
Ternyata usaha yang dilakukan oleh Dika, tidak membuahkan hasil. Dia tidak menemukan satupun sosial media, dengan akun miliknya Ara, atau keluarganya.
Dia hanya menemukan akun miliknya Nanda. Tapi, postingan-postingan Nanda, juga hanya sebatas kegiatannya di waktu masih sekolah dulu, dan kegiatan-kegiatan di kampusnya sekarang ini.
"Mana ada orang jaman sekarang tidak punya akun sosial? Apa Ara pakai nama lain ya?"
Sekarang, Dika mencari nama-nama, yang mungkin saja menjadi nama lain untuk akun sosial, yang digunakan oleh Ara.
Tapi ternyata, dia memang tidak menemukan apa-apa di semua akun sosial trend yang sekarang ini. Bahkan, foto-foto Ara, juga tidak ada di beberapa akun milik temannya, yang dulu satu sekolah dengannya.
Di akun sosial miliknya Nanda, juga tidak ada fotonya Ara, ataupun keluarganya Nanda yang lainnya.
Nanda juga tidak mengunakan foto dirinya sendiri, sebagai foto profil di akun media sosial miliknya.
Foto yang digunakan oleh Nanda sebagai foto profil adalah jaket almamater kampus, tempatnya belajar sekarang ini.
Beberapa saat kemudian, Dika mencoba untuk membuka akun sosial milik Mita, kekasihnya sendiri.
Di akun tersebut, ada satu foto lama Mita, yang sedang selfi berdua dengan Ara. Itupun di saat mereka berdua masih satu kelas, di sekolah SMP dulu.
"Heran itu dengan si Ara. Masa iya, anak cerdas dan hidup di dunia yang serba online sekarang ini, dia tidak punya akun sosial satu pun?"
"Benar-benar aneh dia."
Dika kembali bergumam seorang diri, di dalam kamarnya. Dia tidak menyangka jika, Ara bisa hidup layaknya orang-orang dahulu, yang tidak mengunakan akun sosial apapun, untuk berbagi kegiatan dan aktivitasnya.
Tok tok tok!
Tiba-tiba, pintu kamar Dika di ketuk dari luar.
Klek!
Mamanya masuk, tanpa menunggu jawaban, atau dibukakan pintu oleh anaknya, Dika.
"Mama. Ada apa?" tanya Dika, di saat melihat wajah mamanya, yang tampak pucat dan seperti orang yang sedang ketakutan.
Mamanya itu, tampak jelas sekali jika dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Dika. Lekas berkemas dan pergi ke Bandung atau Medan. Kamu bisa tinggal sementara dengan Tante, atau paman Kamu dulu."
Dika merasa kaget, saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh mamanya barusan.
__ADS_1
"Maksud Mama?"
Dengan singkat, tapi tidak jelas dan lengkap, mamanya menceritakan kepada Dika, kenapa mamanya meminta dirinya untuk pergi dari Jakarta, untuk sementara waktu.
"Tapi, kuliah dan..."
"Nanti ada yang urus. Yang penting, Kamu pergi dan bawa barang-barang berharga Mama."
Dika menerima satu tas jinjing dalam ukuran sedang, yang diberikan oleh mamanya.
"Ini apa Ma?" tanya Dika, yang masih merasa bingung, dengan apa yang diminta oleh mamanya itu.
"Itu semua adalah koleksi perhiasan Mama. Harganya bisa mencari miliyaran. Kamu harus jaga dengan baik. Jual dan gunakan seperlunya, untuk kebutuhan Kamu."
Mama Dika, memberikannya penjelasan tentang tas yang dia berikan pada Dika.
"Tapi Ma..."
"Cepat Dika. Kamu harus pergi sore ini juga. Mama sudah menghubungi Tante dan paman Kamu. Di jalan nanti, Kamu harus putuskan dengan cepat, mau ke mana dan hubungi tante atau paman Kamu."
Perkataan Dika, dipotong dengan cepat oleh mamanya. Kemudian mamanya itu, melanjutkan kalimatnya lagi. "Oh ya, gunakan motor saja, biar mudah dan cepat," ujar mamanya Dika, memberikan instruksi kepada anaknya itu.
Meskipun sebenarnya Dika masih dalam keadaan bingung, dan tidak paham dengan apa yang terjadi pada mama dan juga papanya, tapi dia mengikuti apa yang dikatakan oleh mamanya juga.
Dia juga menyambar kunci sepeda motor sport miliknya, yang sudah tidak lagi sama seperti waktu SMA dulu.
Modelnya, sudah berganti menjadi yang terbaru. Tak kalah dengan mobil mewahnya, yang harus dia tinggalkan di rumah.
"Jangan pernah hubungi Mama atau papa terlebih dahulu, sebelum mama atau papa yang menghungi Kamu. Ingat ya Dika!"
Dika mengangguk mengiyakan, permintaan dari mamanya itu. Meskipun sebenarnya, dia tidak tahu apa dan kenapa mamanya, memintanya agar segera pergi dari rumah dan tidak boleh kembali ke rumah ini.
Bahkan, dia juga dilarang untuk menghubungi mama dan papanya.
Dalam hati dan pikirannya Dika, berseliweran berbagai macam pertanyaan yang berhubungan dengan semua ini.
Tapi, dia tidak ada waktu untuk mengajukan pertanyaan lagi, pada mamanya.
Setelah memeluk mamanya yang sedang berlinang air mata, Dika segera pergi dari kamarnya.
Dia akan pergi, sesuai dengan permintaan dari mamanya. Tapi, dia masih bingung, harus pergi ke Bandung, atau Medan, untuk sementara waktu.
__ADS_1
Meskipun sementara waktu itu, Dika juga tidak tahu sampai kapan berakhirnya.
*****
Flashback ke permasalahan yang dihadapi oleh mama dan papanya Dika.
Siang hari, mama dan papanya Dika, sedang berencana untuk perjalanan bisnis mereka ke Manado.
Tapi, sebelum mereka pergi, ada telpon masuk dari teman mereka sewaktu masih kuliah dulu.
Telpon tersebut memberitahukan bahwa, kecurangan yang dilakukan oleh temannya itu sudah terbongkar. Dan bisa dipastikan jika, perusahaan mereka, PT ANTARA GROUPS, akan terkena dampak dari kasus temannya itu.
PT ANTARA GROUPS, yang sedang kesulitan keuangan, meminta bantuan pada PT SAMUDERA GROUP, tapi tidak melalui proses yang benar sesuai dengan perjanjian kerja sama antara dua perusahaan tersebut.
Tapi, pengeluaran keuangan melalui manager PT SAMUDERA GROUP, yang merupakan teman kuliah mereka, mama dan papanya Dika.
Jadi, bisa dikatakan bahwa, perbuatan mereka ini sebagai tindak korupsi dan pencucian uang.
PT SAMUDERA GROUP, telah melayangkan surat peringatan, untuk PT ANTARA GROUPS.
Sedangkan manager PT SAMUDERA GROUP sudah di tahan, tak lama setelah menelpon temannya. Mama dan papanya Dika.
Itulah sebabnya, dengan cepat, mama dan papanya Dika kembali ke kantor, untuk merapikan semua dokumen, yang dirasa perlu.
Mereka berdua tidak ingin terseret kasus tersebut, meskipun kemungkinan mereka lepas sangat tidak mungkin.
Setelah selesai merapikan kantor, mamanya Dika pulang ke rumah. Sedangkan suaminya, papanya Dika, tetap berada di kantor, untuk berjaga-jaga, jika ada sesuatu yang terjadi.
"Dika suruh pergi dulu dari rumah. Dia tidak boleh tahu, apa yang terjadi pada kita."
Begitulah kira-kira, permintaan papanya Dika, pada istrinya. Dan dengan cepat, mamanya Dika menyetujui dan segera pulang ke rumah.
Tapi sebelum dia menemui anaknya, Dika, dia pergi ke kamarnya sendiri, untuk membereskan barang-barang berharga miliknya.
Karena dia berpikir jika, rumah dan isinya, akan disita oleh PT SAMUDERA GROUP, untuk jaminan pengembalian dana yang sudah mereka ambil tanpa jalur yang benar..
Tapi, meskipun rumah dan isinya ini disita, itu tidak cukup untuk mengembalikan semua dana yang sudah dia terima.
Dengan demikian, PT ANTARA GROUPS, di ambang bangkrut. Dan jika sudah demikian, semua kerja sama dengan perusahaan lainnya, akan berdampak pada PT ANTARA GROUPS sendiri.
Terkena denda untuk kontrak kerja sama yang gagal dan pengembalian dana yang sudah terlanjut masuk ke PT ANTARA GROUPS juga.
__ADS_1
Itulah sebabnya, mama dan papanya Dika, tidak bisa berpikir lain, selain pasrah, seandainya mereka akan di tangkap oleh pihak yang berwajib.
Yang penting, anak mereka selamat dan tidak ikut terseret dengan tuduhan sebagai penerima kucuran dana, dari pencucian uang tersebut.