
Awan masih terus saja memperhatikan layar handphone miliknya. Dia tidak mengetahui, jika saat ini, mobil sudah berhenti di depan sebuah rumah.
"Wan. Ayok turun!"
Mama Amel, omanya Awan, mengajaknya untuk segera turun dari mobil, karena mereka sudah sampai di tempat tujuan. Di rumahnya Abimanyu.
Awan, baru memperhatikan keadaan, pada saat dia baru saja turun dari dalam mobil. 'Kok Aku kayaknya kenal dengan rumah ini ya, tapi kapan Aku pernah ke sini?' tanya Awan dalam hati.
"Eh, ayok!" ajak omanya lagi, karena melihat Awan yang bengong saja, dan tidak ikut melangkahkan kakinya menuju ke rumah Anjani.
"Oma. Ini rumah siapa?" tanya Awan tidak paham, jika mereka semua sudah tiba di rumah yang mereka tuju. Yaitu rumahnya Abimanyu dengan Anjani.
"Rumahnya om Abi lah, kan kita ke rumah ini untuk acara syukuran ulang tahun anaknya yang pertama," jawab mama Amel, menjelaskan pada cucunya itu.
"Tapi Oma..."
"Udah ayok! kita udah telat ini," ajak mama Amel, dengan menarik tangan Awan, yang masih belum menyelesaikan kalimatnya yang terakhir.
Dengan terpaksa, Awan mengikuti langkah omanya itu, untuk masuk ke dalam rumah. Karena papa Ryan dan ayahnya, Elang, sudah masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, dengan membawa kado untuk Ara.
Ternyata di dalam rumah, papa Ryan dengan Elang, sudah berbasa-basi meminta maaf pada semua orang, karena terlambat datang ke acara ini. Dan Abimanyu serta Anjani, tentu saja menyambut kedatangan mereka dengan baik dan hangat.
"Papa, Mas Elang. Terima kasih atas kehadirannya dan juga kadonya ini. Jadi ngerepotin gini," ujar Anjani, dengan menyalami mantan mertuanya dan juga mantan suaminya.
Abimanyu juga menyambut mereka dengan hangat. Begitu juga dengan anggota keluarga yang lain. Mereka semua, saling menyapa dengan ramah dan berterima kasih.
""Ara, Salim sama kakek Ryan Kak, dan ini om Elang." Anjani memperkenalkan Ara, pada papa Ryan dan juga Elang.
"Lho, mama Amel mana Mas? Awan juga? katanya mau ikut semua?" tanya Anjani kepada Elang, karena dia tidak melihat keberadaan mama Amel dan Awan. Anaknya Elang dengan Adhisti Andriyani.
Abimanyu juga mencari keberadaan mereka berdua, yang belum terlihat.
"Ada kok. Mungkin masih repot di luar." Elang menjawab pertanyaan dari Anjani, karena tadi dia melihat jika anaknya, Awan, malas untuk ikut datang bersama ke acara ini.
__ADS_1
Tapi sebelum Anjani berkata lagi, dari arah belakang punggung Elang dan papa Ryan, muncul mama Amel dengan Awan.
"Selamat sore. Maaf ya, telat ini jadinya, hehehe..." Mama Amel langsung meminta maaf, begitu masuk ke dalam rumah.
Mama Amel langsung memeluk dan mencium kedua pipi Anjani, begitu Anjani menyalami tangannya. Dia juga juga melakukan hal yang sama, pada anggota keluarga Abimanyu yang lain, tapi untuk yang perempuan saja.
Berbeda dengan papa Ryan dan Elang, yang juga melakukan hal itu, tapi untuk yang laki-laki, Abimanyu, ayah Edi, Nanda dan Juna.
"Wah, mana yang ulang tahun?" tanya mama Amel, karena dia tidak melihat keberadaan Ara.
"Kak Ara, sini!"
Awan, sudah terkejut sejak mulai masuk ke dalam rumah, karena melihat Anjani. Ibu-ibu yang pernah dia tolong, saat dikerja oleh preman-preman pencopet.
Tapi karena Anjani tidak begitu memperhatikan sekitarnya, dia tidak melihat keberadaan Awan, yang baru saja datang bersama dengan cucunya itu.
Apalagi sekarang, Anjani juga memanggil anaknya itu, dengan nama Ara. 'Ah, mungkin Ara yang lain. Kan nama Ara tidak hanya dia saja,' pikir Awan dalam hati.
Tapi pada saat dia melihat Nanda, yang duduk di kursi bersama dengan yang lain, Awan mulai merasa curiga, jika yang tadi di panggil dengan nama Ara, adalah Ara yang sama. Adik kelasnya, yang sedari kemarin-kemarin memenuhi pikiran dan juga hatinya. 'Pemuda itu ada di sini juga. Siapa dia ya?' tanya Awan, dengan adanya Nanda saat ini.
Ara muncul dari pintu dapur. Dia melangkah menuju ke tempat bundanya, juga tamu-tamu yang baru saja datang.
Tapi langkah Ara berhenti, begitu dia melihat keberadaan Awan di antara tamu-tamu yang datang itu. "Kak Awan," kata Ara, bergumam seorang diri dengan langkah yang berat.
"Kak, ayok sini."
Anjani kembali melambaikan tangan, memanggil Ara, supaya berjalan dengan cepat.
Ara segera sadar dan berjalan dengan tersenyum canggung. Dia tidak tahu, apa yang akan dia katakan pada Awan, karena dia juga tidak menyangka bahwa, Awan adalah anggota keluarga dari bos ayahnya.
"Udah gede ya, padahal dulu masih kecil, baru sekolah kan ya, TK kalau tidak salah," ujar mama Amel, mengingat kembali masa dulu, saat dia datang bersama dengan Elang dan Awan, pada saat Awan tidak mau sekolah karena tidak punya teman.
Mendengar perkataan omanya, Awan jadi tersadar, jika dia sepertinya tidak asing dengan Ara adalah, karena memang dia sudah pernah bertemu dengan dia sebelumnya. Masa kecilnya dulu, sewaktu dia baru saja datang ke Jakarta, karena pindah dari Batam.
__ADS_1
"Oh ya, ini cucu Oma, Awan."
Mama Amel, baru ingat kalau ada cucunya, yang ikut datang juga ke acara Ara. Dia ingin memperkenalkan Awan dengan Ara, dan Anjani, meskipun mereka sudah saling kenal pada waktu kecilnya dulu.
Anjani yang baru melihat ada Awan, tentu saja merasa kaget. Dia tidak menyangka, kalau pemuda yang dulu menolongnya saat dikerja preman adalah Awan. Anak dari mantan suaminya dulu.
"Awan, ini Awan Ma?" tanya Anjani tidak percaya.
"Iya ini Awan, kenapa?" tanya mama Amel bingung.
Akhirnya, Anjani menceritakan tentang kejadian waktu itu, pada mama Amel. Dan mama Amel pun akhirnya paham, karena dia juga sudah tahu, dengan cerita itu dari Awan sendiri.
Sekarang, Ara yang kembali terkejut. Dia tidak menyangka jika bundanya, juga sudah pernah bertemu dengan Awan. Bahkan, Awan juga yang menolong bunda dan adiknya, Anggi. Karena pada waktu itu, Ara sedang ada di Bogor, bersama dengan ayahnya, Abimanyu.
Elang, yang ikut mendengarkan semua pembicaraan mereka, jadi mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar sama sekali.
Begitu juga Abimanyu. Dia juga tahu cerita itu, dan sama seperti yang lain, dia juga tidak menyangka kalau semua itu sekarang baru diketahui, bahwa Awan adalah pemuda yang tidak sempat ditanyai namanya, karena Anjani lupa untuk bertanya, sampai pemuda itu undur diri.
Dan Awan juga tidak pernah menyangka, jika ibu-ibu yang dia tolong bersama dengan anak kecil, adalah Anjani. Mantan istri ayahnya, dan juga bundanya Ara. Bunda Jani, begitu Awan menyebutnya.
'Kenapa semua kebetulan seperti ini,' kata Awan dalam hati.
'Aku tidak menyangka jika, jalan berliku ini ternyata seperti ini.' Ara juga membatin dalam hati.
Dan Nanda, yang masih duduk bersama dengan mamanya, hanya memperhatikan bagaimana cara Ara dan Awan saling melirik satu sama lain.
Diam-diam, Nanda melihat bagaimana cara Ara memandang dan tersenyum. Begitu juga dengan cara Awan, yang terlihat tidak biasa.
'Apa mereka berdua sudah saling kenal sebelum ini?' tanya Nanda, yang berpikir bahwa, Ara dan Awan, sebenarnya sudah saling mengenal, tanpa harus dikenalkan seperti tadi.
Tapi tentu saja Nanda tidak ikut campur. Dia hanya bisa diam dan memperhatikan saja. Dia tidak mau mengambil kesimpulan, jika itu belum dia buktikan sendiri.
"Ayo-ayo, kita makan dulu. Gak afdhol kalau kumpul-kumpul tidak makan juga."
__ADS_1
Suara ayah Edi, memecah ketegangan yang dirasakan oleh Ara dan Awan. Mereka berdua jadi saling pandang dengan tersenyum tipis, karena sama-sama malu. Mereka juga belum mendapatkan kesempatan untuk bisa berbicara, untuk meluruskan kesalahpahaman tentang keberadaan Nanda.