Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Berat Di Hati


__ADS_3

Hallo semua...


Selamat hari raya idul Fitri


Mohon maaf lahir dan batin 🙏🙏🙏


Next up, novel Dia Milikku ini akan masuk ke sesion 2.


Terima kasih, untuk semua dukungan yang diberikan selama ini.


Semoga bermanfaat dan bisa kita ambil sisi baiknya, untuk kehidupan di dunia nyata.


Jangan lupa untuk tetap beri dukungan, baik berupa like, komentar, dan jika berkenan, boleh dikasih vote dan giff juga 😍😍🙏



*****


Semua orang berpamitan pada Yasmin dan Aksan. Perpisahan yang mengharukan, tampak begitu jelas dirasakan oleh semua orang, saat mereka berpamitan pada keduanya.


Rombongan yang terdiri dari keluarga ayah Edi ini, memeluk Yasmin dan Aksan, secara bergantian.


Dan tak henti-hentinya, tangisan haru itu terdengar lagi, dan lagi.


"Hati-hati ya Yasmin. Jaga diri, dan juga keluargamu."


Ayah Edi, memberikan pesan pada anaknya, yang sekarang ini memutuskan untuk ikut hidup bersama dengan istrinya di kampung.


"Ya Yah. Terima kasih Yah. Hiks hiks hiks..."


Yasmin, lagi-lagi tak kuasa untuk tidak terisak-isak. Dia tak bisa banyak mengeluarkan suara, karena dadanya terasa penuh sesak.


Begitu juga saat ibunya, ibu Sofie, memeluk dan memberikan beberapa nasehat yang sama juga seperti yang diucapkan oleh ayahnya tadi.


Begitu seterusnya, hingga pada gilirannya Abimanyu dan juga Anjani.


Tangisannya tidak bisa di bendung, dan pecah juga.


Anjani juga tidak bisa menahan air matanya, agar tidak mengalir. Dia, yang sedari sudah merasakan sesak dan haru, sekarang ini sudah tidak mampu menahan lagi perasaannya.


Mereka berdua, Anjani dan Yasmin, menangis bersama-sama, dengan saling berpelukan.


"Mbak. Nitip Nanda lagi ya Mbak. Kasih nasehat dan awasi juga, biar gak nakal dia. Dia gak mau ikut Yasmin, tapi mau di Jakarta, deket sama Mbak."


Yasmin mengatakan semua yang diinginkan dan alasan Nanda, yang tidak mau ikut tinggal bersama dengan mamanya.

__ADS_1


Anjani mengangguk, mengiyakan permintaan dari adik iparnya itu. Dia sudah terbiasa dengan Nanda, sedari Nanda kecil dulu. Dan Anjani juga sudah menganggap Nanda, sama seperti anaknya sendiri.


Abimanyu, yang ada di samping istrinya, ikut mengangguk juga.


Mereka berdua, sudah tidak mempermasalahkan soal kejadian yang dulu-dulu.


Dan begitulah akhirnya, semuanya akan kembali lagi ke Jakarta. Sedangkan Yasmin dan Aksan, akan tinggal di kampung, dengan usaha mereka berdua, sehingga tidak perlu lagi kembali ke negara Taiwan.


Keputusan Aksan, yang mengajak Yasmin untuk pulang ke Indonesia, dan menetap di kampung, mendapatkan dukungan dari ayah mertuanya, yaitu ayah Edi.


Begitu juga dengan ibu Sofie dan saudara-saudara Yasmin.


Mereka semua, tidak ada yang merasa keberatan, dengan keputusan yang diambil oleh Aksan, untuk masa depan keluarganya sendiri, bersama dengan istrinya, Yasmin.


Meskipun Yasmin dan Aksan bersedih hati dan sedikit ada rasa kecewanya, karena anaknya, Nanda, menolak ajakannya untuk bisa ikut tinggal di rumahnya yang ada di kampung.


Yasmin, yang tangisannya sudah sedikit mereda, kembali lagi terisak-isak lagi, karena saat ini, sedang memeluk anaknya, Nanda.


Nanda juga merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan oleh mamanya. Tapi dua bisa menahannya, sehingga hanya air mata saja yang menetes, tanpa mengeluarkan suara tangisan.


"Hiks hiks hiks... Kamu yang nurut ya Nda, jika eyang kakung atau eyang putri menasehati. Jangan nakal, dan bikin repot mereka berdua. Mereka sudah tidak lagi muda, jadi pasti beda juga cara menjagamu."


Nanda hanya mengangguk saja, tanpa bisa menjawab. Dia merasa sangat kesulitan, untuk mengeluarkan suaranya.


"Jangan banyak menyusahkan bunda Jani juga ya," kata Yasmin lagi, mengingatkan pada anaknya itu.


Dia masih kesulitan, untuk bisa mendapatkan kosa kata yang tepat dan cepat, untuk bisa dia katakan pada mamanya, Yasmin.


Setelah semua selesai berpamitan, dengan banyaknya air mata yang mengiringi setiap moment saat berpelukan, kini saatnya mereka semua untuk kembali naik ke dalam bus.


Mereka semua, akan kembali lagi ke Jakarta.


"Hore... Naik tayo lagi!"


"Naik bus besar!"


Anggi dan Miko, berteriak dengan senang hati, karena akan segera pulang dan baik bus lagi dalam perjalanan pulang mereka semua.


Hal yang tentunya sangat menyenangkan bagi mereka berdua.


Tinggalah Yasmin dan Aksan, yang di temani beberapa pihak keluarga mereka yang ada di kampung, memandang kepergian keluarganya mereka yang dari Jakarta dengan penuh kesedihan.


Tapi ada kelegaan dalam hati mereka berdua. Karena akhirnya, bisa berada di kampung, sama seperti yang mereka inginkan.


*****

__ADS_1


Dalam kehidupan ini, ada rasa senang, bahagia, sedih, kecewa, dan gundah, dan berbagai macam perasaan yang lain.


Dan tentu saja, semua orang pernah mengalami itu.


Tidak mungkin hanya kebahagiaan atau kesedihan saja, yang akan dirasakan sepanjang kehidupan.


Orang-orang yang kita pandang ada di dalam kehidupan yang sempurna sekalipun, pasti pernah merasakan kesedihan dan kekecewaan.


Tidak perlu merasa paling menyedihkan dalam hidup ini.


Tapi jangan terlalu bergembira, jika ada kesenangan yang kita dapatkan.


Karena memang begitulah kenyataan yang ada di dalam hidup kita, selama masih ada perjalanan kehidupan yang kita lalui.


Yang penting, jalani saja, selama masih ada nafas. Semua pasrahkan pada takdir Tuhan. Karena Dialah yang berkuasa dan mengatur semuanya.


Begitu juga dengan perjalanan Anjani.


Sedari kecil, dia sudah kehilangan ibunya. Hidup berdua saja dengan ayahnya.


Kesedihan bertambah saat dia harus kehilangan ayahnya dalam kecelakaan yang dia alami juga.


Bahkan, dia harus koma. Dan begitu bangun, dia telah menjadi seorang istri kedua.


Siapa yang akan merasa bahagia, jika mendapati kenyataan yang ada pada Anjani?


Tentu saja, tidak ada yang merasa bahagia dan bersyukur, jika akan mengalami hal yang sama seperti Anjani waktu itu.


Namun, dengan segala kesabaran Anjani sendiri, akhirnya dia mendapat kebahagiaan dari suami yang lain, meskipun bukan suaminya yang pertama.


Keputusan yang dia lakukan, membawanya pada kebahagiaan, meskipun hal itu juga harus dia jalani dengan banyaknya kekecewaan dan cobaan, melalui mertuanya, ibu Sofie, adik-adiknya iparnya.


Kesabaran Anjani, masih belum sempurna, dan dia harus mendapat kembali ujian dengan kecelakaan yang di alami suaminya, Abimanyu.


Bahkan suaminya harus lumpuh, untuk beberapa tahun, akibat kecelakaan tersebut.


Anjani juga harus merawat keponakannya, Nanda, yang ditinggal pergi mamanya kerja sebagai TKI di negara Taiwan.


Dia merawat Abimanyu yang lumpuh, dengan dua anak kecil, Nanda dan Ara, anaknya sendiri.


Karena kelumpuhan suaminya itu, keluarga kecilnya harus rela menjual rumah, untuk perawatan Abimanyu.


Dan sekarang, di saat dia bersama dengan keluarga kecilnya hidup dalam kesederhanaan, ada saja orang yang meremehkan mereka.


Tapi semua itu tidak mempengaruhi kepribadian seorang Anjani dan juga Abimanyu.

__ADS_1


Mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anaknya, dalam kesederhanaan keluarga mereka.


Kini, anak-anak sudah beranjak dewasa. Anjani dan Abimanyu, harus ekstra hati-hati, dalam menjaga anak-anak, agar tidak banyak terpengaruh dengan kehidupan yang semakin bebas di luar sana.


__ADS_2