
Ara masih berjalan dengan santai, ke arah depan kampusnya. Dia tidak menyadari bahwa, ada beberapa pasang mata, yang mengikuti setiap langkahnya.
Mereka, yang mengikuti Ara, juga memperhatikan semua hal, ya h dilakukan oleh Ara saat ini.
Apalagi saat Ara bertemu dengan Awan, dan mereka berdua saling berpelukan, meskipun hanya sebentar saja.
Beberapa foto mereka ambil, entah untuk keperluan apa.
Dan Ara, tidak pernah menyadari semua itu.
Ara tetap bersikap seperti biasanya, jika bertemu dengan kekasih hatinya itu, tanpa memikirkan keadaan sekitarnya.
Toh di Amerika, orang-orang tidak banyak yang memperdulikan bagaimana keadaan orang-orang di sekitarnya juga.
Tapi karena ada sesuatu yang diinginkan, bisa jadi, moment-moment tertentu, membuat orang lain membuat sesuatu yang bisa dijadikan sebagai alat, untuk menghancurkan seseorang.
Dan itulah yang sedang terjadi pada Ara.
"*Damn! it turns out, her innocent face is just a mask!"
*Sialan! wajahnya yang terlihat polos, hanya sebuah topeng belaka!"
Maki dan celaan, keluar dari mulut salah satu orang yang sedang mengikuti Ara.
Sayangnya, setelah melihat bagaimana cowok, yang saat ini bersama dengan Ara, mereka merasa sangat menyesal, karena cowok tersebut sangat menarik menurut mereka.
"Hai, siapa cowok itu? Dia sangat keren dan tampan!"
"Beruntung sekali itu cewek, si Ara!"
"Ah, kita bisa kerjai dia dengan foto-foto ini. Dan setelah itu, namanya akan hancur di kampus ini. Terutama di depan para dosen, yang sangat memerhatikan dirinya."
"Hahaha... ide yang sangat cemerlang!"
"Good girl!"
"Yuk, kita lanjutkan rencana kita ini!"
Tiga orang cewek, yang mengikuti Ara, kembali berjalan menuju ke arah kampus.
Mereka juga tidak lagi peduli, dengan apa yang akan dilakukan oleh Ara, bersama dengan cowok yang dia temui.
Mereka tidak tahu jika, cowok yang ditemui Ara adalah kekasihnya sendiri, yang sebentar lagi akan menjadi suaminya juga.
*****
Beberapa saat kemudian, di tempat yang lain.
Motor Awan, melaju pelan menuju ke sebuah taman, yang ada di dekat tempat tinggalnya Ara.
Di taman tersebut, ada beberapa permainan anak-anak, dan juga penjual makanan serta minuman.
Ada juga es krim, serta gulali-gulali, kesukaan anak-anak.
__ADS_1
Meskipun Ara belum tahu maksud dari ajakan Awan ke taman ini, tapi dia tidak juga bertanya apa-apa.
Setelah motor berhenti, Ara turun dari boncengan.
"Kamu duduk di bangku itu dulu ya Ra. Tunggu Kakak," kata Awan, meminta pada Ara, untuk menunggu dirinya, dengan duduk di sebuah bangku, yang ada di tanam tersebut.
Ara hanya mengangguk saja, karena dia juga tidak tahu, apa yang ingin dilakukan oleh Awan saat ini.
Setelah memastikan Ara duduk dengan tenang, Awan pergi menuju ke tempat seorang pembuat gulali, dan meminta pada penjual tersebut, akan membuatkan dirinya dua gulali dengan bentuk hati dan mawar.
Penjual tersebut mengangguk sambil tersenyum, mendengar permintaan dari Awan.
Penjual itu merasa sangat yakin jika, Awan sedang ingin menembak atau merayu seorang cewek saat ini.
Tak berapa lama kemudian, dua gulali yang dipesan Awan, sudah selesai dibuat oleh penjual.
Awan tersenyum senang, kemudian menerima gulali-gulali tersebut, dengan memberikan selembar uang dolar kepada penjual.
"Anak muda. Uang ini terlalu besar, dan Aku belum ada uang kembali yang cukup, untuk dua harga gulali itu."
Ternyata, penjual gulali itu tidak memiliki uang kembalian yang pas, untuk dua harga gulali yang dipesan oleh awan.
Dengan tersenyum, Awan pun berkata, "Ambil kembalinya Pak. Saya pikir itu akan lebih berguna untuk Bapak."
Penjual gulali yang sudah cukup tua itu, tersenyum senang dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada, sebagai tanda terima kasih.
Awan pun melakukan hal yang sama, kemudian segera kembali ke tempat Ara menuggu dirinya.
"Maaf lama," ucap Awan, karena meninggalkan Ara sendiri di taman tersebut.
"Apa sih Kak? Sini duduk!"
Ara mengelengkan kepalanya, sambil menepuk sisi sebelahnya, meminta pada Awan, supaya ikut duduk bersama dengannya.
Tapi Awan tidak mau melakukan apa yang diminta oleh Ara.
"Ini, Kamu ambil yang mana? Jika mawar, kita akan bertunangan minggu depan. Tapi jika hati, kita akan menikah bukan depannya."
Ara terkejut, dengan apa yang dikatakan oleh awan, sambil menyodorkan dua buah gulali, yang bentuknya sama seperti waktu dulu, saat mereka berdua saling mengetahui bagaimana perasaan masing-masing.
Dan saat ini, Ara tidak pernah menyangka, jika permintaan Awan sangat cepat, untuk meresmikan hubungan mereka berdua.
"Kak. Ini... ini..."
Awan mengangguk pasti, saat Ara tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
Sesak di dada Ara, yang merasa sangat bahagia, membuatnya susah untuk mengeluarkan suaranya.
Genangan air mata haru dan bahagia, terlihat jelas di kedua matanya Ara saat ini.
"Kakak serius Ra. Aku tidak mau, ada penghalang untuk hubungan kita ini."
Ara hanya mengangguk saja, kemudian mencoba untuk memilih, gulali mana yang harus dia ambil, sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Awan kepadanya.
__ADS_1
"Aku tidak memaksa Ra. Jadi, jangan khawatir, jika Aku akan marah, dengan apa yang akan Kamu putuskan."
Awan memberikan kebebasan kepada Ara, untuk bisa menjalani hubungan bersama dengannya.
Entah itu dengan bertunangan terlebih dahulu, atau langsung menikah bulan depan.
Tapi setelah berpikir sebentar, Ara jadi malu sendiri, karena dia sadar, jika ini adalah jebakan belaka.
"Kak," panggil Ara, dengan menatap ke wajah Awan secara intens.
"Tadi Ara gak salah dengar kan? Saat Kakak ngomong," tanya Ara, saat Awan menganggukkan kepalanya, tanda jika Ara dipersilahkan untuk bertanya atau mengatakan sesuatu.
"Tidak. Kamu tidak salah dengar."
Awan menjawab dengan pasti, jika apa yang didengar oleh Ara tadi, memang benar.
"Ini, Kamu ambil yang mana? Jika mawar, kita akan bertunangan minggu depan. Tapi jika hati, kita akan menikah bulan depannya."
Ara kembali mengulangi pertanyaan yang tadi diajukan oleh awan kepada dirinya.
Awan mengangguk mengiyakan.
Sekarang, Ara tertawa kecil, menyadari bahwa, apa yang ditanyakan oleh Awan tadi, bukan untuk dia pilih. Tapi untuk dia setujui.
Akhirnya, dengan masih tertawa, Ara mengambil kedua gulali, yang ada di tangan Awan.
Dengan demikian, Ara menerima semua tawaran dari pertanyaan yang diajukan oleh Awan tadi.
Bibir Awan tersenyum lebar, ketika Ara mengambil ke-dua gulali tersebut.
Dia segera memeluk kekasihnya itu, dengan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan.
"Terima kasih Ra. Akhirnya, Kamu tahu, apa yang sangat sulit Aku katakan, meskipun pada kekasih ku sendiri sekalipun."
Ara membalas pelukan Awan, dengan hati yang berbunga-bunga.
"Tapi Kak, Ara ada kompetisi bela diri, untuk dua minggu ke depan nanti."
Tiba-tiba, Ara teringat dengan jadwal kompetisi antar kampus, yang akan dia ikuti dua minggu lagi.
"Lalu?"
Awan bertanya dengan heran, atas apa yang dikatakan oleh Ara barusan.
"Kita bagaimana bisa merencanakan pertunangan atau pernikahan, jika Ara sibuk dengan jadwal latihan dan kompetensi?"
Sekarang, Awan paham dengan apa yang menjadi kebingungan Ara.
Dia mencoba untuk menenangkan hati kekasihnya itu, dengan mengelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah. Kamu tenang saja ya. Kita akan coba tanyakan ini, pada ayah dan bunda. Kita tanya pada ayah Elang dan Oma juga, bagaimana sebaiknya. Biar orang-orang tua kita juga ikut memikirkan, apa yang sebaiknya dilakukan besok."
Ara mengangguk setuju, dengan usulan Awan.
__ADS_1
Mereka berdua, akhirnya memutuskan untuk pulang, dan membahas mengenai rencana mereka berdua, pada orang-orang terdekat mereka terlebih dahulu.
Karena semua hal, harus diperhatikan dan dipertimbangkan dengan matang.