Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Ketemu Juga


__ADS_3

Akhirnya, diputuskan oleh Elang, jika pesta pertunangan Awan dan Ara, hanya pesta keluarga mereka saja.


Tapi, meskipun sederhana, tetap saja itu tidak bisa dibilang pesta yang kecil.


"Kita tidak usah sewa gedung Ma. Ini sederhana saja. Jadi lebih baik di rumah Abimanyu saja ya?" usul Elang, dengan bertanya pada mamanya.


"Bagaimana bisa muat rumah Abimanyu Lang? Halaman rumah Abimanyu itu, cuma muat untuk dua mobil. Masak iya, pakai jalan perumahan?"


Mama Amel tidak setuju, dengan usulan Elang. Mereka berdua, jadi berdebat mengenai lokasi pesta.


"EO minta secepatnya kita tentukan untuk lokasi. Biar mereka bisa memikirkan segala sesuatunya," ujar papa Ryan, mengingatkan pada istrinya itu, agar tidak terus-menerus mendebatkan hal kecil seperti ini.


"Bagaimana jika kita bicarakan ini besok lagi? Kan besok, Abimanyu sudah memberikan kabar pada kita," ujar Elang.


Sebenarnya, Elang sendiri tidak mau dipusingkan dengan segala sesuatu yang ribet dan susah, yang dibuat rumit oleh mamanya sendiri.


Elang berpikir bahwa, Awan dan Ara juga tidak mau dengan sebuah pesta yang meriah. Karena, mereka berdua tidak bisa lama berada di Indonesia.


Mereka berdua, Awan dan Ara, disibukkan dengan kegiatan kuliah mereka. Apalagi, Awan juga sedang ada di tahun terakhir masa kuliahnya, di tambah dengan jadwalnya di kantor. Karena Awan, sudah magang di kantornya sendiri, dengan di bimbing oleh Abimanyu. Calon mertuanya sendiri.


*****


Di rumah sakit.


Nanda kembali datang, untuk menjenguk Mita. Kemarin, dia tidak jadi masuk ke dalam kamarnya Mita karena, selain ada kedua orang tuanya, ternyata ada dua temannya juga.


Dan mereka berdua, temannya Mita, sedang membicarakan tentang dirinya, yang sudah membantu Mita pada saat pingsan di kampus.


Tok tok tok!


Nanda mengetuk pintu kamar Mita. Dia berharap bisa masuk ke dalam, dan tanpa diketahui oleh orang lain.


Meskipun sebenarnya, Nanda merasa yakin jika, ada seseorang yang berada di dalam, untuk menemani dan menjaga Mita.


Klek!


Tak lama kemudian, pintu dibuka dari dalam. Setelahnya, muncul seorang ibu-ibu, yang sudah tampak berumur.


"Pagi... Emhhh, ini benar dengan kamar pasien Mita?" tanya Nanda, yang merasa bingung sendiri, saat ingin menyapa orang yang tadi membukakan pintu untuknya.


Dia juga pura-pura tidak tahu jika, ini memang kamar yang ditempati oleh Mita, di masa perawatannya.


"Iya. Ini kamarnya non Mita. Dengan siapa ya? Apa temannya non Mita?" tanya Bibi pembantu rumah Mita, dengan menjawab pertanyaan dari Nanda.


"Ah, syukurlah."


Nanda mengucapkan syukur, karena perkiraannya tidak salah.


"Mari masuk Mas. Mari-mari!"


Nanda mengangguk, saat pintu dibuka lebih lebar lagi.

__ADS_1


Tapi, di tempat tidur pasien, tidak ada Mita. Nanda ingin bertanya pada bibi pembantu rumah, tapi dengan cepat, bibi memberitahu bahwa, Mita sedang berada di kamar mandi.


"Non Mita sedang ada di kamar mandi Mas. Duduk saja dulu Mas," kata bibi pembantu rumah, menawari Nanda untuk duduk terlebih dahulu.


"Iya Bi. Terima kasih."


Beberapa saat kemudian, pintu kamar mandi terbuka.


Klek!


Mita keluar dari dalam kamar mandi, dan terkejut dengan keberadaan Nanda, yang ada di dalam kamarnya.


"Kak Nanda?"


"Hai Mita. Selamat Pagi," ucap Nanda, dengan berdiri dari tempat duduknya.


Mita berjalan menuju ke tempat Nanda. Dia merasa jika, ada sesuatu yang tidak dia ketahui.


"Kak Nanda... Emhhh itu. Kak Nanda tahu dari mana Mita ada di sini?" tanya Mita dengan menyelidik.


"Oh. Itu, emhhh... anu. Kakak tau dari teman Kakak."


Nanda menjawab pertanyaan dari Mita, dengan gugup. Dia menyiapkan sebuah alasan, agar Mita tidak curiga dengan kedatangannya pagi ini.


"Teman Kakak? Maksudnya, teman Kakak itu kenal dengan Mita, dan tau jika Mita sedang di rawat di rumah sakit ini?"


Mita kembali bertanya-tanya, apa dan siapa yang memberitahu Nanda, dengan keberadaan dirinya sekarang.


Akhirnya, Nanda mengarang sebuah alasan, agar Mita tidak lagi bertanya-tanya. Dia juga mengalihkan perhatian Mita, supaya tidak fokus pada pertanyaannya yang tadi.


"Ya beginilah Kak."


Mita menjawab pertanyaan dari Nanda, dengan datar. Sepertinya, Mita tidak ada semangat dan merasa bosan. Karena harus terus-menerus berada di dalam kamar.


Apalagi, ini adalah sebuah kamar di rumah sakit. Tentunya sangat berbeda dengan keadaan kamar yang ada di rumah sendiri.


Bibi pembantu rumah, yang menemani Mita, minta ijin untuk keluar sebentar.


"Non. Bibi ijin keluar sebentar ya. Mau ada yang dibeli," kata bibi pembantu rumah, mengatakan jika dia sedang ingin membeli sesuatu di luar rumah sakit.


"Ya Bi. Hati-hati."


"Oh ya Bi, usah ada uangnya belum? ini Mita ada," kata Mita, mengingatkan pada bibi pembantu rumah.


"Ada Non. Mamanya Non Mita ninggalin uang kok, untuk keperluan bibi selama menunggui Non," jawab bibi pembantu rumah, dengan jujur.


"Oh, ya sudah. Hati-hati ya Bi. Cepat kembali lho!"


Bibi pembantu rumah tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Tapi, dia juga mengedipkan sebelah matanya, saat menunjuk ke arah Nanda.


Dia menggoda Mita, dengan menunjuk dengan isyarat dagunya.

__ADS_1


"Ah Bibi," kata Mita, dengan malu-malu.


Tapi, wajahnya Mita tampak memerah juga, di saat bibi pembantu rumah mengatakan jika, dia sudah ada yang menunggui, yaitu Nanda.


"Sudah-sudah. Sana bibi buruan pergi. Tapi ingat, cepat balik!"


"Hehehe... takut ada yang ganggu ya Non?" tanya bibi pembantu rumah, dengan maksud masih menggoda anak majikannya itu.


"Ihhh... Bibi."


Mita jadi merasa semakin malu, karena perkataan yang diucapkan oleh bibi pembantu rumah padanya.


Padahal, ada Nanda juga di antara mereka. Dan bisa dipastikan jika, Nanda mengetahui apa maksud dari perbincangan mereka tadi.


"Hihihi... iya-iya Non. Bibi keluar kok," sahut bibi pembantu rumah, dengan senyum-senyum yang dia sembunyikan.


Akhirnya, tinggal Mita dan Nanda yang ada di dalam kamar tersebut.


Tapi sayangnya, di saat mereka berdua baru saja mau berbicara, ada dua temannya Mita yang datang, tanpa mengetuk pintu kamar terlebih dahulu.


Klek!


"Pagi Mita!"


"Hai besti!"


Keduanya langsung menyapa Mita, tanpa melihatnya keadaan terlebih dahulu.


Dan mereka berdua, jadi terbelalak dan menutup mulutnya masing-masing, di saat melihat keberadaan Nanda di dalam kamar temannya ini. Kamar pasiennya Mita.


"Lho, ini kan Mas-mas yang kemarin?"


"Iya. Ini Mas yang kemarin nolongin Kamu Mit!"


Mita melihat dengan bingung, saat mendengar pertanyaan dan juga perkataan dia temannya itu.


"Mita, maaf ya. Kakak lupa jika ada pertemuan di kampus. Besok-besok, Kakak mampir ke sini lagi. Cepat sembuh ya," kata Nanda, yang langsung pamit.


Dia tidak ingin ditanya-tanya oleh kedua temannya Mita.


Apalagi, ternyata mereka berdua tidak lupa dengan wajahnya.


Mita belum sempat menjawab, tapi Nanda sudah keburu keluar dari dalam kamarnya.


"Kak Nanda kenapa aneh? Tiba-tiba datang. Tiba-tiba pergi." Mita bergumam dengan pertanyaan yang dia miliki.


"Hai. Ternyata ya..."


"Aku pikir Kamu gak kenal dia Mit. Ternyata udah..."


Kedua temannya Mita, tentu saja memiliki banyak pertanyaan dan praduga, tentang Nanda yang tadi kepergok mereka, ada di dalam kamar Mita.

__ADS_1


Padahal, Mereka berdua berpikir jika, Mita tidak mengenal Nanda, yang sudah menolong dirinya.


Sedangkan Mita sendiri memang tidak tahu jika, Nanda adalah orang yang kemarin-kemarin di bahas oleh kedua temannya itu. Yang sudah menolongnya saat dia pingsan di kampus.


__ADS_2