
Di Amerika.
Ara mendapatkan kabar tentang Clarissa pada keesokan harinya. Di saat ada di kampus.
Jam kelasnya, belum dimulai. Ara sedang duduk di taman, sama seperti biasanya. Dan kebetulan, secara tidak langsung, dia mendengar ada segerombolan kecil dari temannya yang membicarakan tentang Clarissa.
"Kemarin Aku masih lihat dia main ke kampus ini. Kenapa sekarang dapat kabar dia kritis di rumah sakit? Rumah sakit polisi lagi."
"Iya. Aku juga tidak menyangka."
"Beritanya, kasusnya ini masuk kasus kriminal. Dan yang menjadi korban pernah menjadi teman kuliahnya. Itu artinya, mahasiswa sini kan?"
"Hah! Benarkah?"
"Dia keluar dan pindah Dati kampus ini juga karena ulahnya sendiri kan?"
"Apa mungkin, korbannya juga sama lagi? Soalnya di berita ini ada motif balas dendam juga."
Ara segera meninggalkan tempat duduknya, di saat teman-temannya itu masih mencari-cari berita terkait Clarissa.
"Clarissa kritis? kok gak ada kabar dari pihak kepolisian?"
"Atau ayah sudah tahu? Bisa jadi, kak Awan juga sudah tahu juga?"
Ara bergumam dan bertanya-tanya sendiri, dengan apa yang terjadi pada Clarissa. Dia berpikir bahwa, pihak kepolisian pasti memberikan penjelasan kepada korban, jika tersangka mendapatkan masalah.
"Coba telpon kak Awan saja kalau begitu," gumam Ara lagi, yang segera melakukan panggilan telpon untuk tunangannya.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Tidak ada jawaban.
Ara kembali mencoba untuk menghubungi Awan. Tapi,. akhirnya dia alihkan ke nomer ayahnya.
Tut tut tut!
..."Ya Ra. Ada apa?"...
..."Ayah. Kak Awan ada bersama dengan ayah di kantor?":...
..."Tidak. Dia baru saja keluar untuk bertemu dengan klien. Bersama dengan manager juga. Ada apa?"...
..."Pak manager masuk?"...
..."Iya. Dia masuk kerja, sama seperti biasanya. Ada apa?"...
Akhirnya, Ara menceritakan tentang spa yang tadi dia dengan dari teman-temannya.
..."Apa pak manager tidak mengatakan apa-apa pada ayah atau kak Awan?"...
..."Ada. Itu kemarin Ra."...
..."Berarti Ayah sudah tahu? Kak Awan juga sudah tahu?"...
..."Iya Ra."...
__ADS_1
..."Kok Ara tidak tahu?"...
..."Kami sedang ada di kantor. Ayah lupa sewaktu sudah sampai di rumah. Dan mungkin, Awan juga lupa bercerita pada Kamu."...
...'Aoa Pak manager tidak mengatakan apa-apa pada ayah atau kak Awan? Misalnya, minta tolong untuk mencabut kasus ini?"...
..."Kenapa Kamu punya pikiran seperti itu?"...
..."Entahlah. Ara hanya kepikiran tentang Clarissa dan papanya."...
..."Sudahlah. Kamu fokus kuliah saja. Manager juga tidak mengatakan apa-apa."...
..."Baiklah yah."...
Klik!
"Hufh... ternyata Ayah dan kak Awan juga sudah tahu semua. Syukurlah kalau begitu." Ara tidak kembali ke tempatnya yang tadi.
Dia berjalan menuju ke kelasnya, dan menunggu di dalam ruangan. Dia berpikir itu lebih baik, dari pada mendengar tentang beritanya Clarissa.
*****
Di kantor.
Abimanyu membuang nafas panjang. Dia sebenarnya tidak ingin membicarakan tentang hal ini pada Ara.
Karena dia tahu, jika Ara itu adalah orang yang tidak tegaan.
Awan juga tidak mau membicarakan tentang Clarissa lagi dengan Ara, sampai waktunya untuk persidangan nanti.
Tapi ternyata, Ara justru mengetahui tentang hal ini di kampusnya.
Clik!
Pintu terbuka. Muncul Awan yang datang bersama dengan manager perusahaan.
"Siang Yah."
"Siang Mr Abimanyu."
Awan dan manager menyapa Abimanyu, yang mendongakkan kepalanya melihat ke arah mereka berdua, yang baru saja datang dari tugas ke luar kantor.
Abimanyu hanya mengangguk saja, kemudian bertanya tentang pekerjaan mereka berdua tadi. "Bagaimana klein?"
"Dia puas Yah. Dia kan menyiapkan segala sesuatunya, untuk keperluan kontrak kerja sama kita minggu depan." Awan menjawab pertanyaan dari Abimanyu, tentang hasil kerjanya tadi, bersama dengan manager.
Manager pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh Awan barusan.
Sekarang, Abimanyu yang berdiri dan meminta keduanya untuk duduk terlebih dahulu. "Duduklah. Ada yang ingin Saya bicarakan sebentar. Tapi, ini bukan masalah kantor."
Awan dan manager, mengangguk dan sama-sama duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Abimanyu juga ikut duduk dan memulai pembicaraan.
"Bagaimana keadaan Clarissa Sir?" tanya Abimanyu, pada manager tersebut.
"Hah! emhhh..."
__ADS_1
Manager tersebut cukup kaget mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Abimanyu, tentang anaknya. Dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari atasannya itu.
Awan mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan itu juga.
"Maaf Mr Abimanyu. Cla_Clarissa dalam keadaan kritis. Saya minta maaf atas nama anak Saya."
"Memangnya ada apa Yah?" tanya Awan, yang tidak tahu jika tadi dihubungi oleh Ara.
Akhirnya, Abimanyu menceritakan tentang Ara, yang tadi menelpon dirinya. "Apa kamu tidak memeriksa handphone milikmu?" tanya Abimanyu, yang tadi mendengar jika Ara mencoba untuk menelpon Awan.
Awan membuka handphonenya, yang ternyata dia simpan di tas kerja.
"Oh iya Yah. Awan tidak tahu."
Manager tersebut diam. Dia tidak tahu harus bagaimana menceritakan tentang keadaan anaknya. Karena Clarissa dalam kritis, dan tidak bisa di jenguk dengan bebas.
"Dia ada di rumah sakit kepolisian. Tidak bisa di tunggu. Harus ada ijin jika menjenguknya. Dan kata penjaga, persidangan kasus Clarissa akan di tunda, hingga dia sehat lagi."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh manager, sesuai dengan apa yang dia ketahui kemarin.
"Kenapa dia sebenarnya?" tanya Abimanyu lagi.
"Menurut hasil tes, dia meminum obat yang bisa mematikan. Di duga Clarissa stres dan ingin mengakhiri hidupnya. Sungguh malang nasibnya. Ini semua salah Saya Mr."
Manager, papanya Clarissa, mengatakan apa yang terjadi pada anaknya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dia tahu, jika anaknya itu tumbuh menjadi remaja yang tidak bisa dikendalikan.
Tapi, itu semua juga kesalahannya. Juga kesalahan mantan istrinya.
"Semoga, setelah dia sembuh, dia bisa memaafkan Saya sebagai papanya," kata manager, dengan mengusap air matanya yang telah menetes tanpa dia sadari.
Abimanyu dan Awan, jadi ikut larut dalam suasana sedih.
"Maaf Mr. Saya kembali ke ruangan."
Merasa tidak nyaman, akhirnya manager tersebut pamit untuk kembali ke dalam ruangan kerjanya sendiri.
*****
Di apartemen.
Ahmed sudah datang, sesuai dengan permintaannya kemarin. Dia ingin memulai belajar memasaknya, dengan tidak menunggu waktu yang lama.
Begitu melihat Anggi turun dari bus sekolah, dia langsung mengambil tas berisi bahan-bahan untuk membuat kue. Baru kemudian mendekati Anggi untuk ikut pulang bersama.
"Nak Ahmed mau belajar bikin kue apa dulu hari ini?" tanya Anjani, yang memeriksa tas bawaan Ahmed.
Ada tepung ketan, gula merah, kelapa yang sudah diparut, dan yang lainnya.
"I mau bikin kue bujis."
"Kue bujis?" tanya Anjani, yang bingung dengan jawaban dari Ahmed.
"Tidak ada kue bujis. Emhhh... mungkin kue bugis Bun," sahut Anggi. Memikirkan sebuah kata, yang mirip dengan yang tadi disebutkan oleh Ahmed.
"Ah ya, itu maksud i tadi. Bujis!"
Ahmed berusaha untuk memperjelas perkataan bugis. Tapi tetap saja, bujis yang akhirnya keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Kue bugis adalah makanan khas Indonesia yang terbuat dari beras ketan berisi kelapa parut. Walaupun namanya sama seperti suku di Sulawesi Selatan, Yaitu suku Bugis,tetapi kue ini justru banyak didapat di pulau Jawa. Di Pulau Jawa, kue bugis disebut dengan kue mendut.