Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Siswa Populer


__ADS_3

Sore ini, Anjani sedang mengurus anaknya yang ke-dua, yang saat ini baru saja selesai buang air. Sedangkan Ara, baru pulang dari sekolah.


Ara, ada di sekolah dasar dan sudah di kelas enam. Sebentar lagi, dia akan lulus dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, yaitu SMP.


"Bunda. Ara di terima di SMP yayasan, yang ada di dekat kantor eyang putri. Yayasan yang besar dan terkenal itu Bunda!"


Ara datang, dengan menceritakan kepada Anjani, dengan apa yang dia terima tadi, saat berada di sekolah. Dia bercerita dengan bersemangat.


Dia, sudah kelas enam sekolah dasar, dan beberapa bulan lagi, dia akan naik ke tingkat tujuh. Dan itu artinya, dia harus pindah sekolah juga.


Karena dia ikut program pengajuan beasiswa berprestasi ke sekolah yayasan besar, satu bulan yang lalu, sekarang dia menerima kabar gembira untuk pengajuan beasiswanya itu.


Ara diterima, dan dua hari lagi, ada tes untuk seleksi lagi, secara tertulis dan langsung, untuk syarat akhir penerimaan beasiswa tersebut.


Yayasan besar tersebut, tidak hanya meminta sebuah laporan secara tertulis yang ada di dalam persyaratan, tapi juga ingin melihat kemampuan calon siswanya secara langsung.


Jadi, siswa siswi yang masuk, benar-benar mereka uji sendiri, dan bukan hanya lewat laporan dari sekolah asal mereka.


Dan Ara, ikut menjadi salah satu peserta yang lulus seleksi beasiswa tersebut.


Tentu saja, kabar dari anaknya, Ara, membuat Anjani merasa sangat senang. Itu artinya, Ara harus lebih giat lagi untuk belajar dan berlatih mengerjakan soal.


"Apa itu benar Sayang?" tanya Anjani, setelah dia selesai melakukan kegiatannya, dengan anak keduanya.


"Iya Bunda. Ini kertas pemberitahuannya. Tadi, diberikan oleh wali kelas Ara, saat mau pulang sekolah."


Ara menceritakan tentang kertas pemberitahuan tersebut. Di sekolah Ara, hanya ada dua anak yang lolos, dan salah satunya adalah Ara sendiri.


"Dua hari lagi, Ara akan ikut seleksi beasiswa secara langsung di yayasan tersebut. Langsung di sana Bunda," kata Ara menjelaskan.

__ADS_1


Anjani memeluk anaknya itu dengan rasa bangga.


"Kamu yang semangat ya. Rajin belajar dan lebih giat lagi untuk berlatih," ujar Anjani, memberitahu Ara.


Ara mengangguk cepat, mengiyakan perkataan bundanya.


"Ya sudah, sekarang Ara pergi mandi, kemudian makan dulu ya. Setelah itu, belajar. Ada pekerjaan rumah tidak?"


Anjani, meminta pada Ara, untuk melakukan kegiatannya yang seperti biasanya sendiri. Ara memang sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri, karena Anjani melatihnya untuk mandiri sedari kecil.


"Hari ini, Ara bebas tugas rumah Bunda. Jadi, Ara di minta untuk belajar, agar bisa siap saat ikut seleksi besoknya. Teman Ara juga sama kok. Jadi, kita cuma diminta untuk tetap belajar saja di rumah."


Ara menerangkan kepada Anjani, tentang tugasnya selama dia hari ini. Dan Ara, begitu bersemangat untuk mengikuti seleksi beasiswa tersebut.


"Oh ya Bunda. Di sekolah itu kan ada asrama juga, Ara boleh tidak, kalau mau tinggal di asrama saja, jika sudah di terima?" tanya Ara, sebelum pergi dari kamar bundanya, Anjani.


"Kenapa Sayang? Kenapa mau tinggal di asrama? Apa Ara bisa?" tanya Anjani ingin tahu, apa alasan Ara sehingga mau tinggal di asrama sekolah itu.


Tidak boleh telat, dan tidak boleh bolos sekolah tanpa ada keterangan yang jelas. Jika sampai terjadi, siswa siswi tersebut akan di DO, setelah mendapat teguran dan juga peringatan untuk bisa berubah. Tapi itu tidak bisa dengan waktu yang lama, karena kebanyakan siswa yang sudah kena teguran dan peringatan, tak lama akan di DO, karena akan terus mendapatkan perhatian khusus dari para guru-guru yang selalu disiplin dalam menerapkan peraturan yang ada.


Anjani, memberikan beberapa penjelasan dan nasehat untuk anaknya, Ara. Anjani berharap agar anaknya dapat beradaptasi dengan semua peraturan yang berlaku di yayasan tempat dia mendapatkan beasiswa tersebut.


Apalagi Ara, sebagai siswa beasiswa, tentu semua kegiatan yang dilakukan akan mendapatkan perhatian khusus dari pihak sekolah. Pihak yayasan tersebut, tidak mungkin membiarkan anak-anak yang mendapat beasiswa berprestasi, akan menjadi seperti siswa yang lainnya, yang membayar mahal, untuk bisa bersekolah di sana.


Ara pun bersiap-siap untuk bisa menjalani hari-harinya nanti, di sekolah yang berkualitas dan menjadi idaman banyak orang, termasuk dirinya sendiri dan juga teman-temannya.


*****


Nanda sangat senang, saat mendapat kabar melalui email, dari Ara. Dia merasa jika Ara pantas untuk mendapat beasiswa tersebut.

__ADS_1


...'Kamu pasti bisa Ara, semangat ya. Tunjukkan jika Kamu bisa menjadi yang terbaik pada semua orang.'...


Tulis Nanda, saat membalas pesan dari adik sepupunya, Ara.


...'Pasti *Kak. Kakak kapan pulang ke Indonesia?'...


...'Tidak tahu. Mama belum ada rencana untuk pulang ke Indonesia. Tapi sekarang ini, mama sedang hamil. Mungkin nanti mau lahiran di Indonesia, jadi pulangnya sekalian juga.'...


...'Apa Kakak ikut pulang juga?'...


...'Mungkin.'...


...'Sekolah di Indonesia saja kak.'...


'Sulit jika harus ganti pelajaran. Belum tentu sama kan? Apalagi kakak sebentar lagi ada ujian juga. Nanti, jika diperbolehkan mama, Kakak akan sekolah di Jakarta. Tapi kalau sudah ganti tingkatan, jadi tidak separo jalan*.'


Begitulah, Ara dan Nanda sering berkomunikasi lewat pesan email yang mereka miliki. Meskipun jarak jauh yang memisahkan mereka berdua, tapi mereka berdua selalu menyempatkan waktu untuk bisa saling bertukar kabar melalui pesan email.


"Jadi saat ini tante Yasmin sedang hamil. Semoga saja, dia akan melahirkan di Indonesia saja. Jadi tante pasti pulang, dan Kak Nanda, bisa ikut pulang juga ke Jakarta," kata Ara dalam hati.


Dia membayangkan kakak sepupunya itu, yang sekarang ini sudah sangat besar dan tinggi. Apalagi, saat ini, Nanda juga sudah bersekolah tingkat SMP, jika ada di di Indonesia. Jadi, pasti dia sudah besar. Tidak lagi kecil, sama seperti dirinya yang sekarang ini.


Ara juga tumbuh dengan baik dan tinggi. Meskipun Ara belum bisa dikatakan besar, setidaknya, dia tubuh normal, menjadi gadis remaja yang memiliki tubuh seperti layaknya remaja pada umumnya.


Ara juga tumbuh jadi anak yang ceria dan cerdas. Dia selalu berprestasi dan sering menjadi wakil sekolah, jika ada ajang perlombaan di beberapa tempat, di departemen pendidikan, yang setingkat dengan sekolah dasar.


Selain itu, Ara juga mempunyai tingkat kepercayaan diri yang baik, sehingga para guru, suka memintanya untuk bisa membawakan lagu ataupun menjadi MC di berbagai acara sekolah.


Ara banyak memiliki teman, karena dia anak yang ramah dan suka menolong. Meskipun dia tidak sama seperti anak-anak yang dari keluarga kaya, tapi dia tidak pernah merasa minder, karena dia selalu melakukan semua bukan karena melihat dari status sosial mereka. Tapi murni dari rasa simpati dan pertemanan yang tulus.

__ADS_1


Itulah sebabnya, Ara banyak dikenal oleh sebagian besar siswa siswi di sekolahnya. Apalagi, dia juga pintar, jadi dia menjadi siswa populer dan idola untuk anak-anak yang ada di tingkat bawahnya juga, meskipun masih ada di sekolah dasar.


__ADS_2