
Sebelum menelpon anaknya, Nanda.
"Mas tidak mau mengaku?" tanya mami, pada suaminya, Wawan, dengan menenteng-nenteng satu tas kresek warna hitam.
Entah apa isi tas kresek hitam tersebut.
"Ngaku apa sih Mi?" tanya Wawan, yang bingung, saat mendapatkan pertanyaan mendadak dari istrinya itu.
"Kamu ada main kan, dengan janda yang di conter laundry itu?" tanya mami, dengan menunjuk ke arah jalan.
"Laundry mana sih Mi? gak usah aneh-aneh deh, nuduh-nuduh gitu."
Wawan mencoba untuk membela dirinya, dari semua tuduhan yang diberikan oleh istrinya saat ini.
Jadi, sudah beberapa hari terakhir ini, istrinya itu mendapat kabar bahwa, Wawan, sering main ke conter laundry, yang ada di gang sebelah pangkalan barang-barang bekas miliknya, yang merupakan rumahnya juga.
Padahal, Mami tidak pernah me_laundry pakaian-pakaian mereka berdua, mami dan juga Wawan, karena selalu di cuci sendiri oleh mami.
Apalagi, kemarin mami juga menemukan bahwa, dikantong celana Wawan, ada struk pembayaran dari conter laundry tersebut.
"Ngaku gak? Kamu pura-pura laudry di sana kan, agar bisa dekat-dekat dengan janda gatel itu?" tanya Mami, dengan tetap menuduh Wawan, jika dia ada main dengan janda penjaga counter Laudry.
"Mi. Jangan nuduh sembarangan. Apalagi bawa-bawa status janda. Yang janda belum tentu gatel Mi. Lah yang punya suami aja banyak kok yang gatel."
Wawan justru berceramah sendiri, menasehati istrinya yang sedang diliputi rasa amarahnya.
"Oh, jadi gak sama janda aja, sama istri orang juga, iya? bangga gitu? Apa yang buat Mas bangga, jika keluar dari pangkalan ini?"
Mami, istrinya Wawan, menantang suaminya, yang tidak pernah bisa dia atur, supaya bisa menjadi seorang suami yang baik.
"Bukan begitu juga maksud Aku Mi," ujar Wawan, mencoba untuk mencari alasan, dan menenangkan hati istrinya.
"Apa? Apa yang bukan?" tanya istrinya, meminta penjelasan.
"Mami kan pernah juga jadi janda. Harusnya gak boleh mem_vonis status janda itu."
Mami tersebut miring, mencibir perkataan yang diucapkan oleh suaminya, Wawan, kemudian berkata bahwa, "Oh iya, Mami lupa. Jika Kamu itu juga yang biasanya membantu para janda, supaya mendapat status istri, tapi hanya sebatas sebagai status aja. Begitu maksud Kamu?"
Sekarang, Wawan tidak bisa lagi berkata, karena istrinya semakin kalap, dan tidak mau mendengar alasan yang dia katakan tadi.
"Ini, bawa baju-baju Kamu yang tidak pernah Kamu beli sendiri. Jika Aku adalah orang yang sangat tega, Aku tidak akan membiarkan Kamu pergi, dengan membawa selembar pakaian. Karena Kamu datang ke sini, juga tidak membawa apa-apa!"
Setelah berkata demikian, tas kresek hitam tersebut dilemparkan ke depan dada Wawan.
"Jangan pernah pulang ke sini, jika Kamu tidak bisa mengubah perilaku yang Kamu miliki itu!" imbuh mami lagi, memberikan ancaman untuk Wawan.
"Aku pulang ke mana Mi?" tanya Wawan, meminta belas kasihan kepada istrinya itu.
"Serah mau pulang ke mana. Ke jembatan atau jeruji besi juga boleh!" ucap Mami, dengan masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya dengan kasar.
Brakkk!
__ADS_1
Wawan terkejut, dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.
Biasanya, istrinya itu dengan mudah dia rayu, dan dia kasih kata-kata yang masuk akal, sama seperti yang tadi dia katakan.
Tapi sepertinya kali ini berbeda. Mami tidak mau mendengarkan perkataannya Wawan, dan tetap saja marah, karena alasan yang sudah sering terjadi juga.
Jadi, kejadian ini, tidak hanya kali ini saja. Tapi sudah berkali-kali.
Dan selama ini juga, Mami selalu memaafkan dirinya, dan memberinya kesempatan, agar bisa berubah suatu hari nanti.
Sayangnya, harapan Mami tidak terwujud.
Wawan, terus saja berulah lagi dan lagi.
Itulah sebabnya, dia segera meminta bantuan pada anaknya, Nanda, untuk mencarikan rumah kontrakan.
Tapi ternyata, kesialan yang dialami oleh Wawan, terjadi lagi padanya, di saat yang sama.
Nanda tidak bisa membantu dirinya, untuk mencarikan sebuah rumah kontrakan, untuk tempat tinggalnya. Meskipun itu hanya sementara waktu saja, sampai istrinya, Mami, mau menerimanya dirinya lagi.
*****
Di perjalanan menuju ke stasiun, Nanda, yang sedang naik ojek online, bertemu dengan Dika secara tidak sengaja.
Mobil yang dikendarai oleh Dika, berhenti di samping motor ojek, karena lampu merah.
Mobil sport milik Dika, sedang dalam keadaan terbuka. Itulah sebabnya, Nanda bisa langsung mengenalinya. Begitu juga dengan Dika, yang kebetulan sedang melihat kearahnya.
"Stasiun," jawab Nanda pendek.
"Mau ke mana emangnya?" tanya Dika lagi, ingin tahu.
"Pulang," jawab Nanda lagi, masih sama, tanpa memberikan keterangan ataupun penjelasan yang panjang.
"Nda, apa kabar adek sepupu Loe, si Ara?" Dika bertanya tentang kabarnya Ara, pada Dika.
Tapi Nanda diam saja, dan tidak bermaksud untuk memberikan jawaban, atas pertanyaan yang diajukan oleh Dika, tentang Ara, yang saat ini sedang berada di Amerika sana.
"Woi, denger gak sih?"
Dika merasa kesal, karena Nanda tidak menjawab pertanyaan darinya.
"Hai..."
Dika tidak lagi melanjutkan kalimatnya, karena lampu lalu lintas, sudah berganti dengan hijau.
"Ah, sial!" Dika mengerutu sendiri, dengan kesalnya.
"Huh! Gak Nanda, gak Ara. Sama-sama belagu!"
Dengan kesal, Dika kembali mengerutu lagi, karena masih merasa dendam, pada Ara, yang dia pikir sudah main belakang dengan Awan, tanpa sepengetahuan dirinya pada saat itu.
__ADS_1
"Sialan. Gak Kakak gak adek, sama saja!"
Dika terus mengurutu, di dalam mobilnya.
"Oh iya, gue gak pernah liat lagi itu si Ara, boncengan motor dengan si Nanda. Apa dia pindah sekolah, droup out, atau gak kuat mempertahankan nilai-nilai, sehingga harus bayar dan gak kuat itu orang tuanya?"
Berbagai macam pertanyaan, muncul di benak Dika.
Dan karena dia melamun saat menyetir di Jalan Jakarta yang padat, dua akhirnya tidak sadar, jika ada lampu merah lagi, dan menubruk mobil yang ada di depannya. Yang sudah berhenti terlebih dahulu.
Bruakkk!
"Ohhh,aduh!"
"Woi!
"Hai, hati-hati!"
Banyak pengguna jalan yang berteriak, saat melihat mobil Dika mencium mobil yang ada di depannya.
Dika terkejut dan mengaduh juga, di saat bantalan setirnya keluar dengan otomatis, karena sistem detektor untuk bahaya terekam.
Untungnya, mobilnya itu dilengkapi dengan semua teknologi canggih, sehingga dia selamat.
Tapi tentu saja, tidak untuk mobil yang ada di depannya. Bagian belakang mobil tersebut penyok parah.
Akhirnya, Dika diminta untuk turun dari dalam mobil, dan bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi dengan kecelakaan tersebut.
Agar tidak terjadi kemacetan lalu lintas, kedua mobil tersebut, di bawa pinggir jalan, tak jauh dari tempat kejadian.
"Tapi ini kecelakaan, tidak sengaja," bantah Dika, yang sebenarnya tidak mau bertanggung jawab.
Dia merasa takut juga, jika mama dan papanya marah.
"Lihat, mobil Gue juga penyok di bagian depan. Dan ini tidak murah!"
Dika justru menunjukkan kerusakan yang terjadi pada mobilnya sendiri, dan tidak memperhatikan kerusakan pada mobil yang tadi dia tabrak.
"Eh, itu urusan kamu. Kan ini Kamu sendiri yang salah."
Pengendara mobil yang bersangkutan, tidak mau tahu, apa yang dialami Dika, karena dia merasa dirugikan.
"Tapi, Loe gak apa-apa!" bantah Dika.
"Udah-udah, panggil polos saja!"
Akhirnya, ada saksi yang menyarankan untuk memanggil polisi, agar bisa diselesaikan dengan baik dan secara hukum.
Dan Dika, berusaha untuk menghubungi mama atau papanya, untuk minta bantuan pada mereka.
"Semoga saja, mama dan papa tidak marah, dan mau membantuku dengan menyewa pengacara, " gumam Dika, sambil menunggu panggilan telponnya diangkat oleh mamanya.
__ADS_1