Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Pulang Ke Indonesia


__ADS_3

Di Atlanta, Amerika.


Keluarga Abimanyu sedang bersiap-siap untuk berangkat ke bandara. Mereka semua, menuggu supir yang akan datang bersama dengan Awan juga.


Karena mereka, akan segera pulang ke Indonesia, dengan Awan.


'"Adek. Ayo Dek!"


Ara berteriak mengingatkan adiknya, Anggi, yang masih ada di dalam kamar.


"Iya-iya Kak. Ihhh, gak sabaran banget sih," jawab Anggi, dengan mengerucutkan bibirnya, karena merasa kesal dengan perkataan kakaknya tadi.


"Kamu ini, dari tadi di dalam kamar terus. Ngapain?" Ara bertanya dengan curiga, dengan apa yang dilakukan oleh adiknya itu di dalam kamar.


"Ihsss, ngapain. Ya rapi-rapi dong Kak," sahut Anggi dengan wajah kesal.


"Tapi, kenapa lama sekali? Nyatanya, keluar dari dalam kamar tetap saja sama seperti Anggi yang biasanya."


Perkataan yang diucapkan oleh Ara, membuat Anggi merasa kesal. Dua merasa diledek oleh kakaknya itu.


"Memang Anggi harusnya berubah gitu? kayak putri katak, atau putri tidur?" tanya Anggi kesal, dengan memberikan beberapa contoh dari pertanyaan yang diberikan oleh Ara tadi.


"Hehehe... gak boleh berubah juga dong! Kan adiknya Kakak ini, yang paling unik di dunia," ujar Ara, sambil mengatupkan kedua tangannya pada pipi Anggi.


Perbuatan Ara ini, membuat Anggi semakin kesal saja.


"Kakak ihhh..."


Tapi Ara segera berlari menghindari tangan Anggi, yang sudah siap untuk mencubitnya tadi.


Akhirnya, mereka berdua justru main kejar-kejaran, dengan Ara yang dikejar oleh Anggi.


"Kakak... Adek!"


Anjani, menegur keduanya, yang masih saja ribut dan meributkan sesuatu yang tidak ada hasilnya.


"Sudah Bun, biarkan saja. Masa seperti ini, tidak akan terjadi lagi nanti, di saat Ara sudah berkeluarga."


Anjani terdiam sejenak, mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Di dalam hatinya, Anjani membenarkan semua yang sudah dikatakan oleh Abimanyu kepadanya.


Tapi karena Anjani tidak mau jika, apa yang dilakukan oleh kedua anaknya itu, pada saat bercanda dan bergurau, akan membuat mereka merasakan kehilangan yang dalam, pada saat yang satunya harus menjalani kehidupan barunya nanti.


Karena pada masa itu, mereka akan sangat merasa kehilangan, dengan moment-moment yang akan terasa sangat sulit, untuk diulang kembali.


"Tapi Yah, mereka berdua itu kayak anak kecil terus. Masa iya, udah pada gede gitu masih saja kejar-kejaran. Kayak Tom and Jerry aja," ujar Anjani, memberikan gambaran tentang tingkah kedua anaknya itu.


"Hahaha..m tapi Tom and Jerry itu sebenarnya saling sayang Bun. Mereka akan merasa kesepian, jika salah satu dari mereka tidak ada," sahut Abimanyu, dengan tertawa terbahak-bahak.


"Ihhh Ayah. Malah seneng banget liat anaknya kayak Tom and Jerry."

__ADS_1


Anjani merasa kesal, karena perkataan suaminya itu, yang seperti sedang membela kedua anaknya, yang masih saja tidak mau diam.


Tak lama kemudian, kedua tampak kelelahan dan akhirnya Ara tidak lagi mengejar Anggi.


Dia duduk di sofa, dengan nafas ngos-ngosan, karena kelelahan.


Sama seperti Ara, Anggi juga bernafas dengan cepat. Kini, dia ikut duduk di samping kakaknya.


"Capek juga olahraga hari ini. Gak sama seperti saat berlari keliling lapangan basket," ujar Anggi, dengan menyandarkan kepalanya di bahu Ara.


"Ihhh Adek. Berat nih," ujar Ara, dengan menepis kepalanya Anggi.


"Huh, Anggi kan pengen nyandar," kata Anggi, dengan mulut cemberut.


"Ihsss, tapi berat tau! Kamu kan bukan lagi anak kecil Dek," ujar Anggi, mengatakan apa yang saat ini dia rasakan.


"Berarti, Miko jauh lebih besar pastinya ya Kak?"


Tiba-tiba, Anggi teringat dengan Miko. Adik sepupunya, yang biasa usil bersama dengannya.


Kini, Anggi senyum-senyum sendiri, karena membayangkan bagaimana nanti, dia akan melihat perubahan pada sepupunya itu.


"Ahhh.... Anggi jadi kangen sama di gembul dan usil Miko..."


Anggi berkata dengan menangkupkan kedua tangannya, pada pipinya sendiri. Sedangkan siku tangan, dia letakkan pada lututnya.


"Dih, kangen apa kangen?" goda Ara, dengan mencubit pipi adiknya itu.


Ara mendelik lucu, saat Anggi selesai berkata memperingatkan dirinya.


"Dek. Kamu itu ya, gede karbitan."


Anggi jadi cemberut, karena dikatai dengan kata karbitan, oleh kakaknya itu.


Ting tong ting tong!


"Ahhh... itu pasti kak Awan!"


Anggita segera bangkit dari tempat duduknya, mendahului kakaknya, Ara dan juga bundanya, Anjani.


Dengan cepat, Anggi membuka pintu. Dan benar saja, yang datang adalah Awan.


"Kak Awan," teriak Anggi, dengan menarik tangan Awan, untuk segera masuk ke dalam.


"Sudah siap kan? Kuta berangkat sekarang saja!" ajak Awan, pada Anggi, sebelum dia sampai di ruang tengah, yang sekaligus ruang tamu.


"Iya, udah pada siap kok," sahut Anggi dengan mengangguk. Tapi, dia tidak menoleh ke arah Awan.


"Kak, Bunda, Ayah. Kita sudah siap kan ya? Ayok!"


Sekarang, justru Anggi bertanya, dan langsung memberikan komando, pada semua, agar bersiap untuk berangkat menuju ke bandara.

__ADS_1


"Iya-iya Dek." Ara mengelengkan kepalanya, dengan melihat ke arah Awan.


Sekarang, Anggi sudah tidak lagi memegang tangan Awan, sehingga Awan bisa menyalami kedua calon mertuanya itu.


Tak lama kemudian, mereka semua tampak keluar dari dalam apartemen. Dengan mengunakan mobil yang tadi mengantar Awan, mereka semua berangkat menuju ke Bandara, untuk pulang ke Indonesia.


Di dalam perjalanan, Anggi tak bosan-bosannya berbicara tentang Miko.


"Nanti Miko akan Anggi kasi tau, jika dia ke Amerika, gak akan nemu makanan kesukaannya dengan mudah."


"Apa?" tanya Ara cepat, sebelum Anggi melanjutkan lagi bicaranya.


"Cilok, dasar gulung, cilor, pentol goreng dan kawan-kawannya Kak." Anggi mengabsen semua makanan, yang sering ada di area depan sekolah, dulu sewaktu masih TK, bersama dengan Miko.


"Ini membicarakan tentang Miko, atau Kamu sendiri yang kangen makan makanan itu?" tanya Ara, menebak.


"Hehehe..."


Sekarang, Ara yang mencibir perkataan adiknya itu. Sedangkan Anjani dan Abimanyu, hanya tersenyum mendengar pembicaraan kedua anaknya itu.


Awan, ada duduk di depan bersama dengan supir, sehingga dia tidak begitu mendengar pembicaraan antara Ara dan adiknya, Anggi.


*****


Di rumah ayah Edi.


Semua orang sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, untuk menyambut kedatangan Abimanyu, bersama dengan keluarganya.


Karena memang selama berada di Amerika, mereka juga jarang pulang ke Indonesia.


Meskipun pulang, kadang-kadang hanya sendiri, karena anak-anak Abimanyu, masih harus sekolah. Dan Anjani, harus memastikan bahwa, anak-anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Itulah sebabnya, jika Abimanyu ada kesempatan untuk pulang ke Indonesia, karena ada pekerjaan, Anjani dan kedua anaknya tidak bisa ikut.


"Nda, itu buah mangga tolong di kupas ya!" kata Sekar, pada keponakannya itu.


Semua anak dan cucunya ayah Edi, ada di rumahnya. Suasana rumah jadi lebih ramai, dibandingkan dengan biasanya.


Ibu Sofie juga mondar-mandir ke dapur dan ruang tengah. Memastikan bahwa, semuanya sudah tersedia dan sesuai dengan yang dia inginkan.


"Yah, Yasmin dan Aksan kapan sampai?" tanya ibu Sofie, karena Yasmin dan Aksan memang masih ada di dalam perjalanan. Dia merasa khawatir, karena mereka terlambat dari jadwal yang sudah direncanakan.


"Paling sebentar lagi Bu. Sabar."


Ayah Edi, meminta pada istrinya itu, supaya jangan mencemaskan segala sesuatunya dengan berlebihan.


"Mama bilang, mereka sudah sampai di Bekasi tadi," kata Nanda, memberitahu pada kedua eyangnya itu.


"Oh, syukurlah kalau begitu," ucap ibu Sofie, dengan cepat.


Ayah Edi hanya menganggukkan kepalanya paham, dengan apa yang dikatakan oleh Nanda barusan.

__ADS_1


__ADS_2