
"Cie... calon pengantin. Mau ke mana Kak?" tanya Miko, begitu melihat Ara, yang sepertinya sudah siap untuk pergi.
"Halahhh bocah! Mau tau aja," sahut Ara sambil melenggang begitu saja.
"Widih... calon pengantin somse. Sombong sekali! Wkwkwk..." Miko kembali tertawa terbahak-bahak, di saat selesai mengatai kakaknya, Ara, sebagai calon pengantin yang sombong.
"Ihsss..."
Tapi Ara tidak mau terpengaruh dengan candaan adiknya itu. Dia terus saja berjalan menuju ke arah ayahnya, yang ada di ruang tamu.
"Yah. Jadi pergi sekarang?" tanya Ara, dengan mendudukkan dirinya di samping ayahnya.
"Bentar Kak. Nunggu bunda dulu ya!"
Ara mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. Sambil menunggu kedatangan bundanya, Ara mengeluarkan handphone miliknya. Untuk menghubungi kakak sepupunya, Nanda.
"Yah. Mau ke mana?" tanya Anggi, yang datang bersama dengan Miko. Mereka berdua, berjalan mendekat ke tempat duduk ayahnya, Abimanyu.
"Ke rumah eyang Dek," jawab Abimanyu, memberitahu Anggi.
"Kok Anggi gak di ajak?" tanya Anggi, dengan bibir mengerucut.
"Kamu kan ada Miko. Ngapain ikut?" Ara menyahuti, tanpa di minta untuk menjawab.
"Ihhh..."
Anggi menghentakkan kakinya di lantai. Dia merasa kesal, karena diabaikan begitu saja. Padahal, mereka semua mau ke rumah eyangnya, ayah Edi.
"Kita ikut aja Anggi. Naik sepeda yuk!"
"Ayok! Kita ke sana aja dulu," sahut Anggi dengan antusias. Dia begitu bersemangat, saat Miko mengatakan untuk pergi dengan mengunakan sepeda.
"Ehhh... gak-gak! Ingat gak kalian berdua pernah nyungsruk ke got?"
Ara memperingatkan pada kedua adiknya itu, akan hal yang pernah terjadi pada mereka berdua. Pada saat mereka naik sepeda di waktu liburan tahun lalu.
"Ah, gak-gak Kak. Yakin deh! Sekarang gak akan kayak dulu lagi ya Miko?"
Miko langsung mengangguk mengiyakan perkataan Anggi. Karena dia juga ingin bersepeda bersama dengan Anggi. Apalagi sekarang ada alasan untuk pergi ke rumah eyangnya.
Meskipun sebenarnya jarak rumah ayahnya ini dekat dengan rumah eyangnya. Tapi akan lebih asyik lagi jika, mereka berdua berputar-putar terlebih dahulu. Agar bisa sampai di rumah eyangnya, bersamaan dengan kedatangan ayah dan bundanya. Yang datang bersama dengan kakaknya, Ara.
"Terserah Kalian berdua lah. Yang penting, Kakak udah ingatkan ya!"
"Ok Kak!"
"Siap Kak!"
Anggi dan Miko bersamaan menyahuti perkataan Ara. Setelah itu, mereka berdua berlarian menuju ke arah luar rumah.
Mereka berdua pergi terlebih dahulu. Padahal, Ara dan Abimanyu masih menunggu Anjani yang belum keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Miko, Aku yang di depan ya?" Anggi meminta pada Miko, supaya dia yang kali ini memboncengkan Miko.
"Gak. Aku aja!"
Sepertinya, Miko tidak yakin dengan kemampuan Anggi dalam bersepeda. Dia merasa takut jika, Anggi akan oleng dan jatuh di jalan.
"Aku bisa Miko!"
Tapi Anggi tetap saja gak mau kalah. Dia ngotot minta di depan. Karena sepedanya Miko, sekarang sudah ganti dengan sepeda yang ada boncengan di belakangnya.
"Gak ya gak!"
"Ihsss, pelit!"
Mereka berdua justru saling berdebat. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Mereka sama-sama mau di depan, dan memboncengkan yang lainnya.
Dan dari ayah dalam rumah,ayah dan bundanya sudah tampak keluar, bersama dengan kakaknya, Ara.
"Eh, kalian belum pergi? gak jadi ikutan?" tanya Ara, yang melihat kedua adiknya masih ada di depan rumah.
"Ini nih Miko Kak," sahut Anggi cepat.
"Apa? Kamu kan yang gak mau Aku boncengin," sahut Miko, yang tidak mau disalahkan oleh Anggi.
"Udah Kak. Biarin aja mereka berdebat sampai tahun depan juga," ucap Abimanyu, yang tersenyum melihat tingkah ke-dua anak kecil di depannya saat ini.
"Adek mau ikut ke rumah eyang?" tanya Anjani, yang belum tahu jika, Anggi dan Miko bermaksud untuk ikut serta ke rumah eyangnya.
"Ya udah yuk, kita jalan aja!" ajak Anjani, agar Anggi dan Miko tidak lagi berdebat.
"Iya deh. Dari pada sama Miko. Mendingan kita jalan aja ya Bun!" ucap Anggi, dengan tersenyum miring.
Miko jadi tidak enak hati. Dia merasa diabaikan oleh Anggi, yang tadi sepakat untuk pergi ke rumah eyangnya dengan mengunakan sepeda..
"Anggi gimana sih?" tanya Miko, yang sekarang ini jadi manyun.
"Ya makanya. Aku aja yang di depan ya?"
Sepertinya, Anggi memaafkan situasi yang ada. Dia merasa mendapat angin, karena alasan yang dia lakukan untuk membuat Miko merasa terabaikan.
Dan sepertinya, taktiknya itu Berhasil. Dia tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah bundanya.
Anjani hanya tersenyum tipis, melihat tingkah anaknya itu. Dia juga tersenyum senang, melihat Miko yang pada akhirnya mengalah untuk menyerahkan sepedanya kepada Anggi.
Tapi karena Miko takut dibonceng sama Anggi, dia memilih untuk berjalan kaki. Dia berjalan bersama ayah dan bundanya Anggi. Dan tentu saja bersama dengan Ara juga.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Ihsss, gak enak banget. Aku malah sendirian, kan ini, "keluh Anggi, yang saat ini sudah mengayuh sepedanya seorang diri.
Anggi merasa sepi. Karena tidak ada teman, yang bisa dia ajak untuk berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Menuju ke rumah eyangnya saat ini.
__ADS_1
Dan di lain pihak, Miko berjalan bersisian dengan ayahnya Anggi, Abimanyu.
Mereka berdua berbincang-bincang dengan santai, sambil berjalan.
Di depan mereka, ada Anjani dan juga Ara. Mereka berdua juga sama seperti Miko dan Abimanyu. Saling berbicara tentang banyak hal. Terutama tentang masalah pernikahan Ara, yang sebenar lagi akan segera dilaksanakan.
Di ujung jalan menuju gang rumah ayah Edi, Anggi berhenti menunggu. Dia tidak mau datang lebih cepat, dan tidak bersama-sama dengan keluarganya yang lain.
"Ngapain Adek Bun? Kok gak langsung ke rumah eyang," tanya Ara, yang merasa heran dengan tingkah adiknya.
"Biarin aja lah. Suka-suka dia. Gak usah ditegur juga ya!" sahut Anjani, yang meminta Ara untuk tidak menegur adiknya nanti, jika mereka sudah sampai di dekatnya Anggi.
"Hemmm..."
Ara hanya menghela nafas panjang, dan tersenyum mendengar perkataan yang diucapkan oleh bundanya.
Tapi ternyata, Miko yang berteriak keras memangil Anggi.
"Woi Anggi! Ngapain Kamu di situ? Kayak patung peringkat di pinggir jalan aja," ucap Miko dengan bersemangat.
Sepertinya Miko memang sengaja meledek, agar Anggi merasa tidak tenang.
Dan bisa dipastikan bahwa, Anggi tidak akan terima dengan ledekan Miko. Dia pasti akan membalasnya dengan segera.
Tapi ternyata Anggi hanya diam saja. Dia sibuk dengan handphone di tangannya. Entah apa yang sedang dia lakukan.
Karena jarak antara Anggi dengan rombongan keluarganya, masih beberapa meter lagi. Jadi, apa yang dilakukan oleh Anggi tidak bisa dilihat dengan jelas.
Ara dan juga Miko, berpikir jika Anggi sedang melakukan siaran langsung. Atau bisa juga sedang mengunggah foto ke akun sosial media miliknya.
Tapi ternyata mereka berdua salah sangka. Karena pada kenyataannya, Anggi tidak melakukan apa-apa.
Dia hanya melihat-lihat koleksi foto yang dia miliki saat masih berada di Amerika.
Dan itu adalah foto-foto dirinya sendiri, yang kadang ada Ahmed juga.
Anggi sedang teringat dengan teman dekatnya, Ahmed.
"Kamu bisa datang gak ke acara pernikahan kak Ara?"
***
Hai gaes, baca juga novel TK Tante Melinda yuk!
Novel ini menceritakan tentang kehidupan seorang pekerja pabrik. Tapi dia pernah mengalami pelecehan sekkksual pada waktu masih kecil. Kelas dua SD!
Dan akibatnya, dia mengalami hal-hal yang tidak seharusnya dia lakukan pada saat sudah berkeluarga.
Dari pada penasaran, yuk baca langsung!
__ADS_1