Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Kehidupan Baru Di Rumah Baru


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat. Semua terus berganti dengan suasana dan cerita yang baru. Dan kuta hanya bisa mengikuti jalannya waktu, tanpa bisa menolak ataupun menghindarinya.


Begitu juga dengan hari-hari yang dilalui Anjani. Dia yang sudah tidak lagi tinggal di rumah mertuanya, dan hidup bersama dengan suaminya, Abimanyu bisa sedikit bernafas lega. Ini karena dia bisa melakukan segalanya dengan keinginannya sendiri. Dia juga bisa menjalankan kehidupannya dengan normal seperti biasa.


Anjani, mengunakan waktunya yang banyak untuk membenahi segala sesuatu yang kurang baik di rumahnya. Menata tata letak barang-barang perobatan dan juga mulai menanam bunga. Anjani kembali lagi pada hobby yang dulu, yaitu menanam bunga mawar.


Abimanyu, sudah mengingatkan pada istrinya itu, supaya tidak usah melakukan semua pekerjaan yang berat dan harus angkat-angkat perabotan.


Anjani pun patuh. Dia tidak lagi melakukan semua yang dilarang suaminya. Dia hanya meneruskan kesukaannya yang lain, yaitu memasak dan mencoba berbagai resep masakan yang mungkin bisa diaplikasikan pada menu khas daerah, yang nantinya bisa dijadikan salah satu menu pilihan di kafe miliknya. Dan sekarang, Anjani juga sudah memiliki pembantu, yang dia pekerjakan. Pembantu rumah itu, dia ambil dari daerahnya sendiri, dan masih ada hubungan darah dengan teteh koki yang bekerja di kafe rumah miliknya.


Sekar kadang kala datang berkunjung, jika ada waktu luang. Dia juga di minta kakaknya, Abimanyu, supaya sering-sering mampir ke rumah, untuk menemani istrinya yang sedang hamil dan perutnya juga sudah mulai membuncit.


Siang ini, Sekar kembali datang ke rumah. Dia mampir terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah, setelah melamar pekerjaan di sebuah perusahaan ternama di Indonesia, yang bergerak di bidang periklanan.


"Wah, sepertinya enak nih Mbak!"


Sekar yang baru saja datang, sudah mencium aroma masakan yang lezat dari arah dapur.


"Sekar, Kamu dari mana?" tanya Anjani, yang baru saja keluar dari kamar.


"Lho, yang ada di dapur siapa? kirain yang sedang masak Mbak Jani," tanya Sekar yang kaget dengan keberadaan kakak iparnya itu. Ternyata, Anjani tadi ada di kamar dan yang ada di dapur adalah pembantu baru di rumah kakaknya ini.


"Oh, itu bibi pembantu baru. Masih saudara dengan teteh koki yang ada di kafe rumah di Bogor," jawab Anjani, sambil tersenyum pada adik iparnya itu. "Yuk duduk!" ajak Anjani sambil melangkah menuju ke tempat duduk diruang tamu, yang menjadi satu dengan ruang keluarga juga.


Rumahnya ini, memang berbentuk minimalis, sehingga tidak banyak ruangan.


"Wah, bagus dong. Sudah tidak kesepian lagi jadinya. Oh ya Mbak, ngomong-ngomong ini Mbak Jani kapan kira-kira lahirannya?" tanya Sekar sambil melihat ke arah perut Anjani. Dia miris melihat kakak iparnya itu, yang perutnya semakin terlihat membesar saja.

__ADS_1


"Masih lama ini Sekar. Sekitar tiga bulan lagi kok. Hehehe..." jawab Anjani terkekeh geli, melihat Sekar yang melotot kearahnya.


"Tiga bulan lagi? Sekarang saja sudah ngeri Aku melihatnya Mbak, apa tidak apa-apa itu dipakai buat jalan, maksudnya bisa lihat ke depan gitu Mbak Jani nya?" Sekar bertanya lagi dengan menyelidik. Dia membayangkan jika kakak iparnya itu tidak bisa melihat jalanan depan jika sedang berjalan.


"Ya lihatlah, masak tidak lihat sih. Ada-ada saja Kamu ini. Hahaha..." Anjani kembali tertawa-tawa, mendengar perkataan adik iparnya yang terkesan aneh di telinga.


"Besok-besok, kalau Kamu hamil, pasti akan merasakan sendiri. Memang terlihat payah untuk orang yang belum tahu, tapi bagi Mbak ya... biasa saja. Masih bisa melakukan aktivitas biasa juga, meskipun perutnya seperti sekarang ini. Aktivitas 'malam' juga masih bisa jalan dengan normal Sekar," kata Anjani lagi, melanjutkan kalimatnya yang tadi, dengan menekan kata aktivitas malam.


Sekar membelalakkan matanya mendengar perkataan dari kakak iparnya itu. "Eh, beneran Mbak, gak takut meletus gitu?" tanya Sekar tidak percaya.


"Hahaha... memangnya balon!"


Sekar ikut tertawa lepas, saat Anjani menjawab pertanyaan darinya dan tertawa terbahak-bahak.


"Kalau Kamu tidak percaya, tanya saja sama Yasmin. Yang sekarang sudah punya anak. Dia juga paling jawabannya sama seperti yang Mbak jawab," kata Anjani, memberikan salah satu contoh dari wanita hamil yang lain.


Anjani menggeleng beberapa kali, mendengar pertanyaan dari Sekar. Selama Anjani pindah, dia memang tidak pernah tahu bagaimana kabarnya Yasmin. Dua juga tidak pernah bertemu lagi dengannya.


Abimanyu, seakan-akan menjauhkan diri dan istrinya itu dari adiknya, Yasmin. Dia belum bisa memaafkan kelakuan Yasmin, yang sudah bertindak semaunya sendiri dan tidak pernah mau meminta maaf dengan cara yang benar.


Sekar akhirnya menceritakan tentang keadaan Yasmin yang sekarang. Bagaimana keseharian dan kebiasaan Yasmin, yang sudah berubah total dari yang dulu. Tapi tetap saja, hatinya itu keras dan tidak mau mendengar nasehat dari orang lain.


Dari cerita Sekar, Yasmin lebih sering datang ke rumah jika tahu ibunya sehabis gajian. Dia akan mengajak Nanda, anaknya, untuk ikut ke rumah. Yasmin akan bercerita tentang anaknya yang kehabisan susu atau minta pada ibunya, untuk membelikan pampers nya Nanda.


Beberapa hari yang lalu, Sekar malah mendengar perkataan Yasmin secara tidak sengaja, saat dia sedang berbicara dengan ibunya, ibu Sofie. Yasmin mengeluhkan tentang suaminya, yang sering marah-marah dan main tangan. Bahkan, sering tidak memberinya uang. Padahal katanya sering lembur dan tidak pulang ke rumah pada malam hari.


Rumah kontrakan Yasmin, berupa petakan dengan padat penduduk di belakang sebuah bangunan kampus yang besar, dimana Wawan bekerja tak jauh dari sana.

__ADS_1


Anjani menitikkan air mata, saat mendengar cerita dari Sekar tentang Yasmin, adik iparnya yang sudah berlaku jahat padanya.


"Separah itukah hidupnya sekarang?" tanya Anjani tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Sekar hanya bisa mengangguk. Selama ini, dia memang tidak pernah menceritakan tentang keadaan Yasmin pada Kakak iparnya, Anjani. Ini karena mereka tidak pernah menyingung soal Yasmin jika sedang berbincang. Dan tadi secara kebetulan, Anjani menyebutkan nama Yasmin saat dia berbicara. Maka dari itu, Sekar akhirnya ingat untuk menceritakannya.


"Apa ayah tidak memintanya kembali ke rumah?" tanya Anjani memastikan. Dia merasa kasihan pada Nanda, anaknya Yasmin yang saat ini tentunya baru bisa berjalan. Itupun pasti belum lancar juga jalannya.


"Tidak Mbak. Ayah justru menyingkir dari rumah, jika ada Yasmin datang. Dia masih tidak mau berbicara dengannya. Paling ayah cuma nitip uang saku untuk diberikan pada Nanda. Jadi Aku yang memberikan uang itu, dengan alasan jika itu uang dariku, bukan dari ayah."


Anjani tahu, jika sebenarnya ayah Edi tidak membenci Yasmin. Dia hanya belum bisa memanfaatkan anaknya itu. Sebagai orang tua, ayah Edi tidak mungkin bisa melihat anaknya menderita, sebanyak apapun kesalahan seorang anak, orang tua pasti akan memaafkannya. Hanya saja, waktu dan caranya yang berbeda-beda.


Mungkin Abimanyu, suaminya sendiri juga sama. Seandainya saja Abimanyu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya itu saat ini, dia juga akan melakukan hal yang sama seperti ayah Edi. Ini hanya tergantung dari sikap Yasmin sendiri. Dia belum menyadari kesalahannya dan tidak mau merendahkan hatinya. Dia tidak tahu, jika orang-orang yang terdekatnya, sebenarnya masih sangat menyayangi dirinya.


Anjani menghapus sisa air mata yang mengalir tanpa dia sadari. Dia juga melihat Sekar yang berkaca-kaca menahan air mata, saat selesai menceritakan tentang keadaan adiknya, Yasmin.


"Maaf Mbak, Sekar malah mengingatkan mbak pada Yasmin. Sekar tahu kok, seandainya mbak masih belum bisa memaafkan dirinya. Mungkin jika Sekar yang mengalaminya, Sekar juga akan marah dan tidak bisa memaafkan Yasmin."


Anjani menggeleng cepat saat mendengar perkataan Sekar. Dia bukannya tidak bisa memaafkan Yasmin, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya bicara dengan Abimanyu, setelah tahu keadaan Yasmin yang sekarang.


Dia takut, jika bercerita tentang adiknya itu, Abimanyu malah menjadi semakin marah, karena merasa diungkit lagi tentang rasa sakitnya akibat perbuatan Yasmin. Tapi jika tidak bercerita, Anjani takut jika suatu saat nanti, Abimanyu tahu sendiri dan menyesalinya sendiri.


"Bu, makan siangnya sudah siap. Silahkan kalau mau makan sekarang," kata bibi pembantu, memberitahu pada Anjani.


"Emhhh, iya Bi. Sebentar lagi ya," jawab Anjani, sambil menghapus air matanya yang masih saja menetes.


"Ayuk Sekar, kita makan siang dulu," ajak Anjani, pada Sekar, yang ternyata sudah menangis tanpa suara.

__ADS_1


Sekar tentu merasa sangat sedih, melihat keadaan adiknya yang tidak beruntung, namun masih tidak mau berubah. Sedih karena menyayangkan sikap adiknya, Yasmin, dan tentunya merasa kasihan pada keponakannya, yaitu Nanda.


__ADS_2