
Hari demi hari berlalu dan semua berjalan, dengan tidak mungkin untuk bisa menghentikan perubahan-perubahan yang ada, dalam perjalanan waktu.
Dan waktu untuk menempuh ujian datang juga. Siap atau tidak, semua siswa-siswi yang akan melakukan ujian harus mengerjakan soal tersebut, untuk kelulusannya nanti.
Begitu juga dengan Awan dan Dika, bersama dengan semua teman-teman mereka.
Sedangkan untuk adik-adik kelasnya, tentu saja diliburkan, supaya tidak menganggu aktivitas ujian.
Kesempatan ini digunakan oleh keluarga Abimanyu, untuk berkunjung ke rumah mereka yang ada di Bogor.
Selain karena memang mereka sekeluarga sudah lama tidak datang ke rumah tersebut, Abimanyu juga akan pergi ke Amerika selama sepekan, untuk melihat situasi perusahaan yang akan dia pegang nantinya.
Abimanyu akan ke Amerika bersama dengan papa Ryan, yang memang lebih sering ke sana, dibanding dengan mama Amel ataupun Elang Samudra.
"Jadi Ayah cuma bisa antar Kita ke Bogor, dan langsung pergi gitu?" tanya Anggi, dengan wajah sedih.
Ara juga tampak murung, karena tidak ada ayahnya, yang bisa ikut di bersama mereka di Bogor nanti.
"Ayah antar kalian, terus nginep satu malam. Pagi-pagi, Ayah balik ke Jakarta, dan langsung ke bandara. Nanti, saat kalian pulang, di jemput oleh omanya kak Awan dengan supirnya. Bagaimana?"
Abimanyu menjelaskan pada kedua anaknya itu, dengan tersenyum. Dia sebenarnya merasa kasihan juga, tapi keberangkatannya ke Amerika juga tidak busa ditunda-tunda lagi.
Ada beberapa hal yang harus dia pelajari terlebih dahulu, karena situasi dan kondisi yang berbeda di perusahaan yang ada di sana, dengan yang berada di Indonesia.
Dan Anjani, juga tidak bisa mencegah kepergian suaminya, karena semua ini juga dilakukan demi anak-anak dan keluarganya.
"Berarti, kak Awan akan ikut Oma Amel menjemput kita ke Bogor?" tanya Anggi, dengan antusias.
"Adek. Gak ada hubungannya itu!"sahut Ara cepat, dengan mata memicing, melihat ke arah adiknya, Anggi.
"Ye... Kakak! Kan kalau kita udah di jemput oleh oma Amel, pastinya, Kak Awan juga udah gak pergi sekolah. Libur juga kayak Kalak." Anggi tetap ngotot, dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi nantinya.
"Gak juga Dek. Kak Awan itu, ujiannya gak harus sama persis seperti waktu liburnya Kakak. Karena selain ujian soal ada juga ujian praktek. Dan itu gak hanya cukup satu minggu."
Anggi mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh kakaknya itu, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya, tanda jika dia mengerti.
Padahal tetap saja Anggi berharap, supaya Awan bisa ikut nantinya, pada saat pak Supir-nya mama Amel, menjemput mereka di Bogor.
"Ra. Kak Nanda beneran gak jadi ikut kita ke Bogor?"
Anjani, yang sedang mengepak barang-barang yang akan mereka bawa nanti, bertanya tentang Nanda, pada anaknya, Ara.
Ara dan Anggi, menoleh ke arah bundanya itu. Mereka berdua lupa, jika Nanda memang tidak bisa ikut mereka juga ke Bogor.
"Oh iya. Kak Nanda gak ikut juga ya," ujar Anggi, yang terlihat seperti sedang bersedih hati.
__ADS_1
"Kenapa emangnya Dek?" tanya Ara, yang melihat perubahan wajah adiknya.
"Anggi gak bisa minta di ajak muter-muter sama kak Nanda dengan motornya." Anggi menjelaskan pada Ara, kenapa dia merasa sedih.
"Ihsss... gak mungkin juga dong Dek, Kak Nanda-nya ikut ke Bogor dengan motor. Aneh-aneh aja sih Kamu." Ara juga menjelaskan pada Anggi, karena seandainya Nanda ikut mereka pun, tetap saja tidak membawa motornya.
"Kalau gitu Kak Ara aja yang pinjam motornya Abah di Bogor!"
Anggi mempunyai ide bagus, untuk meminjam motor ke Abah, paman bundanya Anjani, yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah kafe mereka.
"Tapi Kakak gak bisa naik motor Dek," sahut Ara, dengan mengelengkan kepalanya.
"Kakak belajar dong!"
Wajahnya Anggi, tampak berbinar-binar senang, dengan ide yang dia miliki untuk membuat kakaknya itu bisa naik motor sendiri nantinya.
"Adek. Kakak uru masih kecil dan belum cukup umur untuk belajar naik motor. Gak baik juga anak-anak naik motor sendiri. Jika ada sesuatu yang terjadi di jalan, orang tuanya yang akan disalahkan, karena membiarkan mereka naik kendaraan sendiri, di saat belum waktunya."
Anggi merasa bingung, dengan penjelasan yang diberikan oleh bundanya, tentang diperbolehkan seseorang untuk bisa naik motor sendiri.
Akhirnya, Anjani menerangkan kepada Anggi, jika seseorang seperti kakaknya itu, belum seharusnya belajar naik motor. Apalagi jalanan Jakarta juga tidak bersahabat.
Jadi harus berhati-hati dan waspada, jangan sampai terjadi sesuatu pada anak-anak yang belum cukup umur.
"Kok Kak Nanda dan Kak Awan boleh?" Anggi meminta penjelasan yang lebih.
Jika Awan, Anjani tidak tahu, apakah sudah memiliki SIM, atau belum.
Tapi untuk Nanda sendiri, sebenarnya dia belum memiliki SIM. Dan baru ada waktu besok, saat libur karena adanya ujian itu, Nanda akan mengurus SIM-nya.
Menurut rencana Nanda sendiri, setelah selesai mengurus SIM, dia akan berangkat ke kampung, menjenguk mama dan adiknya di sana.
Di kampung halaman Papa sambungnya, Aksan.
*****
Abimanyu sudah siap di depan kemudi, saat Anjani memeriksa keadaan kunci pintu rumahnya lagi.
Anjani ingin memastikan bahwa, pintunya memang sudah benar-benar terkunci tadi.
"Sudah Bun?" tanya Abimanyu, dengan kembali membuka pintu mobil.
Dia kembali turun, dan mendekati istrinya.
"Sudah Yah."
__ADS_1
Anjani mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari suaminya, yang sekarang justru berada di sampingnya lagi.
"Kita ke rumah ayah. Pamit, sekalian nitip kunci rumah juga," kata Abimanyu, sambil mengandeng tangan istrinya, menuju ke mobil.
Saat ini, Abimanyu mengunakan mobil kantor, untuk mengantar keluarganya itu ke Bogor Ini karena setelahnya, dia akan langsung pergi ke Bandara, dan ini untuk tugasnya ke Amerika.
*****
"Opa ke Amerika lagi?" tanya Awan, saat melihat papa Ryan membawa koper dari dalam kamarnya.
"Bi, tolong bawa ini ke depan ya. Biar di masukkan ke mobil sama pak supir."
Mama Amel, memangil bibi pembantu rumah, yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Iya Nyah."
Bibi pembantu pun patuh pada perintah mama Amel.
Setelah bibi pembantu pergi keluar, dengan menarik koper papa Ryan, Awan kembali bertanya pada opanya itu, "katanya Opa gak pergi-pergi lagi ke luar negeri. Kok ini pergi lagi?"
"Wan. Kamu ini ya, kayak anak gadis di tinggal pacarnya saja."
Papa Ryan justru menggoda cucunya itu, dan tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya.
Awan meringis, mendengar perkataan opanya. Dia menggaruk-ngaruk rambut yang ada dibelakang telinga. Padahal sebenarnya tidak terasa gatal.
"Opa ke Amerika bersama om Abi kok Wan," jawab mama Amel, yang ada di samping suaminya, papa Ryan.
"Sama om Abi?" tanya Awan, yang tidak tahu, jika kepergian opanya kaki ini ditemani oleh Abimanyu, ayahnya Ara.
"Iya. Om Abi mau lihat-lihat dulu, kondisi perusahaan yang ada di sana."
Awan mengerutkan keningnya, mendengar jawaban yang diberikan oleh omanya itu.
"Maksud Oma?" tanya Awan, yang memang tidak tahu apa-apa, tentang rencana Oma dan opa nya.
"Ya gak ada maksud apa-apa. Kan emang kerjaan Om Abi, untuk periksa-periksa dan audit perusahaan kita Wan."
Tapi Awan merasa belum puas, dengan apa yang dikatakan oleh omanya itu.
Awan sepertinya menangkap maksud lain, dari kepergian opanya kaki ini. Karena ditemani oleh seseorang, yang menjadi kepercayaan di perusahaan keluarganya, PT SAMUDERA GROUP.
Tapi karena Awan tidak mau terlalu ikut campur, untuk urusan perusahaan, akhirnya dia tidak lagi bertanya-tanya.
"Hati-hati Opa."
__ADS_1
Hanya pesan tersebut, yang diucapkan oleh Awan, pada opanya itu, di saat mereka bertiga, berjalan menuju ke luar rumah.