
"Mas. Kenapa tidak pernah bicara tentang kantor lagi denganku? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Adhisti memancing pembicaraan, saat Elang mau berangkat ke kantor.
"Semua baik-baik saja Sayang. Kamu tidak perlu risau. Jika ada masalah, nanti juga Aku bisa kok mengatasinya. Kamu, konsentrasi saja sama dedek bayi yang ada di perut Kamu ya," jawab Elang, dengan menasehati Adhisti juga.
Elang, dengan mengelus-elus perut Adhisti dengan bahagia. Dia tidak sabar ingin menyaksikan anaknya itu lahir ke dunia ini.
"Sehat-sehat ya Sayang di perut Bunda. Jangan rewel, kasihan Bunda yang harus capek-capek gendong Kamu kemana saja ini," kata Elang pada perut buncit istrinya, seakan-akan anaknya yang masih ada di dalam perut, bisa mendengar semua perkataannya.
Adhisti, merasa sangat senang mendapat perhatian dan kasih sayang Elang. Meskipun kadang, ada waktu di mana dia merasa terabaikan oleh Elang, tapi dia mencoba untuk menghilangkan rasa kecewanya itu, karena belum tentu apa yang dia pikirkan adalah kebenaran yang sesungguhnya.
"Kapan jadwal periksa bulan ini Sayang?" tanya Elang, mengingatkan Adhisti, untuk waktu jadwal periksa kandungannya.
"Dua hari lagi Mas. Apa Mas bisa antar?" tanya Adhisti, dengan memegangi tangan Elang, yang masih berada di atas perutnya.
"Dua hari lagi ya... bisa-bisa. Itu kayaknya belum ke Korea Aku. Oh ya Sayang, gimana kalau besok, waktu Aku tidak ada di rumah, pergi ke Korea untuk operasi wajah Anjani, kamu nginep di rumah mama, atau mama bisa datang untuk menemani Kamu?" Elang memberikan usulan pada istrinya, Adhisti.
"Tidak usah Mas. Aku tidak apa-apa. Kasihan mama, dia harus bolak-balik ke rumah dan ke sini terus ke kantornya juga. Nanti mama malah jadi repot, Aku gak enak jadinya," jawab Adhisti menolak.
Adhisti, bukannya tidak mau di temani mama mertua atau dia harus menginap di rumah mertuanya. Dia hanya merasa tidak nyaman, jika harus berada dekat-dekat dengan mama mertua, mamanya Elang. Entah kenapa, hubungan antara menantu dan mertua dalam beberapa versi cerita yang tidak baik, harus di alami oleh Adhisti sekarang ini.
Bukannya Adhisti tidak sayang ataupun tidak mau, ditemani, dia hanya menghindari perbedaan pandangan dan pendapat, yang kadang terjadi, antara dia dan mamanya Elang, suaminya itu.
"Baiklah kalau begitu. Nanti jika bibi di ruang Anjani sudah beres dengan pekerjaannya, buat dia ikut ke mari, menemani Kamu juga. Dan jangan lupa, jika ada apa-apa, Kamu harus segera meminta bantuan pada mama atau papa, ya!" Elang, kembali menegaskan pesannya pada istrinya, Adhisti.
*****
Dia hari kemudian.
"Ah, syukurlah. Permasalahan-permasalahan yang ada di kantor, sudah bisa Aku atasi, sebelum berangkat ke Korea. Kau jadi lebih tenang meninggalkan pekerjaan yang lainnya."
Elang, bisa bernafas lega, karena kebocoran keuangan perusahaan bisa dia tangani. Begitu juga dengan pelakunya. Sekarang sedang proses penyidikan pihak yang berwajib.
"Untungnya, mama cepat membantuku. Mama memang terbaik deh kalau soal keuangan." Elang, berkata dalam hatinya sendiri.
Saat Elang batu saja menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, handphone miliknya berdering. Saat diambilnya, ternyata Adhisti yang sedang menelponnya.
..."Ya Sayang, ada apa?" ...
..."Mas. Sore Aku jadwal cek kandungan. Ingat gak?" ...
__ADS_1
..."Ingat dong Sayang. jam lima kan?"...
..."Jam lima kan jadwalnya sampai klinik Mas."...
..."Oh iya. Baiklah, nanti Mas usahakan pulang siang saja. Biar tidak terlambat antar Kamu Sayang."...
..."Ya Mas. Hati-hati lho!"...
..."Oh ya, mau dibawakan apa? tidak ngidam apa-apa lagi gitu?" ...
..."Hehehe... gak pengen apa-apa nih, cuma pengen Mas saja."...
..."Eh, gitu ya. Baiklah, nanti malam siap-siap, saja khusus buat Mas. Ok!" ...
..."Hihihi... siaplah kalau itu, selalu Mas."...
..."Sampai nanti Sayangku Muachhh!" ...
..."Love you Mas."...
..."Love you to cintaku, istriku. Adhistiku. Hahaha..."...
Malam harinya, saat Elang dan Adhisti pulang dari periksa kandungan, mereka segera beristirahat, karena waktunya sudah terlalu malam.
Tadi mereka berdua, mampir dulu ke restoran untuk makan malam. Mereka menyadari, jika akhir-akhir ini, mereka jarang melakukan, apapun yang dulunya sering kali dilakukan, hanya untuk mendekatkan diri dan perasaan mereka, dengan jalan atau makan ke luar seperti tadi.
"Sayang. Besok sore, Aku dan Anjani terbang ke Korea. Kamu hati-hati ya di rumah. Mau di belikan oleh-oleh apa dari sana?" tanya Elang, setelah memberikan pesan juga.
"Boleh minta dibawakan opa-opa Korea yang ganteng gak Mas? hehehe... Aku mau tuh kalau ada," jawab Adhisti bercanda.
"Dibungkus gitu?" tanya Elang sok tahu.
"Iyalah, buat kejutan Aku," sahut Adhisti cepat.
"Ya, nanti akan Aku bawakan tidak hanya satu, tapi banyak!" kata Elang, sambil merentangkan kedua tangannya, mempraktekkan seberapa banyak jumlah yang akan dia bawa nantinya.
"Hahaha... apa itu?" tanya Adhisti curiga.
"Foto posternya. Wkwkwk..."
__ADS_1
"Hahaha... iya juga ya."
Keduanya, Elang dan Adhisti, tertawa bersama-sama, saat sadar jika keduanya sedang berkhayal tentang oleh-oleh yang di tawarkan Elang tadi.
"Buat bekal Mas selama di sana, buat tidak kangen, mana tadi yang dijanjikan?" Elang menagih sesuatu pada istrinya, Adhisti.
"Apa?" tanya Adhisti lupa.
"Ihsss, masak lupa?"
"Apa sih?" tanya Adhisti lagi.
"Ini, ini, ini, ini, semuanya!"
"Hihihi... Mas bisa saja."
Beberapa saat kemudian, tak lagi ada suara percakapan antara mereka berdua. Yang ada hanya perasaan yang sama untuk malam mereka berdua.
*****
Lima hari berlalu. Anjani, sudah melakukan operasi wajah di Korea. Dia harus menunggu dua hari, untuk melihat keberhasilan dari operasinya tersebut. Dan itu adalah hari ini.
"Mas, Aku bosan."
Anjani yang sedang berbaring ke tempat tidurnya, berkata pada Elang yang saat ini duduk dengan handphone di tangannya.
"Mau apalagi? Kamu kan dengar sendiri kemarin itu, kalau dokter akan membuka perban wajahnya hari ini. Jadi, sabar sebentar ya!"
"Mas."
"Ya," sahut Elang pendek.
"Kemarin, foto yang dikasih ke dokternya, foto Aku kan?"
"Iya foto yang Kamu kasih ke Aku itu. Kenapa? apa kurang cantik? Menurut aku Kamu cantik kok," jawab Elang, dengan cara menerangkan juga pada Anjani, agar dia tidak merasa takut jika wajahnya di ganti dengan wajah orang lain.
"Aku cantik? Tapi sayangnya sekarang ini bukan aslinya."
"Sama saja Jani. Kamu jangan berkata seperti itu lagi. Aku akan merasa sangat bersalah, karena wajahmu rusak kemarin itu, karena Aku juga yang menjadi penyebabnya."
__ADS_1
Elang, mengingatkan Anjani agar tidak lagi mengungkit tentang apapun yang berkaitan dengan kecelakaan yang terjadi waktu itu. Dia juga merasa tidak nyaman, sebab, dengan kejadian itu, Elang harus berada pada posisi yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Mempunyai dua istri yang berbeda status dan kedudukannya juga tidak dia ketahui, entah sampai kapan.