Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Toko Buku


__ADS_3

..."Pa. Maksud Papa apa boong ama Nanda? Gak usah boong-boong kayak gitu lah Pa. Nanda gak butuh Papa kaya, sukses, tapi karena boong."...


Nanda menelpon papanya, Wawan, untuk konfirmasi dengan apa yang baru saja dia ketahui tadi. Yaitu soal kebenaran usaha papanya, yang ternyata adalah milik istrinya, yang lebih tua dari bundanya, Anjani.


..."Maksud Kamu apa Nda?"...


..."Udahlah. Papa tidak usah boong-boong terus. Nanda bosen Pa. Papa bisa kan berubah?"...


..."Eh, Papa masih di jalan ini Nda. Kamu bicara gak begitu jelas. Nanti saja ya, kita bisa ketemu, atau besok?"...


..."Hemmm..."...


Klik!


Sambungan telpon di tutup oleh Wawan, tanpa menunggu jawaban dari anaknya, Nanda.


'Papa kapan bisa berubah? selalu saja seperti itu.'


Nanda berkata seorang diri dalam hati, mengeluhkan tentang sikap dan perilaku dari papanya, Wawan, yang belum bisa mengubah perilaku buruknya itu.


Nanda menginginkan sebuah perubahan sikap dan perilaku dari papanya.


Dia tidak mau, jika papanya itu, Wawan, selamanya akan seperti sekarang hingga ke depan nanti.


"Telpon Ara sajalah."


Akhirnya, untuk menghilangkan semua pikiran yang tidak baik tentang keadaan papanya, Nanda mengalihkan perhatiannya pada Ara.


Dia akan menelpon Ara, untuk dia ajak ngobrol atau pergi jalan-jalan. Menghilangkan rasa sepi dan kekecewaan yang dia rasakan pada papanya, Wawan.


Tut!


Tut!


Tut!


Telpon tersambung, tapi belum juga diangkat oleh Ara.


"Ke mana dia?" gumam Nanda, yang masih menunggu telpon tersebut diangkat oleh Ara.


Tut!


Tut!


Tut!


Tetap tidak ada yang mengangkat panggilan telpon tersebut.


Nanda jadi lebih kecewa lagi, dengan apa yang sekarang ini dia rasakan.


Akhirnya, Nanda beranjak dari tempat tidur dan keluar dari dalam kamarnya, menuju ke arah ruang tengah.


"Eyang. Nanda ijin ke rumah bunda Jani ya?" tanya Nanda, pada ibu Sofie. Eyang putrinya.

__ADS_1


"Iya, hati-hati ya!"


Nanda pamit dengan menyalami tangan eyangnya itu, dan menciumnya juga.


"Oh ya Eyang, eyang Kakung ke mana?" tanya Nanda, saat ingat jika ayah Edi tidak terlihat ada di rumah.


"Oh, eyang Kakung sedang mancing. Dia diajak pak RT tadi," jawab ibu Sofie, menjelaskan ke mana suaminya pergi.


"Apa Eyang Putri mau ikut ke rumah Ara? dari pada di rumah sendiri, atau mau Nanda antar ke rumah tante Sekar?" Nanda memberikan sebuah tawaran untuk Eyang putrinya, ibu Sofie.


"Bolehlah. Eyang siap-siap dulu ya!"


Ibu Sofie merasa senang, karena cucunya itu memberikan sebuah tawaran, yang akan menghilang rasa sepinya di rumah.


Rumah ayah Edi memang terasa sepi, karena tidak ada anak-anak lagi, yang meramaikan suasana rumah.


Itulah sebabnya, ayah Edi akhirnya pergi memancing, hobby lama yang sudah tidak dia lakukan dalam beberapa tahun terakhir ini.


Apalagi, semalam dia mendapatkan tawaran dari pak RT untuk ikut memancing ke empang yang ada di kampung sebelah belakang kompleks perumahan mereka.


Biasanya, jika mereka berdua sedang latihan libur kerja, ayah Edi dan ibu Sofie, pergi ke rumah anak-anaknya secara bergantian.


Kadang ke rumah Abimanyu terlebih dahulu, kemudian baru ke rumah Sekar. Atau bisa juga sebaliknya.


Tapi, kadang kala anak-anak dan cucu-cucu mereka juga yang datang ke rumah mereka, meramaikan suasana rumah ayah Edi yang memang tidak terlalu jauh dari rumah anak-anaknya juga.


Tak lama kemudian, tampak ibu Sofie di bonceng Nanda, pergi ke rumah Abimanyu, karena Nanda memang ingin bertemu dengan Ara.


Brummm!


Ada Anggi yang keluar dari dalam rumah.


"Hore... Ada kak Nanda dan Eyang Putri!"


Anggi berteriak senang, karena kedatangan kakak sepupunya itu, bersama dengan eyang putrinya juga.


Anjani keluar juga, saat mendengar teriakan Anggi.


"Ibu," sapa Anjani, pada ibu mertuanya, ibu Sofie. Dia juga menyalami dan mencium tangan ibu Sofie, setelah Anggi melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.


Setelah itu, Nanda ganti melakukan hal yang sama, tapi dengan bundanya, Anjani.


"Ara ada Bun?" tanya Nanda, yang tidak melihat tanda-tanda, jika Ara ada di rumah.


"Tadi baru saja pergi sama ayahnya. Katanya mau cari buku. Ayo masuk Bu, Nda," kata Anjani, mempersilahkan pada Nanda dan juga ibu Sofie untuk masuk ke dalam rumah.


"Tadi gak telpon kak Ara ya Kak Nanda? handphone milik kak Ara, Aku pakai game. Salah sendiri, Anggi tidak boleh ikut pergi," ujar Anggi, yang membuat Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya, karena baru sadar, jika paket data handphone milik Ara, pasti di non aktifkan.


Sebenarnya Nanda kecewa juga, karena Ara tidak ada di rumah. Tapi dia bisa menunggu sebentar, dengan bermain-main dengan Anggi terlebih dahulu.


Jika Anggi bosan, dia akan mengajaknya jalan-jalan dengan berkeliling kompleks atau ke rumah Miko.


Itu akan lebih seru dan menyenangkan, karena kedua adik sepupunya itu adalah anak-anak yang aktif dan tidak membosankan.

__ADS_1


*****


Di toko buku, Ara bersama dengan dibantu oleh ayahnya, Abimanyu, sedang mencari-cari buku yang dibutuhkan oleh Ara.


Abimanyu sendiri, sebenarnya juga mencari beberapa barang, untuk pekerjaannya.


Buku catatan, beberapa spidol warna dan juga kertas-kertas untuk laporan yang dia butuhkan.


Tapi karena Ara belum menemukan yang dia perlukan, Abimanyu juga belum mencari apa yang dia butuhkan.


"Sudah dapat Kak?" tanya Abimanyu, saat Ara sudah memegang dua buku di tangannya.


"Iya Yah. Ini sudah kok," jawab Ara, dengan menunjuk buku yang ada di tangannya saat ini.


"Ya sudah. Ayah juga cari barang-barang yang ayah perlukan. Kamu bantu Ayah ya Kak," ujar Abimanyu, pada anaknya, Ara.


Sekarang, buku yang ada di tangan Ara, masuk ke dalam tas belanja toko. Setelah itu, mereka pergi ke tempat etalase toko, yang ada peralatan tulis menulis, dan juga percetakan.


Setelah mendapatkan semua yang dibutuhkan, Abimanyu mengajak Ara ke kasir.


Tapi saat baru saja sampai di depan kasir, mereka berdua melihat keberadaan Awan, yang datang bersama dengan omanya, yaitu mama Amel.


"Lho, Abi, Ara. Sudah mau pulang?" tanya mama Amel, yang tidak menyangka bahwa, dia akan bertemu dengan Abimanyu dan juga Ara, di toko buku dan peralatan tulis ini.


"Ya, ini sudah dapat yang dibutuhkan."


Abimanyu, menjawab pertanyaan dari mama Amel, dengan mengangguk mengiyakan.


"Kalian bisa nunggu sebentar tidak? Ada yang ingin Mama sampaikan Bi," ujar mama Amel, bertanya pada Abimanyu.


"Bagaimana Kak?" Abimanyu menyerahkan jawabannya pada anaknya, Ara.


Ara hanya mengangguk saja. Dia merasa tidak enak hati, jika menolak permintaan dari omanya Awan.


Apalagi, omanya Awan juga bos dari ayahnya, di tempat kerja.


Awan tidak berkata apa-apa, karena dia memang tidak tahu, apa yang ingin disampaikan oleh omanya itu, pada ayahnya Ara.


Tadi, Awan hanya ikut saja dengan ajakan omanya. Kata omanya, ada beberapa barang yang dia perlukan.


Padahal sebenarnya tidak ada yang mau di beli oleh omanya.


Di rumah, mama Amel hanya mengajak Awan untuk jalan-jalan, agar tidak berdiam diri saja di dalam kamar.


Suaminya, papa Ryan, sedang pergi bermain golf bersama dengan anaknya, Elang. Dan dia sendiri sedang malas pergi, karena di lapangan golf pasti akan terasa panas.


Meskipun ada kafe dan restoran juga di area lapangan golf, tapi mama Amel tidak suka menunggu.


Itulah sebabnya, dia memilih untuk berada di rumah saja, bersama dengan cucunya, Awan.


Tapi karena melihat motor Abimanyu yang terparkir di depan toko buku, mama Amel jadi ada ide, untuk membeli beberapa barang di toko tersebut.


Itulah sebabnya, dia hanya beralasan saja, mengajak Awan untuk mampir, meskipun sebenarnya, mama Amel juga tidak yakin jika, memang ada Abimanyu di dalam toko tersebut.

__ADS_1


Apalagi, mama Amel juga tidak bisa menebak jika, Abimanyu sedan bersama dengan anaknya, Ara.


Tapi karena sebuah alasan dan kebetulan saja, semuanya sesuai dengan apa yang dia inginkan.


__ADS_2