Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ada Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan


__ADS_3

Pagi hari, saat Ara sudah pergi bersama dengan Nanda.


Motor Nanda berhenti di pom bensin, untuk mengisi bahan bakar. Dan ini digunakan oleh Ara, untuk bertanya-tanya tentang kemarin sore. Saat mereka berdua bertemu dengan seseorang, yang ditemui oleh kakak sepupunya itu.


Kemarin, Ara tidak sempat untuk bertanya kepada Nanda karena, selain sudah hampir malam, sepertinya Nanda juga enggan untuk bercerita tentang orang tersebut.


"Kak," panggil Ara, saat sedang mengantri.


"Hemmm."


Ara tidak jadi meneruskan niatnya, untuk bertanya pada Nanda. Dia pikir, kakak sepupunya itu masih belum bisa di ajak bicara.


Apalagi, Nanda juga tidak bertanya, saat Ara tidak jadi bersuara.


Setelah selesai mengisi bahan bakar motor, Nanda kembali menghidupkan mesin, kemudian meminta pada Ara, agar segera naik lagi ke atas boncengan.


"Ayo naik!"


Dan Ara hanya patuh, tanpa mengatakan apa-apa. Dia tidak ingin membuat kakaknya itu bertambah buruk moodnya.


Beberapa saat kemudian, saat mereka berdua sampai di tempat parkir motor warung Pak Lek, Nanda memarkir motornya pada tempat yang biasanya.


Sekarang, mereka berdua siap untuk berjalan menuju ke arah sekolah.


"Tadi mau ngomong apa?" tanya Nanda tiba-tiba.


Ara tersenyum tipis, mendengar pertanyaan dari kakak sepupunya itu. Tapi dia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia belum berani, untuk bertanya hal yang sedikit sensitif menurut Ara sendiri, soal orang yang ditemui Nanda kemarin sore.


"Ra."


"Eh, ya Kak," jawab Ara gugup.


"Kamu tadi mau ngomong apa?" tanya Nanda sekali lagi, sambil tetap berjalan menuju ke sekolah.


"Emhhh... gak jadi Kak." Ara masih ragu untuk bertanya, sehingga dia menjawab jika tidak jadi.


Tapi Nanda justru berhenti, karena dia tahu, jika Ara sedang ingin membicarakan sesuatu padanya.


"Ngomong aja sih! Atau Kakak akan marah."


Nanda justru mengancam Ara, karena Ara tidak mau bicara, soal apa yang tadi ingin dibicarakan.


"Eh, itu Kak. Emhhh... Ara mau tanya, yang... yang kemarin ketemu itu, siapa?"


Akhirnya Ara bisa bertanya juga, tentang siapa orang yang kemarin mereka temui, sepulang sekolah.


"Papa."


Hanya satu kata, jawaban yang diberikan oleh Nanda. Dan itu sudah membuat Ara terkejut.


Ara tidak pernah mengenal wajah Wawan secara jelas. Karena pada saat Wawan masih menjadi suaminya Yasmin, Ara masih terlalu kecil, untuk merekam wajah seseorang pada memory otaknya.


Karena Nanda tidak lagi mengatakan apa-apa, Ara juga tidak lagi bertanya. Dia tidak mau menyingung soal papanya Nanda, yang sedikit banyak dia tahu, bagaimana ceritanya saat itu.


"Ara masuk duku ya Kak," pamit Ara, saat mereka berdua sudah sampai di depan kelas Ara.


Nanda hanya mengangguk saja, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah kelasnya sendiri, yang ada di bangunan sekolah SMA.


Tak lama kemudian, Awan dan Dika lewat. Ada beberapa cewek yang ikut berjalan di belakang mereka berdua.


"Kak Awan. Kak Dika."

__ADS_1


"Kakak ganteng."


"Kakak, calon pacarku."


Ada saja celoteh cewek-cewek tersebut, untuk mencari perhatian dari Awan ataupun Dika.


"Wan, Loe tuh!"


Awan diam dan tidak menyahut. Sedangkan Dika, menoleh ke arah belakang, karena ingin tahu, siapa cewek-cewek yang berisik di belakangnya.


"Heh! Kurang kerjaan ya?" tegur Dika pada cewek-cewek itu.


"Iya Kak. Makanya kita ikutin Kakak. Hehehe..."


"Love Kakak."


"Saranghae."


"Aishiteru."


"Seni Seviyorum."


"Aku tresno karo kuwe Kak. Hahaha..."


Dika menolehkan kepalanya lagi ke belakang. Matanya mendelik tajam, ke arah cewek-cewek tersebut.


Tapi mereka semua justru tertawa-tawa senang, karena berhasil membuat Dika menoleh ke arah mereka.


Meskipun sebenarnya, yang lebih mereka harapkan bisa menoleh adalah Awan.


( Tapi tak apa, karena Dika juga ganteng. Hehehe...)


"Bener-bener tuh mereka semua. Gak ada kerjaan!" gerutu Dika, yang berharap agar Awan memberikan komentarnya.


Padahal, suara cewek-cewek tersebut, sangat jelas terdengar juga di telinganya Awan. Tapi dia justru tetap diam, dan berpikir sendiri, tentang apa yang ada di benaknya saat ini.


Semalam, omanya Awan, mama Amel, mengajaknya bicara soal kuliah Awan.


Tahun depan, Awan lulus sekolah. Dan dia di minta omanya itu, untuk melanjutkan studinya ke Malaysia, atau ke Amerika sekalian.


Awan yang belum sempat berpikir sejauh itu, hanya bisa diam dan belum memberikan jawaban atas permintaan omanya.


Itulah sebabnya, saat ini dia sedang malas untuk bicara. Apalagi, dia memang tidak banyak bicara, sama seperti temannya itu. Si Dika.


"Wan. Loe napa sih?"


Dika bertanya tentang sikap Awan, yang menurutnya sedikit berbeda dari biasanya.


"Napa?" tanya Awan balik.


"Aneh."


Dika tidak menjawab, dan hanya mengatakan satu kata saja.


Tapi saat Dika ingin meneruskan kata-katanya, bel sekolah berbunyi, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk bertanya lagi pada Awan.


Dika pergi ke tempat duduknya sendiri, dan bersiap untuk mengikuti pelajaran. Sama seperti murid-murid yang lainnya juga. Termasuk Awan.


*****


Di rumah, Anjani sedang kedatangan Sekar.

__ADS_1


Adik iparnya itu, sedang bosan. Dia sedang hamil tua, dan tidak ada yang dia kerjakan di rumah. Itulah sebabnya, dia datang ke rumah kakaknya, agar ada teman untuk berbincang-bincang.


"Katanya ayah, Yasmin akan pindah ke rumah Aksan di kampung, setelah anaknya berumur dua bulan Mbak."


Anjani mengerutkan keningnya, mendengar perkataan dari adik iparnya itu.


"Mereka jadi pindah ke kampung?" tanya Anjani, memastikan rencana adiknya, Yasmin.


"Iya. Pembangunan mini market mereka di kampung, hampir selesai. Makanya Aksan sekalian nunggu beres Mbak."


Aksan berencana menetap di kampung halamannya, dengan membuat usaha sendiri. Sama seperti usahanya saat di Taiwan sana.


Yaitu membuka mini market, yang menjual berbagai jenis kebutuhan sehari-hari.


Aksan dan Yasmin, berencana untuk tidak kembali merantau ke Taiwan. Mereka berdua, akan berusaha untuk mengembangkan usaha mereka di kampung.


"Nanti Nanda bagaimana Dek. Maksudnya, ikut mama papanya itu ke kampung, apa tetap di sini. Sekolah di sini."


Anjani mengkhawatirkan soal Nanda, yang baru saja masuk sekolah di Indonesia. Dia merasa kasihan, jika Nanda harus pergi lagi, dan menyesuaikan diri di kampung halaman papanya, Aksan.


Tapi Sekar mengatakan bahwa, Nanda di minta ayah Edi, eyangnya Nanda, supaya tetap berada di Jakarta, dan melanjutkan sekolah di sini.


Ayah Edi juga berpikir hal yang sama, seperti yang dipikirkan oleh Anjani.


"Syukurlah kalau begitu."


"Oh ya, kamu kan lahirannya sebentar lagi Dek. Itu posisi bayi Kamu udah bagus belum?"


Anjani bertanya lagi, tapi berganti tentang keadaan adiknya yang sedang hamil tua itu.


"Udah Mbak. Aku juga masih aktif ikut senam hamil kok," jawab Sekar, yang juga berharap agar kehamilannya saat ini, selalu sehat dan bisa melahirkan dengan normal. Sama seperti yang dulu, saat dia melahirkan Miko. Anak pertamanya.


*****


Abimanyu, yang baru saja kerja hari ini, sedikit payah untuk pekerjaan-pekerjaan yang kemarin-kemarin, hanya dia kerjakan saay di rumah.


Sekarang, dia harus menyalin file-file tersebut, dan membuat arsipnya juga.


Saat sendang sibuk dengan semua pekerjaannya itu, mama Amel masuk ke dalam ruangannya.


Tok tok tok!


"Masuk!"


Abimanyu menjawab ketukan pintu ruangannya, agar orang yang berada di luar dan mengetuk pintunya membuka sendiri.


Clek!


Pintu ruang kerja Abimanyu terbuka, dan mama Amel masuk.


"Masih sibuk?"


Abimanyu mendongak, dan tersenyum saat melihat kedatangan Bos-nya itu.


"Maaf Ma. Saya tidak tahu, jika yang datang Mama Amel tadi."


"Hehehe... Kamu ini kebiasaan. Jika sibuk, tidak akan memperhatikan kondisi sekitar."


Mama Amel yang sudah mengenal Abimanyu cukup lama, tentunya hafal, dengan karakter anak buahnya itu.


Akhirnya, Abimanyu menghentikan pekerjaannya, karena ada mama Amel yang datang khusus ke ruangannya.

__ADS_1


Itu artinya, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Bos Besarnya, untuk dia perhatikan.


"Ada yang ingin Mama sampaikan. Tapi, tolong hal ini jangan sampai Kamu bicarakan dengan orang lain. Termasuk dengan Elang ataupun papa Ryan."


__ADS_2