Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Bukan Keinginanku


__ADS_3

Ternyata, Miko tidak bisa membendung tangisannya. Dia terisak-isak sendiri, di teras belakang rumah Anjani.


"Miko," panggil Anggi, dengan wajah yang ikut bersedih.


Anggi merasakan kesedihan yang dirasakan oleh sepupunya itu, karena dia juga kadang-kadang merasa sendirian, karena Ara sibuk belajar dan tidak lagi bisa menemaninya bermain sepanjang hari.


"Hiks hiks hiks, apa? Kamu juga gak suka kan, Aku ada di sini?" tanya Miko, di antara isakan tangisnya.


Anggi mengeleng cepat.


"Iya, eh tidak! maksudnya Aku tidak suka saat Kamu nakal, tapi Aku juga kangen, kalau Kamu tidak datang ke rumahku, untuk bermain. Aku seneng kok, bermain dengan Kamu. Meskipun kadang-kadang Kamu nakal dan Aku jadi nangis juga. Huhuhu..."


Anggi justru ikut menangis, bersama dengan Miko, tanpa tahu penyebabnya. Dia hanya ikut merasakan kesedihan yang sama seperti Miko saat ini.


Miko jadi diam dan tidak lagi menangis. Dia memperhatikan Anggi yang ikut menangis, karena dirinya yang menangis tadi. Tapi lama kelamaan, Miko justru tertawa dan menunjuk ke arah wajahnya Anggi.


"Hihihi... hehehe... hahaha... itu muka Kamu kenapa lucu begitu Anggi? hahaha..."


Tentu saja, perkataan Miko kali ini, membuat Anggi jadi mengerutkan dahi. Dia merasa kebingungan, dengan sikap sepupunya yang bisa dengan cepat berubah.


Padahal, tadi terlihat sangat sedih dan tampak benar-benar menangis, karena mendengar perkataan dari kakaknya Ara. Tapi sekarang, melihat dirinya, Anggi, yang ikut menangis justru membuatnya tertawa-tawa senang.


"Ihhh, Miko!"


Anggi memukuli lengan Miko, yang memang ada di sampingnya.


"Aduh-aduh sakit Anggi," kata Miko sambil meringis, karena merasa kesakitan.


"Salah sendiri!" sahut Anggi cepat, dengan wajah di tekuk. Dia ganti yang ngambek.


"Udah ahhh, yuk main!" ajak Miko, sambil menunjuk pada ayunan di halaman belakang, yang saat ini ada di depan matanya.


Anggi, yang tadi masih masih dalam keadaan menangis dan kesal dengan ulah dan sikapnya Miko, masih belum mau beranjak dari tempat duduknya. Dia marah pada Miko.


"Ayok!"


Miko kembali mengajak Anggi, dengan menarik-narik tangannya Anggi.


Tapi Anggi yang sudah terlanjur kesal, dan juga merasa dipermainkan oleh Miko, tidak mau mengikuti ajakan Miko, untuk bermain ayunan.


Akhirnya, Miko bermain sendiri. Dan dengan tingkahnya yang aneh-aneh, dia mencoba untuk menarik perhatian Anggi, supaya mau mengikuti ajakannya tadi.


Dan ternyata usaha Miko berhasil. Tak lama kemudian, Anggi tampak tersenyum dan tertawa sendiri, melihat tingkah laku dari Miko.


Anggi pun tidak lagi menangis, dan beranjak dari tempat duduknya. Dia menuju ke arah ayunan, dimana Miko berada.


Mereka berdua pun akhirnya bermain bersama-sama lagi, dan melupakan semua kejadian yang membuat mereka bersedih hati.


"Anggi, Miko!"

__ADS_1


Dari arah dalam rumah, suara terdengar memanggil-manggil nama adiknya, Anggi dan juga Miko.


Tapi keduanya justru terus bermain dan tidak menghiraukan panggilan kakaknya, Ara.


Sampai beberapa kali Ara memangil nama mereka, tetap saja, mereka tidak ada yang menyahuti panggilan tersebut.


Mereka berdua, justru pura-pura tidak mendengar panggilan tersebut, dan asyik bermain ayunan.


"Anggi, Miko!" teriak Ara kesal, saat menemukan mereka berdua, yang ada di belakang rumah dan sedang tertawa-tawa senang, sambil berayun-ayun di ayunan, yang memang disediakan di halaman belakang oleh ayahnya, Abimanyu.


"Kalian berdua mendengar panggilan dari Kakak kan? kenapa tidak menjawab?" tanya Ara, yang merasa yakin jika kedua adiknya itu, mendengar panggilan darinya sedari tadi.


"Kapan? Kakak panggil-panggil kan waktu udah deket tadi, iya kan?" Ara membantah pertanyaan dari kakaknya, yang sudah terlihat jengkel, karena mereka berdua mengabaikan panggilan darinya.


"Huh! Kalian ini," ucap Ara tidak jelas.


"Ada apa Kak Ara?" tanya Miko, yang pura-pura tidak tahu, apa yang sebenarnya sudah dikatakan oleh Ara, pada bundanya, Anjani.


"Miko mau pulang sekarang, apa nanti aja?" tanya Ara, memastikan bahwa Miko memang benar-benar sudah mau pulang.


Miko tampak berpikir sebentar, kemudian mengalihkan pandangannya pada Anggi.


"Kamu masih ingin bermain dengan Miko tidak?" tanya Miko pada Anggi.


Ara jadi merasa aneh, karena dia yang bertanya, tapi justru sekarang, Miko ganti bertanya kepada adiknya, Anggi.


"Masih!" jawab Anggi tegas.


Ara jadi mengerutkan kening, mendengar jawaban dari adik sepupunya itu.


"Tumben, Anggi betah bermain dengan Miko?" tanya Ara, pada dirinya sendiri.


Tapi karena Miko tidak mau pulang sekarang, akhirnya Ara pergi lagi dari teras belakang. Dia kembali ke dalam rumah, dan langsung menuju ke arah bundanya, yang sedang melipat baju-baju yang sudah kering, dan baru saja dia angkat dari jemuran tadi.


"Bunda. Ara istirahat dulu deh. Miko masih mau bermain dengan Anggi. Dan itu, di Anggi, tumben-tumbenan gak nangis, diusilin si Miko," kata Ara, memberitahu bundanya.


"Ya biarin lah kaki. Bagus kalau mereka berdua bisa akur dan tidak saling nakal satu sama lain." Anjani memaklumi tingkah anak-anaknya, yang masih kecil-kecil. Termasuk Ara juga.


Akhirnya, Ara pergi dan melangkah menuju ke arah kamarnya sendiri. Dia ingin beristirahat, dan tidur siang terlebih dahulu.


*****


Dalam perjalanan ke kantor ayahnya, Awan naik motor sendiri dengan kecepatan normal. Dia tidak ngebut dan juga tidak pelan-pelan saja.


Dia masih banyak memikirkan apa yang sebenarnya diinginkan temannya, pada si gadis kecil, yang tadi ditemui di kelas tujuh. Dia berpikir bahwa, si gadis itu memang benar, karena menegur kesalahan temannya waktu itu.


Tapi sayangnya, teguran itu disampaikan oleh gadis tersebut, di depan umum, yaitu di depan kelas, dengan banyak siswa siswi baru, yang tentunya belum mengenalnya. Apalagi ada pak guru juga di kelas itu.


"Moga aja temen Gue tidka nekad. Aku takut terjadi sesuatu padanya, jika sampai rencana itu dilakukan oleh temanku itu. Bisa-bisa, gadis pemberani itu akan 'kalah' tanpa dia sadari bahwa semua memang sudah direncanakan sedari awal. Kasihan dia yang masih polos dan lugu, dengan perasaan dan cinta."

__ADS_1


Awan merasa tidak tenang dan juga tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan dan perasaan si gadis kecil itu, jika sampai benar-benar jatuh cinta pada temannya, DNA ternyata semua hanya sebuah permainan karena balas dendam saja.


"Ah, sudahlah. Aku juga tidak kenal ini sama dia. Salah sendiri, cari gara-gara."


Akhirnya, Awan berusaha membuang semua pikiran yang ada di dalam kepalanya. Dia tidak mau ikut campur, dalam urusan temannya itu.


Setelah mengendarai sepeda motornya untuk beberapa lama, Awan sampai juga di kantor ayahnya. Dia mencoba untuk menghubungi ayahnya, begitu sampai di area parkir kantor.


Tut


Tut


Tut


Tapi beberapa kali panggilan, ayahnya, Elang, tidak juga menjawab panggilan telpon darinya.


"Coba telpon Oma saja," gumam Awan, kemudian berusaha untuk memangil omanya, mama Amel, lewat panggilan telpon.


Tut


Tut


Tut


Ternyata sama saja. Omanya juga tidak menjawab panggilan telpon darinya.


"Ini pada kemana? kok gak ada yang angkat sih!" gerutu Awan sambil menyandarkan kepalanya di tiang parkiran.


Dia sudah memarkirkan sepeda motornya, kemudian berjalan dengan langkah pelan, karena berusaha untuk menelpon ayah atau omanya terlebih dahulu.


Tapi keduanya justru tidak bisa dihubungi semua.


Awan akhirnya melanjutkan langkahnya, menuju ke lobby kantor dan naik lewat lift, untuk bisa sampai ke atas, dimana ruangan ayah dan omanya berada.


Tapi sebelum Awan masuk ke dalam lift, omanya muncul, bersama dengan seorang laki-laki, yang diperkirakan oleh Awan, berusia tidak jauh beda dengan ayahnya sendiri. Tapi Awan merasa aneh dengan cara berjalan orang tersebut.


Orang itu, berjalan dengan agak pincang, padahal badannya terlihat normal dan tidak ada cacat secara fisik.


Awan juga melihat, jika orang tersebut terlihat seperti orang yang penting di kantor ayahnya ini.


"Awan, Kamu datang," sapa omanya, begitu sudah berada di dekat Awan.


Awan hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar sapaan omanya. Dia menyalami dan mencium tangan omanya, sama seperti yang dia lakukan jika baru saja datang.


"Oh ya, ini perkenalan. Om Abi."


Awan mengangguk dan menyalami Abimanyu, sambil menyebutkan namanya sendiri.


"Awan Om Abi."

__ADS_1


Abimanyu mengangguk sambil tersenyum juga, karena dia sudah tahu cucu Mama Amel. Awan.


__ADS_2