Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Yang Seharusnya


__ADS_3

Waktu berjalan sebagaimana mestinya. Detik menuju ke menit, menit ke jam. Sedangkan jam menuju ke pergantian hari, minggu, kemudian bulan dan tahun.


Begitu juga dengan kehidupan keluarga Anjani. Semua berjalan sebagaimana layaknya kehidupan pada orang-orang lainnnya juga.


Ada kebahagiaan dan kesedihan yang mereka rasakan silih berganti. Karena sesungguhnya, tidak ada kebahagiaan yang abadi.


Begitu juga kesedihan, tidak ada yang kekal. Mereka ada dan selalu berdampingan. Silih berganti untuk memberikan warna pada kehidupan seseorang, dan semua orang pasti merasakan semua itu.


Saat ini, lima tahun sudah berlalu, pasca Abimanyu menjalani operasi tulang belakang. Dia juga sudah melakukan operasi lagi, untuk mengambil pen yang terpasang di semua anggota tubuhnya, yang dulu dipasangi pen, untuk membantu proses penyembuhan dan posisi tulang-tulangnya.


Abimanyu juga sudah bekerja lagi, meskipun tidak menyetir sendiri. Dia selalu menggunakan ojek atau taksi, untuk transportasinya, saat berangkat dan pulang ke kantor.


Kadang kala, Juna, suaminya Sekar, datang menjemputnya, untuk bisa berangkat bersama dengan mengunakan sepeda motor, jika Juna sedang tidak buru-buru.


Ini karena sekarang, Sekar dan Juna sudah tinggal di rumah sendiri, dan perumahan yang ditempati mereka, tidak terlalu jauh dari rumah ayah Edi.


Sekar, tidak lagi bekerja. Dia merawat anaknya sendiri, dan mengurus semua pekerjaan rumah tangganya sendiri juga. Mengingat kondisi Juna, yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil biasa.


Sekar tidak mau, bermanja-manja dengan menghabiskan uang gaji suaminya, karena mereka masih harus membayar rumah yang mereka tempati itu secara kredit. Yang penting, mereka sudah bisa mandiri.


Begitulah kemauan Sekar dan Juna.


Anjani juga sebenarnya ingin tinggal di rumah sendiri. Dua merasa sudah terlalu banyak merepotkan mertuanya selama ini.


Tapi karena keadaan keuangan mereka belum memungkinkan, dan Abimanyu menolak untuk mengambil kredit perumahan, akhirnya untuk sementara waktu, mereka tetap tinggal di rumah ayah Edi.


Meskipun sebenarnya, ayah Edi dan ibu Sofie, tidak pernah merasa keberatan dan direpotkan. Tapi tentu saja, yang namanya keluarga, ingin memiliki rumah sendiri, apalagi, dulunya, mereka juga sudah memiliki rumah dan tinggal sendiri, terpisah dari keluarga orang tua.

__ADS_1


"Sayang. Besok, kalau tabungan kita sudah cukup, sebaiknya beli mobil dulu, atau rumah dulu?" tanya Abimanyu suatu hari.


"Rumah dulu saja Mas. Kita tidak mungkin selamanya ada fi rumah ayah kan?" jawab Anjani, sambil merapikan tempat tidur.


"Iya juga sih. Tapi Mas juga butuh kendaraan untuk kerja, bagaimana?" Abimanyu, mengutarakan keinginannya, yang menjadi kebutuhannya.


"Mas sudah kuat nyetir sendiri? atau kita beli sepeda motor saja dulu. Mobilnya bisa ditunda kan?" Anjani memberikan usulan.


"Iya benar juga. Tapi tabungan kita saat ini, masih kurang untuk beli rumah. Kamu masih bisa bersabar kan Sayang?" tanya Abimanyu, saat melihat layar handphonenya, mencari aplikasi tabungan, untuk melihat saldo rekeningnya yang terakhir kali.


"Ia Mas. Jani sabar kok," jawab Jani, sambil tersenyum.


Sekarang, Jani sudah selesai merapikan tempat tidur, kemudian berjalan menuju ke tempat duduknya Abimanyu. Dia ikut duduk di kursi yang lain, kemudian membukakan bungkus-bungkus obat, yang masih harus dikonsumsi oleh suaminya itu, meski hanya minum satu kali dalam sehari. Karena obat-obatan itu, untuk menjaga kesehatan tulang dan vitamin yang masih diperlukan Abimanyu.


"Nanda jadi di bawa Yasmin Mas, jika dia pulang besok?" tanya Anjani, yang menanyakan tentang Nanda.


Beberapa minggu kemarin, Yasmin memberikan kabar jika dia dan suaminya, Aksan, sudah berkecukupan di Taiwan, sehingga ingin mengajak Nanda untuk bisa hidup di sana.


Anjani merasa bingung, saat ditanya pendapatnya sendiri tentang rencana dari adiknya, Yasmin.


Tentu saja Anjani bingung. Selama ini, Nanda sudah terbiasa hidup dalam perawatannya, bersama dengan anaknya, Ara. Dia merasa kehilangan, jika Nanda harus pergi, dan ini bukan untuk sehari dua hari saja, tapi dalam batas waktu yang tidak bisa ditentukan. Karena baginya, Nanda bukan hanya sekedar keponakan, tapi sudah seperti anaknya sendiri.


Bahkan, Anjani tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan anaknya, Ara. Itu karena selama ini, Ara juga sudah terbiasa bersama dengan sepupunya itu. Mereka berdua sama seperti seorang kakak beradik, dan bukan saudara sepupu biasa.


"Kamu keberatan ya?" tanya Abimanyu lagi, karena Anjani tidak segera menjawab pertanyaan darinya tadi. Dia seakan-akan tahu, apa yang dirasakan oleh istrinya itu.


"Apa mas tidak memikirkan bagaimana perasaan Ara, jika ditinggal Nanda?" tanya Anjani, yang tidak menjawab pertanyaan dari suaminya.

__ADS_1


"Sebenarnya, jika boleh jujur. Mas juga merasa berat Jani. Tapi kita juga tidak boleh egois. Kita juga harus tahu, bagaimana rasanya berpisah dengan seorang anak dalam waktu yang cukup lama. Aku tidak bisa membayangkan, jika Yasmin adalah Aku, yang tidak bisa bertemu dengan anakku dalam sekian tahun lamanya. Ini sama beratnya buat Aku juga," jawab Abimanyu.


Dua menjelaskan bagaimana keadaan hatinya sendiri, jika rencana Yasmin itu benar-benar terjadi.


"Kita serahkan saja pada Nanda ya. Biarkan dia yang memilih sendiri, mau ikut atau tidak dengan mamanya. Kita hanya bisa menjelaskan kepadanya, dan tidak boleh memberikan penilaian apa pun."


Anjani mengangguk mengiyakan perkataan Abimanyu. Dia sendiri juga tidak tahu, apa yang seharusnya. Karena yang pasti, Yasmin tentunya lebih berhak atas Nanda, dibandingkan dengan dirinya ataupun suaminya.


Begitu juga dengan ayah Edi dan ibu Sofie. Mereka berdua, hanya nenek dan kakeknya Nanda. Mereka berdua, hanya bisa memberikan saran dan nasehat yang baik untuk Yasmin, jika ingin mengajak anaknya, Nanda, untuk bisa hidup bersama dirinya, di negara Taiwan sana.


"Apa Yasmin tidak ada keinginan untuk hamil lagi Mas? untuk bisa jadi teman Nanda juga kan," tanya Anjani ingin tahu.


"Kata Aksan, tahun kemarin, sebenarnya Yasmin sudah hamil. Tapi terpaksa harus digugurkan, karena perkembangan janinnya tidak normal," jawab Abimanyu dengan wajah sedih.


"Dan menurut dokter yang menangani, Yasmin diminta untuk tidak hamil lagi dalam tiga tahunan ini," imbuh Abimanyu, memberikan penjelasan kepada Anjani.


Anjani mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari suaminya itu. Dia memang pernah mendengar kabar tentang kehamilan Yasmin. Tapi beberapa bulan kemudian, Yasmin dinyatakan keguguran.


Hanya itu saja yang diketahui oleh Anjani, tentang kabar kehamilan adik iparnya itu.


"Ya sudah, sebaiknya kita tidur," ajak Abimanyu, setelah selesai minum obatnya.


Anjani mengangguk setuju. Dia juga sudah mulai mengantuk. Tapi sebelum dia ikut berbaring di tempat tidur, dia berpamitan pada Abimanyu, untuk melihat keadaan anaknya, Ara dan Nanda, yang sekarang ini sudah tidur secara terpisah, di kamar yang berbeda.


Ara memang masih menempati kamarnya yang dulu, tapi Nanda, sudah di minta Anjani untuk tidur sendiri, dan menempati kamar mamanya, Yasmin.


Ini karena usia mereka berdua, Ara dan Nanda, sudah semakin besar dan memang sudah seharusnya mereka berdua tidak tidur dalam satu kamar yang sama.

__ADS_1


Selain untuk mendidik anak-anak supaya berani dan mandiri, Anjani juga tidak ingin terjadi sesuatu pada kedua anak-anaknya itu. Karena mereka bukanlah saudara kandung yang sebenarnya. Dan mereka berdua, juga tahu tentang hal itu.


Jadi, sejak mereka berdua masuk sekolah dasar, kamar mereka berdua sudah mulai di pisah oleh Anjani. Dan ini mendapat persetujuan dari suaminya, dan juga kedua mertuanya. Anjani tidak mungkin mengambil keputusan, tanpa meminta pendapat dari orang-orang di rumah itu juga. Dan semua ini juga, untuk kebaikan mereka semua, bukan hanya kedua anak-anaknya saja.


__ADS_2