Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Tidak Boleh Ada Yang Iri


__ADS_3

Awan dan mama Amel, jadi juga pergi untuk jalan-jalan. Mereka berdua, naik mobil dengan di kemudikan oleh mama Amel sendiri. Tidak ada yang ikut mereka, termasuk baby sitter Awan.


"Oma. Kita ke taman mana?" tanya Awan penasaran.


"Memangnya Awan mau ke tanam yang seperti apa?" tanya mama Amel, mencoba mencari tahu, apa keinginan dari cucunya itu.


"Yang ada mainannya Oma," jawab Awan, sambil menceritakan tentang permainan apa yang dia sukai.


"Wah itu bukan hanya sekedar tanam Sayang, tapi arena bermain anak-anak. Apa Kamu mau ke area permainan anak saja?" tanya mama Amel, memberikan pilihan pada Awan.


"Permainan saja!"


Akhirnya, setelah terdiam sejenak untuk berpikir, Awan berteriak, mengatakan jika ingin pergi ke area permainan anak-anak.


Mama Amel pun akhirnya melajukan mobilnya, ke arah mall, yang ada area permainan anak-anak lebih lengkap.


Begitu sampai di mall, dan membeli tiket masuk untuk Awan, mama Amel menyuruh Awan untuk masuk sendiri. Karena area permainan itu, khusus untuk anak-anak saja. Dan mama Amel, akan menunggunya di tempat tunggu, bersama dengan para orang tua yang juga menuggu anak-anak mereka.


Di saat menunggu Awan, mama Amel mencoba untuk menelpon Anjani. Dia ingin mengajak cucunya, Awan, untuk datang ke rumah.


Selain karena mama Amel belum sempat menjenguk Abimanyu pasca operasi tulang belakang, dia juga ingin memperkenalkan Awan pada anak-anaknya, Ara dan Nanda.


Ini dilakukan mama Amel supaya, Awan merasa memiliki teman dan tidak sendirian.


Tut!


Tut!


Tut!


Panggilan telpon untuk Anjani, belum tersambung.


Mama Amel mencoba untuk mengulanginya lagi.


Tut!


Tut!


..."Ya halo Mama Amel."...


Akhirnya, panggilannya tersambung juga. Dan Anjani sendiri yang menerimanya.


..."Halo Jani. Apa kalian ada di rumah?" ...


..."Iya Ma. Kami ada di rumah. Mas Abi belum diperbolehkan untuk banyak bergerak. Jadi dia juga belum ada kegiatan dan masih sama seperti biasanya."...


..."Mama mau datang menjenguk. Jika kalian tidak merasa terganggu."...


..."Oh, terima kasih Ma. Tentu saja tidak. kami justru sangat senang."...

__ADS_1


..."Apa anak-anak kalian juga ada di rumah?"...


..."Iya. Mereka sudah pulang dari sekolah. Jadi mereka ada di rumah."...


..."Baiklah. Mama akan datang nanti, sekitar jam empat atau setengah lima sore ya. Saat ini Mama sedang menemani Awan bermain. Biar nanti Mama ajak dia ke rumah Kamu, dan berkenalan dengan anak-anak Kamu. Biar dia ada temannya. Mama merasa kasihan padanya, karena tidak punya teman."...


..."Kenapa tidak sekolah Ma?"...


..."Dia belum mau Jani. Makanya mau Mama kenalkan sama anak-anak Kamu yang sekolah. Siapa tahu, dia akan ikut tertarik dan mau bersekolah yang sama di yayasan tempat anak-anak Kamu."...


..."Oh begitu ya Ma. Semoga saja dia mau nanti."...


..."Baiklah. Mama datang nanti ya!"...


..."Iya Ma. Hati-hati."...


Klik!


Sambungan telpon tertutup. Mama Amel tersenyum karena sudah meminta ijin pada Anjani, untuk datang ke rumahnya.


Sekarang, dia mengamati bagaimana cucunya, Awan, yang bermain dengan riang dan gembira, di area permainan, bersama dengan anak-anak yang lain, meskipun sebenarnya mereka tidak saling kenal.


Begitu juga dengan mama Amel. Dia juga tampak bertegur sapa dengan beberapa orang tua, kebanyakan mama-mama, yang sama seperti dirinya juga. Yaitu menunggu anak atau cucu mereka bermain.


Jadi, mama Amel tidak begitu kesepian juga saat menunggu Awan bermain, yang lamanya hampir dua jam ke depan.


Tapi mama Amel tidak mau melakukan hal yang sama. Dia lebih baik menunggu saja, dari pada pergi untuk berkeliling.


Setelah hampir dua jam lamanya, Awan sudah tampak kelelahan. Dia keluar dan menghampiri Omanya.


"Oma. Awan sudah selesai. Gak mau lanjut lagi. Capek," kata Awan beralasan.


"Beneran sudah tidak mau?" tanya mama Amel menyakinkan perkataan Awan.


Awan pun mengangguk pasti.


Mama Amel akhirnya mengajak Awan untuk mencari makanan terlebih dahulu, karena bisa dipastikan jika saat ini Awan sudah lapar.


Apalagi tadi sudah bermain-main cukup lama di area permainan.


Mereka menuju ke pusat Pizza. Awan pun sangat senang karena bisa menikmati makanan ini bersama dengan omanya.


"Oma. Oma, pesan yang besar ya!" seru Awan dengan cepat.


"Iya. Oma pesankan yang besar untuk Awan. Memangnya habis?" tanya mama Amel menantang cucunya itu.


"Habis dong!"


Awan pun, dengan percaya diri menjawab tantangan dari mama Amel.

__ADS_1


Dengan tersenyum, mama Amel pun pergi ke kasir dan memesan Pizza dalam porsi besar bersama dengan dua gelas minuman. Dua juga memesan dua porsi Pizza ukuran sedang, untuk dibungkus, karena akan di bawa pulang. Ini akan digunakan oleh mama Amel sebagai oleh-oleh, untuk anak-anak Anjani dan Abimanyu, saat mereka berkunjung nanti.


Setelah menunggu beberapa saat kemudian, Pizza pesanan Awan datang, bersama dengan minuman dan dua kotak Pizza dalam sudah ada di dalam bungkusnya.


"Kok pesan bungkusan juga Oma?" tanya Awan ingin tahu, saat melihat dua bungkus Pizza, yang ada di tempat duduk mereka yang lain.


"Oh ini, buat oleh-oleh nanti. Kita kan mau datang ke rumah teman baru," jawab mama Amel memberitahu Awan.


Dia pun akhirnya diam, kemudian minum terlebih dahulu, sebelum menikmati Pizza dalam porsi besar, yang sudah di pesankan oleh omanya tadi.


*****


Di rumah, Anjani yang baru saja selesai menerima panggilan telpon dari mama Amel, bercerita pada suaminya, Abimanyu.


Dia mengatakan jika, mama Amel akan datang menjenguknya, nanti sore. Karena saat ini mama sedang berada di area permainan anak-anak, menemani Awan.


Anjani juga menceritakan tentang permasalahan mama Amel, terkait cucunya, yang tidak mau bersekolah saat ini. Tapi selalu merasa bosan, karena tidak ada teman di rumahnya yang besar.


"Memang ayahnya ke mana?" tanya Abimanyu dengan mata memicing.


Sebenarnya, dia ingin tahu, apakah Elang juga ikut datang atau tidak nantinya. Tapi dia tidak langsung menanyakan hal itu pada Anjani. Dia takut, jika Anjani merasa di curigai.


"Tidak tahu Mas. Tapi tadi mama Amel bilang jika mereka akan datang berdua. Jadi pastinya cuma dengan Awan kan?"


Abimanyu mengangguk, kemudian menghela nafas lega.


Anjani tersenyum, melihat perubahan warna pada wajah suaminya itu. Dia tahu, jika sebenarnya Abimanyu sedang menyelidik saja, tapi pura-pura bertanya.


"Mas minum obat dulu ya. Terus istirahat. Anak-anak juga sudah beristirahat kok. Nanti sore, Mas bisa berbincang-bincang dengan mama Amel, sekalian bertanya-tanya tentang pekerjaan Mas yang akan dia kirim lewat internet besok-besok."


Abimanyu mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Dia merasa sangat senang karena Anjani, tetap mau mengurusnya, meskipun dia kadang bertingkah menyebalkan.


Anjani tidak mau, jika ada kesalahpahaman antara dirinya dan Abimanyu lagi. Dia tidak ingin, membuat suaminya itu banyak pikiran dan perasaannya akan menganggu kesehatannya juga.


Dia akan tetap menjaga kestabilan emosi dan perasaan suaminya itu, dari rasa curiga ataupun cemburu yang tidak ada alasannya.


Hal yang sangat dihindari oleh Anjani selama ini.


Cup!


"Terima kasih Sayang."


Tiba-tiba, Abimanyu mencuri kecupan di pipi Anjani, disaat dia menyiapkan obat, yang akan di minumnya.


Anjani membelalakkan matanya kaget, dan dengan tersenyum, menyodorkan satu pipinya yang lain untuk mendapatkan satu kecupan juga.


"Nanti dia iri lho Mas!"


Dan sekarang, ganti Abimanyu yang merasa kaget dengan perkataan istrinya, Anjani.

__ADS_1


__ADS_2