Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Jenuh


__ADS_3

"Istrinya Kakak minta jalan-jalan ke mana?" tanya Awan ingin tahu, apa yang diinginkan oleh Ara saat ini.


"Ke tempat yang bisa buat cerita," jawab Ara memberitahu.


Tapi dia tidak menjelaskan di mana tempat tersebut. Dan ini membuat Awan mengerutkan keningnya. Memory di mana tempat tersebut.


Sebelum Awan benar-benar pergi, dan melajukan mobilnya dari area parkir kantor polisi, dia kembali bertanya. "Di mana itu Dek?"


"Emhhh... bagaimana kalau kita ajak Kak Nanda dan Mita. Mungkin, ini ada hubungannya dengan mereka berdua juga."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh istrinya itu, Awan semakin penasaran. Dia tidak tahu, apa yang sebenarnya diinginkan oleh Ara saat ini.


"Jangan bikin penasaran Kakak dong," sahut Awan merajuk.


"Hihihi... gak pantes!"


"Hahaha... merajuk dengan isteri sendiri sih pantes-pantes aja." Awan membela dirinya sendiri, agar Ara tidak lagi meledeknya.


"Kita ke kampus kak Nanda aja! Mita juga ngampus kan pastinya."


Awan hanya mengangguk saja, kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah jalan, yang menuju ke kampusnya Nanda dan Mita.


"Kamu tanggung jawab dengan menelpon Oma. Biar Oma gak khawatir, karena kita gak pulang-pulang." Awan memperingatkan istrinya, agar menghubungi Oma Amel terlebih dahulu.


"Siap Bos!"


"Tapi pakai handphone milik kakak, kan punya Ara masih dijadikan barang bukti."


Ara menjawab dengan cepat, sambil menaikkan telapak tangannya di pelipis. Mirip dengan orang yang sedang hormat pada saat upacara bendera.


Dia juga seperti orang yang sedang membuat laporan, setelah tangannya diturunkan.


"Hilih!"


Satu tangan Awan, mengacak pucuk kepalanya Ara. Dia sudah di buat gemas dengan tingkah istrinya itu.


"Ehhh... berantakan!"


Ara pura-pura cemberut, dengan merapikan rambutnya yang sekarang jadi sedikit berantakan. Kemudian mengambil handphone milik suaminya, yang ada di dasbor mobil.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Ya Wan. Apa udah selesai?"...


..."Ini Ara Oma."...


..."Oh Ara. Bagaimana, apa sudah selesai?"...


..."Ya Oma, sudah. Tapi..."...


..."Tapi apa?"...


Mama Amel menyahut cepat, perkataan yang belum selesai diucapkan oleh Ara. Sepertinya dia tidak sabaran. Ingin mendengar berita terbaru dari kasusnya Ara.


..."Emhhh... Ara dan Kak Awan gak langsung pulang ke rumah Oma. Kami mau ke kampus kak Nanda."...


..."Lho ada apa?"...

__ADS_1


Dengan tidak sabar, mama Amel kembali bertanya. Padahal, Ara belum selesai memberikan penjelasan kepada dirinya.


..."Gak apa-apa Oma. Ini ada sedikit yang ingin Ara tanyakan pada kak Nanda dan juga Mita. Mungkin, jawaban mereka nanti, bisa membantu teka teki masalah penculikan dan perampokan yang ada di rumah."...


..."Oh gitu ya? Ya sudah, hati-hati ya kalau begitu! Bilang sama Awan, jangan ngebut."...


..."Ihsss... Oma! Kapan Awan pernah ngebut?"...


..."Hehehe..m ternyata dia dengar ya?"...


..."Ah Oma..."...


..."Ya sudah. Pokoknya hati-hati!"...


..."Iya Oma..."...


Klik!


Ara mengembalikan handphone tersebut di dasbor mobil lagi.


Sekilas, Awan melihat ke arahnya. Tapi tidak mengatakan apa-apa.


Baru setelah itu, saat sudah dekat dengan kampus Nanda, Awan bertanya pada istrinya, "Tadi Kamu bilang sama Oma, jika kita akan bicara dengan Nanda ataupun Mita. Dan jawaban mereka, bisa jadi menguak rahasia penculikan dan perampokan di rumah. Maksudnya bagaimana Ra?"


Sebelum Ara menjawab pertanyaan dari Awan, dia menghela nafas panjang, kemudian memejamkan kasar.


"Hemmm... itu Kak. Ini sih, hanya pemikiran Ara. Bukannya Ara masih ingin tau, bagaimana keadaannya. Tapi siapa tau, ini memang ada kaitannya."


"Jangan berbelit-belit Ra. Kakak gak paham ke mana arah jawaban yang Kamu berikan."


"Nanti Kakak juga akan tau kok."


Mobil sudah masuk ke kawasan kampus. Awan mencari tempat parkir yang ada di bawah pohon, agar lebih nyaman.


"Kamu sudah telpon Mita?" tanya Awan heran.


Sedari tadi, istrinya itu tidak terdengar bicara melalui telpon dengan Mita. Hanya dengan omanya saja, tadi Ara menelpon.


"Ara kirim pesan Kak. Siapa tau, Mita ada kelas. Jadi, gak ganggu dia juga kan. Soal Kak Nanda, biar Mita yang urus."


Ara menjeda kalimatnya. Kemudian melanjutkan lagi, untuk memberikan penjelasan pada Awan. Agar suaminya itu tidak lagi bertanya-tanya.


"Aku sudah kasih tau, kita menunggu mereka di parkiran mobil."


Menunggu itu memang tidak asyik. Membosankan dan kesal sendiri.


Tapi itu tidak terjadi antara Ara dan Awan.


Sebagai sepasang pengantin baru, mereka berdua bisa saja membuat moment-moment indah tanpa di duga sebelumnya. Hal yang konyol sekalipun, bisa jadi adalah moment yang menurut mereka romantis.


Awan yang merasa bosan, menarik-narik rambut Ara yang menjuntai ke bahu.


Tadinya, Ara bersikap biasa saja. Dia tidak menepis ataupun mengaduh. Meskipun kadang-kadang tarikan yang dibuat Awan terasa juga di kulit kepalanya.


Tapi diamnya Ara, justru membuat Awan semakin ingin menggodanya.


Sekarang, dia bukan lagi menarik rambut istrinya. Tapi justru menyisir rambut tersebut dengan jari-jarinya sendiri.


Untungnya, apa yang mereka lakukan ini ada di dalam mobil. Dengan kaca mobil yang tidak tembus pandang dari luar. Meskipun mereka berdua, bisa melihat keadaan di sekitarnya.

__ADS_1


Lama-lama, Ara merasa jengah. Dia risih juga karena tangan Awan terus saja menyisir rambut di kepalanya.


Dia yang tadinya asyik bermain handphone milik Awan, jadi mendengus kesal.


"Kak, ihsss..."


"Hehehe..."


Awan hanya menanggapi dengan cengengesan. Dia mendapat mainan baru saja yang lebih asyik. Dibanding dengan bermain game dari handphone.


Saat tangan Awan kembali mulai menyisir, tangan Ara menegang pergelangan tangannya.


Sebenarnya Awan tidak merasa sakit. Tapi dia pura-pura meringis dan juga mengaduh.


"Duh, aduh!"


Ara yang merasa tidak melakukan apa-apa, dengan tangannya Awan, tentu saja kaget. Dengan cepat Ara melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Awan.


Tapi wajahnya Awan tetap saja seperti orang yang sedang kesakitan. Bahkan dibuat gerakan seperti tangannya itu sedang patah tulang.


"Auwww... auwww..."


"Kenapa Kak? Mana yang sakit?"


Ara bertanya dengan panik. Dia merasa sangat bersalah, karena memegang pergelangan tangan suaminya itu.


Tapi dia juga merasa heran. Karena dia merasa sangat yakin jika, tadi dia tidak mengeluarkan tenaga apapun, saat memegang pergelangan tangan tersebut.


Ara yang panik sampai tidak berani untuk memegang tangan Awan lagi. Apalagi, melihat bagaimana dengan wajah Awan yang menahan rasa kesakitan.


"Kak..."


Perasaan cemas, takut dan rasa bersalah campur aduk di dalam hatinya Ara.


Apalagi, saat Awan terlihat lemas dan merebahkan kepalanya di atas pundaknya Ara.


"Kita ke rumah sakit ya Kak! Di periksa dulu."


Ara sudah hampir menegakkan kepalanya Awan, agar bisa duduk sendiri dan dia akan mengambil alih setir.


"Gak usah," jawab Awan pelan. Masih di atas bahunya Ara.


"Terus?" tanya Ara bingung.


"Cium aja!"


Ara melongo mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya barusan.


"Apa?" tanya Ara menyakinkan pendengarannya sendiri. Dengan kening berkerut.


"Hehehe..."


"Ihhh... jahat!"


"Hahaha... cium pokoknya!"


Awan masih merajuk seperti anak kecil. Meskipun pundak dan lengannya sudah dipukul Ara berkali-kali.


Tapi tentu saja, pukulan Ara itu tidak bermaksud untuk menyakiti tubuhnya Awan.

__ADS_1


__ADS_2