Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Terus Saja Berdebat


__ADS_3

"Yeee... Kakak datang!"


Anggi berteriak sambil berjingkrak-jingkrak senang, melihat kedatangan Ara, yang dibonceng motor sport miliknya Nanda.


"Ck. Kebiasaan deh!" ucap Ara, mencibir adiknya yang tidak pernah mau tidur, jika dia belum pulang dari sekolah.


Padahal, jika Ara tiba di rumah, hari sudah sore. Tapi, Anggi tetap saja beralasan yang sama, dan tidak mau tidur siang, jika tidak ada Ara di rumah. Hal yang tidak masuk akal sebenarnya, tapi itu hal yang wajar untuk Anggi sendiri.


"Bunda-bunda! Kak Ara pacaran dengan kak Nanda Bun!"


Anggi kembali berteriak, memanggil bundanya, Anjani, yang sedang berada di dapur.


"Adek!"


Ara ikut berteriak begitu dia masuk ke dalam rumah, kemudian menoleh ke arah luar rumah, di mana Nanda berada.


"Masuk Kak," ajak Ara, pada Nanda.


Nanda hanya mengangguk saja, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah, setelah memarkirkan sepeda motornya.


Anjani berjalan dari arah dapur, dengan ditarik oleh anaknya, Anggi, menuju ke arah ruang tamu. "Ayo Bun. Kak Ara sudah pulang..." kata Anggi, memaksa bundanya, untuk datang ke ruang tamu.


"Sore Bunda Jani," sapa Nanda, yang belum sempat duduk. Dia menyalami Anjani terlebih dahulu, sebelum duduk di kursi tamu.


"Bener kan Bun, Kak Ara pacaran dengan kak Nanda?" Anggi terus bertanya dan mendesak bundanya, supaya menjawab dan membenarkan apa yang dia katakan tadi.


"Anggi!" panggil Ara, dengan berteriak karena merasa kesal dengan ulah adiknya, Anggi.


"Adek. Kak. Udah-udah, kalian ini."


Anjani berusaha untuk melerai keduanya. Sedangkan Nanda, hanya tersenyum melihat tingkah laku kedua adik sepupunya itu.


"Terima kasih ya, udah mau jemput Ara. Pak ojeknya sedang sakit perut, jadi Bunda terpaksa telpon Kamu buat jemput Ara tadi," kata Anjani menjelaskan.


Nanda hanya mengangguk sambil tersenyum, mendengar perkataan dari bundanya itu.


Sekarang, Ara jadi tahu, apa alasan yang sebenarnya, kenapa justru kakak sepupunya itu, Nanda, yang datang menjemput, dan bukan Pak ojek.


"Jadi pak ojek sakit Bun? Ara pikir, memang kemauan kak Nanda, yang datang untuk menjemput Ara tadi," ujar Ara, dengan wajah cemberut.


"Hehehe..."

__ADS_1


Nanda hanya terkekeh, melihat ekspresi wajah Ara, yang membuatnya gemas sendiri. Sayangnya, saat ini mereka sedang berada di rumah dan ada bundanya serta adiknya juga.


Akhirnya, Nanda hanya bisa menahan diri agar tidak sampai melakukan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Karena itu bisa dianggap sebagai kelakuan yang tidak sopan.


"Oh ya, bunda buat minum dulu ya!" kata Anjani, yang baru saja ingat bahwa, dia belum menyediakan air minum untuk Nanda.


"Tidak usah Bun. Nanda mau pulang kok. Ini, katanya mama mau diantar ke pasar sore, yang dulu sering ada di dekat jembatan layang."


Nanda mencegah Anjani, yang baru saja berdiri untuk pergi ke dapur. Dia mengatakan jika mau pulang, karena ingin pergi bersama dengan mamanya, Yasmin.


"Lho, pasarnya sudah pindah Nda. Sudah tidak ada di jembatan layang itu lagi. Kan sudah ada area pasar sore, yang baru diresmikan setahun yang lalu." Anjani memberitahu tentang pasar sore, yang mau didatangi oleh Nanda.


"Pindah ke mana Bun?" tanya Nanda.


Nanda memang tidak tahu apa-apa, karena dia sudah sangat lama tidak berada di Indonesia. Dia juga sedikit pangling, dengan jalan dan tata letak kota beserta bangunan-bangunan yang sekarang sudah sangat banyak dan tinggi-tinggi.


"Ada di dekat taman, tak jauh dari pertigaan situ kok!"


Anjani menjelaskan pada Nanda, di mana letak pasar sore yang diinginkan didatangi oleh Yasmin.


"Oh... Ya sudah. Nanda akan bilang sama mama nanti. Sekarang, Nanda mau pamit pulang ya Bun, Ra. Eh, Anggi juga. Hehehe... TOS yuk!"


Anggi menyambut dengan antusias, ajakan Nanda, yang sudah memposisikan tangannya sendiri, untuk melakukan TOS dengannya.


Sekarang, justru Ara yang ganti meledek adiknya itu. Dia mengolok-olok Anggi, dengan mengatakan bahwa, Anggi berpacaran dengan Nanda.


"Ihsss, kan cuma TOS saja!" sahut Anggi dengan cepat.


"Aduh, kalian berdua tidak ada bosan-bosannya ya berantem terus," ujar Anjani, dengan mengelengkan kepalanya.


"Hehehe... Ini yang buat rame dan kangen Bun," sahut Nanda, yang ikut tertawa senang melihat mereka berdua saling ledek-ledekan.


Anjani jadi ikut tersenyum, mendengar perkataan dari Nanda, tentang keadaan suasana rumahnya. Dia juga merasakan hal yang sama, seperti yang dikatakan oleh Nanda tadi.


Rasanya sepi, jika mereka berdua sedang tidak ada di rumah, karena sekolah. Tapi juga akan merasa kesal dan gemas sendiri, jika mereka berdua sudah pulang, kemudian bertengkar hanya karena hal-hal kecil, yang menjadi perbedaan.


"Nanda justru tidak akan mengalami hal serupa Bun, karena perbedaan usia Nanda, dengan adiknya Nanda nanti."


Nanda berpikir bahwa, dia dengan adiknya, yang belum lahir, tidak akan mengalami hal yang sama seperti yang ada pada Ara dengan Anggi. Meskipun sebenarnya perbedaan usia Ara dan Anggi juga terpaut cukup jauh, tapi mereka berdua tetap saja sama seperti kucing-kucing yang lucu, jika sedang berebutan.


"Oh ya. Kamu sudah mendarat sekolah?" tanya Anjani, sebelum Nanda melangkah keluar rumah.

__ADS_1


"Belum Bun. Ini nunggu beberapa surat dari sekolah asal, karena kemarin belum jadi, dan akan dikirim lewat email saja."


Anjani mengangguk paham, dengan apa yang dikatakan oleh Nanda.


"Ya gak apa-apa sih. Tapi lebih baik Kamu daftar saja dulu. Suratnya bisa menyusul. Kan mumpung tahun ajaran baru belum lama. Jadi belum tertinggal jauh." Anjani berusaha untuk menjelaskan pada Nanda, supaya bisa mendaftar ke sekolah terlebih dahulu, dan surat-surat yang diperlukan untuk persyaratan masuk sekolah, bisa menyusul kemudian.


"Kalau sekolah swasta tidak apa-apa ya Bun, daftar tengah tahun kayak gini? Kalau yang sekolah negeri gimana Bun?" tanya Nanda, meminta pendapat pada Anjani.


"Bisa juga sih, tergantung pihak sekolah juga, bagaimana aturan yang berlaku di sekolah tersebut. Memangnya, Kamu mau daftar di sekolah mana?" tanya Anjani, yang saat ini sudah berada di luar rumah, bersama dengan Nanda dan juga kedua anaknya, Ara dan Anggi.


"Emhhh... belum pasti juga Bun. Cuma, Nanda mau coba daftar ke sekolah Ara juga. Pasti susah juga ya masuk ke sana?"


"Coba aja Kak. Paling juga di tes ini itu. Kakak kan pintar, pasti bisa. Nanti, kita bisa satu sekolah, meskipun beda tingkatan," sahut Ara, tanpa diminta untuk menjawab.


"Halahhh... paling Kak Ara tuh yang seneng, bisa barengan kak Nanda terus!" ujar Anggi, menimpali.


"Ihhh, adek! ikutan nyahut terus nih!" Ara berkata dengan kesal, karena merasa jika adiknya itu suka menganggu, jika ada yang berbicara.


Akhirnya, mereka berdua kembali bertengkar lagi. Dan Anjani, hanya bisa menghela nafas panjang, melihat kedua anaknya itu. Sedangkan Nanda, terus tertawa-tawa senang, melihat keduanya yang tidak pernah akur, meskipun itu hanya sebatas gurauan saja.


Tak lama kemudian, Nanda kembali berpamitan. Dia akan segera pulang, untuk pergi mengantar mamanya, Yasmin.


"Dada kak Nanda!" teriak Anggi sambil melambaikan tangannya.


Sedangkan Ara dan Anjani, sudah berbalik arah, untuk masuk ke dalam rumah.


"Tunggu!"


Anggi kembali berteriak keras, dengan berlari-lari, mengikuti langkah bundanya, bersama dengan kakaknya juga.


"Bunda. Anggi mengantuk. Anggi mau tidur dulu ya."


Ara menepuk pundak adiknya, karena perkataan adiknya itu.


"Kebiasaan. Ini udah sore, mandi sana, bukannya pergi tidur!"


"Tapi Anggi ngantuk Kak!"


"Mandi!"


"Tidur!"

__ADS_1


Dan begitulah pada akhirnya. Mereka terus saja. berdebat, tentang apa yang seharusnya dilakukan pada sore hari.


Anjani tidak mau ikut campur. Dia hanya menasehati keduanya, agar segera mandi, kemudian bersiap-siap untuk menyambut kedatangan ayah mereka, Abimanyu, yang akan segera pulang dari kantor.


__ADS_2