
Miko menangis sambil meminta maaf pada Anjani. Dia merasa bersalah, karena sebenarnya tadi, dia ingin menuangkan jus mangga miliknya, ke baju Anggi.
Tapi ternyata, kaki kirinya, tersandung dengan kaki kanannya sendiri, sehingga jus mangga itu tumpah didepannya sendiri
Itulah sebabnya, Miko akhirnya terpeleset sendiri, karena tidak bisa menghindari tumpahan jus mangga miliknya yang ada di depannya saat itu.
"Maafin Miko ya Tante. Miko yang salah. Hiks hiks hiks!" kata Miko, disela-sela tangisannya.
"Iya. Lain kali, jangan punya niat jahat ya. Karena bisa jadi, niat jahat Kamu itu, justru mengenai diri Kamu sendiri." Anjani menasihati keponakannya itu. Dia juga tidak mau, jika Miko terus menerus usil jika sedang bermain bersama dengan teman-teman dan juga saudaranya yang lain.
"Iya Tante. Miko gak akan nakal lagi deh!" ucap Miko, masih dengan terisak-isak.
"Iya-iya, sudah-sudah. Jangan nangis lagi. Gak malu tuh sama Anggi. Dia kan masih lebih kecil dari pada Miko. Dia yang tadi mau Miko usilin kan?" tanya Anjani, sambil memakaikan baju kering untuk Miko. Dia membawa baju ganti, tiap pergi main ke rumah Anjani.
Miko mengangguk mengiyakan pertanyaan dari tantenya, Anjani. Dia merasa sangat malu, tapi tetap saja, yang namanya anak-anak, sebentar lagi juga akan lupa, dengan apa yang mereka lakukan tadi.
Karena setelah diam dan kembali bermain dengan Anggi, kelakuan usil Miko kembali lagi. Sekarang, dia menarik-narik rambut Anggi, yang saat ini sedang dalam keadaan di kuncir kuda. Meskipun rambut Anggi sedikit, tapi tetap saja ada yang bisa dibuat mainan oleh Miko.
"Huwa... Bunda!"
Anggi kembali menangis karena merasa kesakitan pada kepalanya. Ini karena Miko menarik-narik rambut Anggi.
Anjani yang sedang berada di dapur, berlari kembali menuju ke arah ruang tengah.
"Ada apa Sayang?" tanya Anjani, begitu sampai di tempat anaknya, Anggi, yang saat ini masih dalam keadaan menangis.
"Itu kak Miko nakal!"
Anggi mengadu tentang kenakalan sepupunya, Miko.
"Nakal bagaimana?" tanya Anjani lagi, yang saat ini tidak melihat keberadaan Miko di dekat Anggi.
"Rambut Anggi di tarik-tarik di tadi, huhuhu..."
Anggi masih menangis dan menceritakan tentang kenakalan Miko padanya.
__ADS_1
"Oh, mungkin dia pengen punya rambut panjang kayak punya Anggi. Kan Miko rambutnya pendek Sayang," ujar Anjani, dengan tersenyum tipis. Dia tahu jika saat ini anaknya itu, masih dalam keadaan kesal dengan sepupunya sendiri. Miko.
"Tapi dia kan tidak boleh narik gitu. Kan sakit Bunda. Dia tidak tau apa, kalau itu akan terasa sakit?" Anggi mengerutu kesal, dan berpikir jika sepupunya tidak tahu, jika dia merasa kesakitan.
"Terus mana Miko nya?" tanya Anjani, karena tidak melihat keberadaan Miko di ruang tengah.
"Lari tadi Bun," jawab Anggi cepat.
Anjani memicing karena curiga jika Miko akan lari ke kamarnya Ara.
Dan ternyata benar. Tak lama setelah itu, Ara berteriak keras, memangil bundanya, Anjani.
"Bunda. Bunda, ini lho Miko!"
Anjani menghela nafas panjang, mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, serta menambah stok sabarnya.
Sekarang, dia melangkah menuju ke arah kamar Ara. Dia ingin melihat, apa yang dilakukan Miko, sehingga Ara terdengar marah tadi, saat berteriak-teriak, memangil dirinya.
Anjani langsung masuk ke dalam kamar Ara, karena pintunya tidak tertutup.
"Lihat Bunda! ini ulahnya Miko."
Miko, yang sedang duduk di tepi ranjang, hanya bisa diam dan pura-pura melihat-lihat buku yang sedang dia pegang.
Anjani mendekat ke tempat Miko duduk. Dia ikut duduk dan merangkul keponakannya itu.
"Miko, tadi ingat gak saat terpeleset?" tanya Anjani, mengingatkan Miko pada saat tadi dirinya terpeleset jus mangga miliknya sendiri.
Miko menunduk. Dia terdiam, karena ingat, jika ragi sudah berjanji untuk tidak nakal lagi.
Sekarang, dia berdiri dari tempat duduknya, Dia berjalan ke arah kakaknya, Ara. "Maaf Kak. Miko nakal ya," ucap Miko, meminta maaf pada Ara, yang saat ini masih merapikan beberapa kertasnya yang tadi.
Miko juga mengulurkan tangannya, untuk meminta maaf pada Ara, dengan bersalaman.
Ara, yang tentu saja tidak benar-benar marah, menerima permintaan maaf adik sepupunya itu. "Lain kali, jangan nakal. Kakak gak mau ajak main Kamu, kalau nakal terus," kara Ara memberikan persyaratan untuk Miko.
__ADS_1
Miko diam saja. Tapi tak lama kemudian, dia tampak tersenyum dan mengangguk mengiyakan perkataan kakak sepupunya, Ara.
Keduanya bersalaman, dan saling memaafkan. Hal yang disukai oleh Anjani, yaitu anak-anak yang bisa cepat melupakan kesalahan satu sama lain, dan tidak sama seperti orang-orang tua dan dewasa, yang sulit untuk memaafkan dan bahkan, mengingat-ingat terus, kesalahan yang dilakukan oleh orang lain kepadanya.
*****
Di rumah Mama Amel. Awan sedang membantu omanya, untuk mempersiapkan segala sesuatunya, yang akan di bawa oleh omanya itu, untuk pergi ke Meksiko menyusul ayahnya, Elang.
Elang, ada di Meksiko bersama dengan papanya. Papa Ryan. Mereka berdua, sedang mengurus bisnisnya, yang baru saja berkembang di negara Meksiko sana.
Bahkan, berita terbaru yang dikatakan oleh papa Ryan adalah, jika anaknya, Elang, sedang menjalin hubungan dengan salah satu rekan bisnisnya yang ada di sana.
Hal ini tentu saja membuat mama Amel senang. Dia sudah meminta anaknya itu, untuk segera menikah lagi. Tapi ternyata Elang belum menemukan wanita yang tepat, untuk mengantikan posisi Adhisti, sebagai istrinya. Padahal, Adhisti sudah lama pergi.
"Awan. Kami beneran tidak ikut ke Meksiko Sayang?" tanya mama Amel, pada cucu satu-satunya itu.
"Tidak Oma. Awan sebentar lagi ada tes akhir tahun pelajaran. Jadi, tidka mungkin ditinggal pergi, atau ijin dalam waktu lama. Awan juga tidak mau pergi ke mana-mana kok. Malas Oma!"
Mama Amel mengeleng, mendengar jawaban dari cucunya itu. Dia merasa jika Awan, tidak perlu belajar terlalu serius. Dia hanya perlu belajar bisnis, karena akan meneruskan usahanya, untuk mengelola perusahaannya kelak.
Tapi, sepertinya Awan punya keinginan sendiri. Dia tidak begitu tertarik dengan bidang usaha atau menjadi pengusaha. Entah apa yang dia inginkan untuk masa depannya nanti.
"Kamu juga tidak mau bertemu dengan calon mama Kamu?" tanya mama Amel lagi.
Sebenarnya, mama Amel hanya ingin tahu, bagaimana reaksi dari cucunya itu, jika mendengar tentang ayahnya, yang sudah memiliki calon istri.
Tapi dugaan mama Amel salah. Awan hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa. Itu artinya, Awan tidak melarang apapun, yang dilakukan oleh ayahnya, Elang, termasuk untuk mencari pendamping hidup, sebagai ganti ibu kandungnya, Adhisti Andriyani.
Akhirnya, mama Amel tidak lagi bertanya kepada Awan. Dia melakukan apa-apa yang dibutuhkan dan harus dia bawa nanti.
Awan juga sama. Dua tidak bertanya apa-apa, karena merasa jika ayahnya sudah terlalu dewasa, jika hanya untuk mendapat beberapa nasehat dan saran dari dirinya.
Awan hanya ingin, supaya ayahnya, Elang, bisa berbahagia. Apalagi, selama ini, ayahnya itu tampak tertutup untuk membicarakan soal wanita, dan calon istri untuknya sendiri.
Awan ingin ayahnya bisa mempunyai kehidupan yang baru, dengan pasangan hidup yang baru juga, meskipun itu harus dengan orang luar dan bukan dari Indonesia. Awan sudah cukup berbahagia untuk keputusan yang diambil oleh ayahnya.
__ADS_1