
Dua hari kemudian, Wawan sudah mendapat pekerjaan di salah satu dealer sepeda motor, milik teman ayah Edi.
Kata pemilik dealer, Wawan akan diuji coba selama dua bulan, baru akan di pekerjaan di dealer pusat dan dinaikkan jabatannya.
Ini bukan karena pengalaman Wawan atau karena faktor pendidikannya juga, tapi dikarenakan ayah Edi sendiri. Dia termasuk salah satu pemegang modal di dealer tersebut. Selama ini, ayah Edi memang tidak pernah ikut campur dalam urusan dealer. Jadi memang tidak ada yang tahu, termasuk ibu Sofie sendiri sebagai istrinya.
"Bekerjalah dengan baik. Kamu akan cepat naik jabatan jika mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dan juga rajin. Om kembali ke kantor dulu ya," kata ayah Edi berpamitan, sekaligus memberikan nasehat pada calon menantunya itu.
"Iya Om, terima kasih."
Wawan mengucapkan terima kasih, saat ayah Edi berpamitan, untuk kembali ke kantor.
Dia pun bekerja di kantor dealer cabang, yang termasuk kecil dan hanya ada sepeda motor second saja. Barang-barang yang masih baru, ada di dealer pusat, sehingga saat ada pelanggan yang mau membeli barang yang baru, harus memesan terlebih dahulu, atau ikut salah satu karyawan di dealer tersebut, untuk di antar ke dealer pusat.
Ini adalah tantangan untuk Wawan. Dia di coba secara kesabaran, keuletan dan juga keramahannya terhadap pelanggan yang dia hadapi.
Semua ini, memang dilakukan oleh ayah Edi. Dia ingin Wawan belajar banyak, meskipun secara tidak langsung, supaya tidak lagi memiliki kebiasaan yang dulu, karena dia akan segera memiliki tanggung jawab dalam keluarganya nanti. Apalagi, istrinya Wawan adalah anaknya sendiri, yaitu Yasmin.
"Hemmm... Aku akan bekerja lebih baik dan lebih keras lagi. Supaya dealer ini ramai dan laris, kemudian Aku akan segera naik jabatan. Aku akan mengajak Yasmin hidup sendiri, supaya keluarganya tidak ikut campur dan mengurusi urusan rumah tanggaku nanti. Sepertinya, Sekar juga tidak akan suka, jika harus serumah dengan diriku nantinya."
Begitulah kira-kira pemikiran Wawan. Dia juga ingin hidup bebas bersama Yasmin, sama seperti yang dilakukan oleh mereka berdua selama ini. Tidak ada tekanan dan juga beban, karena nasehat demi nasehat yang akan selalu dia dengar dari pihak-pihak yang merasa selalu benar.
Di lain pihak, ayah Edi sudah berpesan kepada temannya, supaya mengajari Wawan bekerja dengan serius dan baik. Dia tidak pernah merasa curiga, dengan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Wawan. Dia berpikir, jika semua orang pernah ada di jalan yang salah. Tapi, pastinya bisa juga diajak untuk kembali ke jalan yang benar dan tidak menyalahi aturan.
Ayah Edi, berharap banyak pada Wawan, agar bisa membahagiakan Yasmin kedepannya nanti.
*****
Seminggu sudah berlalu. Pernikahan antara Yasmin dengan Wawan, akan dilaksanakan hari ini juga di rumah. Semua persiapan untuk akad nikah dan pesta pernikahan juga sudah dilakukan oleh pihak keluarga ayah Edi.
__ADS_1
Ibu Sofie, juga sudah sibuk dari kemarin-kemarin. Dia mengundang beberapa teman dan juga kenalan, agar bisa datang ke pesta pernikahan anaknya itu.
Sebenarnya, ayah Edi meminta istrinya untuk tidak membuat acara pesta ini secara besar. Hanya dari pihak keluarga dan tetangga dekat saja, karena kondisi tubuh Yasmin juga sudah tidak mungkin ditutup-tutupi lagi. Perutnya sudah semakin membesar dan tampak lebih besar daripada perutnya Anjani.
Tapi, ibu Sofie tidak mau mendengarkan perkataan suaminya. Dia merasa tidak tenang jika pesta pernikahan anaknya hanya terkesan sangat sederhana sekali. Dia malu, karena berpikir jika akan di nilai teman-temannya sebagai orang tua yang pelit terhadap anaknya, apalagi ini pernikahan. Meskipun pesatnya diadakan di rumah dan tidak di gedung, tapi ibu Sofie tetap ingin membuat sebuah pesta yang meriah.
Itulah sebabnya, ibu Sofie ngeyel dan membuat pesta ini semeriah mungkin, meskipun tidak sebesar pesta pernikahan Abimanyu dan Anjani waktu itu. Setidaknya, tidak terkesan hanya diam-diam saja.
Akad nikah sudah berlangsung sejak setengah jam yang lalu. Para tamu undangan juga sudah datang dan menikmati hidangan yang disajikan. Ada banyak sekali makanan dan minuman yang sudah disediakan, jadi para tamu tidak akan merasa bosan, karena ada banyak pilihan sesuai dengan selera mereka.
Anjani ikut sibuk menyambut para tamu undangan bersama dengan Sekar dan Abimanyu. Bibi pembantu, ikut juga menyajikan makanan dan minuman di atas meja prasmanan. Sedangkan Yasmin, duduk di pelaminan bersama dengan Wawan.
"Kok si Yasmin melangkahi Sekar ya? apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Iya juga ya, padahal melangkahi kakak perempuan itu pamali lho, kok ibu Sofie pak Edi mengijinkan, padahal mereka orang yang bijaksana. Pasti tahu kan, kalau banyak kasus yang sering terjadi, jika seperti Yasmin ini, kehidupan keluarga mereka nanti tidak akan tenang, karena pastinya Sekar ada yang mengganjal di hati. Tidak ikhlas jika di langkahi, kecuali melangkahi kakak laki-laki, yang dianggap wajar di masyarakat kita ini."
"Sudah-sudah, makan saja sih! bergosip Mulu kerjaannya!"
"Alahhh Jeng, Kamu tahu sendiri bagaimana kulit ibu Sofie. Sekarang, dia mungkin sedang kena dampak dari omongan sendiri. Mungkin si Yasmin sudah..."
"Ehem!"
"Ehhh... yang mau punya cucu, selamat ya Bu Sofie. Sebentar lagi di panggil eyang uti." ( author, eyang uti sama dengan eyang putri\= nenek )
Begitulah para tamu yang sedang menikmati hidangan, mereka juga membicarakan tentang keadaan Yasmin yang tidak biasa. Apalagi, pesta pernikahan ini tidak direncanakan jauh-jauh hari, terkesan mendadak. Tentu saja, ini membuat orang curiga, dan menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi pada mempelai wanitanya.
"Apa maksud Kamu jeng?" tanya ibu Sofie, yang merasa tidak nyaman saat keadaan Yasmin di ketahui oleh orang lain.
"Itu katanya Anjani, menantu ibu Sofie sudah hamil. Berarti sebentar lagi punya cucu kan?"
__ADS_1
Ibu Sofie menghela nafas lega. Dia berpikir jika tamu-tamunya itu, bergosip tentang Yasmin, tadi ternyata sedang membicarakan Anjani.
"Iya, terima kasih ya. Oh ya, Saya tinggal dulu ya, itu ada tamu yang baru saja datang," kata ibu Sofie, berpamitan untuk menyambut kedatangan tamu yang baru saja sampai.
Mereka semua hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi ada juga yang mencibir, setelah ibu Sofie berlalu dari hadapan mereka.
"Gayanya sok yes, kalau kasih nasehat sok bijak, nyatanya. Nol besar!" kata salah satu tamu, yang dulu pernah di nasehat ibu Sofie, tentang bagaimana cara mendidik dan mengawasi anak-anak yang mulai tumbuh remaja, karena anak gadisnya yang pertama, kecelakaan dan harus menikah pada usia yang masih sangat muda.
Ternyata, tamu yang baru saja datang tadi adalah Risma. Dia sudah sehat, dan bisa berjalan dengan normal lagi. Dia di ajak masuk oleh ibu Sofie dan di minta untuk ikut menikmati makanan yang sudah disediakan.
"Makan yang banyak ya Risma. Maaf lho kemarin itu," kata ibu Sofie, yang merasa tidak enak hati karena kepulangan Risma, disebabkan adanya masalah di dalam keluarganya saat itu.
"Iya tidak apa-apa Bu Sofie. Justru Saya yang berterima kasih atas semua bantuan keluarga ibu Sofie kemarin itu. Dan itu buy, emhhh... selamat ya, karena sebentar lagi akan punya dua cucu. Semoga ibu lebih berbahagia dengan adanya cucu-cucu itu," kata Risma memberikan ucapan selamat pada ibu Shofie.
Ibu Sofie hanya tersenyum tipis mendengar ucapan selamat dari Risma. Dia segera meminta ijin untuk ke tempat lain, dan mempersilahkan Risma menikmati hidangan yang ada.
Di atas pelaminan, Yasmin dan Wawan sedang berdebat mengenai tempat tinggal setelah ini, karena Yasmin tidak mau diajak tinggal di kost-kostan Wawan yang baru. Yasmin ingin, mereka berdua tetap tinggal di rumah ini, sampai Wawan bisa bekerja dan menghasilkan uang yang banyak.
"Tapi Yasmin, nanti ibu dan ayah Kamu akan sering mendekte kita. Aku tidak mau diatur-atur." Wawan tetap bersikeras untuk pergi dari rumah ini.
"Tapi, Kamu belum kerja dengan benar. Mana bisa kita hidup dengan layak? bagaimana dengan anak kita nanti Sayang? Nanti sajalah, kalau Kamu sudah bisa menghasilkan uang yang banyak, baru kita pindah, cari rumah yang bagus untuk kita tinggali. Makanya, Kamu kerja yang benar dan cepat naik jabatan ya," ujar Yasmin, memberikan alasan, kenapa dia tidak mau diajak tinggal dia kost-kostan Wawan.
Wawan akhirnya setuju saja. Dia tidak lagi memaksa Yasmin. Toh menurut Wawan, keputusan istrinya itu, bisa meringankan bebannya juga nanti. Dia tidak perlu memikirkan uang kost, makan dan semua keinginan Yasmin, yang pastinya masih bisa minta pada ayah atau ibunya, karena menganggap jika Wawan masih belum bisa menghidupi anak mereka.
Di luar rumah, tempat menyambut para tamu, Anjani sedang memegangi perutnya. Dia merasa kesakitan.
"Sayang, Kamu kenapa?" tanya Abimanyu, yang melihat Anjani meringis sambil memegangi perutnya.
"Tidak tahu Mas. Tiba-tiba sakit," jawab Anjani dengan wajah yang terlihat sangat kesakitan.
__ADS_1