
Seminggu sudah Anjani dan kedua anaknya ada di Indonesia, tanpa adanya Abimanyu bersama dengan mereka.
Dan besok pagi adalah, hari di mana dia dan kedua anaknya itu akan kembali lagi ke Amerika.
Oleh karena itu, sore ini dia melakukan prepare untuk keberangkatan mereka besok paginya.
Anjani melakukannya sendiri. Anak-anaknya, sedang berada di rumah eyangnya. Yaitu di rumah ayah Edi.
Semua barang-barang yang akan di bawa, sudah selesai di paking. Bahkan, Anjani juga sudah kembali memeriksa satu persatu barang bawaan, yang memang wajib untuk di bawa.
Paspor dan tiket pesawat, sudah dijadikan satu ke dalam tas yang selalu di bawa.
Beberapa bumbu dapur yang sudah di kemas sedemikian rupa, juga sudah dia rapikan jadi satu, bersama dengan obat-obatan herbal, untuk kesehatan suaminya, Abimanyu.
Oleh-oleh khas Indonesia, untuk para tetangga di apartemen, yang dia kenal, juga sudah dirapikan ke dalam koper.
Semua barang-barang pribadi, baik miliknya dan juga kedua anaknya, sudah dijadikan satu.
"Hufhhh..."
Anjani meniupkan udara yang ada di dalam mulutnya. Tanda jika dia merasa sudah lega, karena semuanya sudah selesai diatasi.
Sekarang, tinggal mengecek jam terbang yang akan dia lakukan esok hari.
"Hemmm ternyata siang. Semoga saja, tidak ada halangan dalam perjalanan besok," gumam Anjani, yang merasa jika, sudah terlalu lama dia tidak bersama dengan suaminya.
"Aku kan sudah tidak muda lagi. Tapi kenapa jadi begini ya. Jadi kangen dengan mas Abi," ujar Anjani seorang diri.
Sekarang, Anjani mengambil pigura foto kecil, yang ada di atas meja sebelah kirinya. Di tempat foto itu, ada foto keluarga mereka.
Jadi, tidak hanya sekedar Abimanyu saja yang ada di foto tersebut. Tapi juga ada dirinya sendiri, dan kedua anaknya. Ara dan juga Anggi. Tapi kedua anaknya itu masih kecil. Belum sebesar sekarang ini.
"Tak terasa sudah. Kalian berdua menjadi sebesar ini."
Anjani menatap foto tersebut, dan juga memegangi satu persatu. Mulai dari Ara, kemudian Anggi. Yang terakhir adalah suaminya, Abimanyu.
"Terima kasih Mas. Kamu memberikan kehidupan padaku dengan sangat baik. Aku bahagia, meskipun tanpa harus berlimpah dengan harta. Karena sesungguhnya, harta yang Aku miliki adalah Kamu. Dan kedua anak kita, adalah permata dari harta kita berdua."
Air mata Anjani tidak bisa dia bendung lagi. Dia menangis dalam kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.
Dalam kesendiriannya, merasakan kebahagiaan dan rasa rindu terhadap suaminya. Yang baru bisa dia jumpai lagi lusa.
__ADS_1
Drettt drettt drettt!
Handphone Anjani bergetar di atas meja. Di mana tadi pigura foto terletak.
Ada nama Ayah di layar handphone Anjani, yang masih bergetar.
..."Assalamualaikum Mas."...
^^^"Waallaikumsalam. Kamu kenapa Sayang?"^^^
..."Gak apa-apa kok Mas. Ini baru selesai prepare saja."...
..."Oh. Mas pikir, Kamu sedang memikirkan Mas. Kangen gitu. Hehehe..."...
Sepertinya, Abimanyu merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh istrinya itu.
Mungkin, Abimanyu juga merasa sepi, dan kangen. Karena tidak ada istrinya, yang selalu ada bersamanya.
Begitu juga dengan anak-anaknya. Abimanyu pasti merasa sangat kesepian tanpa adanya keluarga mereka.
..."Hiks hiks hiks... iya Mas. Apa Mas juga kangen dengan kita?"...
Keduanya, Anjani dan Abimanyu, larut dalam suasana rasa kangen dan rindu yang mereka rasakan.
Mereka berdua, terus berbincang-bincang mengenai masa-masa, di mana mereka berdua berjuang bersama dulu. Mengenang kembali, masa sulit tapi penuh dengan kebahagiaan.
Anjani tidak sadar jika, kedua anaknya sudah tiba di rumah. Tapi karena keduanya masuk secara diam-diam, akhirnya mereka berdua juga bisa mendengarkan perbincangan hangat, antara bundanya, dengan ayah mereka yang sedang berada di Amerika.
Setelah beberapa lama kemudian, di saat Anjani selesai menerima panggilan telpon dari suaminya. Dia meletakkan kembali handphone miliknya di atas meja.
Dan dia sangat terkejut, dengan keberadaan kedua anaknya yang sedang berdiri di belakangnya, dalam posisi saling berpelukan.
"Kakak. Adek. Kapan datang?" tanya Anjani, yang tentu saja merasa sangat terkejut dengan keberadaan mereka berdua, yang ada di belakangnya.
Keduanya, Ara dan Anggi, hanya meringis menahan senyum. Tapi mereka berdua juga tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh bundanya, Anjani.
Mereka berdua justru memeluk bundanya, setelah saling pandang tanpa bicara apa-apa.
"Bunda..."
Akhirnya, Anjani memeluk kedua anaknya itu, yang tentunya sekarang ini badannya juga sudah tidak lagi kecil seperti dulu.
__ADS_1
Bahkan, Ara dan Anggi memiliki ukuran tubuh yang hampir sama. Karena postur tubuhnya Anggi, jauh lebih besar dibanding dengan usianya yang sebenarnya.
*****
Di rumah mama Amel.
Papa Ryan sedang tidak enak badan. Dia tidak bisa ikut mengantar Anjani, dan juga kedua anaknya besok ke bandara.
Jadi, dia meminta pada istrinya, mama Amel, agar tetap berada di rumah saja bersama dengannya. Padahal, mama Amel ingin ikut mengantar mereka bertiga ke bandara.
"Pa. Mama mau nganter calon istrinya cucu Mama. Masa gak boleh sih?"
"Mama. Papa kan lagi gak enak badan ini. Masa iya, Mama tega sih, ninggalin Papa sendiri di rumah?"
Mama Amel hanya bisa menghela nafas panjang. Dia juga merasa bersalah, jika harus egois. Memaksakan diri untuk pergi ke rumah Anjani, dan ikut mengantar mereka ke bandara besoknya.
"Kita titip salam saja Ma. Kan bisa telpon atau video call dengan Anjani," usul papa Ryan, yang sepertinya ingin diperhatikan lebih oleh istrinya itu.
"Papa ini kayak anak kecil saja," ujar mama Amel, dengan mencibir kebiasaan suaminya jika sedang sakit. Yaitu minta diperhatikan lebih dari biasanya.
"Hahaha... memang siapa lagi yang harus manja dengan Mama? Elang gak mungkin Ma. Apalagi Awan. Mereka berdua adalah laki-laki dewasa, yang ada pada masanya sendiri."
"Iya ya Pa. Kok ternyata, cucu kita saja sudah dewasa begitu. Bahkan, dia mau menikah tahun depan. Ternyata, kita sudah setua ini Pa."
Mama Amel justru menyadari bahwa, dia dan suaminya itu sekarang ini telah ada pada usia yang tidak lagi muda.
Hal yang memang seharusnya terjadi. Karena perjalanan hidup seseorang, yang tidak pernah dirasa, namun secara pasti akan berganti.
"Terima kasih ya Pa. Semua yang kita jalani ini, adalah anugerah dari Tuhan. Dan Papa, sudah membuktikan bahwa, kita bisa melalui semuanya ini berdua. Dengan Mama."
"Papa yang seharusnya berterima kasih pada Mama. Mama adalah istri yang terbaik untuk Papa. Meskipun Papa bukanlah suami yang siaga, karena lebih sering berada di luar rumah."
Papa Ryan merasa jika, dia tidak bisa dikatakan sebagai seorang suami yang baik. Karena lebih sering berada di luar rumah, untuk pekerjaan dan bisnis yang mereka miliki.
"Ini karena untuk keluarga kita juga Pa. Mama tidak pernah merasa keberatan. Karena itu semua sudah kita sepakati sejak awal."
Itulah yang seharusnya. Sebuah ikatan pernikahan, akan terasa lebih sempurna, jika kedua orang yang ada di dalam ikatan tersebut, saling percaya, dan melengkapi satu sama lain.
Menerima apa yang mereka jalani, dan tetap memupuk rasa cinta, yang seharusnya tetap ada sepanjang waktu.
Bukan hanya ada di mana masa bahagia cinta, dan pergi di saat semuanya tidak lagi dirasa perlu untuk dirawat bersama.
__ADS_1