Dia Milikku ( Berbagi Cinta )

Dia Milikku ( Berbagi Cinta )
Permintaan Ibu Mertua


__ADS_3

Dua bulan sudah, Anjani dan Abimanyu menjadi sepasang suami istri. Mereka berdua, menjalani hari-hari yang indah bersama, sebagai pasangan baru yang sedang bahagia.


Anjani, masih menjalankan usaha kafe rumah miliknya. Dia tidak ingin usaha kafenya itu, berhenti begitu saja. Dia juga tahu, jika tidak akan kekurangan uang, karena menjadi istri dari seorang Abimanyu. Meskipun suaminya itu bukan seorang pengusaha, tapi hasil dari pekerjaannya itu lebih dari cukup jika hanya untuk menghidupi dirinya saja. Tapi Anjani tidak mau berpangku tangan. Dia tidak mau di anggap sebagai beban oleh keluarga Abimanyu. Karena kehadirannya saja, sudah mendatangkan konflik internal dari keluarga Abimanyu. Mana mungkin, dia ingin menambah masalah, jika hanya tentang uang dan pendapatan.


Abimanyu, tidak pernah melarang Anjani dalam hal apapun. Yang penting, Anjani melakukan pekerjaan itu, tanpa banyak beban dan tetap menjaga kesehatan.


Namun, masalah akan selalu datang meskipun tidak dari diri kita sendiri, tapi dari orang-orang yang ada di sekitar kita.


Begitu juga dengan pasangan baru ini, Anjani, yang baru dua bulan menikah sudah ditanya-tanya tentang kehamilan oleh ibu mertuanya, ibu Sofie.


..."Jani, Kamu sudah telat belum?" tanya ibu Abimanyu, saat melakukan video call dengan Abimanyu, tapi ada Anjani di sampingnya....


Anjani, hanya tersenyum dan menggeleng beberapa kali. Dia paham dengan maksud pertanyaan ibu mertuanya itu, jika arti dari kata 'telat' adalah tanda-tanda dirinya akan hamil.


..."Kenapa? Kamu tidak sengaja menundanya kan?" tanya ibu Sofie lagi....


..."Bu. Kami tidak menunda-nunda. Ini hanya karena belum rejeki kami," jawab Abimanyu, membela istrinya, Anjani....


..."Ibu berharap, kalian akan memberikan kabar baik dalam waktu dekat ini."...


Setelah berkata demikian, ibu Sofie, menutup panggilan video call_nya, tanpa memberikan salam atau pemberitahuan.


Abimanyu hanya bisa menghela nafas panjang. Begitu juga dengan Anjani. Mereka berdua, tidak tahu, apa yang dipikirkan oleh ibu mereka itu.


"Jangan dipikirkan apa yang dikatakan ibu. Dia hanya bertanya saja. Aku tidak mau itu menjadi beban pikiran untukmu, Sayang." Hibur Abimanyu pada istrinya, Anjani.


Meskipun Anjani tampak tersenyum, karena suaminya tetap mendukungnya, dan tetap tidak terpengaruh oleh kata-kata ibunya, tapi tentu saja itu tidak pada hatinya. Anjani merasa sedih dan tertekan dengan permintaan ibunya Abimanyu. Dia merasa tidak berguna sebagai istri apalagi menjadi menantu idaman.


"Sini Sayang." Abimanyu, meminta Anjani untuk tiduran di pangkuannya. Dia ingin menghibur istrinya itu, yang pastinya merasa tidak nyaman, karena perkataan ibunya tadi.


"Sayang. kamu tidak usah kepikiran. Kita kan baru saja menikah, tidak perlu buru-buru juga, masih ada banyak hal yang bisa kita kerjakan. Kita juga masih muda. Apa yang perlu dicemaskan?" Abimanyu, mengelus-elus rambut Anjani, yang sedang berada di pangkuannya.

__ADS_1


"Tapi Mas. Apa yang ibu katakan tadi ada benarnya. Biasanya, wanita subur akan segera hamil, begitu selesai menikah. Apa Aku..."


Cup!


Cup!


Cup!


Anjani tidak melanjutkan kalimatnya, karena tiba-tiba Abimanyu mengecup bibirnya beberapa kali. Ini dilakukan Abimanyu, agar Anjani tidak berkata yang bukan-bukan. Apalagi, soal kesuburan dirinya sendiri.


"Kita hanya perlu berusaha dan berdoa. Semua sudah diatur oleh Tuhan. Biarkan itu menjadi ketentuan bagi_Nya. Apa yang bisa kita lakukan, apalagi ibu, jika Tuhan belum memberikan keturunan untuk kita? Jadi kita tidak perlu banyak berpikir jauh-jauh. Anggap saja kita masih dalam masa pacaran."


Abimanyu, berusaha menghibur Anjani. Dia tidak mau, Anjani jadi bersedih hati karena merasa tidak berguna. Dia tidak memaksa Anjani, untuk bisa hamil dalam waktu dekat. Karena Abimanyu sadar, semua ada waktunya sendiri.


Abimanyu, masih mengelus-elus rambut Anjani. Dia meminta Anjani tidur dan melupakan semua yang menjadi beban pikirannya.


"Sini, Aku peluk saja. Biar Kamu bisa cepat tidur dan melupakan semuanya."


*****


Di Jakarta, di rumah ayah Edi. Mama Sofie sedang di tegur lagi oleh suaminya. Tadi secara tidak sengaja, ayah Edi mendengar perkataan istrinya itu saat melakukan video call dengan Abimanyu dan Anjani.


"Ibu, itu tidak elok. Bertanya dan meminta Anjani hamil dalam waktu dekat? memang siapa yang bisa? Mereka juga belum lama menikah Bu!"


"Tapi Yah, mereka berdua itu masih muda dan sehat. Pasti subur kan? biasanya setelah menikah, pasangan muda langsung bisa hamil. Kan banyak itu diluar sana yang malah hamil duluan sebelum menikah," sahut ibu Sofie tidak mau kalah.


Ayah Edi, mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya itu. "Bagaimana bisa, Abimanyu dan Anjani dibandingkan dengan para pemuda luar yang tidak ada aturan itu. Istriku ini, perlu di bawa ke psikiater mungkin." Ayah Edi, bertanya-tanya dalam hati, tentang kelakuan istrinya itu.


"Sudah, biarkan mereka berdua mengurus keluarga mereka sendiri. Kita ini hanya orang tua, yang seharusnya memberikan dukungan dan semangat. Bukan malah sebaliknya kayak gini Bu," kata ayah Edi, memberikan nasihat lagi pada istrinya, ibu Sofie.


Tapi, sepertinya ibu Sofie tidak mendengarkan perkataan suaminya sendiri. Dia berlalu dan pergi mencari anaknya, Sekar dan Yasmin.

__ADS_1


"Sekar, Yasmin!" panggil ibu Sofie dari bawah tangga.


Suaranya tidak terdengar oleh anak-anaknya, yang sedang berada di dalam kamar. Akhirnya, dia naik ke lantai atas, dan mengetuk pintu kamar anaknya.


Tok... tok... tok!


"Sekar, Yasmin. Kalian sedang apa?" tanya ibu Sofie, memanggil nama kedua anaknya.


Clek!


Pintu kamar terbuka. Dari dalam kamar, tampak Sekar sedang mata. Sepertinya, dia baru saja bangun tidur.


"Kamu tidur dan tidak belajar?" tanya ibu Sofie dengan memicingkan mata.


"Ketiduran Bu. Tadinya ngerjain tugas, eh ngantuk jadi ketiduran." Sekar, menjawab pertanyaan ibunya dengan wajah cemberut. Mungkin dia merasa kesal, karena tidurnya jadi terganggu.


"Yasmin mana?" tanya ibu Sofie lagi, bertanya tentang anaknya yang satu lagi.


"Tuh!"


Sekar, menjawab dengan menunjuk ke arah tempat tidur. Di sana, di tempa tidur yang besar, tampak Yasmin tertidur pulas dengan handset yang berada di kedua telinga.


"Hemmm... kalian ini bagaimana, bukannya belajar atau mengerjakan tugas, malah tidur saja kerjaannya!" Ibu Sofie, mengomel karena melihat tingkah kedua anak gadisnya itu.


"Cepat bangunkan Yasmin. Suruh mandi. Kamu juga cepat mandi. Ini sudah hampir malam." omel ibu Sofie lagi, karena merasa kesal. Tak lama, dia kembali bertanya pada Sekar, "oh, ya. Mau dimasakin apa untuk makan malam nanti?"


Sekar berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "ikan asam pedas manis saja Bu. Kan sudah lama tidak masak itu untuk makan malam." Sekar berpikir, jika nanti malam, dia akan menikmati lauk ikan asam pedas manis yang sama lezatnya, seperti malam itu, sewaktu masih ada Mas_nya, Abimanyu dan juga kakak iparnya, Anjani.


"Hemmm... boleh. Sepertinya, di lemari pendingin ada ikan yang baru saja di beli bibi tadi pagi. Baiklah, nanti ibu akan minta bibi buat masak ikan asam pedas manis seperti waktu itu."


Ibu Sofie, dengan senang hati menyanggupi permintaan anaknya, Sekar, untuk memasak menu lauk makan malam mereka nanti.

__ADS_1


__ADS_2