Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Keinginan Dan Garis Takdir


__ADS_3

Dua hari kemudian, Ara dan Awan tinggal di rumah Abimanyu. Mereka berdua memang diminta untuk tinggal di rumah tersebut, karena Anggi tidak mungkin diajak untuk tinggal di Bogor. Karena kepentingan sekolah Anggi yang tidak bisa diremehkan juga.


Elang tidak mempermasalahkan soal itu. Begitu juga dengan mama Amel dan papa Ryan. Mereka bertiga, mendukung apa saja yang bisa membuat Abimanyu merasa nyaman.


Bahkan, mereka juga menawari Abimanyu untuk tinggal di villa mereka. Di daerah puncak, Bogor.


Tapi tentu saja, tawaran tersebut tidak langsung diterima oleh Abimanyu dan juga Anjani. Karena mereka justru tidak akan tinggal dikawasan puncak yang sangat dingin.


Sebenarnya, Awan sudah menawari ayah mertuanya itu untuk berobat ke luar negeri. Tapi di tolak oleh Abimanyu sendiri.


Dia merasa itu semua tidak bisa merubah kondisinya, yang memang seharusnya sudah tidak normal sedari dulu. Di saat dia mengalami kelumpuhan dan amnesia, pasca kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya.


Abimanyu berpikir bahwa, dia masih diberikan kesempatan untuk berumur panjang, bersama dengan Anjani yang tetap setia ada disampingnya.


Meskipun sebenarnya Anjani juga memintanya untuk menerima tawaran dari Awan. Tapi keputusan yang diambil oleh Abimanyu sepertinya sudah bulat.


"Ayah hanya ingin hidup di pedesaan Bun. Mungkin kita bisa beli rumah di Bogor, yang lebih dekat dengan sawah."


"Ayah ingin melepaskan penat dari dunia kantor. Mungkin, otak Ayah sudah melebihi kapasitas juga. Tidak bisa lagi digunakan, sama seperti dulu lagi."


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada pada Abimanyu sekarang ini. Dia tidak mau memikirkan banyak hal. Dia merasa tidak mampu untuk berpikir keras, sama seperti yang dia lakukan selama ini.


Anjani hanya menyetujui permintaan dari suaminya itu. Dia ingin melihat keadaan suaminya membaik. Sama seperti yang diinginkan olehnya.


Oleh karena itu, saat berada di Bogor, Anjani meminta bantuan pada Om nya, untuk mencarikan rumah di sekitar Bogor. Tapi dengan lokasi yang dekat sawah atau kebun. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah kafe_nya juga.


Dia tidak mau mencarikan rumah disekitar villa. Daerah puncak, karena itu terlalu dingin. Tidak baik untuk kesehatan tulang Abimanyu juga. Karena itu juga, mereka berdua menolak tawaran dari mama Amel, untuk menepati vila mereka di sana.


"Ayah hanya ingin hidup sederhana Bun. Sama seperti impian ayah sewaktu masih kecil dulu."


Kata-kata yang diucapkan oleh Abimanyu, sebenarnya juga diinginkan oleh Anjani pada saat masih kecil.


Sayangnya, jalan kehidupan manusia tidak ada yang tahu. Bagaimana jalan yang akan mereka lewati. Karena semuanya sudah tergaris dan tidak bisa ditolak oleh manusia biasa. Sama seperti mereka berdua.


Nyatanya, Abimanyu harus bekerja di sebuah perusahaan besar. Di mana dia harus mengatasi segala sesuatu yang tidak bisa diselesaikan oleh orang lain. Karena ketelitian dari pekerjaan yang harus dia lakukan, sangat diperlukan untuk pertahanan perusahaan tersebut.

__ADS_1


Sama hal nya dengan Anjani. Impiannya untuk bisa hidup sederhana tanpa banyak masalah, justru musnah di saat dia mengalami kecelakaan bersama dengan ayahnya.


Dia kehilangan ayahnya, dan di saat dia bangun dari koma, justru dia sudah menjadi seorang istri dari seorang pengusaha. Namun sayang, pengusaha tersebut juga memiliki istri sah, setelah menikahinya.


Lika-liku kehidupan yang tidak bisa dia bayangkan sebelumnya.


Bahkan sekarang ini, mantan suaminya tersebut justru menjadi besannya sendiri. Menjadi Ayah mertuanya, dari anaknya Ara.


Lucu.


Ya lucu memang jika dipikir-pikir secara logika. Bagaimana mungkin, dia memberikan restu pada anaknya, untuk bersanding dengan anak dari mantan suaminya. Dengan wanita yang lain.


Tapi Anjani tetap tidak mau mendahului takdir. Dia juga tidak mau berburuk sangka terhadap garis takdir Tuhan. Yang akan dijalani oleh anaknya, bersama dengan anak dari mantan suaminya itu.


Semua pasti sudah digariskan oleh Tuhan. Terkait lahir, jodoh dan mati.


Tinggal bagaimana kita menjalani kehidupan ini, sebagaimana cerita yang seharusnya. Tidak perlu ada banyak kesah. Karena Tuhan pasti ada didekat kita. Bersama dengan kita. Cuma keyakinan yang kadang membuat manusia ragu.


"Mas. Mas! Mas Abi!"


Anjani memanggil-manggil Abimanyu, yang tadi dia tinggal sendiri di teras samping rumah.


Abimanyu menjawab panggilan istrinya. Karena ternyata, dia ada di dekat kolam ikan, yang ada di sebelah belakang kafe rumah.


"Mas kenapa ke situ?" tanya Anjani cemas.


Kursi roda yang digunakan oleh Abimanyu, memang kursi roda otomatis. Sehingga dia tidak perlu bantuan dari orang lain, jika ingin berpindah tempat. Dengan jalur yang datar.


"Mas pengen liat ikan-ikan ini saja. Lagian bosen juga cuma duduk diam di teras Bun."


Setelah berkata demikian, tatapan Abimanyu, beralih ke arah tangan istrinya, yang sedang memegang amplop coklat besar. "Itu apa Bun?" tanya Abimanyu, dengan rasa penasaran yang ada.


"Ayah. Kita sudah dapat rumah yang Ayah inginkan. Tidak besar, tapi asri dengan kebun di samping dan belakang rumah." Anjani mengeluarkan beberapa lembar foto, yang menunjukkan bagian-bagian tertentu, pada bagian rumah yang dia maksudkan tadi.


Dengan tersenyum senang, Abimanyu menerima lembar demi lembar foto tersebut. Dia tampak tersenyum, saat melihat satu persatu lembaran foto yang diberikan oleh istrinya.

__ADS_1


"Om yang kasih. Jika Ayah setuju, kita bisa liat ke sana besok," kata Anjani, memberitahu pada Abimanyu. Tentang foto-foto yang dia miliki.


"Iya Bun. Ayah suka liatnya. Besok kita coba liat secara langsung ya!"


Anjani mengangguk mengiyakan permintaan dari suaminya itu. Dia merasa sangat bahagia, dengan melihat senyum kebahagiaan yang ada pada suaminya sore ini.


"Nanti bunda kabari om dulu. Biar besok dia jemput kita, untuk datang ke rumah tersebut."


Dengan menganggukkan kepalanya, Abimanyu menyetujui perkataan yang diucapkan oleh istrinya. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya mimpinya bisa dia wujudkan. Dan itu tidak akan lama lagi.


*****


Di Jakarta, waktu sore hari.


Anggi baru saja datang dari sekolah. Dia datang dengan mengunakan ojek, sama seperti yang pernah dilakukan oleh Ara dulu.


Tapi begitu dia sampai, dia terkejut dengan keberadaan Ahmed di teras rumah.


Ahmed sedang berbicara dengan kakaknya, Ara, dan juga kakak iparnya, Awan.


"Anggi," sapa Ahmed, begitu melihat kedatangan Anggi, yang turun dari atas boncengan motor tukang ojek.


"Ahmed? kok gak ngasih kabar sih!"


"Hehehe... surprise buat U Anggi," ujar Ahmed, memberikan alasan untuk menjawab pertanyaan dari Anggi.


"Kakak juga. Kenapa gak kasih kabar, pesan atau apa kek tadi!"


Sekarang, gantian Ara yang disalahkan oleh Anggi. Karena tidak memberitahu padanya, tentang keberadaan Ahmed di rumah.


"Kok Kakak yang disalahin? Kan ini katanya surprise Dek. Ya gak adalah, kabar-kabar atau pesan macam pemberitahuan," sahut Ara dengan cepat.


Dia tidak mau disalahkan atas keterkejutan Anggi. Karena kedatangan Ahmed ke Indonesia. Karena setelah ikut hadir dalam acara resepsi pernikahannya, Ahmed memang pergi ke Bali. Tapi langsung pulang lagi ke Amerika.


Dan baru tadi siang, Ahmed kembali datang ke Indonesia. Dalam rangka untuk merealisasikan rencana awalnya, untuk membuka restoran khusus untuk masakan timur tengah.

__ADS_1


"Eh, sini! Ngapain berdiri di halaman. Kayak mau upacara bendera saja," ajak Ara, yang menyindir adiknya.


Karena Anggi, belum juga pergi tadi tempatnya berdiri. Sejak dia turun dari atas boncengan motor tukang ojek.


__ADS_2