Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Sebuah Ambisi


__ADS_3

"Anggi ke mana tadi?"


"Kak. Adek ke mana?" tanya Anjani, pada anaknya, Ara. Sedari tadi, Anggi tidak terlihat olehnya.


"Tidak tahu Bun. Tadi, ngobrol di sini dengan Miko," jawab Ara, sambil menunjuk ke tempat yang tidak jauh dari tempatnya berada saat ini.


Tapi yang dicari tidak ada.


Sekarang, Ara mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tapi tetap saja, adiknya itu tidak terlihat olehnya.


Begitu juga dengan Anjani. Dia tidak menemukan, di mana anaknya yang sering membuat kekacauan, jika sedang ada acara.


"Mungkin makan bersama dengan Miko," ujar Nanda, yang memang ada bersama dengan Ara, dan juga Awan.


"Hah iya juga. Mungkin ada di dapur Bun," sahut Ara, dengan cepat.


Akhirnya, Ara dan Anjani mencoba untuk mengecek keberadaan Anggi dan Miko, yang mungkin saja, sedang berada di dapur.


"Tadi kan sudah ada makanan di luar. Yang di dapur untuk acara makan-makan nanti." Anjani merasa khawatir jika anaknya itu akan membuat ulah, dengan mengacaukan makanan yang sudah ditata dengan baik oleh ibu Sofie dan juga adik-adik iparnya tadi.


Anjani pasti akan merasa tidak enak hati jika, Anggi melakukan kekacauan ini.


Dan pada saat mereka berdua, Anjani dan Ara, tiba di dapur, mereka melihat Anggi dan Miko.


"Anggi. Miko!" Panggil Ara dengan cepat, di saat melihat keduanya.


"Kakak, bikin kaget tau!" seru Anggi, sambil memegang dadanya, karena rasa kagetnya, ketika mendengar panggilan dari kakaknya.


"Bunda. Hehehe..."


Miko, yang menyapa Anjani, sambil terkekeh kecil. Dia salah tingkah karena ketahuan sedang mengabsen semua isi tempat makanan, yang semuanya ditutupi.


Ibu Sofie sengaja menutupi semua makanan yang ada di dapur, untuk menghindari adanya serangga-serangga kecil, atau cicak yang akan mendekati makanan.


Ternyata kedua anak itu, Anggi dan Miko, sedang melihat-lihat semua makanan, dengan membuka penutupnya.


Untungnya, Anggi dan juga Miko, belum sempat mengincipi makanan tersebut, satu persatu.


"Huh... Kalian ini, bisa tidak sih jika tidak memikirkan makanan saja?" tanya Ara, dengan kelakuan kedua adiknya itu.


"Sudah-sudah Kak. Jangan diributkan. Sebentar lagi waktunya makan. Jadi, kita siap-siap untuk mengeluarkan makanannya saja."


"Ayo Anggi Miko, dibantuin ya!"


Anjani menengahi pembicaraan Ara, agar tidak marah dan membuat kekacauan lagi di dapur.

__ADS_1


Apalagi, sekarang waktunya untuk mereka menjamu tamu-tamu yang ada.


Anggi dan Miko, hanya menurut saja. Apalagi, mereka berdua tadi, memang berniat untuk makan terlebih dahulu sebelum waktunya orang-orang untuk makan.


"Ketahuan kita. Hehehe..."


Miko berbisik pada Anggi, yang berjalan di sampingnya dengan membawa mangkuk rendang.


"Kurang cepat kita," sahut Anggi, sambil berisik, kemudian berjalan menuju ke arah ruang tamu dengan langkah lebar.


Anggi tidak mau Ketahuan lagi sama kakak dan juga bundanya. Bisa-bisa, dia akan kembali mendapatkan ceramah, sebelum bisa menikmati semua makanan yang saat ini sudah ingin dia santap.


Dia tidak melewatkan kesempatan, untuk bisa makan sepuasnya. Dengan menu lidahnya, yang tentunya akan berbeda, pada saat berada di Amerika kemarin-kemarin.


*****


Di rumah sakit, Mita baru saja ditinggal sendirian bersama dengan bibi pembantu rumah, yang bertugas menemaninya, selama di rawat.


Tadi, meskipun kedua orang tuanya ingin tahu juga, apa isi kotak yang tadi tadi berikan Dika padanya, Mita menolak untuk membukanya.


Karena, Dika berpesan agar Mita membukanya sendiri, pada saat menjelang tidur.


Dan sekarang, di saat sudah tidak ada orang lain, kecuali bibi pembantu rumah, yang ada bersama dengannya, Mita berniat untuk membuka kotak tersebut.


Dia juga merasa penasaran, dengan apa yang menjadi isi dari kotak pemberian kekasihnya itu.


Mita hanya tersenyum saja, di saat mendengar permintaan dari temannya itu.


Dia juga tidak mungkin, memberitahukan kepada mereka, apa isi kotak yang tadi dia terima. Karena itu adalah hal yang mungkin saja, merupakan sesuatu yang penting, untuk hubungannya dengan Dika. Sang kekasih hatinya.


Dengan penuh hati-hati, Mita membuka kotak yang dia simpan di bawah selimut.


Dia menyimpannya di dalam selimut, karena tidak ingin ada orang lain yang penasaran, dan membukanya di saat dia sedang lengah atau tertidur.


Begitu membuka kotak yang sekarang ini dia pegang, Mita tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Kotak merah pemberian Dika, ternyata berisi kalung, dengan bandul bermata giok zamrud.


Ada juga tulisan Dika, yang memberitahukan bahwa, 'giok zamrud ini bisa memberikan energi positif, agar Kamu selalu sehat.'


"Kak Dika..."


Mita menyebut nama Dika, dengan mengengam kalung tersebut dan membawanya ke dada.


Dia merasa jika, Dika begitu perhatian. Meskipun tampak acuh dan tidak sering datang ke rumah sakit untuk menemani dirinya, selama di rawat beberapa hari ini.

__ADS_1


Lama kelamaan, Mita tersedu sendiri dalam keharuannya. Dan apa yang terjadi pada Mita, terdengar oleh bibi pembantu rumah, yang bertugas menjaga dirinya.


"Neng. Neng tidak apa-apa? apa ada yang sakit?" tanya bibi pembantu rumah, dengan mendekat ke tempat tidur Mita.


Mita yang dalam keadaan duduk bersandar pada bantal, mengeleng beberapa kali. Namun, dia tidak mengeluarkan suaranya, untuk menjawab pertanyaan dari bibi pembantu rumah.


"Tapi kenapa nangis Neng?" tanya bibi lagi, dengan perasaan yang bingung.


"Emhhh... gak apa-apa kok Bi. Mita... Mita cuma pengen cepat pulang," jawab Mita, memberikan alasan mengapa dia menangis.


Padahal, dia merasa sangat dicintai oleh Dika. Cowok yang saat ini menjadi kekasihnya itu.


"Oalah Neng... orang sakit di rumah sakit memang begitu. Kangen rumah, gak betah pokoknya. Meskipun ada di dalam kamar rawat yang bagus sekalipun, tetap saja lebih enakan di rumah. Iya kan Neng?"


Mita menganggukkan kepalanya, mendengar perkataan dari bibi pembantu.


Dan memang seperti itu juga, yang dirasakan oleh Mita. Selain perasaannya yang ada untuk Dika.


*****


Di dalam kamar Dika.


"Si Mita pasti berpikir jika, Gue begitu perhatian terhadap dirinya. Padahal, huh..."


Dika berkata sendiri, saat membayangkan bagaimana Mita membuka kotak pemberiannya tadi.


Sekarang, Dika tampak tersenyum sinis. Membayangkan bagaimana seharusnya dia memutuskan Mita nanti.


"Untuk saat ini, biarin aja kayak gini. Mama dan papa juga masih butuh dana untuk perusahaan. Dan itu di dapat dari perusahaan milik papanya Mita. Jika bukan karena permintaan dari mama, ogah banget Gue."


Ternyata, Dika menjadikan Mita sebagai seorang kekasih, ada kaitannya dengan peran sang mama.


Semuanya demi kelancaran bisnis keluarganya, dan bukan karena rasa cinta.


"Oh iya, Gue mau cari sosial media milik Ara. Siapa tahu, sekarang ini dia sudah punya akun-akun yang lagi trend. Sama seperti yang lain."


"Masa iya, dia gak punya sih? Tapi... Mita pernah bilang, Ara gak pernah buat akun sosial media dari aplikasi manapun."


"Masa iya, ada orang yang seperti itu di zaman sekarang ini?"


Dika terus berdialog sendiri, membicarakan tentang Ara.


Cewek yang dulu pernah membuatnya merasa sangat malu, di hari pertama masuk sekolah.


Dan itu bukan di kelasnya sendiri, tapi di tingkat SMP, yang dianggap remeh oleh Dika.

__ADS_1


Tapi, cewek tersebut juga yang sangat sulit untuk didekati dan didapatkan oleh Dika, hingga sekarang ini.


__ADS_2