Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Rasa Syukur


__ADS_3

Sebelum sidang pengadilan papanya Dika kembali di gelar, Awan dan Ara menemuinya terlebih dahulu. Karena mereka berdua ingin memberikan kabar tentang keadaan Dika sekarang ini.


Awan menceritakan tentang keadaan Dika, yang sekarang ini sudah tidak koma lagi. Tapi sudah sadar. Meskipun belum ada interaksi yang berarti.


Tapi, dokter masih terus memantau perkembangan kondisi Dika, di ruang observasi. Bukan di ruang rawat inap umum.


Mata papanya Dika berkaca-kaca, mengingat semua hal yang tidak pernah dia sangka-sangka. Yaitu anaknya kembali sadar dari koma.


"Om tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada kalian berdua. Sungguh, Om benar-benar tidak tahu lagi. Kata apa yang pantas untuk mengungkapkan perasaan yang saat ini Om rasakan."


"Terima kasih nak Awan. Nak Ara."


Akhirnya papanya Dika benar-benar menangis. Merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak hinggap di dalam hatinya.


Papanya Dika benar-benar merasa bahagia, dan juga bersyukur. Karena awan mau menjaga, bahkan membiayai perawatan anaknya sampai sembuh.


Hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang lain, jika tahu bahwa, orang tersebut adalah anak dari orang-orang yang sudah berbuat jahat terhadap keluarganya, bersama dengan calon istrinya. Bahkan menculik dan berniat untuk menjualnya ke luar negeri.


Hal yang sangat disesali oleh papanya Dika saat ini. Karena ternyata, hal itu tidak terjadi pada Awan dan keluarganya.


Sebelum dia memasuki ruang persidangan, sekali lagi papanya Dika mengucapkan terima kasih dan memeluk Awan. Dia juga menitipkan anaknya berada di rumah sakit.


"Sekali lagi Om mengucapkan terima kasih nak Awan. Om juga nitip Dika. Semoga, di saat dia sadar dia bisa melihat dan mengucapkannya terima kasih juga."


"Om benar-benar menyesali semuanya yang sudah terjadi. Sekali lagi, Om minta maaf."


Setelah mengatakan semua itu, papanya Dika digiring menuju ke tempat persidangan. Karena ini adalah sidang akhir, yang akan menjadi penentu keputusan hasil sidang, untuk hukuman yang akan dia terimanya nanti.


Di saat Awan dan Ara tiba di dalam ruangan sidang, ternyata semua keluarganya sudah duduk bersama para peserta yang mengikuti jalannya sidang.


Ada ayah Edi, ibu Sofie, Sekar dan juga suaminya. Ada Yasmin dan Nanda, yang datang bersama dengan Mita.


Miko, Anggi dan adik-adiknya yang lain, termasuk dengan adiknya Nanda, ada di rumah. Di jaga oleh pengasuh dan bibi pembantu rumah. Karena anak-anak kecil, tidak diperkenankan untuk ikut ke dalam ruang persidangan seperti ini.

__ADS_1


Sebenarnya, tadi Wawan juga menghubungi Nanda, mengatakan jika akan ikut hadir. Tapi ternyata rencana itu batal. Di karenakan perutnya yang tiba-tiba mules, di saat ingatannya kembali ke masa lalu. Di mana dia saat berada di dalam penjara.


Padahal dia ingin sekali bisa bicara dengan Yasmin, mantan istrinya itu. Untuk membicarakan tentang rencana Nanda, yang akan melamar Mita dua hari kemudian.


Tapi sepertinya dia harus datang ke rumah ayah Edi saja. Agar lebih nyaman saat bicara dengan mantan istrinya itu, mengenai anaknya, Nanda.


Tak jauh dari tempat duduknya ayah Edi, ada papa Ryan dan mama Amel.


Di sana juga ada Elang. Yang tadi memang datang bersama dengan kedua orang tuanya.


"Kita duduk di mana Kak?" tanya Ara, yang tidak tahu harus duduk disebelah mana. Karena kebanyakan mereka semua adalah orang-orang yang dekat dengan dirinya.


"Dekat Kakak lah Dek. Memang Kamu mau duduk di mana?"


Awan justru tidak paham, dengan apa yang ditanyakan oleh Ara. Karena dia tidak berpikir sejauh mana, Ara yang sedang berpikir saat ini.


Akhirnya, Ara hanya mengangguk saja. Mengikuti ke mana Awan mengajaknya untuk duduk.


Tapi sebelumnya, Awan pun datang untuk menyapa dan bersalaman dengan mereka semua. Dan Ara pun mengikuti hal yang sama, dibelakang suaminya.


Di Bogor.


Abimanyu dan Anjani, bersiap untuk pergi lagi ke rumah baru mereka. Ada beberapa hal yang mengharuskan mereka merenovasi rumah tersebut.


Dengan bantuan salah satu dari pelayan kafe rumah milik Anjani, yang bisa menyetir, mereka berangkat pagi-pagi.


Tiba di tempat tujuan, mobil bahan bangunan yang mengangkut semen, serta bahan-bahan yang lain juga baru saja datang. Karena semuanya sudah ditangani oleh saudaranya Anjani. Yang memang lebih berpengalaman soal bangunan-bangunan rumah. Karena Om nya itu memang seorang mandor bangunan.


"Jani. Itu pasir Muntilan Om belikan satu truk dam saja. Udah lebih dari cukup itu, untuk memperbaiki yang rusak dan menambah dinding sekat yang diperlukan."


"Untuk tukang bangunannya, baru mulai besok ya! Hari ini untuk persiapannya saja."


"Iya Om, gak apa-apa. Atur saja bagaimana sebaiknya."

__ADS_1


Anjani menyerahkan semua urusan renovasi rumah tersebut pada Om nya. Dia hanya ikut melihat saja. Sama seperti yang dilakukan oleh suaminya, Abimanyu.


Apalagi, semua yang dijelaskan oleh om nya kemarin, Abimanyu juga menyetujuinya.


Sekarang, tinggal menunggu waktu jadi, untuk beberapa minggu kedepannya. Ini karena proses renovasi, justru membutuhkan waktu yang lama. Tidak sama seperti pada saat membuat suatu bangunan.


Anjani dan Abimanyu pun hanya mengiyakan. Karena memang seperti itulah yang kira-kira terjadi.


"Bun. Kita lihat sayuran yang ada di sana yuk! Nanti yang tidak ada kita beli bibitnya," ajak Abimanyu, di saat mereka berdua sudah tidak ada lagi yang dikerjakan.


Anjani mengangguk mengiyakan. Dia memegang lengan suaminya itu, untuk berjalan hati-hati.


"Hati-hati Yah!" kata Anjani mengingatkan.


Abimanyu mengangguk saja, kemudian bertanya pada istrinya itu. "Bun. Kamu gak apa-apa kan, kita hidup di sini? gak lagi di Jakarta atau di apartemen Amerika sana."


"Ayah. Bunda kan sudah bilang, jika Bunda akan ikut bersama dengan Ayah.Ke mana pun itu. Karena ayah adalah rumah bagi Bunda."


Tangan Abimanyu semakin erat mengengam tangan Anjani. Dia merasa bersyukur, karena sikap istrinya ini. Yang selalu sabar dalam keadaan apapun. Bersama dengan dirinya sedari dulu.


Anjani juga tidak punya sifat pendendam. Meskipun dulu, di awal-awal pernikahan mereka. Anjani mendapatkan perlakuan yang kurang baik dari ibu dan juga adik-adiknya.


Tapi ternyata Anjani bisa membuktikan bahwa, dia memang pantas dan patut Abimanyu perjuangkan.


Karena Abimanyu tidak bisa membayangkan, bagaimana keadaan dirinya saat ini. Jika bukan Anjani yang menjadi istrinya. Tapi wanita lain, yang mungkin saja ditujukan oleh ibunya untuk menjadi pendampingnya kala itu.


"Terima kasih Bun. Kamu masih setia ada di dekatnya Ayah. Bagaimana pun keadaan Ayah selama ini."


Selesai mengatakan kalimat tersebut, Abimanyu menciumi tangan istrinya. Yang memang berada di dalam genggamannya sedari tadi.


"Ayah. Kenapa ayah selalu bilang terima kasih? Ini kan memang tugas Bunda. Kewajiban Bunda ada di dekatnya Ayah."


Abimanyu tidak menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh istrinya. Dia hanya tersenyum saja, kemudian mengajak Anjani, untuk melanjutkan perjalanan mereka berdua menuju ke kebun belakang rumah.

__ADS_1


Dia ingin melihat-lihat tanaman sayur, yang sudah tidak terurus lagi. Karena pemilik rumah sebelumnya, sudah pindah dari setengah bulan yang lalu.


__ADS_2