Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keusilan Anggi Dan Miko


__ADS_3

"Itu si Miko bukan si Kak?"


Anggi bertanya pada kakaknya, Ara, seraya menunjuk ke arah seseorang, sedangkan dia masih ada di dalam mobil.


Dia hanya menunjuk, dan menyentuh kaca jendela mobil, untuk memberikan tahu kakaknya, dengan seseorang yang Anggi tanyakan.


"Kamu kan kadang-kadang video call dengan Miko Dek. Kok tanya ke Kakak sih," jawab Ara, karena dia belum bisa memastikan, apakah anak cowok yang ditunjuk oleh Anggi benar-benar Miko, atau bukan.


Tapi menurut perkiraan Ara, anak tersebut memang Miko. Tidak mungkin adiknya Miko, atau adiknya Nanda.


Begitu juga dengan tebakannya Anggi. Dia sudah tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana pertemuannya dengan Miko nanti.


"Kita sudah sampai di rumah ya Kak?" tanya Anggi lagi. Memastikan bahwa, dia memang sudah berada di Indonesia. Di depan rumahnya sendiri.


"Dek. Adek!" Ara memanggil adiknya, karena adiknya itu, Anggi, tidak juga turun dari dalam mobil.


Anggi justru tersenyum-senyum sendiri, dalam keadaan melamun. Padahal, mobil sudah berhenti, dan Ara juga sudah bersiap-siap untuk turun.


Tapi, sepertinya Anggi tidak menyadari bahwa, mereka benar-benar sudah sampai di rumahnya, di Jakarta, Indonesia.


"Mau turun atau ikut pak Supir lagi?" tanya Ara, menggoda adiknya. Karena Anggi tetap bengong tanpa berniat untuk turun dari mobil.


"Hah. Eh, iya-iya!"


Akhirnya, Anggi tergagap dan sadar dari lamunannya. Dia turun dari dalam mobil, kemudian mengikuti langkah kakaknya.


Ayah dan bundanya, sudah sampai di teras rumah. Mereka berdua, sedang bersalaman dan saling berpelukan, dengan semua anggota keluarga mereka.


Ara juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh ayah dan bundanya. Mereka sama-sama terharu, melihat keadaan Ara dan Anggi, yang sekarang sudah menjadi lebih besar dan cantik-cantik.


"Ini Ara, dan ini Anggi kan?" tanya eyang Kakung, alias ayah Edi. Dia menunjuk Ara, sebagai Anggi, sedangkan Anggi sebagai Ara.


Ayah Edi sengaja melakukan kesalahan, saat menunjuk dan menyebutkan nama cucu-cucunya sendiri, agar Anggi segera protes.


"Bukan Eyang. Ini yang Anggi!"


Dan benar saja. Anggi memprotes eyangnya itu, dengan menyebutkan namanya sendiri sambil menunjuk ke arah wajahnya.


Ayah Edi jadi terkekeh sendiri, apalagi saat Anggi cemberut, karena kesalahannya tadi.


"Hehehe... ini Anggi to? Eyang pikir tadi Ara. Sama-sama tinggi dan besarnya. Apalagi, Eyang sudah bertambah tua ini."


"Maaf ya Anggi. Jangan cemberut. Nanti Kamu gak boleh balik lagi ke Amerika lho," ujar ayah Edi, semakin merasa ingin terlihat Anggi ngambek dan marah.


Sedang yang lain, yang ikut menyaksikan, malah tertawa-tawa senang dengan apa yang terjadi pada Anggi.


Nanda memeluk Ara, dengan erat. Dia sangat merindukan adik sepupunya itu.


"Kamu tidak ada cowok bule yang suka nganguin kan?" tanya Nanda, memastikan bahwa, adik sepupunya itu dalam keadaan aman.

__ADS_1


Ara mengangguk mengiyakan, dengan masih berada di dalam pelukannya Nanda.


"Ehem!"


Awan berdehem dari arah belakang, sehingga Nanda melepaskan pelukannya pada Ara.


"Hahaha... ada yang cemburu. Sini-sini Ra!"


Nanda justru kembali memeluk Ara, dengan cepat. Kemudian menaik turunkan alisnya, untuk menggoda Awan.


"Sudah-sudah Nda. Nanti Kamu dapat hadiah dari Awan lho," ujar mamanya, Yasmin. Meskipun sebenarnya dia juga tahu jika, itu hanya sebuah gurauan belaka.


"Hadiah dollar kan Ma?" tanya Nanda, menanggapi perkataan mamanya tadi.


"Hiih... maunya!"


"Hahaha..."


Semua orang yang ikut mendengar, tertawa terbahak-bahak. Suasana rumah Abimanyu, yang biasanya sepi dan sunyi, sekarang jadi ramai dan meriah.


Anggi masih diam dengan tersenyum-senyum sendiri, saat melihat Miko yang tadi menyalami ayah dan bundanya.


Miko juga sudah bersalaman dengan mama Amel, papa Ryan dan Elang.


Bahkan, Miko juga sudah memeluk Ara dan Awan secara bergantian. Bercanda-canda, dan saling bertanya-tanya.


Tapi sebelum Miko sempat berjalan sampai di depan pintu, Anggi menarik kerah baju Miko, dari arah belakang.


"Ihhh... males!"


Tapi, Anggi tidak melakukan apa-apa. Dia juga tidak menyapa Miko, atau memeluknya, sama seperti dia memeluk kedua eyangnya dan tante-tante_nya.


Anggi langsung mendahului Miko, begitu Miko tertarik ke belakang. Dia langsung berjalan masuk ke dalam rumah, mendahului Miko.


Dan sekarang, gantian Miko yang menarik tangannya Anggi.


"Tunggu!"


Sekarang, mereka berdua jadi tarik menarik, agar bisa masuk ke dalam rumah terlebih dahulu.


Tapi, setelah beberapa kali melakukan hal yang sama seperti itu, ternyata mereka sama-sama merasa capek sendiri.


"Hahaha..."


"Aduh gak. Hahaha..."


Keduanya sama-sama tertawa terbahak-bahak, saat menyadari bahwa, mereka melakukan hal yang sia-sia, dengan menjaga gengsi masing-masing, karena malu.


Kini, kedua berpelukan di depan pintu rumah.

__ADS_1


"Eh, kenapa jadi Teletubbies?" tanya ibu Sofie, Eyang putri mereka berdua.


Keduanya segera melepaskan pelukannya, dengan tersenyum-senyum sendiri. Karena Ketahuan sedang berpelukan di depan pintu.


"Hai Kalian berdua, mau masuk atau tetap mematung di depan pintu?" tanya ibu Sofie lagi, menyadarkan kedua cucunya yang sekarang ini sudah tidak lagi ada pada masanya anak kecil.


"Hehehe... iya Eyang," jawab Anggi, dengan mengelendoti tangan eyang Putrinya itu.


Sekarang, Anggi dan ibu Sofie, masuk ke dalam rumah. Sedangkan Miko, berjalan dibelakang kedua wanita beda usia tersebut, sambil cengar-cengir sendiri.


*****


Di pangkalan barang-barang bekas.


Wawan baru saja pulang dari mengambil barang-barang pesanan.


"Huh, capeknya..." keluh Wawan, dengan mengibas-ngibaskan tangan, didepan wajahnya sendiri.


Dia merasa kegerahan, apalagi perjalanan yang cukup jauh.


Dari dalam rumah, ada Mami yang keluar bersama dengan seorang wanita muda.


Wanita itu, sedikit mirip dengan Mami, tapi tentunya lebih cantik dan segar, karena usianya, jauh lebih muda dibandingkan dengan Mami, yang umurnya saja di atas Wawan.


Menurut perkiraan Wawan, wanita tersebut berusia tidak jauh berbeda dengan Yasmin. Istrinya yang pertama, mamanya Nanda.


"Ya sudah Mi. Aku pulang dulu ya," kata wanita tersebut, dengan menyalami Mami.


Wawan masih memperhatikan, dari tempatnya berdiri.Di samping mobil pick up yang tadi dia kendarai.


"Iya. Hati-hati ya!" Mami menjawab dengan mengulurkan tangannya, untuk disalami wanita tersebut.


Setelah wanita tersebut berjalan di dekat Wawan, dua pun mengangguk-anggukkan kepalanya, sambil membungkuk sedikit, agar terlihat lebih sopan.


Dan setelah wanita tersebut pergi, barulah Wawan berjalan mendekat menuju ke tempat Mami, yang masih berdiri di teras rumah.


"Tumben sudah pulang?" sapa Mami, di saat Wawan sudah ada di depannya.


Wawan menyerahkan kunci mobil yang tadi dia bawa, pada Mami. "Ini Mi," kata Wawan, menyodorkan kunci mobil tersebut pada Mami.


"Semua sudah?" tanya Mami, dengan melirik ke tempat mobil terparkir, di depan rumahnya, yang merupakan pangkalan barang-barang bekas miliknya.


"Sudah Mi. Tinggal diperbaiki besoknya."


Sebenarnya, Wawan ingin tahu dan bertanya pada Mami, siapa wanita tadi. Tapi, dia tidak mau jika Mami salah paham dengan pertanyaannya nanti.


Wawan berpikir bahwa, Mami mempekerjakan dirinya di tempatnya ini, karena Mami masih menginginkan dirinya. Hanya malu saja, sehingga tidak mengabulkan permintaannya, di saat Wawan mengajukan usulan untuk menikah lagi.


Dan sekarang, Wawan ingin memancing reaksi Mami, dengan bertanya-tanya tentang wanita tadi.

__ADS_1


__ADS_2