


Ibu Sofie dan Yasmin, menjawab berbarengan dengan mengangguk juga.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya ayah Edi, dari arah belakang. Dia baru saja datang dari kamarnya.


"Ayah, masak ibu minta pada mas Abi, untuk datang ke rumah Risma dan mengambil beberapa potong baju miliknya? Kan gak etis Yah! Pinjam saja punya Sekar atau Yasmin. Paling juga muat, dan gak beda jauh-jauh. Ngapain mas Abi kelayapan ke rumah janda yang orangnya saja tidak ada di rumah. Malah ada di rumah ini. Apa kata orang nanti?"


Sekar terang-terangan, menyatakan tidak setuju dengan permintaan ibunya tadi. Padahal bukan dia yang dimintai tolong oleh ibunya, tapi Abimanyu, mas_nya.


Sekar berpikir, tidak pantas di lihat oleh orang juga, apalagi status Risma yang seorang janda dan mas_nya, Abimanyu juga sudah beristri. Meskipun orang tidak tahu bagaimana yang sebenarnya, tapi itu tidak akan baik untuk mereka berdua dimata orang lain.


"Iya,m Bu. Ini tidak pantas. Lagian bisa beli sih, lewat online. Tidak usah repot-repot minta Abi datang dan ambil baju-bajunya Risma segala. Rumahnya juga tidak ada orang, nanti Abi dikira mau maling bagaimana?" Ayah Edi, memberikan dukungan pada pendapat anaknya, Sekar.


"Hemmm, begitu ya? Baiklah, ibu tidak berpikir sejauh itu tadi. Maaf ya Abi. Ini tadi tidak jadi saja. Ibu akan bicara pada Risma nanti setelah sarapan," kata ibu Sofie, memutuskan. Dia sedikit kecewa karena di tentang oleh suami dan anaknya, Sekar, yang seolah-olah menyalahkan dirinya. Ibu Sofie, jadi kesal sendiri dalam hati.


Yasmin, yang tahu perubahan air muka ibunya itu, jadi menunduk. Dia tidak mau ikut-ikutan, agar ayah dan juga kakak perempuannya, Sekar, ikut menyalahkan dirinya juga nanti.


"Abi, apa Kamu ada rencana setelah pekerjaan selesai?" tanya ayah Edi, mencari alasan agar istrinya itu tidak memilih kesempatan untuk bisa membuat Abi lebih dekat lagi dengan temannya Risma. Sepertinya, ayah Edi sudah mengetahui rencana yang telah di susun oleh istrinya itu.


"Hari ini Abi ada pertemuan dengan beberapa pengusaha dan setelah itu, Abi akan membuat laporan. Mungkin tidak ada waktu luang Yah. Jika besok semua lancar, sesuai dengan rencana dan hasil laporan juga tidak ada perbaikan, Abi akan langsung kembali ke Bogor. Jadi Abi, akan mengepak bawaan Abi nanti malam sekalian," jawab Abimanyu, sambil menuang lauk ke dalam piringnya sendiri.


"Oh, padat juga ya hati ini. Ayah doakan semoga lancar dan Kamu bisa pulang dengan cepat. Kamu juga bisa pulang ke Bogor tanpa ada halangan dan banyak alasan," kata ayah Edi, seakan-akan sedang menyindir istrinya, ibu Sofie.


Ibu Sofie, yang duduk di samping ayah Edi, hanya menghembuskan nafas panjang. Dia merasa disindir oleh suaminya itu. Padahal ada banyak sekali rencana yang sudah ada di kepala saat ini. Tapi sepertinya dia masih harus bersabar, menunggu waktu yang tepat untuk semua yang sudah dia rencanakan.

__ADS_1


__ADS_2