
Satu bulan berlalu dan semua hal berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang istimewa, ataupun kejadian yang berbeda. Semua sibuk dengan urusan masing-masing, hingga pada suatu hari, berita itu sampai juga di telinga orang-orang yang ada di rumah ayah Edi. Yang membuat semuanya terkejut dan tidak menyangka jika begitulah kebenaran yang sesungguhnya.
Saat itu, Yasmin baru saja selesai mandi. Anaknya, Nanda, sedang ada di dalam pengawasan baby sitter. Dia begitu bersemangat, karena kata suaminya, dia akan di ajak keluar untuk melihat-lihat rumah baru mereka nanti malam.
Begitulah yang dia katakan pada ibunya, ibu Sofie, sehingga dia juga ikut merasa senang karena anaknya bisa juga mempunyai rumah sendiri dengan hasil kerja keras suaminya. Padahal dulunya, menantunya Wawan begitu direndahkan orang-orang. Semua tidak percaya jika Wawan bisa berubah lebih baik.
"Huh, seandainya saja, kekasihnya Wawan yang kemarin dulu marah-marah di panggung pelaminan sekarang bisa melihat keberhasilannya ini, pasti merasa sangat malu, karena sudah berkata seperti itu. Nyatanya, Wawan bisa membuktikan, jika dia jauh lebih baik daripada yang dia katakan waktu itu."
Ibu Sofie membatin, dengan apa yang dulu pernah membuatnya malu. Di saat hari pernikahan anaknya, Yasmin.
Sekarang, dia bisa berbangga hati karena bisa bercerita tentang Wawan dan Yasmin pada orang lain. Pada teman-temannya yang dulu ikut mengolok-olok juga. Dia tidak tahu, jika semua cerita dan kebanggaannya itu akan cepat berlalu, seiring waktu yang berjalan dengan cepat tanpa dia sadari sendiri.
Yasmin tiba-tiba mengetuk pintu kamar ibunya dengan tergesa-gesa. Tentu saja, perbuatan Yasmin ini membuat kaget ibu Sofie yang baru saja pulang dari kantor dan ingin beristirahat sebentar.
Tok tok tok!
"Bu. Ibu!
Tok tok tok!
Cklek!
"Ada apa Yasmin?" tanya ibu Sofie heran. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi pada anaknya itu.
"Mas Wawan. Mas Wawan Bu, huhuhu..."
Yasmin menjawab dengan terbata-bata. Jawabannya juga tidak jelas dan dua justru menangis setelah itu.
Ibu Sofie jadi panik dan berusaha untuk menenangkan hati anaknya, supaya bisa bercerita dengan tenang.
"Tarik nafas Yasmin. Tarik nafas dan buang. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya terjadi pada Wawan?" tanya ibu Sofie dengan suara pelan, supaya Yasmin juga bisa lebih tenang, sehingga bisa menceritakan kepadanya soal Wawan dengan lebih jelas lagi.
"Mas... mas Wawan, dia_dia di tuduh korupsi Bu."
Jeder!!!
Ibu Sofie seakan mendengar guntur di sore yang cerah ini, di saat mendengar perkataan anaknya, Yasmin, tentang menantunya yang dia bangga-banggakan itu.
"Tap_tapi ini baru dugaan Bu. Bisa jadi hanya orang-orang yang iri dan tidak menyukai mas Wawan menjebaknya. Tapi, sekarang dia ada di kantor polisi untuk memberikan keterangan dan kesaksian."
Yasmin kembali mengatakan bahwa itu semua belum terbukti benar. Dia pikir itu semua hanya rekayasa belaka, karena ada teman sekantor yang tidak menyukai Wawan.
"Iya-iya. Kamu dengar dari mana berita ini? Ibu berharap demikian juga. Bi_biar nanti ayah Kamu ikut mengurusnya di kantor polisi. Sekarang Kamu yang tenang, Ibu akan menelpon ayahmu. Kamu kembalilah ke kamar dan urus Nanda dengan baik. Ingat ya, jangan Kamu bilang sama siapa-siapa, dulu berita ini."
Yasmin menggangguk, mendengar perkataan ibunya. Dia sedikit lebih lega karena mendapatkan dukungan dari ibunya saat ini.
Tak lama setelah Yasmin keluar dari kamarnya, ibu Sofie menghubungi suaminya.
Tut tut tut...
Tut tut tut...
__ADS_1
"Ayah kemana sih, disaat penting begini malah sulit dihubungi?" gerutu ibu Sofie, karena panggilannya tidak tersambung.
Dia pun mencoba untuk menelpon suaminya lagi. Dia ingin segera membantu menantunya, Wawan.
Tut tut tut...
..."Halo, ada apa Bu?"...
Akhirnya, panggilan teleponnya di terima ayah Edi. Dengan cepat dia menceritakan tentang keadaan Wawan pada suaminya itu. Dia juga meminta pada ayah Edi, untuk menyusul Wawan ke kantor polisi.
..."Cepat Yah. Ini kan belum tentu benar, bisa jadi ini hanya fitnah orang-orang yang tidak menyukai Wawan di kantor!"...
..."Hemmm..."...
Ayah Edi, justru dingin saat menanggapi perkataan istrinya. Dia tidak terdengar bersimpati pada Wawan. Dan ini membuat ibu Sofie jadi kesal dan marah pada suaminya itu.
..."Ayah bagaimana sih! Ini soal nama baik keluarga Yah. Anak kita, masa depannya juga."...
..."Kalau ternyata itu semua benar bagaimana?"...
Ibu Sofie terdiam, begitu mendengar jawaban dari suaminya sendiri. Dia jadi sedikit ragu dengan perasaannya sendiri.
..."Tapi Yah, semua kan harus dibuktikan. Jika belum kita dan tidak terbukti, kita harus membantu dia."...
Ibu Sofie, masih saja tidak mengerti kemana arah perkataan dari suaminya itu.
..."Ayah, dengar gak sih Ibu ngomong?"...
Akhirnya, ayah Edi menyanggupi permintaan istrinya itu, untuk melihat dan membantu kasus menantunya Wawan.
*****
Ayah Edi yang masih dalam perjalanan menuju ke kantor polisi, menghubungi anaknya, Abimanyu.
..."Halo Abi, ada di mana?"...
Ayah Edi, langsung bertanya pada Abimanyu, di mana posisi dirinya saat ini.
..."Abi ada di sanggar senam hamil Yah. Menjemput Anjani. Ada apa?"...
..."Masih lama?"...
..."Tinggal beberapa menit lagi, Anjani keluar."...
..."Nanti Ayah share lokasi, Kamu datang ke sana ya. Bersama Anjani tidak apa-apa."...
..."Ada apa sih Yah?"...
Abimanyu, bertanya pada ayahnya, yang menghubungi dirinya dan berbicara seperti tidak biasa. Ada sesuatu yang dia sembunyikan dan belum bisa mengatakan saat ini.
..."Nanti Kamu akan tahu sendiri."...
__ADS_1
Setelah hubungan telpon terputus, Abimanyu berpikir jika telah terjadi sesuatu pada ayahnya itu. Dia tidak berpikir jika ini soal Wawan, adik iparnya.
Tak lama kemudian, Anjani keluar dari dalam sanggar senam ibu-ibu hamil. Dia tersenyum ke arah suaminya, yang datang menjemput seperti biasanya.
"Maaf Mas, jadi menunggu lama ya?" Anjani merasa sedikit tidak nyaman karena selalu seperti itu. Abimanyu akan menunggu sampai dia selesai melakukan senam hamil.
"Tidak apa-apa. Mas kan sekalian pulang. Ini juga tidak lama tadi. Oh ya, kita mau pergi sebentar dan langsung pulang. Ayah ada pesan, yang katanya kita harus datang ke sana."
Anjani mengerutkan keningnya mendengar perkataan suaminya itu. "Tumben Mas, ada apa?" tanya Anjani memastikan, jika tidak terjadi sesuatu pada ayah mertuanya.
"Tidak tahu Sayang. Ayah cuma berpesan padaku, pulang jemput Kamu diminta datang ke lokasi yang udah dia kirim tadi. Tapi, ini kok kayaknya kantor polisi ya? Apa tempatnya dekat kantor polisi gitu?"
Abimanyu, menunjukkan pesan yang ayah Edi kirimkan pada Anjani, supaya Anjani bisa ikut melihat.
"Iya Mas. Mungkin lokasinya tidak jauh dari situ. Makanya, yang terpampang jelas justru kantor polisi, hehehe..."
"Bisa jadi, kan namanya juga aplikasi buatan manusia," kata Abimanyu memaklumi.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, ke tempat yang sudah diberitahukan lewat pesan dari ayah Edi.
Setengah jam melakukan perjalanan, Abimanyu dan Anjani baru sampai di tempat yang dituju. Dan disaat Abimanyu bertanya pada ayahnya, memang kantor polisi Itulah tempat yang dia maksud, bukan tempat yang lain, yang ada di sekitar kantor polisi tersebut.
Mendengar jawaban dari ayahnya, Abimanyu dan Anjani jadi khawatir dengan keadaan ayah Edi.
"Mas, ayah kenapa?" tanya Anjani cemas.
"Tidak tahu Sayang. Sebaiknya kita ke dalam, dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada ayah."
Abimanyu mengajak Anjani untuk masuk ke dalam kantor polisi. Mereka berdua dengan rasa penasaran yang tinggi, ingin tahu, kenapa ayah mereka itu ada di sana, dan tidak ada ibunya yang ikut mendampinginya.
"Ayah!"
Abimanyu langsung memangil ayah Edi, begitu dia melihat keberadaan ayahnya. Ayah Edi, sedang duduk sendirian di ruang tunggu. Tidak ada orang lain di sekitarnya.
"Abi,Jani," sapa ayah Edi, kemudian berdiri, begitu melihat kedatangan anak dan menantunya itu.
"Ayah kenapa? dan ini kenapa kantor polisi sepi, hanya ada penjaga di luar. Saat Aku tanya, katanya ayah ada di dalam," tanya Abimanyu, yang tidak sabar ingin mengetahui lebih lanjut tentang kondisi ayahnya, yang tiba-tiba ada di kantor polisi.
"Ayah tidak apa-apa. Tapi Wawan..." jawab Ayah Edi, yang tidak melanjutkan kalimatnya sendiri.
"Wawan? ada apa dengan dia?" tanya Abimanyu dengan cepat.
Akhirnya, ayah Edi menceritakan tentang kebenaran yang sesungguhnya tentang Wawan. Semua orang yang ada di rumah memang tidak tahu, tapi dia yang ikut menanam saham di dealer tersebut, mengetahui dari beberapa laporan yang diterima dari temannya. Dan semua itu ada bukti-bukti yang kuat. Jadi, ayah Edi hanya bisa diam dan menerima saja, membiarkan temannya yang mengelola dealer, yang akan melaporkan semua yang telah dilakukan Wawan selama ini.
Saat ini, modal yang dimiliki ayah Edi, dijadikan jaminan untuk kasusnya Wawan. Apalagi, dia juga yang memberikan jaminan saat Wawan masuk kerja.
Ayah Edi memang diam saja selama ini. dia tidak ingin ada keributan di rumah, terutama dari Yasmin dan istrinya. Itulah sebabnya, dia tidak begitu banyak bicara saat istrinya, ibu Sofie, menceritakan tentang keberhasilan Wawan selama ini.
Abimanyu menghela nafas panjang, saat ayah Edi selesai bercerita. Dia tidak menyangka, jika adik iparnya itu, yang dia sangka memang sudah berubah, justru semakin menjadi-jadi.
"Lalu, bagaimana keadaan dia sekarang? apa masih sebatas sebagai saksi atau sudah jadi tersangka?" tanya Abimanyu ingin tahu yang selanjutnya.
__ADS_1