Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Wan, tunggu!"


Awan menoleh ke arah sumber suara, yang saat ini memanggil namanya.


Dia tahu suara siapa yang saat ini sedang memanggil namanya, karena dia tidak mungkin lupa, jika itu adalah suaranya Dika.


Dika semakin gencar untuk mendekati Ara. Ini karena mamanya, mendukung hubungan yang ingin dia lakukan bersama anaknya Abimanyu. Orang kepercayaan big bos PT SAMUDERA GROUP.


"Wan. Napa Loe gak omong sih?"


"Ngomong apa?" tanya Awan balik. Dia tidak tahu, apa yang dimaksud oleh Dika.


"Itu, bundanya Diyah. Ternyata, dia yang pernah kita tolong kan waktu di kejar preman," kata Dika, menjelaskan tentang apa yang baru saja dia ketahui kemarin.


"Oh," sahut Awan pendek, tanpa memberikan jawaban yang berarti.


Tentu saja, ini membuat Dika kesal. Dia ingin memukul kepalanya Awan, biar otak temannya itu tidak membeku dan bisa mencair.


"Ah Loe ya Wan. Bisa gak sih bicara lebih banyak, dan kasih tau Gue, apa aja yang Loe tau tentang Diyah. Eh, Ara ya panggilannya Diyah itu, iya kan?"


Awan tidak menyahut. Dia juga tidak menjawab iya atau tidak, dengan semua yang ditanyakan oleh Dika padanya.


"Wan, Bro. Sebenarnya Loe dukung Gue gak sih? Atau jangan-jangan Loe suka juga sama Diyah. emhhh... maksud Aku, sama Ara." Dika kembali bertanya, dengan menebak apa isi hatinya Awan untuk Ara.


Awan menoleh sekilas ke arah Dika. Dia tidak terkejut, dengan pertanyaan yang diajukan oleh Dika padanya sekarang ini.


"Kenapa emang?" tanya Awan datar.


"Ya... seenggaknya kita bisa kan bersaing dengan sehat gitu. Menyerahkan semua pada keputusan yang diambil oleh Ara nantinya."


Dika masih berharap jika, Awan bukanlah saingannya. Meskipun secara tampang dia tidak kalah keren dengan Awan, tapi jika dibandingkan dengan kekayaan keluarga mereka berdua, tentu saja, Dika tidak bisa dibandingkan dengan Awan.


"Gue gak butuh persaingan." Awan berkata pelan, dan datar.


Awan tidak banyak mengeluarkan pendapat dan penjelasan untuk Dika. Dia hanya butuh satu jawaban, yang akan membuat Dika berpikir dan membuat kesimpulannya sendiri.


*****


"Pah, kayaknya kita gak berhasil membuat keluarga Pak Abi nurut sama dengan apa yang kita inginkan deh Pa," ujar mamanya Dika, pada suaminya, saat berada di dalam kantor PT ANTARA GROUPS.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya suaminya, papanya Dika.


"Gak tau tuh. Padahal, Mama sudah kasih iming-iming, agar biaya pendidikan Ara, anaknya yang gede dan ditaksir Dika, nantinya akan kita biayai hingga kuliah, tetap aja belagu. Gak mau itu istrinya pak Abi."


Suaminya hanya mengangguk-angguk kepalanya, mendengar penjelasan istrinya yang lebih tepatnya dengan ngedumel, karena merasa kecewa dan kesal, dengan penolakan yang dilakukan oleh istrinya pak Abi, Anjani.


"Tapi, dia tidak tersinggung kan Ma? Takutnya, jika dia tersinggung, justru malah membuat hubungan ini retak dan itu tidak baik untuk kita sendiri," ujar suaminya, papanya Dika.


"Gak kok. Dia kelihatannya gak marah. Dia justru minta maaf ke Mama, karena sudah menolak permintaan dari Mama. Dia berasalan jika anaknya masih terlalu kecil. Padahal, Mama sudah kasih tau jika anaknya tetap ada di rumahnya, dengan kegiatan dan aktivitas yang sama, tanpa ada tuntutan tugas sebagai seorang istri."


Papanya Dika, hanya bisa menghela nafas panjang, saat istrinya itu selesai berbicara. Dia sebenarnya sadar, jika apa yang mereka lakukan ini adalah salah.


Tapi karena menyangkut kepentingan perusahaan dan masa depan anaknya sendiri, papanya Dika hanya bisa setuju, dengan apa yang direncanakan oleh isterinya. Meskipun sebenarnya terkesan tidak masuk akal juga.


"Ya sudah lah Ma. Kita tidak usah memikirkan hal itu lagi. Kita konsentrasi dengan kerja sama yang sudah ada, dengan PT SAMUDERA GROUP. Untuk urusan yang lain, bisa kita pikirkan sambil jalan saja."


Akhirnya mamanya Dika setuju dengan perkataan yang diucapkan oleh suaminya.


Dia tidak akan bicara apa-apa lagi, dengan istrinya Abimanyu, atau mamanya Ara. Dia tidak akan menyingung soal perjodohan ataupun pernikahan anak-anak mereka, yang memang belum waktunya.


Sekarang mamanya Dika, hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan, untuk melegakan hati dan pikirannya sendiri, yang terasa kaku dan tidak jernih untuk berpikir sedari kemarin-kemarin.


*****


"Kamu anaknya mas Wawan kan?" tanya seorang wanita, yang menurut Nanda tidak lebih muda dari bundanya, Anjani.


"Ya. Anda siapa?" jawab Nanda, dengan balik bertanya juga pada wanita tersebut.


"Wah, ternyata memang tampan ya, sama seperti papanya."


Nanda memicingkan matanya, menatap ke arah wanita tersebut dengan bingung. Dia merasa tidak mengenal wanita, yang saat ini ada dihadapannya.


"Aku istrinya papa Kamu. Pemilik pangkalan barang-barang bekas ini," jawab wanita itu agi, dengan melebarkan kedua tangannya, untuk menunjukkan bahwa, dialah yang memiliki semua usaha ini.


Usaha, yang meskipun hanya berupa barang-barang bekas, tapi dari usahanya ini juga, yang sudah mengangkat derajat papanya, Wawan, dari seorang gelandangan menjadi laki-laki yang berkelas dan bisa bekerja dengan baik.


Nanda mengerutkan keningnya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh wanita tersebut. Dia, yang dulu-dulu sudah tidak lagi percaya dengan apa yang dikatakan oleh papanya, kini merasa tertipu, dan juga malu, karena kelakuan dari papanya sendiri.


Setahu Nanda, dari apa yang diceritakan oleh papanya, Wawan, tempat pangkalan barang-barang bekas tersebut adalah miliknya sendiri.

__ADS_1


Memang ada beberapa orang yang ikut bergabung dengan dirinya, wawan, tapi bukan sebagai seorang pemilik atau bos di tempat tersebut.


Dan kini, Nanda akhirnya tahu, jika apa yang dikatakan oleh papanya waktu itu hanya sebuah bualan belaka.


Semua yang dia ceritakan adalah nol besar. Bukan yang sebenarnya ada.


"Tapi, ayok masuk. Meskipun papa Kamu sedang tidak ada di rumah, kan ada Mama."


Nanda hanya diam dan tidak menyahut perkataan dati istrinya Wawan.


"Kamu mau manggil apa juga boleh. Mama, Ibu, Bunda, umi, atau mami. Papamu biasanya panggil dengan sebutan Mami. Kamu ikut manggil Mami aja ya, biar gak ribet."


Istrinya Wawan, kembali berkata, untuk menjelaskan pada anaknya Wawan. Yaitu Nanda.


"Emhh, ya... ya Mi. Memangnya papa ke mana?" tanya Nanda, yang masih kagok dengan sebutan untuk panggilan dari istri papanya itu.


"Oh, papa Kamu sedang ke Bekasi. Ada beberapa barang yang harus dia antar, bersama dengan karyawan Mami juga. Jadi sekalian menemani papa Kamu juga diperjalanan."


Sekarang, Nanda kembali menganggukkan kepalanya paham, dengan jawaban yang diberikan oleh mami. Istri dari papanya sendiri.


*****


"Oma, Awan akan kuliah ke Amerika."


Mama Amel tentu merasa terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh cucunya malam ini.


Sekarang, mereka berdua sedang bersiap untuk makan malam berdua saja, karena papa Ryan dan Elang, belum juga pulang dari kerjaan mereka, bersama dengan Abimanyu juga.


"Kamu sudah yakin Wan?" tanya mama Amel, memastikan bahwa, Awan benar-benar memutuskan semua itu sendiri, dengan berbagai pertimbangan yang matang.


"Iyaa Oma."


Mama Amel mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar perkataan dari cucunya, Awan.


"Kamu sedang sadar kan ini? Maksud Oma, Kamu tidak ada dalam keadaan tertekan, ataupun ada pada situasi yang Kamu sendiri tidak tahu harus bagaimana lagi."


Awan tersenyum hambar, mendengar pertanyaan demi pertanyaan, yang diajukan oleh omanya.


"Oma tidak yakin?" tanya Awan, yang tahu betul, apa yang saat ini dipikirkan oleh omanya, dengan apa yang tadi dia katakan.

__ADS_1


Mama Amel hanya bisa tersenyum tipis, karena merasa tidak nyaman di dalam hatinya, dengan tebakannya Awan, yang memang ada benarnya juga.


Awan merasa bahwa, omanya itu banyak sekali menerka-nerka, apa yang ada di dalam hati dan pikirannya. Meskipun memang ada yang benar, tapi tentu saja tidak semuanya itu benar juga.


__ADS_2