
Siaran langsung Anggi, mendapat perhatian dari banyak followers nya. Berbagai macam pertanyaan dan komentar juga ikut meramaikan siaran langsung tersebut.
Tak terkecuali dengan Nanda dan juga Mita, yang ikut berkomentar saat ikut melihat siaran langsung pada akun sosial media milik Anggi.
Mita 'Siap banget!'
Nanda 'Kakak juga siap!'
Akungaje 'Siap apa kalian?'
Miko 'Siap buat makan. Hahaha...'
Ahmed 'Kapan Anggi?'
Banyak sekali komentar-komentar yang tidak bisa dijawab satu persatu oleh Anggi. Tapi mereka saling sahut-sahutan, dan ada juga yang ikut bantu untuk menjawabnya. Meskipun tidak semuanya benar, karena hanya saling bercanda ria.
Beberapa foto dan video yang menarik, bahkan dibagikan juga oleh mereka-mereka yang ikut meramaikan.
Tak lupa, Mita juga ikut membagikan beberapa foto dengan keterangan caption ilustrasi yang menguatkan.
Dari apa yang dibagikan oleh Mita ini, beberapa teman semasa SMP, yang merupakan temannya Ara juga. Mereka jadi ikut mengetahui tentang rencana pernikahan Ara dan Awan, yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan nanti.
Mita jadi sibuk membalas komentar-komentar yang oleh teman-temannya itu. Yang ikut merasa senang, dan ada juga mengucapkan selamat kepada Ara.
Tapi Mita tidak tahu jika, ada satu akun yang mengikutinya, tanpa dia sendiri tahu, siapa sebenarnya orang dibalik akun tersebut.
Bahkan, akun tersebut juga bertanya pada Mita, di gedung mana acara akan dilaksanakannya pernikahan tersebut.
Dan itu pun menjadi pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh teman-temannya. Tentu saja, Mita juga dengan senang hati menjawab pertanyaan demi pertanyaan tersebut. Karena mereka juga adalah teman-teman dari Ara sendiri.
*****
"Ra, ijab kabul nya dipercepat bisa gak?" tanya Awan, dengan berbisik pada Ara.
"Ihhh, apaan sih Kak! jangan aneh-aneh deh," sahut Ara cepat, meskipun dia juga malu mendapat pertanyaan tersebut.
Mama Amel yang tidak sengaja melihat agenda mereka berdua, langsung saja nyeletuk menggoda cucunya. "Awan. Tahan ya, masih ada beberapa hari lagi. Hahaha..."
Tentu saja, baik Awan maupun Ara, jadi sangat malu.
Apalagi, semua orang langsung melihat ke arah mereka berdua. Yang saat ini wajahnya sudah memerah.
Ara langsung menundukkan kepalanya. Tak sanggup melihat tatapan mata yang tak bisa dia artikan sendiri. Sedangkan Awan, nyengir kuda dan menggaruk-ngaruk kepalanya sendiri. Meskipun sebenarnya kepalanya juga tidak terasa gatal.
"Hahaha..."
"Tahan Wan! Nanti juga ada waktunya kok."
"Ciehhh... udah mau makan ya?"
"Gak kuat nih..."
Tapi keluarga Awan dan Ara yang ikut alam acara fitting baju ini, justru makin menggoda mereka berdua. Terutama mama Amel, Anggi, dan papa Ryan.
Sedangkan Anjani dan Abimanyu hanya tersenyum saja, menanggapi semua godaan dan perkataan yang ditujukan untuk anaknya.
Begitu juga dengan Elang. Dia hanya tersenyum tipis melihat kebahagiaan anak semata wayangnya itu.
__ADS_1
Dia merasa sangat bersyukur, karena calon istrinya dan juga mertuanya Awan, adalah orang-orang yang dia kenal dengan baik sedari dulu.
Bahkan, Anjani sebagai bundanya Ara, adalah mantan istrinya. Meskipun dia dan Anjani tidak pernah mempunyai hubungan yang sama seperti layaknya seorang suami istri yang sebenarnya. Tapi setidaknya, Elang pernah mengenal, dan menempatkan Anjani di dalam hati serta kehidupan. Bahkan hingga saat ini.
Elang menghela nafas panjang, di saat mengingat semua hal yang dulu. Di waktu dia masih bersama dengan Anjani.
Tapi tak lama kemudian, dia tersadar dan segera mengelengkan kepalanya beberapa kali. Membuang semua rasa yang aneh dan menyesakkan dadanya.
"Lang," panggil mama Amel pelan.
Dia memegang lengan anaknya itu, supaya Elang bisa menguatkan hatinya sendiri.
Elang tersenyum dipaksakan, saat menolehkan kepalanya menatap ke arah samping. Di mana mamanya yang sedang memegang lengannya.
"Elang tidak apa-apa Ma."
Mama Amel mengangguk dan tersenyum tipis, mendengar dan melihat bagaimana Elang berusaha untuk bisa bersikap biasa saja.
"Setelah ini, carilah bahagia mu sendiri Lang. Siapapun yang Kamu pilih, mama tidak akan menolaknya. Yang penting, Kamu bisa bahagia." Mama Amel berkata pelan, di samping anaknya, yang masih tetap berusaha untuk bisa tersenyum.
*****
Di rumah, Miko sedari tadi senyum-senyum sendiri. Karena ikut berkomentar di akun sosial media milik Anggi, yang sedang melakukan siaran langsung.
Dia tidak memperhatikan keadaan adiknya yang sedang bermain-main sepeda roda tiga.
Padahal, dia di minta oleh mamanya, Sekar, untuk menjaga adiknya itu. Dan memastikan bahwa, adiknya itu tidak akan kenapa-kenapa, selama mamanya pergi.
Sekar sedang pergi ke rumah ayah Edi, karena ada beberapa kepentingan, terkait acara selamatan untuk pernikahan keponakan, Ara.
Itulah sebabnya, Sekar tidak mengajak Miko maupun adiknya Miko.
"Huwaaa..."
"Ehhh... ehhh!"
Miko langsung berdiri dari tempat duduknya, begitu dia melihat adiknya yang terjungkal ke dalam selokan. Dan sepeda roda tiga milik adiknya terpental ke jalan.
"Huwaaa... Mama... Mama!"
Adiknya Miko menangis dengan keras memangil mamanya. Sedangkan Miko kebingungan sendiri, karena takut jika disalahkan atas kejadian adiknya ini.
"Aduh, kok bisa jatuh sih Dek!"
Mendengar omelan kakaknya, tentu saja ini membuat adiknya semakin keras saat menangis.
"Huwaaa... Kak Miko jahat. Huwaaa..."
"Aduh-aduh... cup cup cup!"
Miko dengan cepat menggendong adiknya, dan didudukan di kursi depan rumah.
"Duduk di sini dulu ya, jangan ke mana-mana!"
Miko segera masuk ke dalam rumah, untuk mencari obat-obatan, yang bisa dia gunakan untuk mengobati luka adiknya.
Dari dalam rumah, Miko masih mendengar suara adiknya yang sedang menangis keras. Tapi dia juga kebingungan sendiri, karena kotak obat yang dia cari, tidak ada di tempat biasanya.
__ADS_1
"Ke mana kotak obatnya?" gumam Miko bertanya.
Karena bibi pembantu juga sedang tidak ada di rumah, pergi berbelanja di ujung jalan, akhirnya Miko menghubungi mamanya.
Meskipun sebenarnya Miko juga merasa sangat takut untuk memberitahukan kepada mamanya. Tapi dia tidak ada pilihan lain, selain mencari tahu kotak obat tersebut, dengan bertanya pada mamanya.
"Handphone. Mana handphoneku?"
Dalam keadaan panik seperti ini, Miko lupa segalanya. Dia lupa jika, handphone miliknya tadi dia kantongi sendiri.
"Oh iya, di kantong," ujar Miko, setelah menemukan handphone tersebut di dalam kantong celananya.
Tut tut tut!
Panggilan untuk mamanya belum juga diangkat.
Tut tut tut!
"Ma, angkat Ma!" kata Miko seorang diri, dalam keadaan panik.
Tak lama kemudian, telponnya diangkat juga oleh mamanya. Yang sekarang ini berada di rumah eyangnya.
..."Ya Kak Miko, ada apa?"...
..."Ma. Itu, emhhh... kotak obat. Kotak obat di mana?"...
..."Kotak obat, buat apa?"...
..."Mau cari Betadine Ma."...
..."Kemarin Kamu kan yang ambil kontak obat. Udah dikembalikan belum?"...
..."Hah! Aku?"...
Miko bingung, mendengar jawaban yang diberikan oleh mamanya. Dia lupa jika, kemarin mencari perban gunting, untuk keperluan konten yang dia lakukan.
Dan sekarang, dalam keadaan panik seperti ini, dia lupa segalanya.
..."Miko. Halo Miko!"...
..."Eh, iya Ma, iya."...
..."Ketemu tidak?"...
..."Belum Ma. Nanti Miko cari lagi."...
Tapi, Sekar yang sayup-sayup mendengar suara tangisan adiknya Miko, jadi bertanya kepada Miko. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah.
..."Adik kenapa Miko?"...
..."Eh, itu Ma. Emhhh... adik jatuh."...
..."Apa jatuh? gimana sih Kamu! ayok cepat cari kotak obatnya!"...
Klik!
"Hufhhh..."
__ADS_1
Miko membuang nafas panjang, di saat telpon diputuskan oleh mamanya tanpa memberikan kesempatan kepadanya untuk memberikan penjelasan.
Dengan segera, Miko kembali mencari-cari keberadaan kotak obat yang tidak bisa diajak untuk kompromi dalam keadaan seperti sekarang ini.