Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Nasehat


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Banyak sekali permasalahan yang terjadi dan harus dihadapi. Suka dan duka, datang silih berganti tanpa bisa diminta, ataupun dihindari. Karena sesungguhnya, begitulah yang memang seharusnya. Ada keseimbangan dalam hidup ini.


Hanya manusia sendiri yang kandang-kandang, tidak merasakan semua itu, karena hanya menganggap hal yang membuatnya duka, lebih menonjol dari pada rasa suka dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Bahkan sebenarnya, kebahagiaan yang dirasakan lebih banyak daripada kesedihan, tapi manusia itu penuntut dan hanya mengingat kesedihan dan kesusahan saja, daripada kesenangan dan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Begitulah kira-kira apa yang terjadi pada kita, manusia biasa.


Sama halnya seperti yang dirasakan oleh ibu Sofie saat ini. Dia merasa kehilangan Yasmin, karena harus berpisah lagi dengan anaknya itu. Anak kesayangannya harus pergi menjadi seorang TKI lagi, di negara Taiwan, dan itu karena cinta Yasmin yang salah arah. Rasa cinta Yasmin pada Wawan, yang diimbangi dengan akal sehatnya.


Hal yang disesalkan oleh semua keluarga Yasmin dan ibu Sofie khususnya. Tapi karena begitulah mungkin, jalan yang harus dijalani Yasmin untuk proses pendewasaan diri, agar menjadi manusia yang lebih baik dan tidak egois lagi.


"Bu," panggil suaminya, ayah Edi, dari arah ruang tengah.


Tapi, ibu Sofie hanya diam saja di meja makan. Tidak melakukan apa-apa, meskipun ada dua gelas teh hangat di depannya, karena tadi ayah Edi yang memintanya, untuk dibuatkan teh hangat.


"Bu, teh nya mana?" teriak ayah Edi yang masih duduk di ruang tengah, sambil memegang handphonenya.


Tapi karena tidak ada sahutan dari istrinya, akhirnya ayah Edi mendongak, dan menoleh ke arah meja makan, dimana istrinya berada.


"Oalah... malah melamun," gumam ayah Edi, sambil berdiri dari tempat duduknya.


Ayah Edi berjalan mendekat ke tempat istrinya berada. Dia memicing karena, istrinya tidak sedang menangis, hanya diam saja dengan pandangan yang kosong.

__ADS_1


Untuk mencegah istrinya itu kaget saat dia tegur atau sentuh, ayah Edi menyingkirkan dua gelas teh hangat yang ada didepan ibu Sofie. Setelah itu, dia baru memegang tangan istrinya, kemudian bertanya, "Bu. Kamu tidak apa-apa?"


"Eh, emhhh... teh, teh... tadi teh nya sudah jadi Yah. Man_mana teh nya Yah?" jawab ibu Sofie dengan terbata-bata. Dia merasa terkejut karena tiba-tiba tangannya di pegang oleh suaminya dan bertanya tentang hal yang tidak ada sangkut pautnya dengan permintaannya yang tadi.


"Itu teh nya ada di sana. Ayah bertanya pada Ibu, sedang apa?" jawab ayah Edi, sambil bertanya juga dengan sikap istrinya itu.


"Eh, emhhh... itu Yah, anu, emhhh... Ibu tidak sedang apa-apa kok," jawab ibu Sofie lagi, dengan kegugupan yang sangat jelas, jika dia sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak usah dipikirkan Bu. Biarkan Yasmin dengan jalan yang dia putuskan. Mungkin dia akan jauh lebih baik lagi, jika berada jauh dari keluarga daripada dekat dia tidak bisa berpikir secara dewasa. Mungkin, proses pendewasaan Yasmin, berbeda dengan yang lain. Ayah tidak apa-apa, jika kepergian membawa kebaikan untuk dirinya sendiri dan kita semua. Ayah tidak ingin, kejadian kemarin-kemarin itu, akan terulang lagi dan lagi. Apalagi, ini karena satu orang saja penyebabnya. Apa Ibu mau, kejadian itu terjadi pada Yasmin, jika bukan Anjani?" tanya ayah Edi, membuka pikiran istrinya, supaya menempatkan diri pada posisi Anjani dengan Yasmin.


Ibu Sofie tampak mengeleng, meskipun dia hanya diam saja. Itu sudah menjadi jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh suaminya sendiri.


"Jadi ibu yang ikhlas ya? biar Yasmin bisa tenang dalam bekerja dan bisa berubah juga. Ayah harap, ibu memikirkan Sekar juga. Bukankah orang tua dari pacarnya juga mau datang bulan besok? jadi ibu harus siap-siap, untuk menyambut kedatangan besan baru dan menantu yang baru juga. Semoga saja kali ini, semua akan baik-baik saja dan tidak ada kejadian yang sama seperti Yasmin. Sekar sudah lebih hati-hati dalam memilih pasangan, jadi Ayah harap, Ibu tidak lagi membanding-bandingkan Sekar dengan Yasmin atau calonnya Sekar dengan Abimanyu. Ibu harus tahu, jika semua orang ada kelebihan dan kekurangannya masing-masing."


*****


Di Bogor, Nanda sedang bermain-main dengan Ara, yang saat ini sedang belajar berjalan. Dia dengan senang hati mengajak sepupunya itu untuk bermain di teras samping dekat dengan kafe rumah. Dia mengajari Ara Ara berbicara, padahal dia sendiri juga belum fasih benar melafalkan kata.


"Dek Ala, ini boneka. Namanya boneka ya Ala!"


Nanda menunjuk pada sebuah boneka, yang kemarin dibawakan oleh neneknya, ibu Sofie, saat berkunjung ke Bogor.

__ADS_1


Ara yang tidak paham, hanya tertawa-tawa senang melihat boneka yang sekarang sudah ada ditangannya.


Baby sitter, hanya melihat dan mengawasi mereka berdua, dan tidak ikut berbicara. Dia merasa jika Nanda juga tidak ingin dicampuri oleh orang lain, jika sedang mengajari Ara. Karena Nanda akan ngambek, jika baby sitter untuk membantunya mengajari Ara, jika dia sedang bersama dengannya.


Sama seperti kemarin saat Ara bermain dengan Lego, dan Nanda yang menyusunnya. Karena ada kesalahan dalam menyebut warna, dan baby sitter membetulkan, Nanda malah jadi ngambek dan tidak mau meneruskan ikut bermain. Dia pergi ke kolam ikan sendiri dan tidak mau diajak untuk kembali bermain dengan Ara.


Kepada baby sitter, Anjani hanya berpesan agar mereka berdua, diawasi saja jika sedang bermain. "Asal tidak ada yang membuat mereka berdua dalam bahaya dan tetap aman, biarkan mereka berdua berinteraksi dengan cara mereka sendiri."


Begitulah pesan Anjani pada baby sitternya. Dia tidak ingin, jika anak-anaknya itu, tumbuh dalam keadaan terkekang atau merasa diawasi terlalu ketat. Dia ingin mereka tumbuh kembang selayaknya anak-anak.


"Besok besal Nanda mau jaga Ala, kalau ada yang jahat pada Ala, Nanda yang lawan ya Mbak," kata Nanda pada baby sitternya.


Baby sitter tersebut hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan Nanda yang sok dewasa.


"Memangnya Nanda kalau sudah besar mau jadi apa?" tanya baby sitter, yang ingin tahu, bagaimana pikiran Nanda yang berlagak seperti orang dewasa itu.


"Mau jadi kayak ayah Abimanyu. Bisa jaga semua olang yang ada di dekatnya. Ayah Abimanyu baik kan Mbak? Nanda mau kayak ayah Abimanyu..."


Baby sitter tersenyum-senyum sendiri, mendengar jawaban dari Nanda yang serius dengan eskpresi wajahnya yang lucu dan menggemaskan.


"Kalau mau jadi kayak ayah Abimanyu, Nanda harus banyak belajar dan mau diajari yang baik-baik. Tidak boleh ngambek-ngambek juga ya! Kalau suka ngambek-ngambek, nanti tidak jadi baik kayak ayah Abimanyu," kata baby sitter, menasihati Nanda.

__ADS_1


Nanda mendengarkan nasihat dari baby sitter tersebut dengan serius. Dia juga mengangguk-anggukkan kepalanya tanda jika dia mengerti apa yang dikatakan oleh baby sitter tersebut.


__ADS_2