
Awan diam saja sedari tadi pagi. Dia menyahut ajakan temannya, Dika, saat istirahat tiba.
"Wan!" panggil temannya Awan.
Tapi sepertinya Awan tidak mendengar panggilan tersebut.
"Woi! Awan Samudra!"
Temannya tadi, mencoba untuk memanggil Awan lagi.
Tapi karena panggilannya tidak digubris oleh Awan, akhirnya Dika mendekati tempat duduknya Awan.
Pluk!
Dika menepuk pundak Awan.
Terlihat jelas jika Awan terkejut dengan tepukan tangan Dika, yang baru saja dia rasakan pada bahunya. Dari sorot mata Awan, yang sedang terkejut, tidak bisa membuatnya untuk segera menetralkan kembali wajah dan perasaannya sendiri.
"Apa?" tanya Awan pendek.
"Loe napa sih? Dari tadi dipanggil-panggil tidak denger. Melamun apa, siapa?" Dika bertanya pada Awan, dengan banyak pertanyaan.
"Harus dijawab gak?" Awan balik bertanya dengan nada datar.
"Hahaha... lebaran kucing aja jawabnya! Dasar Loe Wan."
Dika tertawa terbahak-bahak, mendengar pertanyaan dari Awan yang menurutnya tidak jelas, dan tidak sesuai dengan pertanyaan yang dia berikan pada Awan tadi.
Tapi Awan tidak terpengaruh oleh Dika, yang sedang tertawa. Dia tetap saja datar, tanpa ingin tahu, apa yang diinginkan oleh temannya itu.
"Kantin yuk!"
Dika mengajak Awan untuk pergi ke kantin. Dia tidak menjelaskan pada Awan, apa yang menjadi pertanyaannya yang tadi. Dika melupakan semua itu, karena sekarang ganti fokus pada tujuan perutnya, yang menuntut untuk segera diisi oleh pemiliknya.
"Malas," jawab Awan tidak bergeming dari tempatnya duduk.
"Ihsss, Gue lapar nih Wan. Ayok lah... gue traktir makan!"
Awan tetap menggelengkan kepalanya. Dia tidak ada niatan untuk pergi ke luar kelas. Dia tidak mau bertemu dengan siapa-siapa. Apalagi, jika bertemu dengan Ara. Tidak. Awan sedang tidak ingin bertemu dengan Ara hari ini.
"Wan. Please yuk!"
Dika tetap berusaha untuk menggoyahkan keputusan Awan, yang sedang tidak mood.
__ADS_1
"Malas Dik. Pergi sana sendiri. Balik, bawain Gue susu hangat ya!" sahut Awan, yang berganti posisi dengan menyandarkan kepalanya, ke arah belakang.
"Nah, itu Kamu lapar Wan. Ayok ah ikut. Siapa tahu, ada cewek-cewek cantik yang nongkrong di kantin sekolah. Bisa jadi obat sakit kepala tuh!" ujar temannya Awan, yang terdengar tidak masuk akal.
"Lagian Loe aneh deh Wan. Masak anak segede Bagong kayak Loe maunya susu hangat, gak es kopi, cola, boba atau cincau kek," kata si Dika, melanjutkan kata-katanya yang tadi.
"Berisik banget sih Loe! Udah sono buraun pergi!"
Awan mengusir Dika, supaya pergi ke kantin sendiri tanpa harus bersama dengannya.
"Huhhh, PMS ya? kok sensi."
Dika justru menyahuti perkataan Awan, yang tadi mengusir dirinya, dengan kata-kata yang membuat Awan menutup telinganya, supaya tidak lagi mendengar perkataan dan suara dari temannya itu.
"Ya udah, Gue pergi ke kantin sendiri. Awas aja kalau ketemu cewek cantik, gak Gue bagi atau kenalin ke Loe Wan! hahaha..."
Dika segera berlalu, untuk mengindari amukan Awan selanjutnya. Meskipun sebenarnya Dika juga tahu, jika itu tidak mungkin terjadi. Karena Awan, temannya itu, tidak bisa mengamuk, meskipun dalam keadaan marah ataupun kecewa.
Sifat Awan yang pendiam, membuat dirinya menjadi terkesan dingin. Tidak banyak teman, dan tidak mudah bergaul dengan orang-orang, seperti temannya yang lain.
Hanya dengan Dika, dia sedikit merasa cocok, karena sebenarnya, Dika juga orangnya tidak reseh, dan cuek saja dengan keadaan sekitarnya.
Awan dan temannya itu, Dika, memang dekat. Ada banyak hal yang membuat mereka berdua sama-sama terlihat cocok. Meskipun sebenarnya tidak juga.
Awan, menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia juga tidak tahu, apa yang sebenarnya dia rasakan saat ini.
Ada sesuatu yang membuat hatinya kecewa, meskipun dia menyadari bahwa itu tidak pada tempatnya.
Ada sebagian hatinya yang terasa kosong. Dan Awan tidak tahu, apa penyebab kekosongan hatinya itu.
Sekarang, Awan memejamkan mata sambil menggelengkan kepalanya. Dia mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri, dan membuang perasaan yang ada di dalam hatinya.
Tapi ternyata dia tidak bisa. Awan tidak mampu untuk membuat hatinya sendiri menjadi lebih tenang dan nyaman. Justru, sebentuk senyuman terlukis di sana, di dalam hatinya.
Senyuman, dengan sebentuk wajah yang tak asing lagi untuk Awan.
Awan terhenyak dan tersadar dari lamunannya. Dia mengerjap beberapa kali, untuk memulihkan kesadarannya kembali.
'Ah, kenapa justru terlihat jelas sih!'
Awan mengerutu sendiri dalam hati. Dia menyesali, apa yang tadi dia lamunkan. Padahal sebenarnya, dia tidak ada maksud untuk melamun dengan wajah yang tadi muncul di dalam hatinya.
Ada perasaan aneh, kecewa dan senang, muncul di dalam hatinya Awan. Tapi dia tidak tahu, apa yang terjadi pada hatinya sendiri.
__ADS_1
"Gue udah gila ya?" gumam Awan, bertanya seorang diri.
"Kayaknya iya. Gue mulai gila."
Awan memukul pelan keningnya sendiri, beberapa kali, supaya bisa berpikir dengan jernih.
"Hahhh!"
Awan membuang nafas kasar. Dia akhirnya bangkit dari tempat duduknya, kemudian berjalan menuju ke luar kelas. Dia ingin pergi ke kamar mandi, untuk membasuh mukanya, supaya tidak terlihat kusut lagi, saat bel istirahat selesai.
*****
Di rumah, Anjani mendapatkan kabar dari suaminya, Abimanyu, tentang adiknya, Yasmin.
Yasmin belum juga pembukaan secara normal. Ada gangguan pada janin yang dikandungnya. Padahal, beberapa kali di USG, tidak ditemukan kejanggalan dalam janin tersebut. Kondisi perut Yasmin, juga tidak ada masalah. Semua normal, sama seperti wanita-wanita yang sedang hamil pada umumnya.
Tapi ternyata janin tersebut terlilit tali pusar, sehingga tidak bisa bergerak sendiri, untuk membuka jalan lahir.
Namun sayangnya, saat ditentukan oleh dokter kandungan, supaya operasi Caesar, Yasmin ketakutan, sehingga darahnya naik. Dan itu semua tentu saja, tidak bisa mendukung jalannya operasi.
Sepertinya, Yasmin merasa trauma, dengan kehamilan pertamanya, Nanda, yang juga lahir secara Caesar.
..."Maafkan Yasmin ya Bun, jika selama hidupnya dulu-dulu, dia ada banyak sekali salah dengan kita, terutama pada Kamu. Doakan Yasmin, semoga diberi keselamatan, baik dirinya sendiri dan juga anaknya yang lahir."...
Begitulah tadi, saat Abimanyu menelpon Anjani. Memintakan maaf untuk adiknya, Yasmin, yang sudah masuk ke dalam ruangan operasi, untuk mengeluarkan janinnya.
Anjani terisak-isak sendiri, saat panggilan telpon dari suaminya itu berakhir.
"Mbak iklhas Yasmin. Mbak ikhlas maafin kamu. Mbak tidak ada dendam ataupun apa, di hati mbak. Bertahanlah, demi keselamatan anakmu dan juga dirimu sendiri. Semoga ada jalan yang terbaik, untuk semua ini."
Anjani berdoa untuk keselamatan adik iparnya, Yasmin, yang sedang berada di meja operasi. Dan Yasmin, ada di antara hidup dan mati. Berjuang untuk membawa kehidupan baru, bagi anaknya yang kedua ini.
Pada saat Anjani menelpon suaminya, ternyata tidak tersambung. Mungkin, handphone milik Abimanyu lowbat, atau sedang tidak ada sinyal dari operasi seluler.
Sekarang, Anjani mencoba untuk menghubungi Nanda, atau Sekar, yang juga ada di rumah sakit.
Namun sayang. Semua tidak bisa terhubung. Anjani menjadi bingung, dengan semua nomer handphone milik mereka, yang tadi dia hubungi, tapi tidak ada satupun yang bisa tersambung.
"Apa pulsaku yang abis ya?"
Anjani mencoba untuk meneliti keadaan handphone miliknya. Dia juga mencoba untuk mengecek, apakah nomernya masih ada pulsanya, atau tidak. Karena sedari tadi, tidak ada satupun dari nomer handphone orang-orang yang dia hubungi, bisa tersambung seperti biasanya.
Dan ternyata benar. Pulsa handphone Anjani yang kosong.
__ADS_1
"Pantes saja tidak bisa. Pulsanya ternyata habis," ujar Anjani, menyesali keadaan yang ada pada handphone miliknya.