Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kena Lemparan Bola Basket


__ADS_3

"Wan, Loe ngapain tadi pagi?"


Dika, datang ke tempat duduknya Awan, dan langsung bertanya juga. Padahal, Awan juga tidak tahu, apa yang dimaksud oleh Dika, dengan pertanyaan yang dia ajukan tadi.


"Aku, ngapain?"


"Itu, cewek-cewek di luar sana. Sedari tadi ngomongin Loe sama ketua OSIS."


"Sepupunya Diyah kan? maksudku sepupunya Ara," tanya Dika lagi, memperjelas maksud dari pertanyaan yang tadi.


Awan mengeryit heran, tapi juga merasa bingung, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Dika padanya.


Setelah diam sejenak, Awan hanya bisa mengangkat kedua bahunya, tanda jika dia tidak peduli dan juga tidak terpengaruh, oleh semua omongan cewek-cewek di luaran sana.


Dika sedikit merasa kesal, karena diamnya Awan. Padahal itu adalah hal yang biasa dilakukan oleh Awan. Diamnya itu, terkesan tidak peduli dengan sekitarnya.


"Wan. Loe bawa mobil tadi pagi? Mobil milik salah satu donatur terbesar di yayasan sekolah ini, apa benar itu?" tanya Dika lagi, yang sangat ingin tahu, apa yang dikatakan oleh cewek-cewek di luaran tadi benar adanya.


"Itu hanya kebetulan. Aku nebeng aja kok. Bukannya tadi pagi hujan? jadi, dari pada Aku kehujanan, ya udah, bareng ama supir tetangga, yang kebetulan kerjanya sama pemilik mobil itu."


Awan mencoba menjelaskan pada Dika, dengan penjelasan yang dapat membuat Dika tidak merasa kecil.


"Terus, kenapa bisa barengan sama Nanda dan Ara juga?"


Sepertinya, Dika benar-benar mengintrogasi Awan. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini, dengan semua yang sudah dia dengar tadi di luar sana.


"Ya... cuma kebetulan juga."


Akhirnya Awan menjawab seadanya, karena malas untuk menjelaskan panjang lebar tentang kejadian tadi pagi, yang menurut Awan tidak perlu diperpanjang dan di bahas secara terus menerus.


"Aku ke toilet dulu."


Karena Dika tidak berbicara lagi, setelah jawaban yang terakhir diucapkan oleh Awan, akhirnya Awan pamit untuk pergi ke kamar kecil.


Meskipun sebenarnya Awan tidak ingin ke kamar kecil, tapi dia tidak mau jika Dika kembali bertanya-tanya, dan curiga, jika dia ada usaha untuk merebut perhatian khusus dari Ara.


"Ah, dasar Awan. Harusnya dia tuh Awan gelap. Jadi pasti akan turun hujan. Tapi, jadi tambah dingin gitu."


Dika mengerutu sendiri, setelah Awan meninggalkan tempat duduknya.


Akhirnya, Dika pergi ke luar dari dalam kelas, untuk pergi ke kantin tanpa pamit ataupun mengajak Awan. Sama seperti biasanya.


*****


Di kelas tujuh, kelasnya Ara.


"Ciehhh... ciehhh... yang tadi bareng kak Awan naik mobil."


Temannya Ara, sedang meledek Ara, karena tadi dia sempat melihat Ara turun dari dalam mobil, saat pintunya di buka oleh Nanda.


"Eh, bukan Aku aja itu! ada kak Nanda juga kan?" Ara mengelak dari ledekan temannya itu.


"Tapi kan tetep aja, yang jadi supirnya itu pangeran bermotor. Hahaha..."

__ADS_1


Temannya Ara, justru semakin gencar meledeknya. Apalagi sekarang, dia justru memberikan julukan baru pada Awan, sebagai pangeran bermotor, dan bukan pangeran berkuda, sama seperti dalam cerita-cerita dongeng seorang putri.


Ini karena, dulu Ara pernah bercerita tentang Awan, yang menolong dirinya, saat berangkat ke sekolah, dan ban motor Pak ojek kempes.


Ara, yang waktu itu belum tahu jika penolongnya itu adalah Awan, mengibaratkan sosok pengendara motor tersebut sebagai seorang pangeran. Dan baru beberapa bulan kemudian, Ara baru tahu, jika penolongnya itu adalah Awan sendiri.


Itulah sebabnya, temannya tadi, meledeknya seperti itu.


"Ra, di cariin ni!"


Salah satu temannya Ara, memanggilnya dari arah pintu. Karena ada seseorang, yang mencari keberadaan dirinya, di luar kelas.


"Tuh, dicariin pangeran bermotor. Hahaha..."


Temannya Ara, kembali meledek Ara dengan olok-olok pangeran bermotor lagi.


"Hush! diem!"


Ara meminta pada temannya itu, supaya diam dan tidak menyebutkan julukan olok-olok, untuk pangeran bermotornya lagi. Meskipun dia sendiri tidak tahu, siapa yang datang dan mencari dirinya sampai ke kelas.


"Ayok!" ajak Ara, dengan menarik tangan temannya itu, keluar dari dalam kelas. Melihat siapa yang datang.


"Eh, yang dicariin Kamu Ra, bukan Aku!"


Temannya Ara, menolak ajakannya Ara, karena merasa jika dia tidak ada keperluan apa-apa, dengan orang yang sedang mencari Ara.


"Temenin aja," sahut Ara cepat, dan tidak mau tahu, dengan semua alasan yang dibuat oleh temannya itu.


Jadi bisa dipastikan bahwa, dia bukan Awan, kakaknya Ara sendiri, yaitu Nanda, atupun Dika.


"Siapa?" tanya Ara, yang tidak melihat orang lain, yang berdiri menunggu di luar kelas, selain cowok tersebut.


"Hai! Kamu yang bernama Ara ya? Maksudku, Diyah Manuhara."


Ara mengangguk mengiyakan pertanyaan dari cowok tersebut.


"Perkenalkan, namaku Seno. Ketua OSIS di tingkat SMP ini," kata cowok tersebut, memperkenalkan dirinya sendiri sebagai ketua OSIS, di tingkat SMP.


Itu artinya, dia adalah kakak kelasnya Ara, yang duduk di kelas delapan atau kelas dua SMP.


"Oh," ucap Ara, yang tidak pernah menyangka, kalau ketua OSIS SMP, akan mencarinya hingga ke kelas.


"Ra, pengemar baru," ucap temannya Ara, berbisik di telinganya Ara.


"Ihsss, apaan sih!" sahut Ara cepat, sambil berbisik juga.


"Oh ya Dek Ara, kenapa Kamu tidak mau ikut bergabung dengan organisasi OSIS, sewaktu direkrut oleh beberapa teman?"


"Ara aja Kak," ucap Ara, meminta pada kakak kelasnya itu, supaya tidak memanggil namanya dengan tidak menguntungkan embel-embel sebutan Dek.


Akhirnya mereka bertiga, bersama dengan temannya Ara tadi, berbincang-bincang di depan kelasnya Ara. Membicarakan tentang tawaran untuk Ara, yang akan ditunjuk sebagai wakil sekolah dalam pertandingan bela diri di tingkat SMP se_JABODETABEK.


Dari kejauhan, Dika yang baru saja akan pergi ke kantin, memicingkan matanya, menatap ke arah kelasnya Ara.

__ADS_1


Dika melihat keberadaan Ara, yang sedang berbincang-bincang dengan seorang cowok, dengan seragam SMP.


"Siapa cowok kecil itu?" gumam dan Dika, yang merasa kesal, karena mendapatkan saingan baru.


'Nambah lagi saingan? sial!'


Dika mengumpat dalam hati. Dengan demikian, dia akan bertekad untuk menembak Ara secepatnya. Sebelum yang lain bergerak dengan cepat.


"Awas!"


Bugh!


"Aduh!"


Bola basket terlempar ke arah Dika, yang sedang berjalan ke arah kantin.


Dika tidak terlalu memperhatikan kondisi sekeliling, karena fokus pada semua rencana yang akan dia lakukan pada Ara, besok.


Tapi kini, Dika kesakitan pada bagian kepadanya, akibat terkena lemparan bola basket yang sedang digunakan untuk latihan anak-anak SMP.


"Maaf Kak. Maaf!"


"Sakit ya Kak?"


Dua orang cowok, pemain basket tadi, mendekat ke tempatnya Dika berdiri, dengan tangan yang memegang kepalanya.


Mereka juga bertanya tentang keadaan Dika, dan salah satu dari mereka berdua meminta maaf karena, semuanya itu terjadi dengan ketidaksengajaan juga.


"Tentu saja sakit bego!"


Dika mengumpat dengan kesal, karena kepalanya jadi berdenyut-denyut, terasa pusing.


"Maaf Kak, maaf!"


Dika mendongakkan kepalanya, melihat ke arah adik kelasnya, yang tingkat SMP itu.


Ternyata, inseden ini diketahui oleh orang banyak. Jadi mereka banyak yang berkerumun, untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dika menjadi malu sendiri, karena sudah mengeluarkan perkataan yang kasar, dengan umpatan yang mengatai bego, pada mereka yang memang sedang berlatih.


"Lain kali hati-hati. Dan jika sedang berlatih, harus ada yang membimbing, sehingga terpantau juga jika ada kesalahan."


Dika memberi nasehat, layaknya seorang profesional saja.


"Oh ya, Kakak kan salah satu dari tim basket di tingkat SMA. Bagaimana kalau Kakak jadi pembimbing Kami?"


Tentu saja, perkataan yang diucapkan oleh salah satu dari dua cowok itu, membuat Dika terkejut.


Bagaimana mungkin, dia menjadi pembimbing tim basket tingkat SMP, jika dia sendiri hanya sebagai pemain basket cadangan saja.


"Emhhh... Nanti saja Kakak pikir-pikir dulu. Sekarang lagi lapar jadi gak konsen. Apalagi ini jadi pusing juga."


Dika berlalu, setelah memberikan jawaban. Karena dia tidak mungkin bisa menjelaskan pada adik kelasnya itu, jika dia sendiri tidak begitu bagus dalam permainan basketnya.

__ADS_1


__ADS_2