Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rencana Pulang ke Indonesia


__ADS_3

"Mbak Jani gak usah ikut jemput Miko sama Anggi. Sekar mau ngobrol nih," kata Sekar, waktu siang hari, saat dia datang bersama dengan bibi pembantu rumahnya, yang akan berangkat ke sekolah Miko dan Anggi, untuk menjemput mereka berdua.


"Bibi tolong jemput sendiri ya." Sekar ganti berbicara dengan bibi pembantu rumahnya.


"Njeh Bu," jawab pembantu rumah tangga Sekar, dan langsung pergi keluar rumah lagi, karena tidak menunggu Anjani, yang biasanya menemaninya pergi menjemput anak-anak.


"Tumben, ada apa nih?" tanya Anjani, pada mamanya Miko, Sekar.


Biasanya, Sekar akan beristirahat jika siang hari seperti sekarang ini. Dan bibi pembantu rumah, yang menjemput Miko, yang kadangkala di temani oleh Anjani.


"Sekar mau ngobrol saja sama mbak Jani. Kalau di rumah sendiri kan sepi, apalagi siang-siang begini Mbak," jawab Sekar memberi alasan.


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Sekar, yang memang ada benarnya. Apalagi, jika anak-anak belum pulang sekolah. Rumah memang terasa sepi. Tidak ada suara anak-anak, yang biasa meramaikan suasana rumah menjadi lebih hidup.


Sekarang mereka berdua, duduk di kursi tamu, berbincang-bincang tentang banyak hal.


"Oh ya mbak Jani, Yasmin ada rencana pulang ke Indonesia bulan depan lho!" kata Sekar memberitahu kabar adiknya, Yasmin, yang sekarang berada di negara Taiwan sana, bersama dengan suami dan anaknya.


"Wah, benarkah?" tanya Anjani memastikan. Dia baru mendengar rencana adik iparnya itu.


"Iya, katanya Nanda mau sekolah di Indonesia saja."


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan dari adik iparnya, Sekar.


Akhirnya, Sekar menceritakan kepada Anjani, tentang kabar adiknya, Yasmin yang baru-baru ini. Juga keponakannya, Nanda, yang sekarang sudah besar, dan sudah sekolah tingkat SMA, jika berada di Indonesia.


Anjani memang tidak begitu sering mendapat kabar dari Yasmin. Mungkin karena Yasmin juga berpikir bahwa, Anjani rumahnya juga dekat dengan kakaknya, Sekar atupun rumah ibu dan ayahnya.


Jadi bisa dipastikan jika Anjani juga akan tahu kabarnya, dari mereka-mereka. Apalagi, Nanda juga sudah sering mengirim pesan pada Ara.


Mereka berdua, Ara dan Nanda, memang sudah dekat sedari kecil. Itu karena dulu, Nanda ikut hidup bersama dengan keluarga Anjani. Baik saat berada di Jakarta ataupun di Bogor.


Nanda juga sudah terbiasa dengan memangil Anjani dan Abimanyu dengan sebutan ayah dan bunda. Sama seperti Ara, ya terbiasa dengan sebutan itu.


"Dia pasti sudah besar. Aku bisa-bisa pangling pas ketemu Nanda," ujar Anjani, membayangkan bagaimana pertumbuhan badan Nanda, yang dulu terbiasa dengan dirinya, waktu masih kecil.


"Tentunya Mbak. Dulu aja, badannya Nanda, melebihi anak-anak seusianya. Bongsor sih dia!" sahut Sekar, yang ikut mengingat-ingat, bagaimana bentuk tubuh keponakannya sendiri, Nanda, waktu dulu.


Dan begitulah akhirnya, mereka berdua berbincang-bincang seperti biasa, tentang berbagai macam hal. Sampai tidak terasa, waktu Miko dan Anggi datang, bersama dengan bibi pembantu rumah.


"Mama!"


"Bunda!"


Miko dan Anggi, bersamaan mengapa mereka berdua. Dengan berlari-lari kecil, sambil melompat-lompat kegirangan.

__ADS_1


"Eh, kok gak kasih salam sih, kan baru saja datang dan masuk ke dalam rumah," kata Anjani, mengingatkan mereka berdua.


Miko dan Anggi, sama-sama tersenyum sambil nyengir kuda, karena merasa bersalah.


"Assalamualaikum bunda Jani..."


"Assalamualaikum mama Sekar..."


Akhirnya, mereka berdua mengucapkan salam juga, pada Anjani dan Sekar, yang tersenyum senang, melihat tingkah anak-anak mereka.


"Terima kasih ya Bu Lek," ucap Anjani, pada bibi pembantu rumah Sekar.


"Sama-sama Bu Jani."


Anjani beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke arah dapur. Dia mengambil minuman, untuk diberikan kepada bibi pembantu rumah.


"Ini Bu Lek, minum dulu."


Anjani memberikan gelas berisi air, untuk diminum oleh bibi pembantu. Dia juga mempersilahkan pada bibi pembantu, untuk mencicipi kue buatannya, yang ada di meja tamu.


"Oh ya Bi, ini ada kue. Ayo di makan. Miko, Anggi. Anjani menyodorkan piring berisi kue pada bibi pembantu, Miko dan Anggi.


Miko dan Anggi, ikut-ikutan mengambil kue tersebut, dengan berebutan.


Sekar panik saat anak-anak mereka berebutan.


"Hehehe... udah biasa. Biarin aja," kata Anjani dengan tersenyum sambil mengeleng beberapa kali pada adik iparnya itu.


"Maaf lho Mbak Jani, kalau Miko sering ngerepotin dan juga nakal," kata Sekar, meminta maaf pada Anjani.


Anjani mengangguk, tapi juga menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum-senyum sendiri.


"Gak apa-apa. Namanya juga anak-anak," sahut Anjani cepat.


Tak lama kemudian, Sekar mengajak Miko dan bibi pembantu rumah, untuk pulang ke rumah.


Mereka bertiga, berpamitan pada Anjani dan juga Anggi. Meskipun sebenarnya, Miko masih belum mau pulang sekarang, karena dia terbiasa bermain bersama Anggi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah sore hari.


Tapi karena sekarang mamanya, Sekar, juga sudah sehat dengan perutnya yang membesar juga, tapi ada bibi pembantu rumah, yang membantu mamanya, untuk pekerjaan rumah dan juga ikut menjaganya juga.


Padahal sebenarnya, Miko merasa tidak perlu repot-repot dijaga lagi. Miko berpikir bahwa, dia sudah besar, dan bisa menjaga dirinya sendiri, tanpa perlu dijaga lagi oleh orang lain.


*****


Ara dan teman-temannya, sudah bersiap untuk pulang, saat bel sekolah berbunyi.

__ADS_1


"Ra, Kamu dijemput kan?" tanya teman Ara, yang sudah sangat hafal, jika Ara ada tukang ojek, yang mengantar jemput dirinya.


"Iya. Meskipun tadi pagi motornya bocor, pasti sore ini udah gak, udah ditambal juga," jawab Ara, menjelaskan.


"Kalau ternyata belum gimana?" tanya teman Ara lagi, berandai-andai.


"Eh, jangan ngatain gitu dong! Aku harus ke halte sebelah sana, kalau mau ke arah rumahku, lumayan jauh juga tuh!"


Ara jadi membayangkan bagaimana lelahnya dia hari ini, jika apa yang dikatakan oleh temannya itu benar-benar terjadi.


"Moga aja, ada pangeran ganteng kayak tadi pagi..."


Temannya Ara, justru berandai-andai, sambil membayangkan sesuatu yang tidak bisa dibayangkan oleh Ara sendiri.


Tadi pagi, saat Ara masuk ke dalam kelas, dia memang menceritakan tentang kejadian yang dia alami saat motor tukang ojeknya bocor, dan dia terpaksa ikut seseorang yang tidak dikenal, supaya tidak terlambat datang ke sekolah.


"Wah, kalau dalam cerita-cerita klasik, itu pasti seorang pangeran dengan kuda putihnya..."


Begitulah tadi pagi, komentar temannya Ara, saat Ara selesai bercerita.


"Ngaco!"


Ara mengeleng, mendengar perkataan temannya itu. Sekarang, dia sudah menenteng tas sekolahnya, sebelum dia posisikan di gendongan.


"Tapi Kamu kenal dia gak sih Ra?" tanya temannya itu, mendesak Ara, supaya mengatakan siapa nama kakak kelasnya itu, yang sudah menolong Ara tadi pagi.


"Gak tahu, hehehe..."


Ara menjawab dengan terkekeh geli, karena baru sadar bahwa, dia juga tidak tahu nama orang yang sudah menolongnya tadi pagi.


"Dia pakai helm full face, mana aku kenali wajahnya. Aku hanya lihat helm dan motornya saja. Eh, jaketnya juga ding!"


Jawaban yang diberikan oleh Ara, membuat temannya itu membelalakkan mata. Dia berpikir bahwa, Ara sudah mengenali kakak kelasnya itu. Ternyata tidak. Tapi dua juga merasa senang, karena dengan begitu, Ara bisa tahu, meskipun hanya sebatas atribut yang dikenakan kakak kelasnya, jika suatu waktu, mereka berdua bertemu lagi nanti.


Ara juga berpikir hal yang sama, seperti yang dipikirkan oleh temannya. Tapi dia tidak mau memikirkan hal itu. Dia hanya ingin berterima kasih pada orang tersebut, seandainya di kesempatan untuk bisa bertemu lagi.


Dan Ara berharap, jika hal itu tidak akan lama lagi. Dia merasa berhutang kepada kakak kelasnya itu, untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang diberikan.


"Moga aja bisa ketemu lagi, dan Aku bisa berterima kasih padanya," gumam Ara, yabg terdengar tidak jelas di telinga temannya itu.


"Apa Ra?" tanya temannya itu, memastikan pendengarannya sendiri.


"Gak apa-apa. Udah yuk pulang!"


Ajak Ara dengan menarik tangan temannya, supaya keluar dari dalam kelas.

__ADS_1


__ADS_2