
Berbicara tentang Sebuah hubungan, terkadang kata cinta tidak cukup untuk menjadi sebuah alasan belaka pada sebuah hubungan keluarga. Apalagi di Indonesia, yang pada umumnya, ikatan sebuah keluarga sangat dihormati.
Itulah sebabnya, ada kata bijak yang seharusnya dijadikan sebagai pertimbangan, jika mau memulai sebuah hubungan pernikahan. Karena sejatinya, di Indonesia ini, pernikahan terjadi bukan hanya untuk dua orang saja, sebagai suami istri, tapi menyatukan dua hubungan keluarga.
Kamu menikah, bukan hanya dengan istri atau suami, tapi juga dengan keluarganya.
Begitulah kira-kira pemikiran orang-orang Indonesia, yang masyarakatnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai sebuah pertalian darah ataupun hubungan karena adanya sebuah pernikahan.
Sama halnya dengan apa yang dialami Anjani selama ini. Dia yang sudah tahu, jika keberadaannya di rumah Abimanyu tidak begitu di terima oleh ibu mertua dan adik-adik iparnya, masih mencoba untuk bertahan, karena menghormati sebuah hubungan baru yang dia jalani bersama dengan suaminya, Abimanyu.
Mungkin untuk sebagian orang, Anjani dianggap sebagai seorang istri yang bodoh, karena masih bertahan di tengah-tengah keluarga Abimanyu yang terang-terangan tidak menyukai kehadirannya.
Tapi karena dia menghormati sebuah hubungan keluarga dari pernikahan yang dia lakukan bersama dengan suaminya, dia berpikir jika semua akan baik-baik saja pada suatu hari nanti.
Dia merasa jika kesabaran dan keikhlasannya untuk berbakti kepada suami dan keluarga suaminya itu, akan membawa kebahagiaan untuk dirinya sendiri dan suaminya, bahkan keluarganya juga.
Hal yang sering kali terjadi pada masyarakat pada umumnya. Seorang istri, terus menerus di perlakukan tidak baik oleh keluarga suaminya, tapi tidak pernah membalas atupun balik berbuat jahat, itu bukan hanya karena rasa cinta yang dia miliki untuk suaminya, tapi rasa hormatnya pada sebuah hubungan keluarga itu sendiri.
Mungkin, apa yang dialami Anjani ini ada banyak sekali terjadi di masyarakat kita, bahkan ada yang lebih juga. Tapi, kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena itu sudah menjadi keyakinan mereka sendiri. Meskipun kadang, sesuatu yang terjadi membuat mereka tidak lagi bisa bertahan, dan berakhir dengan sebuah kata 'perceraian' ataupun perpisahan. Dan dari peristiwa ini, ada sebuah hubungan yang akan menjadi korban, yaitu hubungan anak dengan orang tuanya. Entah dengan ayahnya, atau dengan ibunya.
*****
Tok tok tok!
Ting tong tong!
"Assalamualaikum... Anjani!"
Cklek!
"Waallaikumsalam... eh eyang Kakung, mangga atuh masuk. Mari duduk, Neng Jani ada sama anak-anak di teras belakang. Sebentar Saya panggilkan."
__ADS_1
Bibi pembantu rumah yang menyambut kedatangan ayah Edi, bersama dengan Wawan.
Ayah Edi hanya mengangguk, saat bibi pembantu rumah mempersilahkan dirinya untuk duduk terlebih dahulu. Setelah itu, bibi pembantu rumah pergi kebelakang, untuk memanggil majikannya, Anjani.
"Duduk Wan," kata ayah Edi, mempersilahkan Wawan untuk duduk terlebih dahulu, sambil menunggu kedatangan Anjani.
Wawan menurut. Sekarang, mereka berdua, ayah Edi dan Wawan, duduk di kursi tamu dengan saling diam dan tidak mencoba untuk memulai sebuah pembicaraan meskipun hanya untuk sekedar basa-basi.
"Ayah. Lho, Kamu..."
Anjani yang baru saja datang dari arah belakang, menyapa ayah mertuanya, dan kaget saat melihat keberadaan Wawan, yang duduk bersama dengan ayah mertuanya itu.
"Apa kabar Mbak Jani?" sapa Wawan berbasa-basi, menanyakan tentang kabar Anjani, mantan kakak iparnya.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri bagaimana?" jawab Anjani, setelah ikut duduk di ruang tamu. Dia juga bertanya tentang kabarnya Wawan.
"Baik juga Mbak, terima kasih."
Anjani tidak langsung menjawab pertanyaan dari Wawan. Dia menoleh ke arah ayah Edi terlebih dahulu, untuk meminta persetujuan darinya.
Ayah Edi mengangguk, saat melihat pandangan Anjani yang mengarah padanya. Dia langsung paham dengan maksud Anjani itu, sehingga dia memberikan ijinnya.
"Sebentar ya," kata Anjani, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke arah belakang.
Tak lama, bibi pembantu rumah muncul dengan membawa nampan berisi minuman dan camilan-camilan, untuk suguhan tamu yang datang.
"Mangga eyang Kung, Mas."
Bibi pembantu rumah, mempersilahkan para tamunya itu, untuk menikmati minuman dan makanan yang dia bawakan.
"Iya terima kasih Teh," jawab ayah Edi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Wawan hanya mengangguk saja. Dia merasa tidak sabar, karena Anjani belum juga muncul bersama dengan anaknya, Nanda.
Ayah Edi mengambil gelas minuman yang tersedia. Setelah meminum sedikit, dia berkata pada Wawan, "sabarlah sebentar. Mungkin Nanda sedang ada di kamar mandi atau susah di ajak keluar, karena dia kalau sudah bermain, tidak mau di ganggu orang lain."
Wawan tersenyum canggung, mendengar perkataan ayah Edi. Dia merasa jika kegelisahannya yang tidak sabar itu, terlihat jelas di mata mantan mertuanya itu. Dia jadi menunduk setelah beberapa saat kemudian. Membuang rasa malunya yang tiba-tiba datang.
Tak lama, Anjani datang dengan menuntun Nanda. Ara tidak diajak serta, karena sedang di suapi sama bibi pembantu rumah. Karena saat ayah Edi dan Wawan datang, Anjani sedang menyuapi mereka berdua, Ara pada Nanda.
"Maaf ya, agak lama. Tadi Nanda menyelesaikan makannya terlebih dahulu," kata Anjani, sambil meminta pada Nanda untuk bersalaman dengan ayah Edi dan Wawan.
"Nanda, ayo kasih salam sama Eyang Kung dan Papa. Oh ya, ini papanya Nanda. Papa Wawan."
Anjani juga memperkenalkan Wawan pada Nanda. Tapi, sepertinya Nanda yang sudah lama tidak berjumpa dengan papanya, menjadi takut dan tidak mau menyalaminya, dan hanya pada eyang Kakung_nya saja dia mau bersalaman.
"Nanda sini!"
Ayah Edi, memangil Nanda, supaya duduk di pangkuannya.
Nanda pun menurut. Dia datang dan mendekati Eyang Kakung, kemudian naik kepangkuan eyangnya itu.
"Dengar Eyang ya. Dia itu papanya Nanda. Papa Wawan. Dia mau ketemu Nanda, karena kangen. Papa Wawan, juga mau pergi jauh lagi. Jadi, Nanda mau kan salaman dengan papa Wawan?"
Mendengar perkataan ayah Edi, Nanda melirik-lirik, ke arah papanya itu. Dia masih tidak yakin dengan cerita yang dia dengar dari eyangnya sendiri.
"Sayang, Nanda. Dengar kata Bunda ya. Apa yang dikatakan oleh Eyang Kakung itu benar. Jadi, Nanda setelah ini tetap ada di rumah Bunda kok, bareng sama dek Ara juga."
Mendengar perkataan dari Anjani, yang dia panggil 'Bunda' Nanda jadi mengangguk. Dia turun dari pangkuan ayah Edi, dan mendekat ke arah tempat duduknya Wawan. Nanda juga mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan papanya.
Wawan tersenyum bahagia, melihat anaknya yang sedang ada di depannya saat ini. Dia memeluk Nanda dan menciumi pipi anaknya itu.
"Maafkan Papa Nanda. Maafkan Papa," kata Wawan diantara ciuman-ciuman yang dia lakukan pada Nanda.
__ADS_1
Anjani, tersenyum sambil mengusap air matanya, yang menetes tanpa dia sadari. Dia ikut merasakan keharuan yang dia lihat saat ini, dengan pertemuan Nanda dan papanya, Wawan.