
Nanda mendengar pembicaraan yang dilakukan oleh Anggi dengan bundanya, Anjani.
Sekarang dia jadi berpikir bahwa, tadi, saat dia menghubungi Ara, dan tidak mendapatkan respon atau jawaban, itu karena ulahnya Anggi, dan kesengajaan yang dilakukan oleh Ara.
Tapi Nanda tidak bertanya atau berkomentar apa-apa, baik pada bundanya, Anjani, ataupun pada Anggi sendiri. Padahal saat ini, dia sedang bermain dengan Anggi dan juga Miko.
Ibu Sofie, eyang Putrinya, sedang ada di dapur, membantu Anjani menyiapkan makan siang untuk mereka semua.
"Ara sudah mau pulang ya Bun?"
Nanda memberanikan diri, untuk bertanya pada Anjani, tentang keberadaan Ara sekarang ini.
"Belum. Ini tadi ayah Abi yang telpon. Ara kebingungan sendiri, mencari-cari handphone miliknya. Dia tidak tahu jika, Anggi mengambilnya. Bunda pikir tadi, Ara sengaja meninggalkan handphone tersebut, agar Anggi tidak rewel dan ikut mereka."
"Oh... gitu," ucap Nanda, yang baru saja paham dengan apa yang dilakukan oleh Anggi.
"Ini mereka gak mungkin pulang cepet dan ikut makan siang bersama Nda. Mereka berdua ketemu mama Amel dengan Awan. Dan omanya Awan, mama Amel itu, mengajak ayah Abi untuk berdiskusi sebentar, sekalian makan juga."
Wajah Nanda tampak kecewa, saat mendengar penjelasan yang diberikan oleh Anjani, soal pertemuan suami dan anaknya, dengan mantan mertuanya, dengan cucunya. Yaitu Awan.
"Jadi, sekarang ayah Abi dan Ara, bersama dengan kak Awan dan omanya juga?" tanya Nanda, memperjelas apa yang dikatakan oleh bundanya, Anjani.
Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Nanda. Dan sekarang, Anjani kembali ke dapur, untuk melanjutkan pekerjaannya dengan ibu mertuanya, ibu Sofie, yang tertunda karena menerima panggilan telpon dari suaminya, Abimanyu.
Sekarang, Nanda kembali menemani kedua adiknya, Anggi dan Miko, yang sedang bermain dan saling bercanda ria, tanpa memikirkan banyak hal dan menjadi beban, seperti yang dirasakan oleh kakak sepupu mereka berdua.
Yaitu Nanda sendiri.
*****
Di resto dan kafe, tempat di mana mama Amel mengajak Abimanyu untuk berbicara.
"Jadi begitulah Bi. Awan memutuskan untuk kuliah ke Amerika. Ini baru dia katakan kemarin malam. Dan Mama juga terkejut, dengan keputusan yang dia ambil. Karena sebelumnya, Awan tidak mengatakan apa-apa."
Mama Amel, menceritakan tentang keputusan cucunya, Awan, yang ingin melanjutkan kuliahnya di Amerika.
Meskipun sebenarnya mama Amel juga merasa sangat senang, dengan apa yang diputuskan oleh cucunya itu, tapi dia juga merasa khawatir, dengan keadaan Awan sendiri.
Dia berpikir jika, cucunya itu sedang ada didalam keadaan tekanan, yang dia simpan sendiri, dan tidak mau jika ada orang lain yang tahu.
"Kalau menurut Kamu bagaimana Bi?"
Abimanyu sendiri menjadi bingung, dengan apa yang dikatakan oleh mama Amel.
Jika keputusan yang diambil oleh Awan, sama seperti yang dia harapkan, Abimanyu merasa tidak ada masalah.
__ADS_1
Apalagi Elang, sebagai ayahnya Awan, tidak mempermasalahkan keputusan anaknya juga.
Begitu juga dengan papa Ryan, opanya Awan. Dia mendukung dengan apa yang diputuskan oleh cucunya juga.
"Memang yang menjadi pikiran dan beban mama Amel itu dari segi apa?" tanya Abimanyu, yang merasa tidak ada masalah yang terjadi dengan keputusan yang diambil oleh Awan sendiri.
"Bukan begitu Abi. Awalnya, Mama hanya ingin melihat respon Awan saja. Dan kemarin-kemarin itu, dia datar-datar saja. Tidak memberikan respon yang baik dan cepat. Tapi kemarin itu, tiba-tiba bilang jika dia mau."
Abimanyu belum bisa mengerti, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh mama Amel kepadanya.
"Apa Awan ada sesuatu yang terjadi dengan Ara? Maksud Mama, apa Ara tidak ada respon terhadap Awan gitu? Jadi dia memutuskan untuk menghindar saja."
Mendengar penjelasan yang diberikan oleh mama Amel, Abimanyu memicingkan mata, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Awan, dengan anaknya, Ara.
Selama ini, Abimanyu memang tidak pernah mendengar tentang apa-apa, soal hubungan khusus atau apapun perasaan hati, antara Ara dan Awan, atau Ara dengan cowok manapun.
Abimanyu, hanya pernah mendengar dari istrinya, jika Ara ada yang memberikan tawaran untuk menjadi menantunya, dan itu adalah temannya Awan.
'Apa ini berhubungan ya?' pikir Abimanyu, mencoba untuk menghubungkan semua kejadian yang dia ketahui dan dia dengar.
"Maaf Mama Amel. Selama ini, Ara tidak pernah mengeluhkan tentang sikap dan hubungan antar teman, kakak kelasnya atau cowok-cowok yang dia kenal. Jadi, Saya sendiri benar-benar tidak tahu, apa dan bagaimana perasaan Ara sebenarnya."
Mama Amel mendengarkan semua perkataan dan penjelasan yang diberikan oleh Abimanyu.
Saat ini, mereka ada di deretan meja-meja, yang ada di dekat kasir dan pemesanan. Sedang Ara dan Awan, ada di sebuah gazebo, yabg tentu saja, terpisah dari mama Amel dan Abimanyu berada.
"Tapi Kamu tidak pernah mendengar apa-apa dari Anjani mungkin? atau dari keponakan Kamu, yang katanya biasa bareng Ara ke sekolah."
Abimanyu kembali terdiam, sambil berpikir tentang semua hal, yang menyangkutkan anaknya itu.
Sebenarnya, Abimanyu ingin menceritakan tentang Dika, temannya Awan, dengan mamanya, yang pernah memberikan tawaran kepada dirinya, dan juga Ara, baru-baru ini.
Tapi, Abimanyu tidak jadi berbicara tentang mereka, Dika dan juga mamanya. Abimanyu berpikir jika, mungkin ini hanya sebuah kebetulan belaka dan tidak ada hubungannya dengan Awan.
*****
Di sebuah gazebo resto dan cafe.
Ara, yang tidak bisa bermain dan sibuk dengan handphonenya, hanya bisa diam saja, dengan melihat-lihat sekeliling gazebo.
Sedang Awan, pura-pura sibuk dengan handphone yang ada di tangannya.
"Kak," panggil Ara, dengan pelan.
Tapi Awan seperti tidak mendengar. Atau bisa jadi, Awan pura-pura tidak mendengarkan panggilan dari Ara.
__ADS_1
"Kak Awan."
Ara sekali lagi mencoba untuk memanggil Awan. Dan ini berhasil juga.
Awan tampak mendongak, mengalihkan perhatiannya dari handphone yang ada di tangan ke arah Ara, yang tadi memanggil namanya.
Tapi, sekarang ganti Ara yang salah tingkah. Dia tampak menunduk dan tidak berani menatap Awan, yang saat ini sedang menatap ke arahnya.
Karena Ara tidak juga memiliki keberanian untuk bicara, akhirnya Awan mencoba untuk mengalah.
Awan bertanya kepada Ara, "Kamu mau pesan apa? kita belum pesan apa-apa ini."
Ara mendongak, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Awan kepadanya.
Tapi ternyata Awan sedang melihat-lihat buku menu, yang ada di meja. Dan meja tersebut juga, yang memisahkan jarak duduk mereka berdua, yang saling berhadap-hadapan.
"Kak," panggil Ara, agar Awan mengalihkan perhatiannya.
"Ya. Kamu mau pesan apa? coba lihat-lihat ini," jawab Awan, dengan menyodorkan satu buah buku menu, yang ada di resto dan cafe ini.
Ara pun akhirnya menerima buku menu tersebut. Dia tidak berani untuk bertanya-tanya lagi.
Dengan perasaan yang tidak menentu, Ara menjadi bingung, untuk memilih menu makanan ataupun minuman yang ingin dia pesan.
Hingga beberapa saat kemudian, pelayan resto datang, untuk mencatat pesanan para pengunjung, termasuk Awan dan Anggi, yang terlihat seperti sepasang kekasih, yang sedang mencari tempat makan yang romantis pada siang hari.
"Permisi, selamat siang. Mau pesan apa Mas, Mbak?"
Pelayan tersebut, bertanya seperti biasanya, jika sedang melakukan tugasnya, dengan memegang buku notes dan pulpen, untuk mencatat pesanan.
"Emhhh... Ra, jadi pesan yang mana?" tanya Awan, yang belum mendengar suara Ara, untuk menentukan menu pilihannya.
"Kakak aja deh yang pesen."
Akhirnya, Ara menjawab pertanyaan dari Awan, tapi menyerahkan keputusan untuk memesan makanan pada Awan juga. Dia tidak mau memilih sendiri.
"Lho?"
Awan bengong dan ingin bertanya, tapi tidak jadi, karena melihat Ara yang sedang tersenyum dengan canggung ke arahnya, sambil menunjukkan dua jari tangan, sebagai tanda peace.
"Kakak aja yang pesen. Ara ngikut."
Dengan tersenyum tipis, Awan akhirnya setuju dan mengangguk. Setelah itu, dia segera memesan makanan dan juga minuman untuk mereka berdua.
Awan lupa, jika dia tadi datang ke resto ini bersama dengan omanya dan juga ayahnya Ara. Mama Amel dan Abimanyu.
__ADS_1
Itulah sebabnya, tadi Awan hanya memesan makanan dan juga minuman, untuk mereka berdua saja.