
"Lang, Awan sudah tidur tuh. Sebaiknya kita makan saja dulu."
Mama Amel, sudah kembali ke meja makan, di mana anaknya dan juga suaminya menunggu. Dia memberitahu anaknya, jika cucunya, Awan, sudah tertidur di dalam kamarnya sendiri.
"Tumben Ma?"
Elang mengeryit heran. Tidak biasanya, anaknya itu tidur awal. Padahal saat ini, masih belum jam delapan malam.
"Ya gak tahu juga. Kalau bangun dan merasa lapar, biar dia cari sendiri nanti."
Elang hanya mengangguk saja, kemudian mulai menyendok nasi untuk makan malamnya.
"Emhhh, bisa jadi dia kecapekan, atau ada sesuatu yang membuat dia malas makan malam ini. Apalagi tadi itu, dia antar Ara pulang juga sih," ujar mama Amel, memberitahu kemungkinan yang terjadi pada cucunya itu.
"Ara?" tanya Elang, yang tidak ingat, siapa seseorang yang bernama Ara, yang disebut mamanya malam ini.
"Iya Ara. Itu lho anaknya Anjani." Mama Amel, kembali menjawab pertanyaan dari anaknya itu.
Mama Amel juga menjelaskan, siapa Ara, yang tadi di antar oleh Awan.
"Kok Mama tahu, siapa yang bilang?" tanya Elang, yang memang tidak tahu, jika tadi anaknya, Awan, sudah mengantarkan Ara pulang atas permintaan dari ayahnya Ara sendiri, yaitu Abimanyu.
Papa Ryan, yang sedari tadi masih sibuk dengan handphonenya, dan tidak memperhatikan serta ikut berbicara, menoleh. Mencoba untuk mencari tahu, apa yang sedang diperbincangkan oleh istri dan anaknya itu.
Akhirnya, mama Amel menceritakan tentang apa yang dia ketahui tentang keluarga Abimanyau. Karena itu juga yang membuat Abimanyu meminta tolong pada Awan, supaya mengantarkan anaknya, sewaktu pulang dari sekolah.
Itu karena Abimanyau dan Anjani, merasa khawatir dengan keselamatan anaknya, yang tidak terbiasa pulang sendiri, dengan berganti-ganti angkutan umum. Apalagi, hari sudah mulai gelap, jika terlalu lama menunggu angkutan umum, yang biasanya berhenti lama, untuk mencari penumpang. Ara bisa tiba di rumah, saat hari benar-benar sudah malam.
Elang mengangguk sambil menyendok lauk dan sayur. Dia tidak marah, ataupun menanggapi penjelasan dari mamanya itu.
Papa Ryan juga diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa, dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Mama Amel.
"Kamu setuju tidak Lang, jika Awan berjodoh dengan Ara?"
Tiba-tiba saat mereka mulai makan, mama Amel bertanya kepada anaknya, dengan pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan oleh Elang ataupun papa Ryan sendiri.
Mereka berdua, melihat ke arah mama Amel, dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
"Hehehe, kok pada kaget gitu ya? Kan ini cuma seandainya saja. Bukan harus."
Mama Amel, tersenyum canggung, karena pertanyaan yang dia berikan pada anaknya justru membuat anaknya itu, bahkan suaminya juga, menatapnya dengan pandangan menyelidik curiga.
"Mama gak ada rencana apa-apa lho. Ini adalah murni pikiran mama, yang ingin melihat cucunya mama tersenyum bahagia. Gak jadi anak pendiam seperti itu."
Suara mama Amel, terdengar bergetar. Dia memang tidak pernah melihat cucunya, Awan, tersenyum dengan lepas, layaknya anak-anak seusianya. Dia merasa jika, cucunya itu, terlalu pendiam, dan tidak mau mengatakan apa-apa, tentang keinginan dan perasaannya sendiri.
"Ma. Jika ada jodoh diantara mereka berdua, kita tidak bisa menolak. Tapi jika tidak ada jodoh, jangan dipaksa juga. Nanti akan ada penyesalan yang tidak bisa dihindari. Fokus pada Elang saja, yang pastinya sudah siap untuk menikah. Ya kan Lang?"
Papa Ryan, yang tidak pernah banyak bicara, jadi turun tangan, untuk menasihati istrinya itu, yaitu mama Amel.
"Ya Pa, maaf. Mama hanya terlalu bersemangat, karena dulu saat Elang bersama dengan Anjani, gagal dan tidak pernah bisa berjalan dalam satu tujuan dan hati juga. Jadi Mama berharap, agar kisah mereka berdua, dilanjutkan oleh anak-anak mereka Pa. Lagian, Mama kan bilang jika ada jodoh. Jika tidak juga tidak apa-apa kok."
Mama Amel, mencoba untuk membela diri, dengan memberikan alasan serta penjelasan, dari apa yang tadi dia katakan.
Elang tidak menyahut. Dia meneruskan makan malamnya, yang sempat tertunda, karena perkataan yang diucapkan oleh mamanya tadi.
Begitu juga dengan papa Ryan. Dia hanya menggeleng, sambil melihat ke arah istrinya, yang sedang tersenyum canggung, karena merasa bersalah dan merusak suasana makan malam mereka.
*****
"Huh, malas bener mau keluar kamar, hanya untuk sekedar mengisi perut kosong."
Awan mengerutu sendiri, dengan keadaan perutnya yang merasa lapar.
Tadinya, Awan berusaha untuk mengabaikan. Tapi ternyata, rasa laparnya tidak bisa dia ajak untuk berdiam diri.
Dengan sangat terpaksa, Awan akhirnya keluar juga dari dalam kamar. Tidak mungkin bisa tertidur lagi, jika perut laparnya, tidak diisi dengan makanan. Itulah sebabnya, Awan harus mengisi perutnya, agar cacing-cacing dalam perutnya tidak lagi berdemo.
Awan berjalan menuju ke arah dapur. Dia membuka tudung saji, untuk melihat menu makanan yang masih tersedia.
Sebenarnya, masih ada banyak lauk dan sayur, jika dia mau makan. Tapi mulutnya terasa tidak berselera untuk menikmati makanan yang sudah tersedia di meja makan. Dia tidak ada selera untuk makan makanan itu.
Karena tidak mau membangunkan bibi pembantu rumah, Awan mencari-cari bahan makanan, yang ada di lemari pendingin dan juga rak dapur.
Dari dua tempat yang dia lihat, dia menemukan sebungkus sosis ayam dan mie instan. Tapi karena malas untuk memasak, akhirnya Awan hanya membakar lima batang sosis, untuk sekedar mengganjal perutnya malam ini. Itu sudah cukup untuk menyuap cacing-cacing dalam perutnya.
__ADS_1
Di saat sosis bakar baru selesai dia siapkan ke atas piring, ada suara pintu terbuka.
Clek!
Awan menoleh dengan waspada. Dia tidak mau jika ada orang, yang memergokinya saat ini.
Dengan gerakan cepat, Awan mengambil piring sosis, dan membawanya ke bawah meja makan. Untungnya, lampu dapur menyala dengan lampu yang remang-remang, karena ada pengaturan untuk cahaya lampu yang diinginkan penghuni rumah, sehingga pada malam hari, dan tidak ada aktivitas di dalam dapur, cahaya lampu diatur dalam keadaan tidak terlalu terang.
Ternyata yang tadi membuka pintu adalah ayahnya, Elang, yang bermaksud untuk mengambil air minum.
Dan yang lebih beruntung lagi, ayahnya itu tidak tahu, jika Awan bersembunyi di bawah meja makan. Elang, tidak melihat keberadaan anaknya di dapur. Dia langsung kembali, setelah selesai mengisi teko air.
"Hufhhh...!"
Awan membuang nafas lega, saat ayahnya sudah pergi dan masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Sekarang, Awan keluar dari kolong meja, kemudian duduk di kursi. Dia mulai memakan sosis bakarnya. Dia menikmati makanan tersebut, sambil melamun.
Awan tidak sadar, jika tak lama setelah ayahnya masuk ke dalam kamarnya sendiri, ada omanya, mama Amel, yang sedang membawa teko air juga. Teko yang biasanya tersedia di dalam setiap kamar, agar tidak perlu repot-repot untuk mencari-cari air, jika bangun tidur.
Sosis di piring, sudah berpindah ke dalam perutnya Awan, saat mama Amel berdehem.
"Ehemmm."
"Eh, Oma!"
Awan tampak terkejut, melihat keberadaan omanya, yang tidak dia sadari. Wajahnya memucat, tapi dengan cepat, Awan bisa menormalkan raut wajahnya kembali.
"Lapar? Masih mau makan tidak?" tanya mama Amel, dengan menunjuk ke arah piring kosong, yang ada di depannya Awan. Dia menawari cucunya itu, untuk makan malam.
Awan mengeleng beberapa kali, membuang rasa malu, yang ada pada dirinya saat ini.
"Kamu tidak ada yang mau diceritain ke Oma?" tanya mama Amel, memancing cucunya, yang sekarang ini, bukan lagi anak-anak. Tapi sudah menjadi seorang remaja yang gagah dan tampan.
Sekarang, mama Amel sudah ikut duduk di kursi makan, di seberang meja. Tepat di depan cucunya.
Awan mengeryit heran, mendengar pertanyaan dari omanya itu.
__ADS_1
Tapi karena Awan tidak mau bercerita, akhirnya dia pamit pada omanya, untuk kembali ke dalam kamarnya sendiri. Dia mau beristirahat, karena besok, dia masih harus berangkat ke sekolah.