Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Peduli


__ADS_3

Pagi hari, di rumah Abimanyu.


Semua anggota keluarganya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Ara sedang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, dan ayahnya, Abimanyu, juga sudah mulai kembali masuk ke kantor.


Anggi belum bersiap-siap. Dia baru saja mau pergi untuk mandi, saat Ara sudah beres dan tinggal menunggu kedatangan Nanda, sambil sarapan pagi terlebih dahulu.


"Dek mandi gih! Kakak aja udah beres," ujar Ara, membandingkan dirinya sendiri dengan adiknya itu.


"Kakak kan sekolahnya jauh. Ara deket ini, lagian masuknya juga beda kan, siangan Anggi dari pada Kakak."


Ara meringis, mendekat perkataan adiknya, Anggi, yang memang benar.


"Pinter ya sekarang," balas Ara, sambil mencubit pipi adiknya itu.


Mereka malah berbincang dengan saling melempar kata-kata. Sehingga Ara harus menyudahinya semua itu, karena teringat dengan waktunya untuk tidak banyak.


"Udah. Kakak mau sarapan dulu. Kamu cepet mandi!"


Tak lama kemudian, Ara pergi ke meja makan, di mana ayahnya juga sedang sarapan pagi.


Mereka berdua, sarapan terlebih dahulu, karena buru-buru mau pergi ke sekolah dan juga kantor.


Anjani hanya melayani mereka berdua, karena dia akan sarapan pagi nanti, menunggu Anggi sekalian. Biar Anggi juga ada temannya, saat sarapan nantinya.


Setelah selesai sarapan, Abimanyu pamit untuk berangkat ke kantor terlebih dahulu.


"Hati-hati Yah," kata Anjani, menasehati suaminya, karena hari ini juga hari pertama dia kembali masuk kerja. Setelah mengalahkan kecelakaan kemarin itu.


Dan tak lama kemudian, Nanda datang menjemput Ara.


Mereka berdua, pamit pada Anjani, untuk berangkat sama-sama ke sekolah.


Sekarang, di rumah tinggal Anjani dan Anggi, yang baru saja selesai mandi.


"Udah belum Dek?" tanya Anjani, dari luar kamar mandi.


Tapi tidak ada jawaban dari dalam.


"Dek, masih di dalam kan?" tanya Anjani lagi, karena kamar mandi di dalam kamar anaknya itu sepi.


Tidak ada jawaban juga dari dalam kamar mandi itu. Anjani menjadi cemas dan was-was. Takut terjadi sesuatu pada anaknya, Anggi.


Dor dor dor!


Dor dor dor!


"Anggi! Adek!"


"Bunda, ada apa?"


Anjani segera menoleh ke arah suara. Ternyata, Anggi baru saja masuk ke dalam kamar, masih dengan mengunakan handuk.


Anjani berlari memeluk anaknya itu, sambil menangis.

__ADS_1


"Kamu dari mana? Bunda sudah khawatir, Kamu tidak ada di kamar," tanya Anjani, kemudian melepaskan pelukannya.


Dia merasa heran, karena Anggi dari luar kamar, dengan memakai handuk mandi.


"Anggi mandi di kamar mandi Bunda. Sabun di kamar mandi habis, dan Kakak tidak mau ambilin tadi," jawab Anggi, dengan bibir mengerucut.


Anjani tersenyum mendengar jawaban dari anaknya itu. Dia mengacak rambut anaknya, yang masih basah.


"Yuk Bunda bantu!"


Akhirnya, Anjani membantu Anggi mengeringkan tubuh dan rambutnya, kemudian berpakaian seragam sekolah.


Anjani juga menyisir rambut anaknya itu, agar bisa lurus serta rapi.


"Kalau nyisir rambut, sampai ke bagian bawah ya Dek. Biar tidak lengket kayak gini, kan susah di rapikan."


Anggi cemberut, karena dia biasa menyisir rambutnya sendiri, dan itu sering kali di ledek kakaknya, Ara, jika tidak rapi dan berantakan di bagian bawah.


Tapi jika dibantu menyisir, Anggi tidak mau, karena katanya kepalanya sakit, jika di sisir orang lain.


"Nah, udah rapi. Kan jadi cantik."


Anggi tersenyum senang, mendengar pujian dari bundanya pagi ini.


"Ayok sarapan dulu. Bunda mau periksa kamar mandi sebentar. Mau periksa apa saja yang habis."


Anggi menurut. Dia berjalan ke luar dari dalam kamar, menuju ke arah meja makan. Sedang Anjani, masuk ke dalam kamar mandi anaknya.


Saat memeriksa peralatan mandi, ternyata sabun dan shampoo, semuanya masih ada. Bahkan, sabun juga terlihat masih banyak. Kemungkinan baru saja di buka untuk digunakan.


Mungkin, Ara juga sedang mengajari adiknya itu, supaya mau menyiapkan alat mandi, saat ada sesuatu yang habis dan harus di persiapkan terlebih dahulu.


Tapi ternyata Ara tidak tahu, jika tadi, adiknya tidak jadi masuk ke dalam kamar mandi di kamar mereka sendiri, melainkan pergi ke kamar mandi, yang ada di dalam kamar ayah bundanya.


"Kakak-kakak. Bisa-bisanya ngerjain adiknya pagi-pagi."


*****


Sore, sepulang sekolah.


Seperti biasanya, Ara menunggu Nanda di luar kelas. Kali ini dia sendirian, karena temannya yang biasanya bersama dengannya, sudah pulang terlebih dahulu.


Sambil menunggu kedatangan Nanda, Ara melanjutkan membaca novel Pada Sebuah Pulau, karya Reo Ruari Onsiwasi, yang ada di aplikasi toon group.


Karena Ara lebih suka dengan cerita fiksi, apalagi jika itu juga sebuah genre petualangan, yang tentu saja mengasikkan dan menegangkan.


Apalagi, jalan ceritanya sangat menarik. Tulisan dan alur ceritanya juga tidak tertebak. Membuat Ara jadi penasaran, sehingga selalu menantikan penulisnya untuk melanjutkan ceritanya.


"Ra, yuk!"


Ara mendongak. Ternyata Nanda sudah ada di depannya sedari tadi, dan dia tidak menyadarinya.


"Sedang baca apa sih? serius amat. Tidak sadar jika ada cowok ganteng di depannya," seloroh Nanda, sok narsis.


"Ihhh, Kakak narsis! hahaha..."

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua saling olok-olok, dengan berjalan menuju ke arah keluar sekolah.


Terlihat dari kejauhan, mereka berdua sama seperti sepasang kekasih, siapapun yang melihat kedekatan mereka berdua.


Karena yang tampak selalu mesra, dengan saling bercanda ria. Baik saat berangkat atau pulang sekolah.


Ternyata, dari arah kejauhan, di belakang Ara dan Nanda, ada Awan yang berjalan sendirian. Dia melihat kebersamaan mereka berdua dengan rasa iri. Sayangnya, dia tidak memiliki kekasih, dan juga sepupu atau saudara, yang bisa diajak untuk saling berbagi serta bercanda, sama seperti yang dilakukan oleh Ara dengan Nanda.


"Kak. Kak Awan!"


Ada suara cewek, yang memanggil-manggil Awan dari arah belakang.


Tapi Awan tidak menoleh. Dia sudah terbiasa, dengan cewek-cewek di sekolahnya ini, yang seakan-akan mencari-cari perhatian darinya.


"Wan!"


Terdengar lagi suara memanggil namanya, tapi sepertinya itu dari cewek lain lagi.


Tak lama, ada dua cewek yang mengejarnya, dan sekarang berjalan beriringan bersama dengan Awan.


"Wan, besok jangan lupa, ada pemilihan ketua OSIS untuk periode yang baru. Kamu udah tau kan?" kata salah satu dari mereka.


Ternyata, kedua cewek tersebut adalah teman-teman Awan, di organisasi sekolah, yang dia ikuti.


Meskipun mereka adalah teman seangkatan dengan Awan, tapi berbeda kelas.


"Udah tau belum siapa aja yang jadi kandidat barunya nanti?" tanya yang satunya lagi.


Awan mengeleng. Dia memang tidak ambil pusing, untuk urusan yang tidak menarik menurutnya.


"Lho, Kamu kan ikut rapat kemarin Wan. Masak gak tau sih?"


"Kak Awan melamun ya kemarin?"


Kedua teman ceweknya Awan tadi, merasa heran dengan sikap Awan. Mereka berdua tahu, jika kemarin, saat ada rapat koordinasi dengan para anggota OSIS, ada Awan juga, yang ikut hadir di sana.


Tapi kenapa hari ini Awan justru tidak tahu, siapa saja yang menjadi kandidat ketua OSIS yang baru. Itu sungguh di luar dugaan mereka berdua.


Mereka berdua saling pandang, dan menganggap bahwa, Awan hanya malas menjawab pertanyaan dari mereka saja. Sama seperti biasanya.


Padahal sebenarnya, Awan memang benar-benar tidak tahu, siapa yang sedang mereka bicarakan. Soal kandidat ketua OSIS yang baru nanti.


"Kamu beneran gak tau Wan?" tanya satu dari mereka dengan kaget. Temannya itu, menyakinkan diri, jika Awan memang benar-benar tidak tahu.


Awan mengangguk pasti.


Dan mereka berdua, saling pandang lagi, karena tidak menyangka, jika sikap acuh Awan separah itu. Tidak memperhatikan apa-apa, yang seharusnya memerlukan perhatian ekstra darinya.


"Lu gak bisa cari perhatian dari Awan. Dia aja acuh dengan organisasi yang dia ikuti. Apalagi dengan Lu, yang pastinya di anggap tidak ada di sekitarnya. hehehe... kasihan sekali."


Salah satu dari teman ceweknya itu, berbisik pada temannya yang satunya lagi.


Dan itu membuat cewek yang satunya mengerucutkan bibir, dengan rasa kesal. Karena diledek oleh temannya sendiri. Dia memang memendam rasa pada temannya itu. Pada Awan, yang saat ini juga sedang berjalan bersama-sama dengan mereka berdua.


"Apa sesulit itu, untuk mendapat perhatian khusus dari dia?" tanya cewek tersebut, menunjuk pada Awan, dengan dagunya sendiri.

__ADS_1


Tapi yang satunya, yang tadi berbisik, hanya bisa mengangkat kedua bahunya sendiri, tanda jika dia sendiri juga tidak tahu.


__ADS_2